Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Jangan Berurusan dengan Jendra
Sheza melebarkan matanya, dia mendengar suara tembakan dari luar rumahnya.
"Itu..."
"Paul mungkin sedang latihan menembak!"
Sheza mengernyitkan keningnya.
"Ini di perumahan bukan di lapangan tembak. Bagaimana kalau ada tetangga yang mendengarnya, kita bisa diusir sama pak RT!"
"Bagus kalau diusir, kamu bisa tinggal di apartemen ku! disana sepi, ruangannya pakai peredam suara. Saat kamu menjerit..."
"Uhukkk uhukk!" Sheza sampai keselek mendengar ucapan Jendra.
"Minumlah..."
"Kamu akan menyiksaku?" tanya Sheza dengan wajah tegang.
"Tentu saja, aku akan menyiksamu di tempat tidur!"
Sheza menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana pun juga dia menikah dengan pria yang jauh lebih dewasa darinya. Tidak mungkin juga pikirannya akan polos-polos saja kan.
Sementara itu di luar, anak buah yang dibawa oleh Alex benar-benar tak berani maju.
"Tuan, itu senjataa api sungguhan..." ujarnya dengan suara gemetar.
Alex mendengus kesal. Salahnya juga, dia pikir spek orang-orang bayaran mode security sudah cukup. Ternyata yang dia hadapi punya senjata. Kalau dia tetap melawan sekarang juga pasti akibatnya akan buruk. Mana dia masih harus tunangan besok malam.
"Tidak berguna!" pekik Alex.
Alex terlihat begitu marah, dia mendengus kesal dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Meninggalkan anak buahnya yang kalang kabut mengikutinya.
Saat sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Alex mengeram marah.
"Awas saja, aku akan bawa orang-orang yang lebih hebat. Kalian harus diberi pelajaran!"
Dan mobilnya langsung melaju begitu cepat meninggalkan tempat itu.
Sementara di dalam rumah, tepatnya di dalam kamar. Sheza sekarang sudah seperti kucing rumahan yang terdesak di pojokan dan tidak bisa mundur lagi.
"Kita sudah menikah, masih takut?" tanya Jendra.
Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan biasa kan? tapi entah kenapa, ketika Jendra mengatakannya dengan nafas yang bisa dirasakan kulit wajah Sheza, nafas hangat yang membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Sheza justru merinding.
Sheza nyaris tidak berani menatap Jendra. Namun pria itu meraih dagu Sheza, dan mengarahkan Sheza menatapnya.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu! aku tidak akan memaksamu. Besok, kamu masih harus menghadapi hari yang panjang dan melelahkan. Tidurlah!"
Cup
Jendra mengecup kening Sheza, membuat kedua mata wanita yang jantungnya masih berdebar kencang itu terpejam.
Setelah itu, Jendra mengusap wajah Sheza perlahan dengan sangat lembut. Setelah itu pria itu berbaik dan berjalan ke arah pintu. Dia keluar dari kamar, meninggalkan Sheza yang masih mematung di tempatnya.
"Oh ya ampun! jantungku" kata Sheza menyentuh dadanya yang memang berdebat sangat kencang.
Butuh waktu sekitar 15 menit, bagi Sheza untuk berpindah dari tempatnya berdiri itu. Dia berjalan ke arah tempat dan membuka selimutnya.
Bukan dia mau lari dari kewajibannya. Tapi, dia benar-benar gugup tadi. Tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya bukan mau menolak juga, tapi ya sudahlah. Lebih baik dia tidur untuk hari yang panjang besok.
Setelah lewat tengah malam, pintu kamar Sheza tiba-tiba terbuka. Siapa lagi yang berani masuk ke dalam kamar Sheza kalau bukan Jendra.
Pria itu, tidak bisa tidur. Dia memutuskan untuk berbaring di sebelah Sheza. Memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
**
Pagi menjelang, Sheza membuka matanya perlahan. Dia merasa seperti di rangkul, dan begitu dia mendongak, Jendra sedang memeluknya.
Dari sudut pandangnya, pria yang sedang memeluknya itu terlihat sangat tampan. Garis rahangnya sangat jelas, hidupnya mancung, bibirnya...
