Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 Kepanikan di Ruang IGD
10 menit kemudian, tiba-tiba Alvaro terbangun dari istirahatnya karena rasa pusing dan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Vano" panggil Alvaro lirih.
"Iya Var, ada yang sakit?" tanya Elvano.
"Pusing sama dingin Van tubuhku" jawa Alvaro dengan pelan dengan tubuh yang menggigil.
"Kita pulang ya, aku telpon abang buat jemput kita sama izin ke wali kamu dulu" ucap Elvano kepada Alvaro dan Alvaro hanya bisa mengangguk dengan lemas.
Setelah ia mendapatkan jawaban dari Alvaro pun ia mengambil ponselnya untuk menghubungi sang abang.
"Halo, kenapa Van?" tanya Arlan dari sebrang.
"Bang bisa jemput aku sama Al gak, sekarang" jawab Elvano.
"Kalian kenapa?" tanya Arlan dengan panik.
"Aku gak kenapa-kenapa kak tapi Al yang kenapa-kenapa, dia sakit kak Al kayaknya kena Demam Berdarah kata dokter di uks" jawab Elvano.
"Ok ok, abang kesana sekarang tunggu 15 menit" ucap Arlan dengan nada panik.
"Ok bang, aku juga mau izin ke wali kelasnya Al dulu" ujarnya lagi.
"Ok tunggu ya" ucap Arlan menenangkan Elvano yang ada di seberang.
"Iya kak, di tunggu ya" ujarnya lagi.
"Abang matikan ya, Assalamualaikum" ucap Arlan.
"waalaikumsalam" jawab Elvano.
Setelah ia memutus panggilan telpon dari bang Arlan ia pun selanjutnya menghubungi wali kelas dari Alvaro supaya bisa mendapatkan izin dari wali kelas untuk pulang karena sakit.
"Halo bu, maaf mengganggu saya El adik kembarnya Alvaro bu saya mau izin untuk membawa pulang Al karena sakit bu sekarang ada di uks karena drob" ucap Elvano sopan kepada wali kelas Alvaro.
"Ya ampun, saya akan segera ke uks sebentar lagi El tunggu sebentar ya" ujar bu Erna sang wali kelas kepada El.
"Baik bu, saya tunggu" ucap Elvano lagi.
"Assalamualaikum" ujar bu Erna.
"Waalaikumsalam" jawab Elvano.
5 menit kemudian bu Erna pun datang dengan tergesa-gesa untuk masuk ke ruangan uks untuk melihat keadaan anak walinya.
"Nak keadaan kamu gimana?" tanya ibu Erna yang melihat keadaan Alvaro.
"Sudah mendingan kok bu, cuma masih pusing saja" jawab Alvaro dengan lemas.
Tiba-tiba dokter yang berjaga di uks itu mendekati mereka bertiga untuk menjelaskan ke adaan Alvaro ke bu Erna.
"Misi bu, biar saya jelaskan keadaan Alvaro" ucap dokter tersebut dan di angguki oleh bu Erna sebagai jawaban.
"Jadi Alvaro mengalami gejala Demam Berdarah bu karena di demam dan suhunya sangat tinggi dan ia juga lemas sekaligus mual" jelas Alvaro dan cuma di angguki oleh bu Erna.
"Jadi bu tadi saya telpon bu Erna ingin meminta izin untuk membawa pulang Al bu" ujar Elvano kepada bu Erna.
"Baiklah saya izinkan Al pulang supaya bisa istirahat" ucap bu Erna.
"Apakah sudah menghubungi orang tua?" tanya bu Erna.
"Sudah bu, nanti abang yang jemput" jawab Elvano.
"Jadi kamu juga akan izin pulang El" ucap bu Erna.
"Iya bu, tolong bilang ke bu Lita ya bu" ujar Elvano dan hanya di beri anggukan oleh bu Erna.
15 menit kemudian, Arlan pun berlari dengan sangat kencang ke arah ruangan uks ia pun mengetuk ruangan tersebut dengan hati-hati dan sekaligus muka paniknya.
"Permisi bu" ucap Arlan dengan sopan meskipun wajah khawatirnya tidak bisa tertutupi.
"Oh, abangnya Al dan El ya" ujar bu Erna.
"Iya bu, mau jembut Al dan El" ucap Arlan.
"Oh ya silahkan" ujar bu Erna mempersilahkan.
Arlan pun menggendong Alvaro dengan gaya koala, ia pun bisa meresakan suhu tubuh Alvaro yang sangat panas.
"Permisi ya bu" ucap Arlan dan Erlan.
"Iya silahkan" ujar bu Erna.
Di sepanjang lorong sekolah, mereka berdua pun berjalan dengan cukup cepat supaya bisa segera ke rumah sakit.
Sesampainya mereka di mobil Arlan yang ada di parkiran sekolah mereka pun tiba-tiba berhenti di depan pintu mobil yang ada di belakang supaya Alvaro leluasa bisa istirahat sebelum sampai di rumah sakit.
