NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 012

Motor sport hitam itu membelah genangan air di sepanjang jalan raya dengan ritme yang tenang. Aksa sengaja tidak memacu mesinnya terlalu kencang; ia membiarkan angin sore yang lembap menyapu sela-sela helm mereka. Di belakangnya, Ziva merasa seperti berada di dalam gelembung kedamaian yang aneh. Aroma hujan yang bercampur dengan wangi maskulin dari jaket kulit Aksa entah bagaimana jauh lebih menenangkan daripada wangi parfum mahal di kamar Zivanna yang asli.

"Aks," panggil Ziva, suaranya sedikit terendam deru angin.

​"Hmm?" sahut Aksa pendek. Ziva bisa merasakan getaran suara itu melalui punggung Aksa yang ia sandari.

​"Lo beneran nggak keberatan anter gue? Rumah gue agak jauh lho, masuk ke komplek perumahan yang satpamnya lebih galak dari Bu Lastri."

​"Diem. Gue lagi nyetir," sahut Aksa, tapi tangannya sedikit mengerem saat melewati lubang air agar cipratannya tidak mengenai kaki Ziva.

​Ziva hanya bisa mencebik di balik kaca helm. Benar-benar manusia kutub. Tapi, di balik sikap dinginnya itu, Aksa adalah satu-satunya orang yang tidak menuntut apa-apa darinya. Aksa tidak bertanya kenapa dia berubah, tidak memaksanya melakukan tugas kelompok, dan yang terpenting, Aksa memberinya ruang untuk tetap menjadi "si malas".

Tiba-tiba, Aksa membelokkan motornya ke parkiran sebuah minimarket yang tampak sepi.

​"Eh? Kok berhenti?" Ziva turun dari motor, sedikit merapikan rambutnya yang berantakan terkena busa helm.

​"Laper," ucap Aksa singkat sambil melepas helmnya. Rambut cowok itu sedikit lepek karena keringat dan lembap, namun sialnya, dia malah terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.

​Ziva mengekor di belakang Aksa masuk ke dalam toko yang ber-AC dingin. Tanpa banyak bicara, Aksa mengambil dua botol minuman isotonik dan sebungkus besar keripik kentang. Saat sampai di kasir, matanya tertuju pada rak roti.

​"Lo mau apa?" tanya Aksa tanpa menoleh pada Ziva.

​"Hah? Gue? Ehm... roti cokelat aja deh satu. Buat ganjel perut," jawab Ziva kikuk.

​Aksa mengambil dua roti cokelat, meletakkannya di meja kasir, dan membayar semuanya bahkan sebelum Ziva sempat merogoh saku hoodie-nya.

​"Nih," Aksa menyodorkan plastik belanjaan itu pada Ziva saat mereka sudah kembali di samping motor. "Makan dulu. Gue males denger perut lo bunyi sepanjang jalan."

​Ziva menerima plastik itu dengan mata mengerjap. "Perut gue nggak bunyi ya, enak aja!" Namun, ia tetap membuka bungkusan roti itu dengan lahap. Ternyata, bolos jam pelajaran terakhir dan berhadapan dengan Reygan memang menguras kalori.

​Sambil mengunyah, Ziva memperhatikan Aksa yang sedang bersandar di motornya sambil meminum air isotonik. Matanya menatap lurus ke arah langit yang mulai berubah jingga keunguan.

​"Aks, lo sering ke UKS ya?" tanya Ziva tiba-tiba.

​Aksa meliriknya sekilas. "Kalau lagi males denger guru yang cuma baca buku paket, iya."

​"Ternyata kita satu frekuensi," Ziva terkekeh. "Bedanya, lo bolos tetep ditakutin, kalau gue bolos malah dianggap lagi bikin rencana jahat baru."

​"Karena mereka nggak kenal lo," sahut Aksa pelan. Ia menjauhkan botol minumnya dari bibir. "Mereka cuma kenal topeng lo."

​Ziva tertegun. Kata-kata Aksa selalu terasa seperti panah yang tepat sasaran. Kenal topeng lo. Benar. Dunia ini mengenal Zivanna si Ratu Bully, dan sekarang mereka bingung melihat Zura—si jiwa yang tersesat di raga ini. Hanya Aksa yang tampaknya tidak peduli dengan identitas itu.

​Perjalanan berlanjut hingga motor Aksa berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman Winata. Satpam yang berjaga langsung berdiri tegak, matanya membelalak melihat Nona mudanya turun dari boncengan motor sport cowok asing.

​Ziva melepas helmnya dan memberikannya pada Aksa. "Makasih ya, Sa. Udah dianter, udah dikasih roti juga. Besok gue ganti deh duitnya."

