NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13

Malam semakin larut, dan badai di luar apartemen seolah berpindah ke dalam kamar utama Arvin Dewangga.

Suhu tubuh Arvin melonjak drastis mencapai 39,5 derajat Celcius. Meskipun cairan infus terus mengalir, infeksi tifus dan tekanan batin yang ia pendam meledak menjadi demam tinggi yang membuatnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Zoya tidak tidur. Ia terus mengganti kompres di dahi Arvin setiap sepuluh menit. Wajah suaminya yang biasanya kaku dan angkuh kini tampak menderita. Keringat membanjiri pelipisnya, dan napasnya terdengar berat serta tersengal.

Tiba-tiba, tubuh Arvin mulai menggigil hebat di bawah selimut tebal. Bibirnya yang pucat mulai bergerak, menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

"Jangan... jangan pukul lagi... aku sudah belajar..." bisik Arvin, suaranya terdengar seperti suara anak kecil yang ketakutan.

Zoya tertegun. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Arvin, mencoba memahami apa yang sedang diracaukan suaminya.

"Papa... maaf... Arvin tidak sengaja... Arvin akan jadi nomor satu... tolong jangan buang mainannya..."

Air mata Zoya nyaris jatuh. Ia melihat pria yang selama ini berdiri tegak seperti raksasa tanpa celah, kini meringkuk seperti bocah yang terluka. Dalam igauannya, Arvin menceritakan potongan-potongan masa kecil yang kelam.

Ia meracau tentang tuntutan Papa Dewangga yang tidak pernah puas, tentang bagaimana setiap kegagalan kecil dibalas dengan hukuman dingin dan pengabaian berhari-hari.

"Ibu... Ibu di mana? Kenapa Ibu pergi? Kenapa Ibu tinggalkan Arvin sama Papa?" Arvin mulai terisak dalam tidurnya. Suaranya pecah, sebuah suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di dunia bisnis yang mengenalnya.

Zoya menyadari sesuatu yang menyakitkan. Kekasaran Arvin, sikap posesifnya, dan dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun hanyalah sebuah baju zirah. Arvin telah dipaksa menjadi kuat sebelum waktunya.

Baginya, menunjukkan perasaan adalah sebuah kelemahan yang berujung pada luka. Ia bersikap kasar agar tidak ada orang yang bisa mendekat cukup dalam untuk melihat luka-luka lama yang belum sembuh itu.

"Tuan, tenanglah..." Zoya mengusap kening Arvin dengan lembut. "Kau aman di sini. Tidak ada yang akan memukulmu lagi."

Tiba-tiba, tangan Arvin yang bebas dari jarum infus bergerak liar dan menyambar tangan Zoya. Genggamannya sangat kuat, seolah-olah Zoya adalah satu-satunya pelampung di tengah samudera yang sedang mengamuk.

"Jangan pergi..." racau Arvin. Matanya masih terpejam rapat, namun air mata mengalir dari sudut matanya. "Zoya... jangan tinggalkan aku seperti Ibu. Tolong... jangan pergi ke pria itu. Tetaplah di sini... meskipun aku jahat, jangan pergi..."

Zoya membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan lagi suara Tuan Arvin yang memerintah, ini adalah jeritan jiwa seorang pria yang kesepian. Arvin yang selama ini mengusirnya, menghinanya, ternyata memiliki ketakutan yang begitu besar akan kehilangan.

Zoya tidak melepaskan tangan itu. Ia justru membalas genggaman Arvin dengan kedua tangannya yang kecil namun hangat. Ia duduk di lantai di samping tempat tidur, menyandarkan kepalanya di tepi kasur agar bisa tetap dekat dengan suaminya.

"Aku di sini, Tuan. Aku tidak akan pergi," bisik Zoya pelan ke telinga Arvin.

Sepanjang malam itu, Arvin tidak melepaskan tangan Zoya. Setiap kali Zoya mencoba bergerak sedikit saja untuk mengganti air kompres, Arvin akan merintih dan memperkuat genggamannya.

Akhirnya, Zoya membiarkan dirinya terjaga dalam posisi yang tidak nyaman itu, memberikan kehangatan yang dibutuhkan Arvin untuk melewati malam paling kritis dalam penyakitnya.

