Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Sungai Selatan
Keesokan harinya pengumuman tim ditempel di papan kayu depan aula utama. Puluhan murid berdesakan membaca nama mereka masing-masing. Lin Tian dan Bai Feng harus berjuang melewati siku dan bahu orang lain untuk melihat papan itu.
"Tim ketujuh... dipimpin Tetua Chen... wilayah operasi Lembah Sungai Selatan," Lin Tian membaca pelan.
Bai Feng di sampingnya menghela napas lega. "Kita satu tim lagi. Syukurlah."
Lin Tian melanjutkan membaca. Di luar tim yang dipimpin Tetua Chen, ada tim lain yang menuju Bukit Kapur, ada juga yang ke Desa-desa di lembah timur. Wilayah operasi mereka berbeda-beda tergantung tingkat ancaman. Lembah Sungai Selatan termasuk zona dengan tingkat bahaya sedang, tidak terlalu ringan tapi juga tidak separah Bukit Kapur yang sudah rata dengan tanah.
Setelah pengumuman, seluruh tim langsung menjalani latihan intensif selama dua hari. Tetua Chen mengumpulkan anggota timnya di halaman belakang sekte, mengajarkan formasi pertempuran sederhana untuk kelompok kecil. Lin Tian belajar bagaimana bergerak seirama dengan rekan setim, kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. Tubuhnya yang lincah membuatnya cepat beradaptasi, berbeda dengan Bai Feng yang agak kikuk dalam formasi.
"Kau di sayap kiri. Tugasmu mengganggu musuh dari samping, jangan sampai mereka mengepung," perintah Tetua Chen pada Lin Tian.
"Baik, Tetua," jawab Lin Tian sambil mengatur posisi.
Dua hari berlalu cepat. Pagi ketiga, semua tim berkumpul di lapangan utama. Dua kapal spiritual sekte bersiap di landasan batu, layar Qi-nya mulai berkibar meski belum ada angin. Suasana hening dan tegang. Tidak ada yang bercanda seperti biasanya.
Lin Tian naik ke kapal bersama timnya. Tetua Chen berdiri di haluan, kedua tangan di belakang punggung. Kapal melesat ke angkasa, meninggalkan sekte yang semakin mengecil di bawah. Angin berhembus kencang membasuh wajah Lin Tian.
Di atas kapal, Tetua Chen mengumpulkan semua anggota tim di ruang utama. "Dari informasi yang didapat kemarin, sekte-sekte besar yang sudah pergi lebih dulu bahkan sangat tertekan. Makhluk kegelapan itu tidak ada habisnya. Semakin banyak yang kalian bunuh, semakin banyak yang muncul."
Seorang murid bernama Liu bertanya, "Apakah ada yang memerintahkan mereka, Tetua?"
Tetua Chen menghela napas. "Kami menerima laporan... ada seseorang pengendali mayat yang sempat muncul di medan pertempuran Bukit Kapur. Sosoknya misterius, hanya terlihat sebentar lalu menghilang. Kultivasinya tidak tertebak, bahkan para Tetua dari sekte besar pun tidak bisa mengukur kedalamnya."
Bai Feng menelan ludah. Lin Tian hanya diam mendengarkan. Pengendali mayat itu... bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh murid Pendirian Fondasi seperti mereka. Tugas mereka hanyalah mengevakuasi warga dan membersihkan sisa-sisa makhluk lemah.
Satu hari perjalanan berlalu. Matahari tepat di atas kepala saat kapal mulai menurunkan ketinggian. Dari kejauhan Lin Tian bisa melihat aliran sungai berkelok-kelok di antara perbukitan hijau. Itu Lembah Sungai Selatan.
Kapal mendarat di tanah lapang dekat sebuah desa. Keadaannya mengenaskan, dengan rumah-rumah kayu berserakan, beberapa masih berdiri tapi dindingnya penuh lubang dan cakaran. Asap tipis mengepul dari tumpukan reruntuhan. Bau anyir darah menyambut mereka begitu turun dari kapal.
Warga desa yang selamat berhamburan keluar dari persembunyian. Seorang wanita paruh baya berlari mendekati Tetua Chen sambil menangis tersedu-sedu.
"Tolong kami, Tuan... Mereka datang malam buta... Suami dan anak laki-laki kami... mereka bertahan di gerbang desa dengan senjata seadanya," ucap wanita itu terbata-bata. "Hanya wanita yang selamat... Para pria mengorbankan diri mereka untuk menghentikan gelombang serangan... Kami tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah..."
Suaranya pecah di tengah kalimat. Wanita lain di belakangnya juga ikut menangis.
Tetua Chen mengerutkan kening. Beliau berbalik ke arah Li Wei, murid Inti Emas yang ikut dalam tim ini. "Bawa kapal spiritual. Antarkan warga yang selamat ke kota aman, dan berikan perlindungan. Jangan buang waktu."
Li Wei mengangguk patuh. "Baik, Tetua."
Li Wei segera mengumpulkan para wanita dan anak-anak untuk naik ke kapal. Beberapa dari mereka masih menatap ke arah timur desa, ke tempat dimana para pria desa terakhir kali terlihat berjuang. Lin Tian mengikuti tatapan mereka. Ada sesuatu di ujung desa itu, sesuatu yang gelap.