​"Nggak usah," sahut Aksa. Ia baru saja hendak menyalakan mesinnya kembali ketika pintu gerbang kecil terbuka dengan kasar.

​"WOI! SIAPA TUH?!"

​Abian muncul dengan kaos singlet dan celana pendek, tangannya memegang sebungkus kacang atom. Ia melangkah cepat dengan wajah yang dibuat sesangar mungkin, namun gagal karena mulutnya masih penuh kunyahan.

​"Aduh, monster martabak keluar," gumam Ziva sambil menepuk jidatnya.

​Abi berhenti di depan Aksa, menatap cowok itu dari atas ke bawah. "Siapa lo? Kenapa adik gue bisa nempel di punggung lo kayak koala? Lo nggak macem-macem kan sama dia di jalan?"

​Aksa menatap Abi tanpa rasa takut sedikit pun. Ia hanya mengangguk sopan, ciri khas orang yang dididik di keluarga terpandang namun tetap berjiwa pemberontak. "Aksa. Temen sekolah Ziva."

​"Temen? Sejak kapan Ziva punya temen yang naik motor ginian? Biasanya kan temennya yang dandanannya kayak mau karnaval," selidik Abian, matanya menyipit ke arah jaket kulit Aksa.

​"Bang Abi! Masuk nggak lo! Malu-maluin aja," Ziva menarik lengan kakaknya dengan paksa. "Dia cuma anter gue karena mobil gue mogok. Udah, sana masuk!"

​Ziva menoleh ke arah Aksa dengan wajah merah padam karena malu. "Sorry ya, Sa. Kakak gue emang agak geser otaknya. Hati-hati di jalan!"

​Aksa hanya memberikan senyum tipis—hampir tak terlihat—lalu memakai helmnya. "Gue cabut."

...​VROOOM!...

​Suara motor itu menghilang di tikungan komplek, meninggalkan debu dan sisa aroma hujan.

​Abi merangkul bahu Ziva, menyeretnya masuk ke rumah sambil terus mengoceh. "Eh, tapi keren juga tuh cowok. Motornya mahal, auranya dingin kayak kulkas 12 pintu. Lebih oke lah daripada si Rey-Rey yang mukanya kayak minta dikasihani itu. Lo pindah haluan, Ziv?"

​"Nggak! Gue cuma mau tidur, Bang! Tidur!" teriak Ziva frustrasi.

​Malam itu, saat Ziva sudah meringkuk di balik selimutnya yang hangat, ponselnya bergetar di atas nakas.

[Nomor Tidak Dikenal]: Roti cokelatnya jangan lupa dibuang bungkusnya. Jangan nyampah di kamar.

​Ziva terbelalak. Ia tahu itu siapa. Hanya ada satu orang yang memberikan roti itu sore tadi.

​"Dapet nomor gue dari mana sih ini tiang listrik..." gumam Ziva dengan jantung yang mendadak berdegup kencang, merusak rencana hibernasinya malam itu.

Ziva menatap layar ponselnya lama, jarinya ragu untuk mengetik balasan. Rasanya aneh. Seorang Aksa Erlangga, yang bicaranya lebih irit daripada kuota internet di akhir bulan, tiba-tiba mengiriminya pesan hanya untuk mengingatkan soal bungkus roti.

​"Gue yakin dia punya penyakit Obsessive Compulsive Disorder tingkat akut soal kebersihan," gumam Ziva sambil mengetik balasan singkat.

[Ziva]: Iya, cerewet. Lagian kamar gue punya tempat sampah sendiri.

​Tidak ada balasan lagi. Tipikal Aksa.

​Ziva melempar ponselnya ke tumpukan bantal dan menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang mewah. Pikirannya kembali ke parkiran sekolah tadi sore. Wajah Reygan yang merah padam karena menahan amarah masih terbayang jelas. Ada rasa puas yang sedikit nakal di hati Ziva, tapi di sisi lain, ia tahu ini baru permulaan dari badai yang lebih besar.

"Ziva! Turun! Makan malam!" suara Bang Abian menggelegar terdengar dari lantai bawah, merusak suasana hening yang baru saja Ziva bangun.

​Ziva turun dengan langkah malas, masih mengenakan kaos oversize putih yang tadi sore. Di ruang makan, aroma sup ayam dan sambal goreng terasi sudah menggoda indra penciumannya. Pak Baskara sudah duduk di sana, tampak sedang memeriksa beberapa berkas kantor sebelum makan dimulai.

​"Ziva, tadi Papa dengar dari Pak Jajang kalau ban mobilnya kena paku ya?" Baskara bertanya tanpa mengalihkan pandangan.

