Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Protagonis Wanita
Tahun berganti dan tidak ada kemajuan signifikan di antara pasangan favorit kita.
Sejujurnya, aku mulai ragu dengan ini semua; apakah keputusan yang baik untuk memastikan Jovienne dan Havren menjadi kekasih.
Di sisi lain… selain petunjuk samar yang aku dapatkan waktu lalu, tidak ada hal mencolok lain dari Havren. Dia tetap tersenyum cerah tiap melihatku, tetap memainkan alat musik lembut di beberapa sore menjelang matahari terbenam. Dia bahkan membuat lukisanku!
Aku!
Dapat lukisan dari seorang pangeran!
Ehem.
Maksudku, aku tidak punya bukti solid mengenai apa sebenarnya yang disembunyikan Havren. Atau, apakah memang dia menyembunyikan sesuatu. Aku bisa saja salah dengar dan salah lihat. Bilapun benar itu Havren, tidak ada hal buruk yang terjadi karena itu.
Mungkin, seperti di dalam drama kerajaan korea yang dulu suka aku tonton, Havren hanya gemar menyamar untuk bisa keluar dari istana dan menikmati kehidupan sebagai warga biasa.
Ya.
Itu penjelasan yang sangat logis. Dan sangat mungkin terjadi.
HAH! ATAU!!
Jangan-jangan dia punya kekasih di luar istana! Seorang rakyat biasa! Hubungan mereka tidak direstui Raja sehingga mereka harus bertemu sembunyi-sembunyi!
Kalau benar seperti itu, cukup gawat. Aku harus mencari tahu siapa saingan Jovienne ini.
Apa jangan-jangan dia protagonis wanita yang sebenarnya?
Apa… apa seharusnya aku membantu dia daripada Jovienne yang hanya NPC ini???
Belakangan ini aku juga baru terpikirkan sesuatu.
Dari antara tiga pangeran, kenapa Havren yang pertama dijodohkan?
Apa normal adik bungsu melangkahi dua kakaknya? Apa karena Havren dan Jovienne berusia paling dekat?
Tapi, sepertinya menjodohkan Jovienne dengan Caelian dan Raien yang berusia 26 tahun juga masih wajar saja, terlebih untuk pernikahan aristokrat.
Apa perjodohan mereka adalah politik istana?
Atau… jangan-jangan Caelian sudah punya calon Ratu, aku saja yang tidak tahu…??
...*...
...*...
...*...
Kekhawatiranku itu terpatahkan tidak sampai satu minggu kemudian.
Malam ini, sebuah pesta yang amat spesial diadakan di istana Astryion. Tidak ada nama resmi yang khusus untuk acara ini, namun semua orang tahu bahwa ini adalah ajang pencarian calon pasangan bagi putra mahkota.
Aula besar istana Kaelros bersinar lebih terang malam itu. Lilin-lilin dalam kristal menggantung memenuhi langit-langit yang tinggi, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang telah dipoles hingga nyaris seperti cermin. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan, cukup halus untuk tidak mengganggu percakapan, namun cukup jelas untuk menjaga atmosfir.
Aku bergelung di sandaran lengan kursi yang ditempati Havren. Pangeran ketiga itu ‘menjemputku’ dari kamar Jovienne, meminta izin pada gadis itu agar aku duduk bersamanya. Mungkin gara-gara insiden di pesta penyambutan Jovienne tempo lalu, akan memudahkan bila aku tetap dianggap sebagai peliharaan Havren.
Jovienne sempat terlihat curiga dan ingin menentang ide itu, tapi sebelum dia mengatakan apapun, aku sudah lebih dulu melompat ke dalam pelukan Havren.
Mana mungkin aku menolak kesempatan emas ini, kan? Berada di dekatnya berarti aku bisa mengawasi jalannya pesta dengan lebih baik.
Terutama untuk menemukan protagonis wanita di dunia ini!
Dia pasti akan harus berinteraksi dengan tiga pangeran. Apalagi di acara besar begini; biasanya ada hal penting yang terjadi. Aku harus menyaksikannya dari kursi terbaik.
Mataku menyapu pintu masuk utama aula, memperhatikan satu persatu gadis bangsawan yang datang.
Rombongan pertama masuk dengan langkah percaya diri—nyaris angkuh. Gaun mereka berkilau dengan warna-warna terang yang amat menarik perhatian. Suara mereka mengalun tinggi ditemani tawa ringan yang sedikit terlalu keras. Mereka semua sangat cantik, tentu saja. Tapi, yang seperti itu sama sekali bukan tipe protagonis wanita.
Berikutnya adalah seorang lady dari salah satu keluarga bangsawan besar. Namanya diumumkan dengan lantang dan banyak orang langsung membungkuk sopan menyambutnya. Tampak lambang yang berkilau samar di sarung tangannya. Ia bergerak dengan sempurna. Anggun. Senyum di wajahnya terbentuk sempurna. Ia terlihat langsung dihampiri beberapa orang untuk bertukar sapa. Gadis yang sangat elegan.
Aku memiringkan kepala, mencoba membayangkan gadis itu berdiri di samping Caelian. Mereka akan terlihat seperti lukisan. Sangat indah.
Tapi… tidak ada sparks.
Sepertinya bukan dia.
Satu demi satu menyusul lainnya. Mudah sekali menemukan mana yang berasal dari kelas bangsawan tinggi—banyak yang tiba-tiba saling berbisik untuk mengomentari, serentak membungkuk sopan, atau bergegas menyapa; atau ketiganya sekaligus.
