NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di bawah raungan sirine yang memekakkan telinga, suasana di bahu jalan tol itu berubah menjadi sangat genting.

Kepala pengawal Mahendra dengan cekatan langsung mengambil alih kemudi mobil Rolls-Royce Phantom yang bodinya sempat lecet akibat gesekan pembatas jalan, bersiap menguntit dari belakang.

Sementara itu, Luna tanpa ragu langsung melompat masuk ke dalam kabin belakang mobil ambulans yang sempit dan berbau obat-obatan menyengat.

Pintu belakang ambulans ditutup dengan bantingan keras, dan kendaraan medis itu segera melesat membelah jalanan tol dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit pusat di Bandung.

Di dalam ruang ambulans yang berguncang konstan, Luna duduk bersimpuh di sisi ranjang darurat.

Kedua tangan lentiknya menggenggam teramat erat tangan kanan suaminya yang terasa miring dan mendingin.

Di atas tubuh kokoh sang Titan Bisnis, beberapa alat medis canggih kini telah terpasang.

Masker oksigen mengurung sebagian wajah matangnya, menyalurkan napas buatan secara ritmis, sementara kabel-kabel elektroda menempel di dada bidangnya, terhubung langsung pada layar monitor pemantau jantung yang terus berbunyi bip... bip... bip... dengan grafis naik turun yang tidak stabil.

Tangisannya pecah sejadi-jadinya di dalam ruang sempit itu.

Bahunya terguncang hebat, meluapkan seluruh rasa takut, panik, dan bersalah yang mendera dadanya laksana badai.

Air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi punggung tangan kekar Mahendra yang biasanya selalu menggenggamnya dengan penuh otoritas dan kehangatan.

"Mas, aku mohon bertahanlah," isak Luna di sela tangisnya yang menyayat hati.

"Jangan tinggalkan aku, Mas Mahendra. Kamu sudah berjanji akan menjagaku. Aku takut, Mas..."

Melihat kondisi psikologis Luna yang tampak sangat terguncang dan nyaris histeris, seorang perawat wanita yang bertugas mendampingi di dalam ambulans segera bergerak mendekat.

Dengan saksama, ia memeriksa tensi dan cairan infus Mahendra sebelum akhirnya menaruh tangan lembutnya di atas bahu Luna yang gemetar.

"Ibu, yang tenang, ya," ucap perawat itu dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Tolong bantu Bapak dengan doa. Saat ini kondisi jantung suami Ibu memang sedang mengalami tekanan berat, tapi tim medis kami di depan sedang berupaya semaksimal mungkin. Detak jantungnya masih bertahan berkat tindakan cepat yang Ibu lakukan tadi di pinggir tol."

Perawat itu mengusap lembut punggung Luna, mengalirkan sedikit rasa aman di tengah atmosfer yang mencekam.

"Ibu harus kuat demi suami Ibu. Jangan putus berdoa, perjalanan kita ke rumah sakit rujukan sudah dekat. Bapak pasti bisa melewati masa kritis ini."

Luna mencoba menelan salivanya yang terasa kelat, mengangguk pelan di sela sisa-sisa isak tangisnya yang belum juga reda.

Ia mengarahkan kembali seluruh tatapan matanya yang sembap pada wajah pucat Mahendra.

Di dalam hati, sembari terus menggenggam jemari pria paruh baya yang telah meratukan nya itu, Luna merapalkan untaian doa dan permohonan yang teramat dalam kepada Tuhan, memohon agar nyawa suaminya diselamatkan, tanpa tahu bahwa di Jakarta, Emma dan Mila mungkin sedang menanti kabar kematian yang mengenaskan.

Begitu roda mobil ambulans berhenti sempurna di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit pusat di Bandung, pintu belakang langsung dibuka paksa dari luar.

Suasana seketika berubah menjadi hiruk-pikuk yang menegangkan.

Jajaran dokter spesialis jantung dan perawat senior yang telah berkoordinasi sejak awal langsung bergerak kilat, memindahkan tubuh kekar Mahendra ke atas brankar dorong.

"Pasien pria, usia lima puluh tahun, mengalami serangan jantung akut akibat lonjakan tekanan darah ekstrem! Detak jantung tidak stabil, siapkan ruang kateterisasi sekarang juga!" teriak dokter sambjl berlari mendorong brankar masuk menembus pintu kaca otomatis IGD.

Sang Titan Bisnis yang biasanya begitu perkasa dan ditakuti di papan atas dunia usaha, kini harus dilarikan dengan tergesa-gesa ke dalam ruang tindakan kritis, dikelilingi jajaran alat medis demi mempertahankan nyawanya yang berada di ujung tanduk.

Luna yang mencoba ikut berlari mengejar brankar suaminya mendadak limbung di koridor depan.

Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat syok berat pasca-kejadian traumatis di jalan tol tadi.

Melihat kondisi fisik Luna yang sudah sangat lemah, salah satu perawat wanita dengan sigap menahan tubuhnya.

"Ibu, tidak boleh masuk ke ruang tindakan. Mari ikut saya terlebih dahulu, Ibu harus diperiksa," ucap perawat itu dengan nada tegas namun sarat akan rasa empati.

Dengan saksama, perawat itu memapah Luna menuju ke sebuah bilik observasi yang tenang tak jauh dari sana.

Luna didudukkan di atas ranjang periksa. Setelah memeriksa tanda-tanda vital Luna yang menunjukkan tekanan darah menurun drastis akibat syok psikologis, perawat tersebut segera menyiapkan perlengkapan medis.