​"Iya, Pa. Sial banget emang," jawab Ziva sambil mengambil nasi.

​"Terus kamu pulang naik apa? Tanya Baskara Papa-nya, Abian—bilang kamu pulang bareng teman?"

​Ziva melirik tajam ke arah Bang Abi yang sekarang sedang pura-pura sangat sibuk mengupas kerupuk. "Iya, Pa. Bareng Aksa. Mobil mogok, mendung juga, jadi ya udah nebeng."

​Pak Baskara meletakkan berkasnya, lalu menatap Ziva dengan tatapan menyelidik yang tenang. "Aksa? Anaknya Pak Erlangga yang punya yayasan sekolah itu?"

​Ziva tersedak air minumnya sendiri. Uhuk! "Papa kenal?"

​"Rekan bisnis Papa. Aksa itu anak yang pintar, tapi katanya memang agak... tertutup. Papa tidak tahu kamu berteman dengannya," ucap Pak Baskara, lalu mulai menyendok supnya.

​"Bukan temen deket, Pa. Cuma... ya, temen satu sekolah aja," bela Ziva cepat-cepat.

​Abian menyeringai nakal. "Halah, 'temen satu sekolah' kok boncengannya kayak mau nempel permanen gitu. Tadi gue liat si Ziva pegangan kenceng banget ke jaketnya, Pa. Kayak takut ditinggal lari."

​"Bang Abi, diem atau ayam lo gue kasih ke kucing tetangga!" ancam Ziva dengan mata melotot.

​Pak Baskara hanya tersenyum tipis melihat interaksi kedua anaknya. Ini adalah pemandangan yang langka. Biasanya, meja makan ini penuh dengan keluhan Ziva soal barang branded yang belum dibelikan atau tangisan dramatis soal Reygan. Melihat Ziva yang sekarang lebih banyak bicara soal "hal-hal normal" membuatnya merasa jauh lebih tenang.

Setelah makan malam, Ziva kembali ke kamarnya. Ia baru saja hendak mematikan lampu saat ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Aksa, melainkan rentetan notifikasi grup kelas yang isinya membuat Ziva ingin pindah ke Mars.

​[Grup Chat Kelas XI-IPA 1]

​[Manda]: WOI! GUE NEMU FOTO BARU DI BASE! Siapa nih yang motret Ziva sama Aksa lagi di minimarket?!

[Tika]: DEMI APA?! Itu Aksa lagi megang kresek belanjaan buat Ziva?!

[Murid A]: Fiks sih ini, Queen Bee dapet upgrade dari pangeran ke raja langsung.

​Ziva memejamkan mata rapat-rapat. "Sialan... bener-bener nggak bisa tenang sehari aja ya hidup di dunia ini."

​Ia mencoba mengabaikan grup itu, tapi satu pesan pribadi masuk. Dari Reygan.

​[Reygan]: Ziva, gue butuh penjelasan. Sejak kapan lo jadi sedeket itu sama Aksa? Lo beneran mau jadiin dia pelarian cuma gara-gara gue nggak ngerespon perasaan lo selama ini? Jangan murahan deh lo Ziv.

​Ziva menatap pesan itu dengan emosi yang mulai mendidih. "Murahan?" bisiknya. "Wah, ini orang bener-bener minta dikasih pelajaran."

​Ziva mengetik balasan dengan kecepatan penuh.

​[Ziva]: Penjelasan? Lo siapa? Bapak gue bukan, kakak gue bukan. Soal murahan, mending lo kacaan deh. Yang dari tadi pagi ngejar-ngejar orang yang nggak mau diajak ngomong itu siapa? Selamat malam, Reygan. Semoga mimpi buruk.

...​BLOCK....

​Ziva memblokir nomor Reygan dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia mematikan ponselnya, menarik selimut, dan memejamkan mata. Namun, di tengah kegelapan kamarnya, ia mendadak teringat kembali aroma jaket kulit Aksa dan caranya bicara yang datar tapi menenangkan.

​"Aksa Erlangga... lo itu sebenernya siapa sih?"

​Di kediaman Erlangga, di sebuah balkon luas yang menghadap ke arah kota, Aksa sedang duduk diam dengan sketsa di pangkuannya.

Di atas kertas itu, bukan gambar pemandangan hujan yang ia buat, melainkan sketsa kasar seorang gadis yang sedang memakai helm kebesaran dengan wajah yang cemberut namun lucu.

​Aksa menutup buku sketsanya, menatap langit malam dengan helaan napas panjang. "Emang beneran adem," gumamnya pelan.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!