NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUMPANGAN BERDOSA

​Hutan pinus di perbatasan utara sedang diselimuti kabut tipis ketika kereta kuda mewah berlambang naga emas itu melambat, lalu berhenti total di tengah jalan setapak yang sempit. Xiao Cui, yang sedang memegang kendali kereta sambil mengunyah bakpao isi daging sapi, menghentikan kudanya tepat saat sesosok bayangan merah melompat turun dari puncak pohon pinus dan mendarat dengan anggun di hadapan mereka.

​Itu adalah Lin Yue’er. Jubah merahnya berkibar dihempas angin hutan, rambut ekor kudanya tampak sangat berwibawa, dan pedang Bulan Sabit Merah miliknya sudah terhunus setengah, memancarkan aura api spiritual yang membuat dedaunan di sekitar layu.

​"Ji Huang!" Yue’er berteriak dengan nada suara yang dirancang untuk terdengar mengancam, meskipun pipinya sedikit memerah karena kelelahan memacu kuda selama berjam-jam. "Keluar dari kereta itu sekarang juga! Jelaskan alasanmu berbohong padaku selama ini, dan jelaskan kenapa kamu lari ke utara hanya untuk mengejar... unggas?!"

​Xiao Cui menelan bakpaonya dengan cepat, lalu menatap Yue’er dengan tatapan simpati yang sangat dalam. Dia bahkan tidak merasa terancam sedikit pun. "Aduh, Nona Muda yang cantik... tolong pelankan suara Anda. Tuan Muda sedang di fase tidur REM yang sangat dalam. Kalau Anda teriak-teriak seperti itu, nanti beliau bisa bangun dengan mood yang buruk, dan kalau mood-nya buruk, dunia bisa kiamat kecil."

​"Aku tidak peduli!" Yue’er melangkah maju, pedangnya mengarah ke tirai kereta. "Aku adalah tunangannya! Aku punya hak untuk tahu siapa dia sebenarnya! Ji Huang! Keluar—"

​SRET.

​Tirai sutra kereta terbuka pelan.

​Alih-alih Ji Huang yang keluar dengan aura pembunuh, yang terlihat justru adalah sebuah tangan yang menjulur keluar, memegang bantal guling berbahan sutra yang sangat empuk, lalu melemparkannya tepat ke arah wajah Lin Yue’er.

​Yue’er secara refleks menangkap bantal itu. Bantal itu sangat berat, sangat dingin, dan memiliki bau wangi bunga krisan yang sangat menenangkan. Begitu bantal itu berada di pelukannya, sebuah suara serak yang malas dan dalam bergema dari balik tirai.

​"Berisik sekali... Nona Lin, kalau mau masuk, masuk saja. Tapi lepas sepatumu di atas karpet bulu domba, dan bicaralah dengan berbisik. Kalau tidak, aku akan menyuruh Xiao Cui mengganti pedangmu dengan centong sayur."

​Lin Yue’er terpaku. Dia ingin marah, dia ingin memaki, dia ingin menghunus pedangnya dan menebas tirai itu. Namun, aroma bunga krisan dari bantal sutra yang dia peluk mendadak membuat otaknya merasa rileks secara instan. Kakinya yang tadinya siap melakukan kuda-kuda tempur, mendadak terasa lemas.

​"Masuk saja, Nona," Xiao Cui membukakan pintu kereta lebih lebar dengan senyum lebar. "Ini kereta kaisar, suspensinya sangat bagus. Tidak akan ada guncangan sama sekali. Anda pasti lelah memacu kuda, kan?"

​Dengan sisa-sisa harga diri yang masih ada, Lin Yue’er melepas sepatu botnya, lalu masuk ke dalam kabin kereta dengan niat membongkar segala rahasia Ji Huang. Begitu dia melangkah masuk, dia tertegun.

​Bagian dalam kereta itu bukan sekadar kabin; itu adalah dimensi kenyamanan yang berbeda. Seluruh lantai dilapisi karpet bulu domba yang tebalnya mencapai sepuluh sentimeter, dindingnya dilapisi kain sutra yang membuat suhu di dalam kereta selalu stabil, dan aroma manis teh krisan memenuhi ruangan.

​Di pojokan kabin, Ji Huang sedang berbaring dengan mata tertutup, kepalanya bertumpu pada tumpukan bantal. Di sampingnya terdapat meja kecil berisi manisan buah dan arak manis.

