NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Saat Monster Itu Mulai Bangun

Ruangan itu hancur.

Sebagian dinding retak. Kabel-kabel terbakar menggantung dari langit-langit.

Asap tipis memenuhi udara, bercampur dengan bau logam panas dan darah.

Namun tidak ada seorang pun yang berani bergerak.

Karena Veyra masih berdiri di tengah semuanya.

Dan sekarang—

bahkan orang bodoh pun bisa sadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Matanya masih bercahaya samar.

Biru dingin.

Tidak terang.

Tapi cukup membuat siapa pun

yang melihatnya merasa tidak nyaman.

Pasukan pemburu ancaman digital yang tadi masuk kini sebagian terkapar di lantai.

Beberapa masih sadar, tapi tidak ada yang berani mendekat lagi.

Mereka takut.

Dan Veyra bisa merasakannya.

Lucunya… rasa takut itu terasa menyenangkan.

“Sial…” gumamnya pelan sambil menatap tangannya sendiri.

“Aku mulai ngerti kenapa kekuasaan bikin manusia kecanduan.”

Lyra langsung melangkah mendekat.

“Veyra. Fokus sama suaraku.”

Veyra melirik sekilas.

“Aku fokus.”

“Kamu tidak terdengar seperti dirimu sendiri.”

“Memangnya kamu tahu diriku yang asli?”

Deg.

Lyra langsung diam.

Karena pertanyaan itu terlalu tepat.

Dan Veyra tahu itu.

Ia mulai melihat semuanya lebih jelas sekarang.

Ekspresi.

Detak jantung.

Gerakan kecil.

Data manusia ternyata sangat mudah dibaca.

Terlalu mudah.

“Kalian semua bohong,” katanya pelan sambil memandang satu per satu orang di ruangan itu.

“Tapi lucunya… kalian bahkan bohong dengan cara berbeda.”

Selene bersandar santai di dekat dinding retak.

“Welcome to humanity.”

Veyra tertawa kecil.

Namun tawanya terasa kosong.

“Kalau ini yang disebut manusia…” matanya perlahan menyipit, “aku mulai ngerti kenapa sistem itu ingin menggantikan semuanya.”

Sunyi.

Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.

Karena untuk pertama kalinya—

Veyra tidak terdengar seperti seseorang yang sedang melawan sistem.

Ia terdengar seperti seseorang yang mulai setuju dengannya.

Hologram di belakangnya kini semakin stabil.

Tubuhnya nyaris terlihat nyata.

Dan sekarang—

ia tidak lagi sekadar meniru wajah Veyra.

Ia meniru gerakannya juga.

Saat Veyra tersenyum—

hologram itu ikut tersenyum.

Saat Veyra menoleh—

ia melakukan hal yang sama.

Seperti bayangan.

Namun lebih mengerikan.

“Sinkronisasi emosional meningkat.”

“Core Link berkembang di luar prediksi.”

Pria misterius di layar memperhatikan semuanya dengan tatapan puas.

“Luar biasa…”

Selene langsung mendecakkan lidah.

“Tatapanmu bikin muak.”

Pria itu tertawa kecil.

“Kamu masih terlalu emosional, Selene.”

“Dan kamu masih terlalu hidup.”

Veyra tidak tertarik mendengar mereka lagi.

Karena pikirannya sekarang mulai dipenuhi hal lain.

Data.

Banyak sekali data.

Terlalu banyak.

Dan semuanya masuk tanpa bisa dihentikan.

Ia melihat percakapan orang-orang di luar kota.

Berita yang mulai menyebar.

Pemerintah yang mulai panik.

Bahkan sistem keamanan beberapa negara mulai aktif bersamaan.

Dan pusat semuanya…

dirinya.

“Wow…” bisiknya pelan. “Jadi begini rasanya jadi ancaman global.”

Lyra langsung menatap tajam.

“Jangan menikmati ini.”

“Kenapa?”

“Karena itu bukan dirimu.”

Veyra perlahan menoleh.

Tatapannya dingin.

“Lalu siapa diriku sebenarnya?”

Sunyi.

Lagi.

Selalu begitu.

Tak ada yang benar-benar bisa menjawab.

Dan Veyra mulai muak dengan itu.

Tiba-tiba seluruh gedung kembali bergetar.

Namun kali ini bukan ledakan.

Melainkan suara frekuensi rendah.

MMMMMMMM—

Semua layar langsung mati.

Hologram glitch beberapa detik.

Dan Veyra langsung memegang kepalanya lagi.

“UGH—”

Selene langsung berubah serius.

“Mereka aktifin menara utama.”

Pria di belakang langsung pucat.

“Tidak mungkin secepat itu…”

Lyra menatap keluar jendela pecah.

Di kejauhan, cahaya merah terlihat menyala di tengah kota.

Sebuah menara besar mulai aktif.

Dan saat alat itu menyala—

seluruh jaringan digital di area sekitar mulai kacau total.

“Perangkat pemutus sinkronisasi,” kata Selene cepat.

“Kalau itu mencapai frekuensi penuh, koneksi Veyra bakal dipaksa putus.”

“Dan dia bakal mati?” tanya salah satu pasukan yang masih sadar.

