Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir
Di Istana Kekaisaran Pedang Langit, pagi itu berjalan dengan tenan. Kaisar Yuhuang duduk bersandar santai. Di sampingnya, Permaisuri Jenika tampak anggun, menikmati teh hangat dengan senyum lembut.
”Hari ini tampaknya damai,” ujar Jenika pelan, meletakkan cangkir tehnya. ”Sudah lama kita tidak mendapat kabar buruk dari wilayah luar.” Ia menatap suaminya dengan sorot mata tenang, berharap hari itu akan berlalu tanpa masalah.
Kaisar Yuhuang mengangguk ringan, meski raut wajahnya tetap serius. ”Kedamaian sering kali menjadi pertanda sebelum badai datang,” jawabnya pelan.
Belum sempat percakapan itu berlanjut, suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Seorang prajurit berlari masuk, napasnya terengah-engah sebelum ia segera berlutut dengan satu kaki. ”Ampun, Yang Mulia! Hamba membawa laporan penting!”
Kaisar langsung menegakkan tubuhnya, ekspresinya berubah tajam. ”Apa yang terjadi?” tanyanya tegas, suaranya menggema di ruangan.
Prajurit itu menundukkan kepala lebih dalam, tubuhnya sedikit gemetar. ”Melaporkan, Yang Mulia, di Desa Lino telah terjadi wabah yang menyerang rakyat.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. ”Wabah itu menyebar dengan cepat bahkan kini telah menjangkiti desa-desa lain di sekitarnya.”
Permaisuri Jenika langsung menegang, cangkir di tangannya hampir terlepas. ”Wabah?” bisiknya pelan, wajahnya berubah pucat.
Prajurit itu mengangguk cepat. ”Benar, Yang Mulia. Banyak rakyat jatuh sakit dalam waktu singkat, juga audah ada yang tewas. Bahkan beberapa tabib yang turun tangan untuk mengobati dilaporkan tewas.”
Ruangan itu seketika menjadi sunyi mencekam.
Mata Kaisar Yuhuang membelalak, amarah dan keterkejutan bercampur dalam satu waktu. ”Apa katamu?” suaranya meninggi, aura kekaisarannya langsung terasa menekan. ”Tabib pun tewas?”
Prajurit itu semakin menunduk, hampir tak berani mengangkat wajahnya. ”Hamba tidak berani berbohong, Yang Mulia. Situasinya sangat gawat.”
Kaisar menghantam sandaran kursinya dengan tangan, wajahnya mengeras. ”Kenapa laporan sepenting ini baru sampai sekarang?!” bentaknya, suaranya penuh kemarahan.
Prajurit itu gemetar hebat. ”Ampun, Yang Mulia! Jalur pengiriman pesan terhambat karena desa-desa sudah mulai tutup. Banyak utusan yang tidak kembali.”
Permaisuri Jenika menatap suaminya dengan cemas. ”Yang Mulia, jika ini benar-benar wabah mematikan kita harus segera bertindak sebelum menyebar lebih luas.”
Kaisar menghela napas berat, lalu berdiri dari singgasananya. Wajahnya kini dipenuhi tekad dingin. ”Tidak boleh dibiarkan,” gumamnya pelan.
Ia menatap prajurit di hadapannya dengan sorot mata tajam. ”Segera panggil semua pejabat tinggi ke aula utama. Kita akan mengadakan sidang darurat sekarang juga.”
Prajurit itu langsung mengangguk cepat. ”Baik, Yang Mulia!”
Kaisar melanjutkan dengan suara yang lebih dalam dan penuh tekanan. ”Dan panggil Putra Mahkota Yuhuang Lian dan Pangeran Yuhuang Tian. Aku ingin mereka hadir tanpa terlambat.”
Prajurit itu kembali menunduk hormat. ”Perintah akan segera dilaksanakan!”
Tanpa berani menunda lagi, ia segera berlari keluar dari aula.
*
*
Di sisi lain, gerbang kediaman Li terbuka perlahan dengan suara berderit panjang. Satu per satu anggota keluarga Li melangkah keluar, wajah mereka penuh amarah dan rasa tidak terima. Tempat yang telah mereka tinggali selama lima tahun kini bukan lagi milik mereka.