​"Sekarang, jelaskan padaku!" Yue’er berbisik—seperti yang diperintahkan, meskipun dia menyesali dirinya sendiri karena sudah menuruti perintah musuhnya. "Kenapa kamu berpura-pura menjadi sampah selama ini? Kenapa kamu menghancurkan Sekte Harimau Barat hanya karena sayap ayam?"

​Ji Huang tidak membuka matanya. Dia hanya menggerakkan jemarinya sedikit, menunjuk ke arah tumpukan bantal di sampingnya. "Pertama, aku tidak berpura-pura. Aku memang sampah yang malas. Kedua, sekte itu merusak tidurku. Ketiga..." Ji Huang membuka satu matanya, menatap Yue’er yang sedang duduk bersila di atas karpet bulu domba dengan pedang masih di pangkuannya. "...kalau kamu ingin bertanya, setidaknya duduklah yang nyaman. Jangan duduk tegak seperti itu, punggungmu akan sakit dan itu akan membuatmu terlihat sangat tidak santai."

​"Aku tidak butuh kenyamananmu!" Yue’er protes, tapi bantal guling yang dia peluk mendadak terasa begitu memikat. Bantal itu menopang lengannya dengan sempurna.

​"Duduklah yang benar, Nona," Xiao Cui menambahkan sambil menuangkan secangkir teh krisan panas ke dalam cangkir giok. "Tuan Muda hanya ingin tidur dengan tenang. Kalau Anda bisa duduk diam tanpa suara selama satu jam, saya akan memberikan resep manisan buah paling enak dari istana untuk Anda."

​"Aku bukan pelayanmu!" Yue’er mendengus, namun tanpa sadar dia mulai menyandarkan punggungnya ke dinding kereta yang empuk.

​Dinamika di dalam kabin berubah menjadi absurd. Lin Yue’er, yang niat awalnya adalah melakukan interogasi tingkat tinggi terhadap seorang pakar bela diri misterius, kini justru terjebak dalam perangkap kenyamanan. Kabin kereta itu memiliki aura penenang yang tidak masuk akal. Mungkin itu adalah efek dari Maksud Pedang Ji Huang yang tanpa sadar menyerap segala bentuk emosi negatif di udara dan mengubahnya menjadi kedamaian fana.

​Sepuluh menit berlalu. Yue’er hanya diam, menatap Ji Huang yang kembali mendengkur halus.

​Dua puluh menit berlalu. Yue’er mulai merasa kelopak matanya berat. Dia mencoba melawan, menggenggam gagang pedang Bulan Sabit Merah miliknya sekuat tenaga.

​Tiga puluh menit berlalu.

​"Nona... Anda sudah mengantuk, kan?" bisik Xiao Cui dengan suara selembut kapas. "Tidurlah. Tuan Muda tidak akan menggigit, kecuali kalau Anda mencoba mencuri manisan buahnya."

​Yue’er tidak menjawab. Dia mendengus untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya menyerah pada gravitasi. Tubuhnya meluncur pelan di atas karpet bulu domba, kepalanya mendarat di atas tumpukan bantal sutra yang lebih empuk dari awan.

​Ji Huang sedikit membuka matanya, melihat tunangannya yang baru saja masuk dengan niat membunuh kini sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka dan memeluk gulingnya.

​"Xiao Cui," bisik Ji Huang pelan.

​"Ya, Tuan Muda?"

​"Tutup tirainya. Cahaya matahari mulai terlalu terang untuk mata nona muda ini. Lagipula, kalau dia bangun, dia pasti akan berteriak lagi. Biarkan dia tidur, setidaknya sampai kita mencapai kota berikutnya. Itu adalah cara termudah untuk menghemat energi fisikku dari pertengkaran yang tidak perlu."

​"Baik, Tuan Muda!"

​Xiao Cui menutup tirai sutra dengan sangat lembut, meninggalkan kereta kuda mewah itu dalam kegelapan yang nyaman dan tenang, melaju di tengah hutan pinus membawa dua orang jenius terkuat di kekaisaran—satu sedang bermimpi menjadi dewa pedang, dan satunya lagi sedang memimpikan cara menginterogasi seseorang yang bahkan tidak mau bangun untuk menjawab pertanyaannya.

​Pertualangan utara benar-benar dimulai dengan cara yang paling tidak terhormat dalam sejarah dunia kultivasi: semua orang sedang tidur.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!