"El kamu sama Al duduk di kursi penumpang ya supaya Al leluasa" ucap Arlan.
"Iya bang" ujar Elvano.
"Oh ya El montormu sama tas kalian gimana?" tanya Arlan yang ada di kursi kemudi.
"Nanti aku suruh temen-temenku sama Al yang bawa ke rumah sakit" jawab Elvano dan hanya mendapatkan anggukan oleh Arlan.
Mobil Arlan pun meninggalkan area sekolah dan menuju ke rumah sakit milik Alexander supaya Alvaro bisa di tangani.
Suasana yang ada di dalam mobil terasa sangat dingin dan sunyi yang terdengar hanya suara napas berat dari Alvaro, Elvano yang ada di kursi di belakang yang sambil memeluk Alvaro merasakan tubuh Alvaro yang sedang menggigil dengan sangat hebat sesekali ia menyeka keringat yang dari tadi jatuh di pelipis Alvaro.
"Tahan ya Al, sedikit lagi sampai rumah sakit sabar ya" bisik Elvano tepat di samping telinga Alvaro dan Alvaro hanya bisa mengangguk.
10 menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit milik keluarga Alexander dan mobil Arlan pun menuju ke IGD (Instalasi Gawat Darurat).
Dan Arlan pun menghentikan mobilnya tepat di depan pintu IGD dan ia pun membuka pintu penumpang dan segera menggendong Alvaro.
"Pak ini kunci mobil saya, saya minta tolong untuk di parkirkan" ucap Arlan yang sambil menggendong Alvaro.
"Baik pak akan saya parkirkan" ujar satpam rumah sakit yang sudah menerima kunci mobil Arlan.
"Ayo El" ajak Arlan dan hanya di beri anggukan oleh Elvano.
Arlan dengan setengah berlari sambil menggendong Alvanro dengan otomatis pintu kaca IGD terbuka.
"Dokter!! Suster!! Tolong adek saya" seru lantang Arlan kepada dokter serta suster yang ada di sana.
Dua orang perawat pun segera mendorong satu brankar ke arah mereka, Arlan dengan sangat hati-hati ia pun meletakkan Alvaro di atas brankar. Elvano pun terus mengekori Arlan dari arah belakang sambil melihat kearah Alvaro yang masih lemas di atas brankar
"Suhu tubuhnya sangat tinggi, Sus. Tadi dokter yang ada di rumah sakit bilang ini gejala awal Demam Berdarah" ujar Arlan cepat di saat salah satu perawat tersebut memasang alat pemantau tanda-tanda vital pada tubuh Alvaro.
Tiba-tiba dokter pun datang dengan perawat yang ada di sampingnya dan mereka pun setengah berlari ke arah mereka.
"Dek, bisa denger suara dokter? Bagian mana yang paling sakit?" tanya dokter tersebut kepada Alvaro.
"Pusing.. Mual.. Dok... Dingin.. Juga" bisik Alvaro lemas hampir tak terdengar. Matanya pun hanya bisa terpejam sesaat, saat rasa sakit mulai menjalar di tubuhnya.
Dokter pun menyuruh salah satu perawatnya untuk membawa alat yang ia perlukan untuk penanganan awal Alvaro.
"Sus tolong segera pasang infus ke pasien dan berikan parasetamol juga untuk menurunkan demamnya, dan ambil darahnya untuk cek di lab terutama trombositnya" ucap dokter.
"Baik dok" ujar perawat dengan cepat.
Elvano pun hanya bisa mengenggam tangan Alvaro yang terasa sangat panas dan sesekali ia juga menceka keringat di pelipis Alvaro.
"Tahan ya Al" bisik Elvano ke Alvaro.
Dan Arlan pun hanya bisa mengelus rambut Alvaro yang sudah basah karena keringat dan ia pun hanya bisa memberika semangat dengan mengelus kepala Alvaro.
"Tahan ya Al, biar cepet sembuh" ucap Arlan pelan.
Alvaro pun hanya bisa mengangguk, beberapa menit kemudian perawat pun memasangkan infus di tangan Alvaro dan ia pun hanya bisa meringis karena menahan sakit di punggung tangannya.
Dokter pun menghampiri mereka setelah tindakan awal yang ia tangani. "Kondisi Alvaro menunjukkan ia mengalami dehidrasi karena demam berdarah. Kami akan menunggu hasil uji laboratoriumnya keluar sekitaran 30 menit sampai 1 jam ke depan memastikan diagnosis demam berdarah.
"Lakukan yang terbaik untuk adik saya, dok" mohon Arlan kepada sang dokter.
"Pasti pak, kami akan pantau terus perkembangan pasien" jawab sang dokter.
Suasana yang ada di IGD pun jauh lebih tenang, dan yang terdengar hanyalah bunyi ritmis dari alat monitor jantung. Elvano segera menarik sebuah kursi supaya ia bisa duduk, dan Arlan segera mengambil ponselnya untuk mengabari kondisi Alvaro kepada sang papah dan adik kembarnya yang masih berada di kampus yaitu Erlan.