Awalnya mereka menolak pergi, bahkan sempat berdebat keras dengan para prajurit. Namun Wu Reno hanya berdiri tenang dengan tatapan dingin, ancamannya jelas tanpa perlu banyak kata. Reputasi Pangeran Tian sebagai tiran yang kejam cukup membuat mereka akhirnya menyerah.
”Kami akan pergi!” seru Li Anna dengan nada kesal, meski langkahnya terasa berat. ”Tidak perlu kalian mendorong kami seperti penjahat!”
Wu Reno tidak menanggapi, hanya mengangkat tangannya memberi isyarat. Seketika gerbang ditutup rapat di belakang mereka, dan kini dijaga ketat oleh para prajurit bersenjata.
Pemandangan itu membuat wajah keluarga Li semakin memerah karena malu. Mereka berdiri di luar, seperti orang asing di tempat yang dulu mereka kuasai. Tatapan dingin para penjaga terasa seperti hinaan yang menusuk.
Karina menginjak tanah dengan kesal. ”Ini semua gara-gara perempuan itu!” geramnya. ”Natalia benar-benar keterlaluan!”
”Perempuan sialan!” sambung Lusi dengan wajah merah padam. ”Dia sengaja menjebak kita semua!”
Li Anna mengepalkan tangannya erat, tubuhnya gemetar menahan amarah. ”Aku tidak akan membiarkan ini begitu saja! Dia harus membayar semuanya!”
Li Bao yang sejak tadi diam akhirnya bersuara dengan nada berat. ”Cukup mengutuk di sini tidak akan menyelesaikan apa pun,” katanya tegas. ”Cepat cari Natalia. Suruh dia bertanggung jawab atas semua ini. Jika dia yang menjual kediaman ini, pasti dia punya uang yang banyak.”
Li Anna langsung mengangguk kuat. ”Benar! Kita harus menemukannya secepat mungkin!” suaranya penuh tekad dan dendam.
Tak jauh dari mereka, Andra meringis kesakitan. Tangannya yang patah masih terbalut kain, dan setiap gerakan membuat wajahnya semakin pucat. Lusi segera menopangnya dengan panik.
”Pelan-pelan,” bisik Lusi, meski nadanya masih dipenuhi emosi. ”Keadaanmu belum pulih, jangan memaksakan diri.”
Karina masih terus menggerutu tanpa henti. ”Kalau aku bertemu Natalia, aku tidak akan melepaskannya begitu saja!”
Lilith pun tidak kalah, wajahnya dingin dan penuh kebencian. ”Dia pikir bisa lari begitu saja setelah menghancurkan kita? Tidak semudah itu.”
Di tengah kekacauan itu, Andrian akhirnya membuka mulut. ”Sudah cukup!” ucapnya, mencoba menenangkan situasi.
Sebelum ia sempat melanjutkan, suara langkah kaki cepat kembali terdengar. Seorang prajurit kekaisaran datang mendekat dan segera memberi hormat.
”Jenderal Andrian!” katanya tegas. ”Yang Mulia Kaisar memanggil Anda untuk menghadiri rapat darurat di istana.”
Andrian tertegun sesaat. ”Rapat darurat?” ulangnya, keningnya langsung berkerut.
Prajurit itu mengangguk. ”Ini perintah langsung dari Yang Mulia. Anda diminta segera hadir tanpa penundaan.”
Suasana kembali berubah tegang.
Andrian menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah keluarganya. ”Kalian dengar sendiri,” katanya dengan nada serius. ”Aku harus pergi ke istana sekarang.”
”Lalu kami bagaimana?” tanya Li Anna dengan nada tidak sabar.
Andrian berpikir cepat sebelum akhirnya menjawab. ”Cari penginapan sementara. Aku akan menyelesaikan urusan di istana, setelah itu baru kita cari jalan keluar.”
Andrian menatap mereka satu per satu. ”Jangan membuat masalah lagi. Keadaan kita sudah cukup buruk.”
Meski tidak puas, mereka tidak punya pilihan lain. Dengan perasaan berat, keluarga Li akhirnya benar-benar meninggalkan tempat itu dengan wajah malu. Terlebih beberapa rakyat menatap mereka dengan penasaran.