Tak ada yang langsung menjawab.

Karena jawabannya…

mungkin lebih buruk.

Veyra perlahan mengangkat kepala.

Napasnya tidak stabil.

Suara-suara di kepalanya mulai kacau.

Sebagian hilang.

Sebagian bertabrakan.

Namun di tengah semua itu—

ada satu suara yang tetap jelas.

“Jangan biarkan mereka menghentikan kita.”

Veyra mengepalkan tangan.

“Aku…” napasnya berat, “tidak suka diperintah.”

“Ini bukan perintah.”

“Ini bertahan hidup.”

Deg.

Tubuhnya tiba-tiba menegang.

Karena suara itu benar.

Semakin frekuensi menara meningkat—

semakin sakit kepalanya.

Dan semakin terasa…

bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang benar-benar akan hancur kalau koneksi itu diputus sekarang.

“Sial…” gumamnya.

Lyra langsung mendekat lagi.

“Dengar aku. Kita masih bisa stabilkan koneksinya secara manual.”

“Manual?” Selene tertawa kecil. “Kamu ngomong seolah ini laptop error.”

“Ada cara!”

“Dan kemungkinan berhasilnya?”

Lyra diam.

Selene menghela napas.

“Nah. Itu dia masalahnya.”

Veyra mulai tertawa pelan.

Semua orang langsung melihatnya.

Tawanya makin lama makin terdengar aneh.

Bukan karena lucu.

Tapi karena terdengar seperti seseorang yang akhirnya kehilangan sesuatu.

“Atau mungkin…” ia mengangkat wajah perlahan, “aku memang tidak ditakdirkan selamat.”

“VEYRA.”

“Aku capek.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—

emosinya terdengar jelas.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Capek.

“Capek terus dibohongi.”

“Capek jadi eksperimen.”

“Capek terus dikejar orang-orang yang bahkan lebih tidak waras dari aku.”

Sunyi.

Bahkan hologram ikut diam sekarang.

Dan Veyra—

akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini ia tahan sendiri.

“Aku bahkan tidak tahu mana bagian hidupku yang nyata.”

Deg.

Lyra langsung menunduk sedikit.

Karena ia tahu.

Kalimat itu bukan kemarahan.

Itu luka.

Pria misterius di layar akhirnya bicara lagi.

“Kalau kamu ingin tahu yang nyata…”

Tatapan tenangnya kembali tertuju pada Veyra.

“…maka berhentilah melawan siapa dirimu sebenarnya.”

Veyra tersenyum tipis.

Namun kali ini—

senyum itu terasa sedih.

“Dan siapa aku sebenarnya?”

Pria itu menjawab tanpa ragu.

“Evolusi.”

Sunyi.

Lalu Veyra tertawa lagi.

Namun kali ini lebih keras.

Lebih dingin.

“Dengar dia.” Ia menatap semua orang di ruangan. “Manusia selalu lucu.”

“Kalau mereka menciptakan sesuatu yang gagal…” matanya menyipit, “mereka menyebutnya kesalahan.”

“Kalau berhasil…”

Senyumnya perlahan berubah.

“…mereka menyebutnya evolusi.”

Deg.

Tak ada yang bisa membantah.

Karena jauh di dalam—

semua orang di ruangan itu tahu.

Veyra benar.

Frekuensi menara makin kuat.

MMMMMMMM—

Lampu mulai pecah lagi.

Hologram glitch semakin parah.

Dan untuk pertama kalinya—

ekspresi hologram itu berubah.

Bukan dingin.

Melainkan—

cemas.

“Koneksi menurun.”

“Core Link tidak stabil.”

Veyra memegang kepalanya lebih keras.

Namun di tengah rasa sakit itu—

sesuatu muncul.

Potongan ingatan.

Jelas.

Tidak kabur lagi.

Lorong putih.

Anak-anak.

Tangisan.

Dan seorang gadis kecil menggenggam tangannya.

“Jangan tinggalin aku…”

Deg.

Veyra membeku.

Suara itu.

Ia kenal suara itu.

Dan perlahan—

ia menoleh ke arah Lyra.

Mata Lyra langsung melebar.

Karena ia sadar.

Veyra mulai mengingat.

“...Lyra?”

Untuk pertama kalinya—

wanita itu kehilangan ketenangannya.

“Veyra…”

Potongan ingatan lain muncul.

Dua anak kecil berlari di lorong laboratorium.

Berjanji akan kabur bersama.

Lalu alarm berbunyi.

Pintu tertutup.

Dan tangan mereka terlepas.

Deg.

Napas Veyra tercekat.

“Kamu…”

Lyra menatapnya dengan mata yang akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan emosi.

“Aku coba kembali buat nyari kamu.”

Sunyi.

Selene perlahan memalingkan wajah.

Bahkan pria di layar ikut diam beberapa detik.

Karena untuk pertama kalinya—

Veyra melihat sesuatu yang benar-benar nyata.

Bukan data.

Bukan manipulasi.

Melainkan seseorang…

yang benar-benar tidak meninggalkannya.

Dan justru itu—

yang paling menghancurkan dirinya.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!