NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KILAT YANG PADAM DI UJUNG JARI

​Suasana di lantai bawah Penginapan "Awan Berarak" mendadak berubah menjadi sebuah tabung kedap suara. Gelak tawa para tentara bayaran terhenti di tenggorokan, dan denting cangkir arak yang beradu tak lagi terdengar. Di tengah ruangan, ketegangan merambat seperti kabut tebal di antara meja kayu yang kusam.

​Gao Yan, murid Sekte Guntur Barat yang baru saja melancarkan ancaman, merasa wajahnya panas seperti terbakar. Di depan rekan-rekannya dan di bawah pengawasan Kakak Senior Lei Zhan, ia baru saja dihina oleh seorang pengembara yang terlihat tidak lebih dari seorang gelandangan bersenjata pedang tumpul.

​"Kau... kau baru saja menyebut kami lalat?" suara Gao Yan bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena amarah yang meluap. "Pendekar liar tak bernama, aku akan memastikan kau memakan kembali kata-katamu bersama dengan gigimu!"

​Tanpa peringatan lebih lanjut, Gao Yan menghentakkan kakinya. Lantai kayu di bawahnya sedikit retak saat ia menerjang maju. Tangan kanannya mengepal, dan dalam sekejap, percikan listrik berwarna biru keputihan mulai melompat-lompat di antara jemarinya. Ini adalah teknik Telapak Guntur Rendah, sebuah teknik yang cukup kuat untuk melumpuhkan saraf seekor kerbau dewasa dalam sekali pukul.

​Han Feng tetap duduk. Gerakannya bahkan terlihat sangat lambat, seolah ia sedang menikmati tarian yang membosankan. Saat tinju Gao Yan hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, Han Feng hanya memiringkan kepalanya sedikit. Dengan tangan kiri yang masih memegang sumpit, ia menggeser piring daging rusanya agar tidak terkena debu dari pergerakan Gao Yan.

​Lalu, tangan kanannya bergerak.

​Wush!

​Bukan pukulan, bukan tangkisan keras. Han Feng hanya mengulurkan telapak tangannya dan menangkap pergelangan tangan Gao Yan dengan akurasi yang menakutkan. Saat kulit mereka bersentuhan, percikan listrik Gao Yan yang liar seolah-olah menemukan muara yang tenang.

​Mata Gao Yan membelalak. Ia mencoba menarik tangannya, namun rasanya seperti tangannya telah tertanam ke dalam gunung besi. Ia mencoba melepaskan lebih banyak Qi Guntur, namun hal aneh terjadi. Energi listriknya tidak meledak, melainkan tersedot masuk ke dalam telapak tangan Han Feng, menghilang tanpa bekas.

​"Gunturmu terlalu berisik," bisik Han Feng. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh Gao Yan, namun dinginnya merasuk hingga ke sumsum tulang. "Tapi guntur tanpa petir hanyalah suara kosong."

​Han Feng menyalurkan sedikit—hanya setitik kecil—Qi Emas miliknya melalui ujung jarinya. Bagi Gao Yan, rasanya seperti seekor naga api yang tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam pembuluh darahnya. Energi emas yang sangat padat itu menelan Qi Guntur miliknya dalam sekejap, lalu berbalik menghantam pusat saraf di lengannya.

​"Aaakh...!" Gao Yan tidak bisa berteriak keras. Suaranya tertahan di tenggorokan saat seluruh tubuhnya mendadak kaku. Ia jatuh berlutut di samping meja Han Feng, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin bercucuran. Lengannya lunglai, bergetar hebat tanpa bisa ia kendalikan.

​Han Feng melepaskan cengkeramannya dan kembali mengambil potongan daging rusa yang terakhir. "Pergilah. Aku sedang tidak ingin mengotori lantai ini dengan tubuhmu. Selera makanku jauh lebih berharga daripada harga dirimu."

​"Gao Yan! Mundur!" suara berat menggelegar dari pojok ruangan.

​Lei Zhan, sang jenius utama rombongan itu, bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang mantap. Para murid Sekte Guntur lainnya sudah siap mencabut pedang, namun Lei Zhan mengangkat tangannya, memberi tanda untuk berhenti. Ia menatap Gao Yan yang masih gemetar, lalu mengalihkan pandangannya pada Han Feng yang sedang mengunyah dengan santai.

​Sebagai seseorang yang telah menyentuh Ranah Pondasi Dasar, Lei Zhan memiliki insting yang jauh lebih tajam. Ia tidak melihat aura yang meluap-luap dari Han Feng, namun ia melihat ketenangan yang tidak wajar. Seorang pendekar liar biasa akan tampak tegang atau sombong setelah menjatuhkan murid sekte besar, namun pria di depannya ini benar-benar terlihat seolah-olah ia baru saja mengusir seekor lalat dari makanannya.

​"Maafkan ketidaksopanan juniorku, Rekan Taois," ucap Lei Zhan sambil menangkupkan tangan, memberi hormat tingkat rendah. "Dia masih muda dan belum memahami luasnya dunia."

