NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi?

Satu minggu pun berlalu lagi. Terlihat Lily tengah duduk dikursi roda dengan tenang. Wajahnya pucat, matanya dikelilingi lingkaran hitam, dan bibirnya berwarna putih. Ia menatap kosong ke halaman depan rumahnya melihat kolam renang yang dihiasi oleh cahaya matahari yang kini tepat berada diatas kepalanya. Semuanya nyata, namun disaat yang bersamaan terasa semu. Lily berfikir keras tentang apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

Ada rasa sesal saat ia mengetahui fakta tersembunyi dari keluarganya dan keluarga Austin. Betapa bodohnya dirinya diperalat oleh mereka. Tentang Austin yang punya tujuannya sendiri dalam mendekatinya, juga Zevan yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

"Non Lily, non kan belum makan. Ayok dong makan, biar simbok suapin nih!" Ucap mbok hanur pada Lily yang hanya diam saja. Ada rasa kasihan dihatinya saat melihat gadis itu jadi sering termenung.

"Mbok, saya gak lapar" Tolaknya dengan suara pelan. Tentu saja karena ia belum mendapatkan asupan makanan dari kemarin.

"Nanti tuan muda sama tuan besar marah sama simbok kalo non kayak gini terus. Makan ya, dikit aja" Bujuknya lagi. Lily menoleh pasrah lalu membukakan mulutnya agak lebar. Ia tak mau egois juga hanya karena dirinya orang lain akan mendapatkan masalah.

"Dua suap aja ya mbok" Sahutnya disela-sela mengunyah bubur.

"Lima suap deh!"

"Gak mau mbok! Perutku lagi mual nerima makanan" Keluhnya yang memang kenyataannya. Lily di diagnosiskan mengidap gerd yang cukup parah.

"Ya ampun non non! Mbok jadi sedih liat keadaan non. Dulu non itu ceria banget..." Tak disangka Hanur mengeluarkan air matanya. Ia mengusap kepala Lily penuh kasih. Padahal dulu ia akan berniat jahat padanya, tapi sekarang ia malah jadi sayang juga pada gadis ini. Gadis yang telah menghilangkan nyawa kakaknya, Iroh.

"Gak usah nangis dong mbok! Aku jadi ikutan sedih nih" Sahutnya dengan mata berair.

"Simbok janji bakalan jaga terus non Lily! Cepet sembuh yah!" Ujarnya sambil tersenyum lembut dan mengusap air mata Lily. Lily pun membalas senyumannya dan mengangguk pelan.

"Ya sudah. Mbok mau lanjut beres-beres ya! Maaf simbok lebay hehe" Kekehnya malu dan hendak meninggalkannya.

"Ga papa mbok" Lily tersenyum kecil. Hanur semakin teriris melihat senyuman yang terkesan dipaksakan itu. Ia pun pergi.

Lily menoleh keluar ketika mendengar suara mobil yang parkir dihalaman rumahnya. Ia menatapnya lekat melihat siapa yang sudah datang sepagi ini.

"Kak Zevan?" Gumamnya lalu hendak pergi mendorong kursi roda itu menjauh. Namun tiba-tiba rodanya terselip sesuatu hingga rodanya tak bisa berjalan. Mau tak mau ia pun harus berusaha untuk bangun dari kursi rodanya. Ia sebenarnya tidak lumpuh, tidak patah kaki juga. Namun ia hanya lemas ketika kakinya menopang berat tubuhnya waktu bangun. Itu membuatnya harus memakai kursi roda dulu.

Untuk saat ini, ia tidak ingin bertemu dengan pemuda itu. Ia berusaha untuk berjalan cepat, namun apa boleh buat, dirinya malah tersungkur tepat dihadapan Zevan yang telah masuk kedalam rumah.

"Astaga Lily!" Pekiknya yang langsung saja berlari dan mengangkat tubuhnya.

"Tak usah merepotkan orang lain dulu bisa tidak?!" Sentaknya sembari berjalan membawanya ke kamar Lily. Lily hanya terdiam mendengarnya dengan tampang lurus. Kenapa diingatannya ia harus pergi jauh? Sejauh mungkin pula?

"Sorry..." Tuturnya dengan wajah yang sulit diartikan. Zevan menghela nafasnya panjang. Ia menunduk menatap wajah Lily lekat seakan mengabsen setiap inci dari wajahnya.

"Jangan buat gue hawatir"

Lily mengkerutkan kedua alisnya gelisah.

"Jangan bertindak bodoh tanpa gue" Tambahnya lagi.

"Sudah makan?" Tanya Zevan mengalihkan pembicaraannya. Lily hanya mengangguk.

"Gak bohong?" Tanyanya lagi penuh curiga. Lily pun menggeleng cepat.

