Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Tuan muda, saya menunggu perintah Anda. Kapan pun saya siap menyingkirkan wanita itu,” kata Leo.
“Kalau Amy mati begitu saja… itu terlalu mudah baginya,” jawab Micheal dingin. “Jason dan Josep… harus menerima balasan dariku.”
“Tuan muda, apakah kita akan memberitahu Tuan Besar?” tanya Leo.
“Tidak,” jawab Micheal tegas.
“Papa memiliki hubungan baik dengan Jason Long. Dia tidak akan peduli dengan kematian Shanny. Dia bahkan tidak mengenalnya.”
Di sisi lain...
Apartemen elit tempat Colly tinggal.
Siang itu, Colly berada di dalam kamar dengan wajah kesal.
“Sudah dua hari aku tidak bisa keluar dari sini…” gumamnya pelan.
“Wilbert Lu… dasar pengkhianat.”
Ia menarik napas panjang, lalu berdiri.
“Aku, Colly Shen, tidak akan terus dikurung seperti ini. Apa pun yang terjadi, aku harus keluar walau harus lompat dari jendela."
Ia melangkah menuju jendela dan menarik tirai.
Namun seketika—
“Aah!”
Colly terkejut.
Di luar jendela, beberapa pria terlihat bergelantungan, tepat di sisi kaca kamarnya.
Mereka juga tampak kaget melihat Colly tiba-tiba membuka tirai.
“Ka-kalian… sedang apa di sana?” tanya Colly dengan kening berkerut sambil membuka jendela.
Para pria itu saling berpandangan, lalu salah satu menjawab dengan kaku,
“Nona… kami sedang membersihkan kaca.”
Ia segera mengusap kaca dengan sapu tangan.
Yang lain ikut melakukan hal yang sama, meski gerakan mereka tampak tidak alami.
Colly menyilangkan tangan, menatap mereka dengan tatapan datar.
“Membersihkan kaca… dengan cara seperti itu?”
Tidak ada yang berani menjawab.
“Apakah kalian sedang mengawasiku?” tanya Colly lagi, nadanya tenang namun menekan.
Para pria itu terdiam.
Lalu hampir bersamaan—
“Tidak, Nona.”
Jawaban mereka terdengar kompak… namun jelas tidak meyakinkan.
Colly kembali membuka sedikit jendela, lalu menatap mereka dengan tatapan tajam.
“Apakah bos kalian menyuruh kalian mengawasi jendela juga?” tanyanya datar.
Salah satu pria itu menegakkan tubuhnya, berusaha tetap terlihat tenang meski masih bergelantungan.
“Maaf, Nona. Perintah dari Tuan tidak bisa kami tolak,” jawabnya hormat.
“Jangankan jendela di lantai enam… bahkan jika di atas gedung, kami tetap harus mengawasi.”
Colly menyipitkan mata.
Tatapannya turun ke tangan mereka yang berpegangan pada tali, lalu kembali ke wajah mereka.
“Luar biasa…” gumamnya pelan.
“Baru kali ini aku melihat orang bekerja sambil bergelantungan di lantai enam.”
Para pengawal itu terdiam.
Salah satu dari mereka tersenyum kaku.
“Ini… sudah menjadi bagian dari tugas kami, Nona.”
Keesokan harinya
Di sebuah kafe yang tenang, Colly dan Wilbert duduk saling berhadapan. Aroma kopi hangat memenuhi udara, namun suasana di antara mereka terasa kaku.
Colly menatap Wilbert dengan sedikit kesal.
“Wilbert, apakah tidak berlebihan? Kau mengawasiku sampai tidak membiarkanku keluar sendiri?” tanyanya.
Wilbert terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.
“Colly, maafkan aku,” ucapnya. “Walaupun kau membenciku, aku tidak bisa menolak perintah Paman Shen.”
Ia menatap Colly dengan serius.
“Coba kau pikirkan kembali… selama ini sudah berapa kali kau berkelahi dengan orang lain?” lanjutnya. “Dan berapa kali kau sampai dibawa ke kantor polisi?”
Colly terdiam.
“Paman dan bibi… hanya tidak ingin identitasmu terungkap,” tambah Wilbert.
Colly menyandarkan tubuhnya, jelas tidak puas.“Lalu apa yang harus aku lakukan agar bisa bebas?” tanyanya.
“Sabar,” jawab Wilbert singkat.
“Itu yang paling penting. Apa pun yang terjadi, kau harus bersabar.”
Colly tersenyum tipis, namun jelas mengandung sindiran.
“Di kota kelahiranku… aku tidak perlu bersabar,” ucapnya pelan. “Tapi di sini, aku harus diam walau ditindas. Apa itu masih bisa disebut wajar?”
Wilbert menatapnya dalam.
“Kalau kau tidak bisa bersabar…” katanya pelan namun tegas, “maka sampai kapan pun kau akan berada dalam pengawasanku.”
