NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Menaikkan Nilai Tawar

Laki-laki itu berhenti mondar-mandir di tengah ruang tamu kediaman Kesuma. Ia menoleh, menatap Shanaya yang duduk tenang menyesap teh di sofa satin. Ujung sepatu kulit Alvian yang mengilap tampak gelisah menendang pinggiran karpet Persia.

Alvian melangkah mendekat, lalu berjongkok di depan Shanaya. Posisi itu membuatnya tampak sangat lembut dan rendah hati. Padahal sebenarnya, pria itu sedang memaksa masuk ke garis pandang Shanaya, mengunci fokus gadis itu sepenuhnya agar dunia di ruangan tersebut seolah hanya berisi mereka berdua.

"Berpikir apalagi sih, Nay?" Alvian menatap matanya dalam-dalam. "Anastasia jatuh, saham perusahaan goyang. Media lagi goreng berita kita habis-habisan. Kita butuh narasi baru. Narasi yang indah. Pertunangan kita itu jawabannya."

Shanaya meletakkan cangkirnya tanpa suara. Ia menatap wajah Alvian yang tampak sangat tulus, sangat khawatir. Akting yang nyaris tanpa cela.

"Aku cuma nggak mau kita buru-buru karena tekanan publik, Al." Shanaya menyandarkan punggungnya. Mata gadis itu menatap hampa ke arah jendela besar yang menampilkan taman belakang. "Semuanya kerasa mendadak sejak kejadian Anastasia. Aku... aku cuma butuh ruang napas."

Alvian meraih jemari Shanaya, menggenggamnya erat. Hangat, tapi bagi Shanaya, sentuhan itu terasa seperti lilitan ular.

"Aku ngerti kamu stres. Aku tahu ini berat buat kamu." Suara Alvian merendah, ibu jarinya memijat lembut punggung tangan Shanaya. "Tapi dengerin aku ya? Aku lakuin ini buat kamu. Buat jaga posisi kamu di depan dewan direksi. Kalau kita resmi tunangan, aku punya wewenang penuh buat bungkam mulut mereka yang mulai ngeremehin kamu."

Shanaya menarik napas panjang, membiarkan bahunya turun seolah ia benar-benar lelah dan pasrah. "Kasih aku waktu seminggu ya? Aku mau fokus ke peluncuran koleksi musim gugur dulu. Kalau itu sukses, kita umumkan pertunangannya."

Alvian terdiam sejenak. Matanya memicing tipis, sebuah kilatan frustrasi yang hanya muncul sepersekian detik sebelum kembali tertutup topeng pelindung.

"Seminggu?" Alvian mengembuskan napas berat. "Oke. Seminggu. Tapi setelah itu, jangan ada alasan lagi ya, Sayang?"

Shanaya hanya mengangguk pelan. Senyum tipisnya muncul, jenis senyum yang biasanya membuat Alvian merasa sudah memenangkan perdebatan.

"Kamu istirahat deh. Aku balik ke kantor dulu, mau beresin beberapa laporan keuangan yang sempat kacau gara-gara berita plagiat itu." Alvian berdiri, mengecup kening Shanaya lama.

Shanaya menutup matanya saat bibir Alvian menyentuh kulitnya. Perutnya melilit mual. Begitu punggung Alvian menghilang di balik pintu jati yang besar, Shanaya langsung mengusap keningnya dengan punggung tangan secara kasar.

Ia berdiri dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya di lantai dua.

Pintu terkunci. Tirai ditutup rapat.

Shanaya menghidupkan laptopnya. Layar monitor memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang kini sedingin es. Tangannya meraih ponsel, menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala namun belum pernah ia hubungi di kehidupan ini.

"Halo. Ini Shanaya Putri Kesuma."

"Nona Kesuma?" Suara di seberang sana terdengar kaget. Itu suara Mira, reporter investigasi Kanal Satu yang baru saja naik daun karena kasus Anastasia. "Ada apa?"

"Data baru soal Alvian Restu. Kamu punya folder server pribadi yang nggak bisa diakses redakturmu kan?"

Mira terdiam beberapa detik. "Tentu. Tapi Nona, bukannya Alvian itu calon suami Anda?"

"Dia adalah pria yang bakal menghancurkan perusahaan ayahku kalau nggak dihentikan sekarang." Shanaya mengetuk-ngetuk meja dengan kartu hitam pemberian Steven Aditya. Benda itu terasa dingin di ujung jarinya. "Cek aliran dana dari rekening operasional Kesuma Group ke sebuah perusahaan cangkang bernama PT Gema Abadi. Jangan lewat jalur resmi. Pakai informan yang pernah saya sebutkan di pertemuan kemarin."

"Baik. Saya akan segera gerak."

