Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 — Bayangan Masa Lalu
“TIDAAAK—! JANGAN!!”
Cang Li terbangun dengan tubuh terhentak keras dari tempat tidurnya.
Napasnya terengah-engah, dengan dada yang naik turun dengan cepat.
Keringat dingin membasahi seluruh punggung dan lehernya, sementara jemarinya mencengkeram seprai begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya masih terbuka lebar, tetapi kesadarannya belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
Di dalam pupil matanya, bayangan api merah yang membara masih menari, seolah melahap segala sesuatu yang disentuhnya.
Untuk beberapa detik, ia masih merasa seolah dirinya belum berada di kamar sempit rumah kayu itu, melainkan masih terjebak di tengah kobaran neraka tiga tahun lalu—
Di dalam aula latihan Sword Academy yang dilalap api, teriakan minta tolong, suara kayu runtuh, bau daging terbakar, serta wajah-wajah yang tak sempat ia selamatkan kembali muncul, terasa begitu nyata, begitu dekat, dan seolah hidup kembali.
“Cang Li!”
Brak!
Pintu kamarnya terbuka kasar.
Ye Ruoxi masuk dengan wajah pucat penuh kekhawatiran, rambut panjangnya sedikit berantakan seolah ia berlari keluar tanpa sempat merapikan diri.
Ia langsung menghampiri tempat tidur.
“Cang Li! Apa yang terjadi?”
Cang Li menunduk, satu tangannya menekan wajahnya sendiri, berusaha menenangkan napas yang kacau.
Namun bahkan saat ia mencoba mengatur dirinya, ujung-ujung jarinya masih gemetar.
Ye Ruoxi duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan sorot mata yang lembut namun dipenuhi kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
“Kau bermimpi buruk lagi?”
Ruangan itu hening selama beberapa saat.
Hanya suara napas Cang Li yang masih berat memenuhi udara.
Akhirnya, dengan suara serak yang nyaris seperti bisikan, ia menjawab,
“...mimpi itu lagi.”
Ye Ruoxi tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya sedikit meredup karena ia tahu mimpi yang dimaksud dan memang selalu mengetahuinya.
Cang Li menurunkan tangannya dari wajahnya perlahan. Rambut hitamnya menempel di dahinya karena keringat. Wajahnya sudah jauh berbeda dari anak kecil yang dulu berlatih tongkat kayu di halaman rumah.
Kini ia berusia enam belas tahun.
Tubuhnya telah tumbuh lebih tinggi dan lebih tegap. Garis rahangnya mulai tegas, dan matanya yang dulu polos kini membawa ketajaman samar yang ditempa oleh luka dan kesunyian.
Namun justru karena itulah, Ye Ruoxi tahu satu hal—
beberapa luka tidak pernah benar-benar sembuh hanya karena seseorang bertambah dewasa.
“Api itu...” gumam Cang Li pelan.
Tatapannya kosong, seolah masih melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
“Gedung akademi terbakar lagi di depan mataku.”
Suaranya mulai mengeras sedikit.
“Jeritan mereka juga masih sama.”
Jari-jarinya perlahan mengepal di atas selimut.
“Aku masih bisa mendengarnya, Bibi.”
Kalimat itu membuat dada Ye Ruoxi terasa sesak.
Karena ia tahu—
bagi banyak orang, tragedi di Sword Academy mungkin sudah berubah menjadi berita lama, rumor kelam, atau sekadar salah satu bencana dari sekian banyak kekacauan dunia kultivasi.
Namun bagi Cang Li, itu bukan sekadar sejarah, melainkan luka yang masih hidup.
Tiga tahun lalu, saat usianya baru menginjak sepuluh tahun, ia akhirnya dikirim ke Sword Academy sesuai pesan terakhir Ye Chen.
Saat itu, ia pergi dengan mata berbinar dan hati penuh semangat.
Ia berpikir di sanalah hidupnya akan benar-benar dimulai.
Ia akan belajar menjadi pendekar.
Ia akan tumbuh lebih kuat.
Ia akan menjadi seseorang yang layak berdiri sejajar dengan pria yang selama ini ia kagumi.