​Han Feng mendongak, matanya berkilat di balik bayangan topi bambu. "Permintaan maaf diterima. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan minumanku."

​Lei Zhan tidak pergi. Sebaliknya, ia menarik kursi di meja sebelah dan duduk. "Rekan, aku melihat kau bepergian sendirian. Jika tujuanmu adalah utara, menuju Kota Seribu Awan, mungkin kita bisa bertukar informasi. Dunia luar sedang tidak stabil akhir-akhir ini."

​Han Feng menuangkan sisa arak ke cangkirnya. "Aku lebih suka bepergian sendiri. Tapi aku tidak keberatan mendengarkan."

​Lei Zhan merendahkan suaranya. "Keluarga Li telah menyewa Tentara Bayaran Kalajengking Hitam. Mereka bukan sekadar petarung; mereka adalah kelompok pelacak paling kejam di wilayah ini. Mereka telah menyebar di sepanjang Gurun Pasir Mendidih. Tapi yang paling berbahaya bukan mereka."

​Lei Zhan berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang menguping. "Leluhur Keluarga Li yang baru kembali dikabarkan membawa sebuah pusaka kuno bernama Cermin Pencari Jiwa. Pusaka itu bisa melacak jejak Qi seseorang sejauh sepuluh mil jika mereka memiliki sampel energi atau barang milik target. Jika kau memiliki urusan dengan mereka, sebaiknya kau berhati-hati."

​Han Feng tetap tenang, namun di dalam hatinya, ia mencatat informasi itu dengan serius. Cermin Pencari Jiwa. Itu adalah masalah besar. Jika ia tidak segera melakukan terobosan dan mengubah frekuensi Qi-nya menjadi jauh lebih murni, pusaka itu akan menemukannya bahkan jika ia bersembunyi di lubang tikus sekalipun.

​"Terima kasih atas informasinya, Lei Zhan," ucap Han Feng sambil bangkit berdiri. Ia meletakkan beberapa koin perak tambahan di meja dan berjalan menuju tangga penginapan tanpa menoleh lagi.

​Di dalam kamarnya yang sederhana, Han Feng segera mengunci pintu dan memasang formasi pengaman sederhana. Kamar ini kecil, dengan jendela yang menghadap ke arah hutan di belakang kota.

​Ia mengeluarkan Inti Binatang Buas Guntur dan Rumput Roh Sembilan Nyawa. Energi biru dari inti itu berpendar, menerangi wajah Han Feng yang kini tampak sangat serius.

​"Keluarga Li memiliki leluhur di puncak Pondasi Dasar... dan sebuah cermin pelacak," gumam Han Feng. "Jika aku berangkat besok dalam keadaan masih di Ranah Qi Gathering, aku hanya akan mengantarkan nyawaku. Malam ini, aku harus menembus batas."

​Ia mulai duduk bersila, membiarkan energi emas di dalam nadinya berputar dengan kecepatan tinggi. Ia mulai meramu energi dari bahan-bahan di depannya menggunakan api internal kultivasinya. Udara di dalam kamar perlahan menjadi panas, dan tekanan energi mulai meningkat.

​Namun, di tengah fokusnya yang mendalam, indra tajam Han Feng menangkap sebuah gerakan halus di luar jendela.

​Srak...

​Sangat tipis, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan kota di bawah. Han Feng tidak membuka matanya, namun ia memperluas persepsi mentalnya. Di dahan pohon tua tepat di depan jendelanya, seekor burung hantu kecil bertengger. Burung itu tampak biasa, namun matanya bersinar dengan cahaya merah redup yang tidak alami.

​Teknik Pengintaian Mata Langit, batin Han Feng. Aliran Qi pada burung itu sangat rapi, menandakan dikendalikan oleh seorang ahli dari jarak jauh.

​"Kalian sudah mengirim mata-mata sampai ke jendelaku?" Han Feng berbisik pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum dingin yang mengerikan.

​Bukannya berhenti, Han Feng justru menarik napas dalam dan menghisap seluruh energi dari Inti Binatang Buas Guntur dalam sekali sedot. Ia tidak lagi menyembunyikan kekuatannya. Cahaya emas murni mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, memenuhi kamar itu dengan tekanan yang membuat perabotan kayu mulai berderit dan retak.

​"Baiklah," gumamnya, matanya terbuka dan meledak dengan sinar emas yang menyilaukan. "Mari kita lihat apakah mata-matamu bisa menahan badai yang akan meledak dari kamar ini. Jika kalian ingin melihat naga, akan kutunjukkan seberapa panas api naga yang sebenarnya!"

​Di luar, burung hantu itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan panik, namun sebelum ia sempat terbang, gelombang tekanan udara dari dalam kamar menghantamnya hingga jatuh ke tanah. Terobosan Han Feng telah dimulai, dan malam ini, Kota Wadas Putih akan menjadi saksi lahirnya seorang ahli Pondasi Dasar yang akan mengubah peta kekuatan daratan ini selamanya.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!