Tamu dari negara tetangga pula turut hadir. Aku tidak ingat siapa dari mana. Hanya saja ada satu rombongan yang begitu muncul, seisi aula langsung ramai dipenuhi bisikan terkejut, lalu orang-orang seperti refleks mengambil satu langkah menjauh seakan takut. Mereka terlihat sangat cantik. Tapi, tatapan mereka memang sedikit membuat bergidik. Tidak tahu kenapa rasanya seperti bukan manusia.
Tidak ada tamu lain dari Solmara—selain staf diplomat yang waktu itu mengantar Jovienne. Sepertinya Kaelros tidak ingin mengumpulkan telurnya di satu keranjang. Sebenarnya sangat bisa dipahami. Havren yang pangeran ketiga sudah dijanjikan untuk putri mahkota Solmara, praktisnya tidak ada lagi yang berada di posisi lebih tinggi dari Jovienne dan dianggap pantas untuk dipersembahkan bagi putra mahkota Kaelros.
Aku menguap dan menyandarkan kepala di lengan Havren.
Sejauh ini tidak ada yang cukup meninggalkan kesan.
Beberapa dari mereka sudah cukup berani menghampiri di mana keluarga kerajaan Kaelros duduk, menyapa satu persatu dan terutama berusaha menarik perhatian Caelian.
Tiap kalinya, Caelian menanggapi dengan tenang, tersenyum seperlunya, menjawab seadanya. Sopan. Namun, tidak lebih dari yang diperlukan. Tidak ada yang berhasil membuat putra mahkota itu berbicara lebih banyak dari dua kalimat, lebih-lebih membuatnya bangkit dari kursi untuk mengambil penganan apalagi berdansa.
Haahh…
Masa, tidak ada satupun di antara orang-orang ini?
Apa jangan-jangan protagonis wanitanya seperti Cinderella? Yang dilarang ibu tiri jahat untuk datang ke pesta dan terpaksa sedang bekerja di kediamannya yang sederhana?
Masa aku harus menjelajah seisi Kaelros untuk menemukannya?
Apa aku harus lebih banyak menempeli Caelian supaya tidak melewatkan kesempatan pertemuan mereka? Di satu waktu protagonis wanita itu akan harus bertemu dengan Caelian… kan?
Baru saja aku berpikir begitu, tiba-tiba udara di sekitar terasa berbeda. Tidak kentara sebenarnya. Perubahannya halus. Nyaris tak disana. Tidak terdengar suara aneh. Tidak pula ada gerakan mencolok. Tapi, aku merasakannya.
Kepalaku terangkat dan mataku menyipit ke arah pintu aula.
Seseorang baru saja melangkah masuk dan—dunia seakan bergeser.
Gadis itu tidak seberapa mencolok. Gaunnya berwarna lembut, tampak jelas berkualitas tinggi, namun tidak tampak dibuat untuk menarik perhatian. Ornamen cantik namun tidak berlebihan menghiasi rambut ikal berwarna cokelat terang. Wajahnya bersemu kemerahan, dengan bola mata besar seperti rusa, juga senyum yang sangat manis. Liontin batu amethyst menghiasi leher jenjang, senada dengan anting-anting dan iris matanya.
Oh!
Aku ingat liontin amethyst itu!!
Kalung dengan liontin berbentuk clover daun empat itu sering muncul di intro game! Merchandise-nya juga sempat sangat populer karena desainnya yang cantik dan sederhana. Limited edition merchandise yang tidak bisa aku dapatkan!!!
Aah….
Diakah protagonis wanitanya??
Bulu di punggungku sedikit meremang.
Aku mengikuti tiap pergerakan gadis itu dengan mataku. Langkahnya yang tenang. Tatapannya yang jernih. Senyumnya yang manis. Aku menatapnya tanpa berkedip.
Aura protagonis wanita memang berbeda! Rasanya seperti ada lighting khusus yang menyala di sekitar wajahnya. Bersinar cerah.
Kalau dia berdiri di samping Caelian… tidakkah mereka akan jadi pasangan yang serasi?
Telingaku berdiri tegak sembari menunggu gadis itu menghampiri kami.
Nama.
Aku perlu tahu namanya.
Althea Grendahl.
Gadis itu memberitahu namanya seraya menyapa Kaisar dan Permaisuri. Gerakannya sempurna dan amat terlatih. Begitu anggun dan cantik. Ia menyampaikan salam dan basa-basi secukupnya. Lalu….
Sudah.
Dia hanya membungkuk singkat pada masing-masing pangeran, lalu berbalik pergi.
Begitu saja.
Tanpa sedikitpun berusaha mengajak Caelian berbicara.
Aku duduk lebih tegak untuk melihat ekspresi Caelian lebih jelas. Tidak ada perubahan berarti di wajah putra mahkota itu.
Tapi, mata birunya sempat mengikuti langkah Althea yang menjauh. Sesuatu yang tidak dia lakukan pada gadis-gadis sebelumnya.
Hoo hoo.
Refleks aku tersenyum.
Menarik.
Kalau diingat-ingat, aku pernah ‘membeli’ gaun yang dipakai gadis itu. Aku tidak ingat di acara apa aku memakainya, tapi aku yakin memilikinya di inventarisasi akunku. Gaun dengan perpaduan biru dan ungu pucat itu senada dengan tone color Havren, aku ingat memilihnya gara-gara itu.
....Eh.
…. semoga saja… Althea tidak memiliki alasan seperti itu…
Kalau iya… dia saingan Jovienne??
Tidak. Tidak.
Aku akan membantu Caelian mendapatkannya.
Lihat saja kekuatan kucing mak comblang ini!
Ho ho ho ho~