Tetua Chen menunjuk tiga orang termasuk Lin Tian dan Bai Feng. "Kita bergerak ke ujung desa. Cari kemungkinan warga pria yang masih hidup. Sisanya ikut Li Wei dengan kapal."
Lin Tian mengangguk. Ia menyentuh cincin penyimpanannya, memastikan pedang peraknya siap digunakan. Bai Feng di sampingnya terlihat gelisah, tapi tetap mengikuti dengan langkah mantap.
Mereka berjalan melewati jalan desa yang penuh pecahan kayu dan keramik. Bau anyir semakin kuat. Semakin dekat ke ujung desa, semakin banyak genangan darah hitam yang mengering di tanah.
Saat mereka sampai di tepi timur desa, pemandangan itu langsung menyambut mereka. Lin Tian mengernyitkan dahi. Bai Feng membelalakkan mata, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar. Dua murid lain di belakang mereka terbatuk dan menutup mulut, berusaha menahan mual.
Di lapangan terbuka di luar pagar desa, sekitar dua puluh makhluk kegelapan sedang berjongkok. Mereka sedang memakan daging manusia yang berserakan di tanah. Darah segar masih mengalir dari tubuh-tubuh tak bernyawa yang sudah tidak utuh lagi. Beberapa makhluk itu mengangkat kepala saat mencium kehadiran manusia.
Lin Tian menghitung cepat. Dua puluh tiga ekor. Sebagian besar berada di tingkat Pemurnian Qi puncak hingga Pendirian Fondasi awal. Masih dalam batas kemampuan tim ini... dengan bantuan Tetua Chen.
Tetua Chen mengangkat tangan kanannya. "Kita serang bersama. Tapi ingat, jangan memaksakan diri. Biar aku yang membereskan sebagian besar dari mereka. Jika terdesak.... segera gunakan formasi yang telah kita latih."
Lin Tian menghunus pedang peraknya. Bai Feng mengeluarkan pedang lebarnya yang besar. Dua murid lain di belakang mengambil posisi siap tempur.
"Serang!"
Tetua Chen melesat pertama. Jubah biru tuanya berkibar seperti burung raksasa, tangan kanannya mengeluarkan aliran Qi berwarna biru terang yang menyapu tiga makhluk kegelapan sekaligus dalam satu tebasan. Tubuh kabut hitam itu berteriak lalu hancur berkeping-keping.
Lin Tian bergerak ke sayap kiri seperti yang dilatih. Seorang makhluk kegelapan berlari ke arahnya dengan cakar terentang. Lin Tian membungkuk rendah menghindari serangan pertama, lalu pedang peraknya menikam dari bawah ke atas tepat di perut kabut hitam itu. Makhluk tersebut menggeliat dan mati seketika.
Bai Feng tidak mau kalah. Ia menghantamkan pedang lebarnya ke arah makhluk yang lain dengan keras. Bukan tebasan yang cantik, tapi efektif. Makhluk itu terpental dan hancur saat menyentuh tanah.
Tetua Chen terus bergerak seperti angin. Setiap ayunan tangannya menewaskan satu atau dua makhluk. Dalam waktu sepuluh napas, dua puluh makhluk sudah tewas. Tiga sisanya mencoba melarikan diri ke arah hutan.
"Kejar! Jangan biarkan satu pun lolos!" perintah Tetua Chen.
Lin Tian berlari paling cepat. Ia memotong jalur dua makhluk yang kabur ke kiri, menghadang mereka dengan tebasan horizontal yang memotong tubuh kabut mereka menjadi dua. Sementara itu Bai Feng bersama murid lain berhasil menangkap satu makhluk lagi di tepi hutan.
Pertempuran singkat itu selesai. Semua makhluk kegelapan di area itu habis.
Lin Tian membersihkan pedangnya dengan kain yang ia ambil dari cincin penyimpanan. Bai Feng terengah-engah sambil bertumpu pada pedang lebarnya.
"Apakah ini selalu semudah ini?" tanya Bai Feng.
Tetua Chen menggeleng. "Ini hanya gelombang kecil. Yang lebih besar mungkin masih dalam perjalanan. Cepat periksa apakah ada warga yang selamat di sekitar sini."
Mereka menyebar mencari di antara reruntuhan pagar desa. Lin Tian menemukan tiga pria bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar. Mereka terluka, tapi masih hidup. Lin Tian segera memberi tanda pada Bai Feng untuk membantu mengevakuasi mereka.
Saat matahari mulai condong ke barat, Li Wei sudah kembali. Kemudian semua pria yang selamat langsung di bawa ke kapal. Li Wei langsung menghitung jumlah totalnya, setelah selesai dia melaporkan pada Tetua Chen dengan suara berat.
"Daftar korban sejauh ini. Empat pria selamat. dua puluh tewas," lapor Li Wei.
Tetua Chen mengangguk. "Bawa mereka pergi. Aku dan tim ini akan bertahan di sini semalam, memastikan tidak ada gelombang serangan lanjutan."
Lin Tian menatap ke arah barat, ke tempat matahari bersiap tenggelam. Lembah Sungai Selatan yang tadinya indah kini berlumuran darah. Tapi ini baru awal. Masih ada malam yang panjang di depan.