Namun yang ia dapatkan justru neraka.
Api membakar gedung utama akademi di malam hari.
Sekelompok orang berjubah merah menyerbu seperti iblis yang keluar dari neraka.
Mereka membantai siapa pun yang mencoba melawan, baik guru, murid, maupun pelayan, tanpa peduli, tanpa belas kasihan, tanpa alasan—hanya pembunuhan.
Dan dari begitu banyak orang yang ada di sana malam itu...
hanya empat orang yang berhasil selamat.
Salah satunya adalah Cang Li.
Namun terkadang, bertahan hidup justru terasa lebih kejam daripada mati.
Karena orang yang selamatlah yang harus terus mengingat.
“Aku harus menemukan mereka.”
Suara Cang Li yang semula lemah kini berubah menjadi lebih berat, dalam, dan dingin.
Ia mengangkat kepala perlahan, dan untuk sesaat, Ye Ruoxi melihat kilatan sesuatu di matanya.
Sesuatu yang membuatnya sedikit takut.
“Aku harus tahu siapa mereka.”
Tubuh Ye Ruoxi tiba-tiba menegang.
“Cang Li—”
“Siapa yang membakar akademi itu?” lanjut Cang Li, seolah tak mendengar. “Siapa yang membunuh semua orang malam itu?”
Tangannya mengepal semakin kuat.
“Kenapa mereka melakukannya?”
“Cukup.”
Suara Ye Ruoxi tidak keras.
Namun cukup tegas untuk memotong amarah yang sedang naik di dalam dada pemuda itu.
Cang Li terdiam, lalu perlahan menoleh ke arahnya.
Ye Ruoxi menatapnya lurus-lurus. Sorot matanya lembut, tapi kali ini tidak goyah.
“Hiduplah tanpa dendam.”
Kalimat itu keluar pelan, namun terasa sangat berat.
“Bibi...” suara Cang Li terdengar serak.
Ye Ruoxi menggeleng perlahan.
“Biarkan pihak Dinasti Tianjian yang mengurus penyelidikannya. Itu bukan sesuatu yang bisa kau kejar sendirian.”
Tatapannya sedikit meredup.
“Jangan menyeret dirimu sendiri ke dalam bahaya yang bahkan tidak kau pahami sepenuhnya.”
Cang Li menatapnya lama, lalu perlahan memalingkan wajah dan terdiam, namun bukan karena setuju.
Ye Ruoxi memahami hal itu, bahwa sejak tragedi tersebut ada sesuatu dalam diri Cang Li yang telah berubah; ia memang masih sopan, patuh, dan berbicara dengan lembut seperti biasa, tetapi di balik semua itu tersimpan luka yang perlahan tumbuh menjadi bara—dan bara seperti itu…
jika dibiarkan terlalu lama, bisa berubah menjadi api yang menelan segalanya.
Beberapa saat kemudian, Cang Li mengangkat kedua kakinya dari tempat tidur dan berdiri.
“Aku ingin keluar sebentar.”
Ye Ruoxi terlihat bingung.
“Keluar ke mana?”
Cang Li menatap ke arah jendela, ke bukit samar yang terlihat di kejauhan.
“Rumah lama.”
Ye Ruoxi terdiam sejenak, memikirkan rumah lama itu—sebuah rumah kayu di atas bukit.
Tempat di mana mereka dulu tinggal sebelum pindah ke bagian tengah Desa Jianxin demi keamanan.
Tempat di mana masa kecil Cang Li tertinggal.
Dan tempat di mana bayangan Ye Chen masih terasa paling kuat.
“Untuk apa?” tanya Ye Ruoxi pelan.
Cang Li terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku hanya... ingin melihatnya.”
Suaranya merendah.
“Aku ingin mengingat sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.”
Kalimat itu membuat Ye Ruoxi tak langsung membalas.
Ia tahu siapa yang sebenarnya ingin ditemui Cang Li di tempat itu, bukan rumahnya, bukan halaman latihannya, dan bukan pula bukitnya.