Sheza mengangkat tangannya perlahan, dia menggerakkan jarinya ke arah bibir Jendra yang terlihat menggoda.
Deg
Belum sempat menyentuh, jantung Sheza seperti berhenti berdetak untuk sekilas, karena pria di sampingnya itu membuka mata.
"Selamat pagi, sayang!" sapa Jendra yang langsung mencium kening Sheza.
"Selamat pagi..."
Mata Jendra mengarah ke jemari Sheza yang berhenti tepat di depan bibirnya.
"Sentuh saja!" kata Jendra dengan suara serak.
Sheza masih sangat ragu, sampai Jendra sendiri yang meraih tangan Sheza dan menyentuh bibirnya.
Deg deg deg
Jantung Sheza berdebar, semakin kencang dan semakin kencang. Seorang pria yang berada di samping wanita yang dia cintai, tentu tidak bisa menahan dirinya.
Jendra meraup bibir Sheza dengan bibirnya. Sheza memejamkan matanya, membiarkan pria yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya itu melakukan apapun yang dia mau.
Tok tok tok
"Bos, ada telepon dari tuan besar!"
Sheza membuka matanya, kancing piyamanya sudah terbuka semua. Tapi Sheza menarik dirinya menjauh dari Jendra.
"Vins..."
Jendra mendengus kesal, dia menyeka bibirnya yang basah. Pria itu juga sudah tidak mengenakan atasan lagi.
Dengan wajah merah karena marah, Jendra membuka pintu.
Ceklek
"Aku benar-benar akan mengirim kamu ke selat Hormuz, Vins!" kesal Jendra yang segara menutup pintu setelah dia keluar.
Sheza merapikan piyamanya, dan berlari ke kamar mandi. Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Benar-benar sangat kencang.
Beberapa saat kemudian, Sheza keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia melihat rumahnya tampak sepi.
"Nyonya, sarapan sudah siap!" kata Paul.
"Tuanmu..."
"Tuan dan Vins ada pekerjaan penting. Malam nanti yang mengantarkan nyonya ke hotel Intan adalah saya. Itu gaun yang bisa nyonya pakai. Bukan yang dikirim oleh pria semalam, gaun yang dikirim pria semalam, sudah di bakar oleh tuan!"
Sheza menahan tawanya. Jendra memang seperti itu. Tapi, Sheza rasa dia sudah mulai menyukai pria itu.
"Tadi juga ada berapa wanita di depan, tapi sudah diurus dengan baik!"
"Wanita?"
"Sepertinya mereka ingin memata-matai nyonya. Mereka bawa kamera jarak jauh, cukup mahal! kami sudah antar mereka ke kandang beruang!"
Sheza membulatkan matanya. Memang tidak ada yang berakhir baik kalau sudah berurusan dengan Jendra Alvaro Kenz.
**
Malam harinya, Sheza sudah berdandan sangat cantik. Gaun yang diberikan oleh Jendra sudah dia kenakan. Itu akan sama dengan jas yang Jendra pakai nanti.
"Tuan akan menyusul, kita bisa berangkat lebih dulu nyonya!" kata Paul.
Sheza mengangguk dan berangkat bersama dengan Paul menuju hotel Intan.
Sementara itu, di hotel. Kedua orang tua Sheza dan kedua orang tua Alex sedang bicara.
Sementara Karen, wanita itu masih berusaha membujuk Alex. Karena memang rencananya menggunakan tiga anak orang kaya yang otaknya tidak sebesar uang bulanan mereka itu gagal.
"Alex, kamu benar-benar tidak akan melupakan aku kan" lirihnya sambil menempelkan dadanya di lengan Alex.
"Karen, kita sudah sepakat. Setelah aku menikah, maka kita tidak bisa berhubungan lagi. Sudahlah, aku harus bertemu banyak tamu. Kamu pastikan pada bibimu, kalau Sheza pasti akan datang!"
"Baiklah!" katanya patuh.
Tapi, begitu Alex meninggalkannya. Karen langsung memecahkan gelas yang ada di tangannya.
Prangg
"Sheza, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bertunangan dengan Alex! semua yang seharusnya menjadi milikmu, akan aku rebut!" gumamnya dengan tangan terkepal.
***
Bersambung...