Di saat yang sama Amy dan Josep memasuki kafe itu.
Begitu melangkah masuk, tatapan mereka langsung tertuju pada sosok di sudut ruangan.
Colly… dan Wilbert.
“Kakak, gadis itu ada di sini,” bisik Amy dengan mata menyala.
Josep menahan langkahnya.
“Jangan cari masalah di sini. Terlalu banyak orang,” ujarnya pelan. “Kita tunggu sampai dia sendirian. Sebentar lagi Micheal juga akan datang.”
Ia berjalan ke meja lain.Namun Amy tidak bergerak.Tatapannya penuh kebencian. Tanpa peduli, ia langsung melangkah menuju meja Colly.
“Colly Shen!” serunya tajam.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Amy mengambil gelas minuman dari meja lain…
Dan—
Byur!
Ia menyiramkannya langsung ke kepala Colly.
“Hei! Jangan keterlaluan!” bentak Wilbert sambil berdiri.
Colly terdiam.
Air mengalir dari rambutnya, membasahi wajah dan pakaiannya.
Beberapa orang di kafe mulai memperhatikan.
Colly perlahan mengangkat kepala. “Apakah aku masih harus bersabar?” tanyanya pelan, kedua tangannya mulai mengepal.
“Colly, ingat pesan paman dan bibi!” ujar Wilbert cepat.“Biarkan aku yang menangani ini!”
Amy tertawa sinis.“Kenapa? Takut?” ejeknya.
“Colly Shen, Wilbert Lu… kalian berani menuntut kami, itu sama saja menyinggung keluarga Long.”
Tatapannya dingin.
“Tidak ada yang bisa keluar dari masalah ini dengan mudah.”
Wilbert menatap tajam.
“Amy Long, sepertinya pelajaran sebelumnya belum cukup membuatmu jera,” ucapnya dingin.“Aku tidak akan ragu melayanimu sampai akhir.”
Amy menyeringai.
“Wilbert Lu, keluarga Long bukan keluarga biasa. Jika kau berani menyinggungku lagi… ayahku tidak akan tinggal diam.”
Suasana semakin menegang.
Di tengah itu
Colly mengangkat tangannya, mengelap air di wajahnya perlahan.
Ekspresinya tenang.
Terlalu tenang.
“Dasar anak manja…” ucapnya pelan tanpa berdiri. “Kerjamu hanya mengadu… dan berlindung di balik nama keluarga.”
“Colly Shen, kalau berani… maju saja,” ujar Amy dengan senyum meremehkan. “Hari ini tunanganku akan datang. Kau tidak akan bisa mengalahkannya.”
Colly mengangkat pandangannya perlahan.
Tatapannya dingin.
“Kalian semua hanyalah sampah,” ucapnya tenang. “Termasuk tunanganmu.”
“Ulangi sekali lagi!” bentak Amy dengan wajah memerah.
Colly hendak maju
Namun Wilbert segera menahan pergelangan tangannya.
“Cukup,” ucapnya rendah.
Ia kemudian melangkah maju, berdiri di depan Colly. “Pergi dari sini… sebelum aku sendiri yang memberimu pelajaran,” kata Wilbert dingin.
Di saat yang sama, ia memberi isyarat halus dengan tangannya.
Tak lama ... Beberapa anak buahnya masuk ke dalam kafe dan berjalan mendekat, berdiri tidak jauh dari Amy.
Aura tekanan langsung terasa.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Amy, suaranya mulai berubah.
Wilbert menatapnya tajam.
“Lebih baik kau pergi dari hadapan kami.”
“Amy, jangan pedulikan mereka,” suara Josep terdengar. Ia berjalan mendekat, lalu menarik lengan Amy. “Tidak perlu membuang waktu dengan orang seperti ini.”
Amy masih menatap Colly dengan penuh amarah,."Colly, Shen, kau hanya anak yatim piatu yang mengoda pria kaya."
Amy akhirnya berbalik.
Mereka berjalan menuju meja lain di sisi ruangan.
“Sabar… benar-benar tidak menyenangkan,” gumam Colly pelan.
“Aku ke toilet.”
Ia berdiri dari kursinya.
Wilbert menatapnya sekilas, namun tidak menghentikan.
Langkah Colly tenang…
Namun arah yang ia ambil bukan menuju toilet. Melainkan ke meja Amy.
Di saat yang sama, seorang pelayan baru saja datang dan meletakkan dua piring makanan di atas meja mereka.
Amy belum sempat menyentuhnya.
Tiba-tiba—
Colly berdiri di sampingnya.
Tanpa banyak kata.
Tanpa peringatan.
Tangan Colly bergerak cepat—
Brak!
Ia menekan kepala Amy ke arah piring di hadapannya.
Wajah Amy langsung menempel ke makanan itu.Saus dan hidangan berantakan.
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