"Ya sudah. Tidur." Titahnya saat ia telah didepan pintu kamar Lily dan masuk. Ia kemudian membaringkan tubuh sang gadis diranjangnya.

"Kak Zevan abis dari mana?" Tanyanya penasaran.

"Lo gak perlu tau apa-apa" Jawabnya dengan wajah dingin kemudian berjalan keluar kamarnya.

"Ingat, tidurlah" Ucapnya lagi sebelum ia benar-benar akan menutup pintu.

"Hm... Apa dia udah tau papa kandungnya? Terus, papa sebenarnya tau gak yah kalo kak Zevan itu anak kandungnya atau bukan? Aduh ngapain pusingin itu sih? Aku kan harusnya pergi jauh dari sini!" Bingungnya saat ia memikirkan ingatan abstraknya itu. Semuanya terasa makin rumit dan tak berjalan sesuai novel. Mungkin ini hukuman untuknya karena berusaha menghindari apa yang telah menjadi jalan takdirnya.

******

Zevan duduk resah di sofa kamarnya. Ia meremas rambutnya acak. Pikirannya begitu kalut saat mengetahui fakta bahwa ternyata ia adalah anak dari pria lain selingkuhan ibunya. Meski begitu, ia belum mengetahui siapa pria bajingan selingkuhan ibunya itu.

Flashback Zevan

Saat itu, Zevan pergi kesuatu tempat. Saat percakapan dirumah sakit tadi Zevan langsung beranjak pergi. Ada hal yang membuatnya terganggu.

Brak!

Pintu itu ditendang keras olehnya. Lalu, didalamnya terdapat dua orang tengah bercakap-cakap. Dan satu diantaranya, membawa seorang gadis yang tidak sadarkan diri.

"Ternyata memang lo pelakunya!"

"Ohoho hai Zevan! Kenapa kau sopan sekali dengan menendang pintuku" Ucap pemuda tuan rumah dengan menyunggingkan senyuman liciknya.

"Hentikan perbuatan bejat lo itu! Untuk apa lo melukainya!"

"Hei!! Apa kau tidak tau? Gadis ini sudah mencari gara-gara dengan ku!" Ujarnya sembari menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya. Gadis itu terbaring dengan tangan kaki terikat.

"Apa maksud lo!?"

"Wohoho santai! Santai! Apa kau benar-benar tidak tau? Gadis ini yang sudah memberikan kado sialan itu pada adikmu! Hahaha!" Tawanya dengan suara yang mengerikan.

"Atau.... Adik 'kita'?" Tambahnya lagi dengan berpose seolah-olah sedang berfikir.

"Gue tau, tapi gue punya cara sendiri untuk membalasnya! Lagi pula bukan gadis itu dalang utamanya" Tegas Zevan tak suka atas tindakan sembrononya.

"Aku tidak peduli. Dia juga berkontribusi akan membunuh 'adik kita', bukankah dia sudah lancang? Tak boleh ada satu pun yang berani menyentuhnya setalah dia benar-benar hancur ditanganku!"

"Jangan pernah berfikir untuk melakukan hal itu! Gue gak bakalan tinggal diam"

"Hei! Kau pikir kau siapa berani mengaturku! Dengan cara kau kesini dengan begitu apa kau pikir aku akan takut padamu?! Ingatlah tujuan kita! Jangan menjadi pengecut!"

"Bawa gadis itu keruangan ku! Akan ku beri dia pelajaran!"

"Gue bakal laporin lo kepolisi, Zefran."

Pemuda itu pun menoleh dingin. "Apa kau pikir aku takut? Apa kau tidak malu terus-menerus menggunakan wewenang yang bukan dari ayahmu sendiri?"

Mendengar itu, mata Zevan bergetar. Apa? Bukan ayahnya sendiri? Apa maksud dari perkataan saudara kembarnya itu?!

"Hentikan omong kosong itu!"

"Kau baru tau itu? Ah itu pasti menyakitkan sekali"

Zefran malah bertepuk tangan pelan dan berjalan mengelilingi Zevan.

"Kau bodoh. Melebihi diriku." Bisiknya pada telinganya dengan nada meremehkan. Zevan menoleh menatapnya kesal. Namun Zefran hanya terus tersenyum lebar padanya. Kini hatinya semakin campur aduk. Kenapa harus sekarang ia mengetahui fakta sebenarnya itu?!

Flashback off

"Mungkinkah dengan membunuh Lily itu akan menjadi lebih baik?" Gumamnya sembari beranjak dan berjalan menuju balkonya. Ia memasukan kedua tangannya kedalam saku dan menatap ke arah kamar Lily yang ada di sebelah balkonnya.

. . . . . . . . . . . .

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!