Set...

Perawat itu mengusap area pergelangan tangan Luna dengan kapas alkohol yang dingin, memberikan sensasi steril yang sedikit menyengat indra penciuman Luna yang masih kosong.

"Ibu mengalami dehidrasi dan syok berat. Saya pasang infus dulu ya Bu, untuk menyalurkan cairan dan nutrisi agar Ibu tidak pingsan," bisik perawat itu dengan lembut.

Luna hanya mengangguk pasrah tanpa tenaga. Bersamaan dengan rasa perih yang tipis saat jarum infus menusuk kulit pergelangan tangannya, Luna perlahan memejamkan kedua kelopak matanya yang sudah membengkak akibat terlalu banyak menangis.

Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, seluruh bayangan ketegangan tadi berputar seperti kaset rusak, namun Luna sekuat tenaga menekannya.

Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, dengan cairan infus yang mulai menetes perlahan mengalir ke dalam pembuluh darahnya, Luna menautkan kedua tangannya di atas pangkuan.

Di dalam keheningan hatinya yang paling dalam, ia merapalkan untaian doa dan zikir yang teramat khusyuk kepada Sang Pencipta, memohon dengan seluruh jiwa dan raga demi keselamatan serta kesembuhan Mahendra Dirgantara.

Ia memohon agar pria paruh baya yang telah berdiri pasang badan sebagai pelindung hidupnya itu diberikan mukjizat untuk kembali membuka mata, tanpa pernah menduga bahwa detik ini, di sudut lain kota Jakarta, konspirasi busuk yang hampir merenggut nyawa suaminya masih tersimpan rapat sebagai misteri yang berdarah dingin.

Entah sudah berapa jam Luna memejamkan mata dalam ketidaksadaran yang semu.

Efek cairan infus dan kelelahan mental yang luar biasa sempat membawa kesadarannya melayang jauh, menjauhkan sejenak dirinya dari hiruk-pikuk kecemasan yang mencekam di lorong rumah sakit.

Namun, perlahan-lahan indra perasanya mulai kembali berfungsi.

Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya perlahan terkumpul adalah sebuah kehangatan yang familier.

Ada sebuah tangan kekar, yang meski terasa sedikit lemas namun tetap memancarkan aura protektif, sedang menggenggam erat jemari lentiknya yang masih tertancap selang infus.

Kelopak mata Luna yang membengkak bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Sinar lampu ruangan yang temaram menyambut pandangannya.

Luna menolehkan kepalanya dengan cepat ke sisi kanan, mengikuti arah genggaman tangan tersebut.

Seketika, napas Luna tercekat di tenggorokan.

Di atas ranjang pasien tepat di sebelahnya—yang sengaja didekatkan oleh pihak rumah sakit atas instruksi khusus—tampak sosok Mahendra yang sedang berbaring tegap.

Meski wajah matangnya masih tampak sedikit pucat dengan selang oksigen yang terpasang manis di bawah hidungnya, sepasang netra tajam sang Titan Bisnis kini telah terbuka sepenuhnya.

Sebuah senyuman tipis yang sangat hangat, tulus, dan sarat akan rasa kagum terukir di sudut bibir tegas pria berusia lima puluh tahun itu.

"M-mas... Mas Mahendra..."

Melihat Luna yang panik dan langsung berniat untuk bangkit dari posisi tidurnya, Mahendra perlahan mempererat cengkeraman tangannya, menahan gerakan istri kecilnya dengan kelembutan yang mutlak.

"Terima kasih, Sayang. Dan tetaplah di ranjangmu dulu. Jangan banyak bergerak," ucap Mahendra.

Mendengar suara yang begitu ia rindukan sejak petaka di jalan tol tadi, pertahanan diri Luna seketika runtuh berantakan.

Ia menganggukkan kepalanya dengan patuh, sementara air mata beningnya kembali mengalir deras membasahi pipinya yang tirus.

Rasa lega yang luar biasa bercampur dengan sisa-sisa trauma yang mengerikan meledak di dalam dadanya.

"A-aku takut, Mas... Aku takut sekali..." isak Luna dengan suara yang timbul tenggelam di sela tangisnya.

"Aku takut Mas pergi. Aku takut tidak bisa menyelamatkan Mas..."

Mahendra yang mendengarnya terdiam seraya menatap lekat-lekat wajah sembap istri kecilnya.

Detik itu juga, dinding pertahanan hati sang Don Juan legendaris yang terkenal sedingin es dan tak tersentuh di dunia bisnis seketika pecah.

Sudut mata pria paruh baya itu mendadak menggenang, dan tak lama kemudian, setitik air mata murni ikut luruh membasahi rahang tegasnya.

Mahendra ikut menangis. Dada bidangnya naik turun menahan gejolak emosi yang teramat sangat besar.

Sepanjang hidupnya yang penuh dengan persaingan darah dingin, ia selalu menjadi pihak yang berdiri paling depan, menjadi tameng, dan menyelamatkan orang lain dengan kekuatan uang dan kekuasaannya.

Ia tidak pernah menyangka, sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak tuanya, bahwa di saat nyawanya berada di ujung tanduk di pinggir jalan tol yang sepi, sosok yang berjuang mati-matian—yang memberikan napas buatan dan memompa jantungnya tanpa menyerah—adalah istri kecilnya yang baru berusia dua puluh lima tahun.

Gadis polos yang tempo hari ia selamatkan dari kehancuran pernikahan, kini justru menjelma menjadi malaikat pelindung yang merebut kembali nyawanya dari cengkeraman maut.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!