Melainkan seseorang yang telah pergi sembilan tahun lalu...
dan tak pernah benar-benar kembali.
“Cang Li,” katanya pelan, “daerah luar bukit sudah tidak seaman dulu.”
“Aku tahu.”
“Monster dan binatang iblis masih sering muncul di sekitar hutan.”
“Aku bukan anak kecil lagi, Bibi.”
Jawaban itu tidak terdengar sombong, justru terasa terlalu tenang.
Dan entah kenapa, ketenangan itu membuat hati Ye Ruoxi semakin tidak nyaman.
Ia menatap pemuda di hadapannya beberapa saat.
Lalu akhirnya menghela napas pelan.
“Jangan terlalu lama.”
Cang Li mengangguk.
“Baik.”
Sebelum keluar kamar, Ye Ruoxi sempat memanggilnya lagi.
“Cang Li.”
Pemuda itu berhenti dan menoleh.
Ye Ruoxi menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Kalau ada sesuatu yang terasa aneh... pulanglah segera.”
Cang Li terlihat sedikit bingung.
Namun pada akhirnya, ia hanya mengangguk lagi.
“Aku mengerti.”
Rumah yang Menyimpan Sisa Masa Kecil
Pagi menjelang siang ketika Cang Li melangkah keluar dari rumah.
Desa Jianxin tampak damai seperti biasanya.
Asap tipis naik dari cerobong rumah-rumah warga. Anak-anak kecil berlari di jalan setapak tanah sambil tertawa. Beberapa penduduk sibuk menjemur hasil panen, sementara para lelaki dewasa tampak memperbaiki pagar atau memanggul kayu.
Begitu biasa sampai sulit dipercaya bahwa dunia di luar desa ini dipenuhi sihir, pembantaian, organisasi rahasia, dan kekuatan-kekuatan yang bisa menghancurkan satu kota dalam semalam.
Cang Li berjalan menyusuri jalan utama desa dengan langkah tenang.
Beberapa orang menyapanya, dan ia membalas dengan secukupnya—tidak terkesan dingin, tetapi juga tidak terlalu hangat.
Sejak tragedi Sword Academy, ia memang menjadi lebih pendiam.
Bukan karena sombong.
Melainkan karena sebagian dirinya terasa tertinggal di malam kebakaran itu dan tidak pernah benar-benar kembali.
Sesampainya di gerbang desa, langkahnya melambat.
Di depannya, udara terlihat sedikit bergelombang, seakan ada sesuatu yang tidak terlihat.
Seolah ada lapisan tipis transparan yang memisahkan dunia aman di dalam desa... dengan dunia liar di luarnya.
Itulah barrier pelindung Desa Jianxin.
Sebuah formasi pertahanan tua yang telah melindungi desa itu selama bertahun-tahun dari gangguan monster dan aura jahat.
Cang Li mengangkat satu tangan.
Jari-jarinya membentuk segel tangan yang rumit namun sudah sangat ia hafal.
Energi tipis mengalir dari pusat tubuhnya menuju ujung jari.
Di depannya, terlihat lapisan tipis yang hampir tidak tampak, bergetar pelan sebelum terbuka menjadi celah sempit.
Tanpa ragu, Cang Li langsung melangkah masuk melewatinya.
Begitu kakinya menapak di luar batas perlindungan desa, suasana langsung terasa berbeda.
Udara di tempat itu terasa lebih dingin dan sunyi, dengan suasana yang entah kenapa terasa lebih berat.
Angin dari lereng bukit berembus membawa aroma tanah lembap, dedaunan, dan sesuatu yang samar namun asing.
Cang Li tetap melangkah.
Naik menyusuri jalan setapak berbatu yang sudah sangat dikenalnya.
Setiap langkah terasa seperti menapak di atas sisa-sisa masa lalu.
Di sinilah dulu ia sering berlari kecil mengejar kupu-kupu.
Di sinilah Ye Chen pernah berdiri sambil melipat tangan, mengoreksi posisi kakinya saat memegang tongkat.
Di sinilah ia pernah jatuh, menangis, marah, lalu bangkit lagi karena tidak ingin dianggap lemah.