Shanaya menutup telepon. Ia membuka sebuah folder rahasia di komputernya. Folder bertajuk Emergency Disposal. Semakin tenang dan rapi penamaannya, semakin Shanaya merasa memegang kendali mutlak. Ia sudah melihat Alvian murni sebagai target operasi medis yang harus diangkat dari tubuh keluarganya, bukan lagi manusia.

Di dalam folder itu terdapat tangkapan layar percakapan rahasia Alvian dengan para pemegang saham oposisi, catatan utang judi Alvian di Makau yang sudah mencapai angka delapan miliar, dan beberapa foto Alvian saat bertemu dengan vendor kain sintetis murahan itu.

Ia belum bisa mengeluarkan ini semua sekarang. Terlalu dini. Jika ia menembakkan semua pelurunya saat ini, Alvian akan hancur, tapi Kesuma Group akan ikut meledak bersamanya. Ia harus memastikan dirinya memegang kursi tertinggi direksi sebelum Alvian ia seret ke tiang gantungan.

Ketukan di pintu kamar memotong perhitungannya.

"Non? Ini Bi Inah. Nona mau makan malam di sini atau di bawah?"

Shanaya mematikan layar laptopnya. "Bawa ke sini aja, Bi."

"Sama ini lho, Non. Ada titipan dari Den Alvian tadi. Katanya buat penenang pikiran."

Bi Inah masuk membawa nampan berisi sup ayam hangat dan sebuah kotak beludru merah kecil. Shanaya membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian dengan potongan marquise yang elegan. Indah. Dan sangat mahal untuk ukuran gaji seorang asisten manajer operasional seperti Alvian.

Shanaya tahu dari mana uang untuk membeli cincin ini berasal. Dana taktis perusahaan yang digelapkan pelan-pelan dengan dalih biaya survei lapangan.

"Cantik ya, Non?" Bi Inah berkomentar sambil menata piring.

"Iya, Bi. Cantik banget." Shanaya meletakkan kembali cincin itu ke kotaknya dengan gerakan presisi, seolah berlian tersebut bisa menularkan penyakit hanya dengan disentuh terlalu lama. "Sampai rasanya nggak nyata."

Setelah Bi Inah keluar, Shanaya kembali duduk di depan meja kerjanya. Ia menarik sketsa gaun musim gugurnya. Tangannya yang memegang pensil bergerak dengan tajam di atas kertas.

Ia harus menaikkan nilai tawarnya di depan Steven Aditya. Steven bukan tipe pria yang bisa dibeli dengan uang atau rayuan. Pria itu hanya peduli pada dominasi dan keuntungan absolut. Shanaya harus membuktikan bahwa dirinya adalah aset paling mematikan yang pernah Steven temui.

Ia mulai merancang strategi komunikasi. Publik selalu lapar pada figur korban yang berhasil berdiri lagi. Kalau dimainkan dengan benar, skandal Anastasia tidak akan menghancurkan nama Kesuma. Skandal itu justru akan membersihkan panggungnya.

Orang-orang menyukai pewaris cantik yang terluka, dikhianati, tapi tetap menolak menyerah dan berdiri tegak. Shanaya hanya perlu memastikan kamera menangkap sudut yang tepat saat ia memainkan perannya. Publik menyukai perempuan cantik yang nyaris hancur tapi tetap berdiri anggun di depan kamera.

Jam di dinding terus berdetak. Pukul sebelas malam.

Shanaya membuka laci mejanya, mengambil kalender kecil. Ia melingkari satu tanggal dengan spidol merah. Tanggal di mana dikehidupan lalunya, ia menandatangani surat penyerahan aset di bawah tekanan mental dari Alvian. Tanggal di mana ibunya meninggal dunia di ruang ICU karena serangan jantung.

Ia menatap lingkaran merah itu tanpa berkedip sedikit pun.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal menyala di layar.

Kartu nama saya bukan untuk pajangan, Nona Kesuma. Buktikan kalau Anda memang layak saya ajak bicara besok pagi. Pukul 09.00 di Aditya Tower.

Hanya itu. Tanpa nama pengirim, tapi Shanaya tahu persis siapa pemilik gaya bahasa yang seangkuh itu.

Steven Aditya sedang mengujinya. Pria itu ingin tahu seberapa cepat Shanaya bisa bergerak di bawah tekanan intimidasi.

Shanaya tersenyum tipis. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetik balasan tajam tanpa repot-repot bersikap manis.

Kalau data saya mengecewakan, Anda bisa menyuruh satpam mengusir saya keluar.

Pesan terkirim. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Ia mematikan lampu meja kerjanya. Ruangan itu kini hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk menembus celah tirai.

Alvian pikir ia sedang sibuk membangun masa depan yang indah bersama pewaris Kesuma Group. Padahal, Shanaya sedang menghitung cara paling bersih untuk menghancurkan hidup pria itu tanpa sisa.

Kali ini, saat tanggal itu tiba, yang jatuh berlutut bukan Shanaya.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!