Cahaya fajar menyelinap melalui gorden, menandai berakhirnya malam yang panjang. Suhu tubuh Arvin perlahan mulai turun. Napasnya kini lebih teratur dan tenang.

Arvin perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hangat yang melingkari tangannya. Ia menoleh ke samping dan terkejut mendapati Zoya tertidur dengan posisi terduduk di lantai, kepalanya bersandar di dekat lengannya. Tangan mereka masih bertautan erat.

Ingatan tentang malam itu samar-samar kembali ke benak Arvin. Ia ingat rasa dingin yang luar biasa, ia ingat rasa takut yang amat sangat, dan ia ingat suara lembut yang terus membisikkan bahwa ia aman. Namun, ia juga ingat bahwa ia telah membuka rahasia tergelapnya, kerapuhannya.

Rasa malu yang luar biasa seketika menyerang Arvin. Ia merasa telah kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria di depan wanita ini.

Dengan gerakan kasar, Arvin menarik tangannya dari genggaman Zoya.

Zoya langsung tersentak bangun. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Tuan? Alhamdulillah, suhu tubuhmu sudah turun. Bagaimana perasaanmu?"

Arvin duduk dengan susah payah, menahan rasa pening yang masih tersisa. Wajahnya yang pucat kini kembali dipenuhi oleh topeng kedinginan. "Siapa yang mengizinkanmu tidur di sini sambil memegang tanganku seperti itu?"

Zoya tertegun. Transisi sikap Arvin begitu cepat hingga ia sulit mengikutinya. "Tuan, semalam kau demam tinggi dan..."

"Dan kau mengambil kesempatan untuk bertingkah seolah kita pasangan yang mesra?" potong Arvin dengan nada sinis yang tajam. Ia membuang muka, tidak berani menatap mata Zoya karena takut Zoya melihat sisa-sisa air matanya semalam. "Jangan besar kepala karena aku meracau dalam demam. Orang sakit bisa mengatakan apa saja tanpa sadar. Apapun yang kau dengar semalam, itu hanya bualan."

Zoya berdiri, mencoba meluruskan kakinya yang kesemutan. Ia menatap Arvin dengan pandangan yang kini berbeda. Ia tidak lagi melihat monster yang sombong, ia melihat seorang pria yang sedang mati-matian mempertahankan sisa harga dirinya.

"Tapi aku tidak menganggapnya bualan, Tuan," ucap Zoya tenang. "Aku melihat pria yang butuh dijaga. Dan sebagai istri, aku telah melakukannya. Sekarang, jika Kau sudah merasa cukup kuat untuk menghinaku, berarti kau sudah cukup kuat untuk makan."

Arvin mendengus, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Bawa makanan itu ke sini dan setelah itu keluar. Aku tidak ingin melihat cadarmu sepanjang pagi ini. Itu membuatku pusing."

Zoya hanya mengangguk pelan. Ia tahu Arvin sedang berbohong. Ia tahu Arvin sedang ketakutan karena ia telah melihat isi di balik dinding esnya. Sebelum keluar kamar, Zoya berhenti di ambang pintu dan berbalik.

"Tuan Arvin."

"Apa lagi?!" sahut Arvin tanpa menoleh.

"Meskipun kau tidak mengakuinya, malam ini kau tidak sendirian. Dan besok pun tidak. Kau tidak perlu menjadi nomor satu hanya untuk mendapatkan perhatianku."

Zoya menutup pintu sebelum Arvin bisa membalas.

Di dalam kamar, Arvin terdiam kaku. Jantungnya berdebar kencang mendengar kalimat terakhir Zoya. Ia menyentuh tangannya yang tadi digenggam Zoya, rasa hangat itu seolah masih menempel di sana. Arvin memejamkan mata, membenamkan wajahnya di telapak tangan.

"Sial," bisiknya lirih.

Ia benci betapa Zoya bisa membacanya begitu dalam. Dan ia jauh lebih benci menyadari bahwa hatinya, yang selama ini ia anggap sudah membatu, kini mulai berdenyut setiap kali wanita itu berada di dekatnya.

...----------------...

To Be Continue .....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!