Dan di sinilah... ia terakhir kali melihat punggung seseorang yang pergi tanpa menoleh kembali.
Tidak butuh waktu lama hingga rumah kayu itu terlihat di kejauhan—atau lebih tepatnya, yang tersisa darinya.
Rumah kecil di atas bukit itu kini tak lagi utuh seperti dulu.
Atapnya sebagian runtuh. Dinding kayunya lapuk dimakan hujan dan waktu. Jendela-jendelanya kosong, meninggalkan lubang-lubang gelap yang membuat bangunan itu tampak seperti kenangan yang sudah terlalu lama ditinggalkan.
Cang Li berhenti beberapa langkah di depannya.
Ia tidak langsung masuk, hanya berdiri diam sambil memandang ke arah bangunan itu.
Seolah takut bahwa begitu ia melangkah lebih dekat, semua yang tersisa di tempat ini akan berubah menjadi terlalu nyata.
Perlahan, tangannya terangkat ke leher.
Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin—sebuah kalung perak.
Ia menarik liontin kecil itu keluar dari balik kerah bajunya.
Benda itu sudah menemaninya selama yang bisa ia ingat—dingin dan sederhana.
Namun selalu terasa lebih berat daripada seharusnya.
Cang Li menunduk dan menatap ukiran halus di permukaannya.
Ye Feng.
Nama itu—nama yang bukan miliknya
Atau mungkin... justru nama itulah yang sebenarnya miliknya.
Jari Cang Li sedikit mengencang di sekitar liontin itu.
Dan seperti selalu terjadi setiap kali ia menatap nama tersebut terlalu lama—
sebuah kenangan lama perlahan muncul dari dasar ingatannya.
Kenangan yang Tak Pernah Dijelaskan
Saat itu, ia masih kecil.
Mungkin baru berusia enam atau tujuh tahun.
Langit sore di atas bukit berwarna jingga keemasan, dan angin meniup lembut rerumputan di halaman rumah.
Cang Li kecil duduk di tangga kayu sambil memegang liontin perak itu di kedua tangannya.
Wajah kecilnya tampak serius, seolah sedang bingung.
Matanya menatap ukiran nama di sana seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki besar dunia.
Tak jauh darinya, Ye Chen sedang duduk di kursi kayu sederhana sambil membersihkan pedangnya dengan kain.
“Paman.”
Ye Chen tidak langsung menoleh.
“Hm?”
Cang Li kecil mengangkat liontin itu.
“Kenapa namaku di sini Yel Feng?”
Ye Chen berhenti mengusap bilah pedangnya.
Untuk sesaat, tangannya benar-benar membeku.
Cang Li kecil menatapnya polos.
“Bukankah namaku Cang Li?”
Ye Chen perlahan mengangkat kepala, lalu menatap anak kecil itu—wajah polos yang belum mengenal kerasnya dunia.
Pada sepasang mata yang bertanya dengan tulus, tanpa tahu bahwa satu pertanyaan sederhana itu menyentuh rahasia yang telah menelan banyak nyawa.
Ye Chen terdiam cukup lama.
Sampai Cang Li kecil mulai mengira pertanyaannya mungkin salah.
Namun akhirnya, Ye Chen menatap ke arah langit sore yang perlahan meredup.
Sorot matanya tampak jauh dan sunyi.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.
“Suatu hari nanti...” katanya pelan.
Suaranya rendah, namun anehnya terasa sangat berat.
“...kau akan mengerti.”
Cang Li kecil berkedip.
“Mengerti apa?”
Ye Chen tidak langsung menjawab.
Ia menatap liontin itu sekali lagi.
Lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan, ia berkata,
“Nama itu adalah takdir.”
Angin sore berembus, membuat ujung rambut hitam Ye Chen bergerak tipis.
Dan entah kenapa, meski saat itu Cang Li masih terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya—
ia bisa merasakan bahwa kalimat itu bukan sesuatu yang ringan.
“Itu adalah sesuatu... yang baru boleh kau pikul saat kau cukup kuat.”
Kenangan itu pecah seperti permukaan air yang disentuh batu.
End Chapter 10