Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan panjang di dinding kamar, menciptakan atmosfer yang pekat dengan aroma gairah dan antisipasi. Di atas ranjang king size itu, waktu seolah melambat. Nyx Morrigan berbaring dengan napas yang memburu, jantungnya berdentum keras di rongga dadanya, seolah ingin melompat keluar.
Knox Lambert Riccardo berada di antara kedua kakinya yang terbuka, sebuah posisi yang selama ini hanya Nyx bayangkan dalam ketakutan atau rasa penasaran yang jauh. Namun sekarang, sentuhan tangan Knox di sana—lembut namun penuh tuntutan—membuat ribuan kupu-kupu seolah meledak dan berterbangan di dalam perutnya.
Sensasi itu baru. Sangat baru. Cairan hangat mulai merembes, dan rasa panas menjalar dari pusat tubuhnya hingga ke ujung jari kaki. Nyx meremas sprei sutra di bawahnya, kepalanya terlempar ke belakang saat Knox memberikan tekanan yang presisi pada titik sensitifnya. Tak lama kemudian, sebuah ledakan hebat mengguncang kesadarannya. Tubuh Nyx menegang, melengkung indah, sebelum akhirnya ia lemas dengan napas yang terputus-putus.
Knox mendongak, matanya yang biru berkilat nakal dan penuh kemenangan di bawah cahaya redup. Ia menatap Nyx yang tampak sangat rapuh sekaligus mempesona dengan rambut berantakan dan pipi yang merah padam.
"Sayang..." bisik Knox lirih, suaranya parau dan dalam. "Ejakulasi pertamamu, hm?"
Nyx hanya bisa mengangguk kecil, tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Rasa malu dan nikmat yang luar biasa bercampur menjadi satu. Namun, rasa malunya semakin meledak saat ia merasakan Knox kembali bergerak, kali ini pria itu justru merunduk lebih dalam, mengulum dan menyesap sisa-sisa gairahnya di bawah sana.
"Knox! Apa yang kau lakukan... itu... itu kotor!" pekik Nyx dengan suara bergetar, mencoba mendorong bahu Knox.
Knox tidak berhenti. Ia mendongak sejenak, sudut bibirnya basah, memberikan seringai paling mesum yang pernah Nyx lihat. "Aku ingin merasakannya, Nyx. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memilikimu sepenuhnya. Kau sangat basah sekarang, Sayang. Ini saatnya aku memulai."
Nyx mengangguk pasrah, menyerahkan kendali sepenuhnya pada pria yang kini sudah memposisikan dirinya di atas tubuhnya. Knox menatap mata Nyx, mencari kepastian terakhir, dan saat ia menemukan binar cinta di sana, ia mulai menekan perlahan.
Namun, di sinilah segala kekacauan dimulai.
Sebagai mahasiswa teknik yang jenius, Knox merasa sudah menguasai segala teori tentang mekanika dan struktur. Ia pikir, melakukan "penyatuan" ini semudah memasukkan kunci ke dalam lubang silinder atau menyatukan dua komponen mesin yang presisi. Namun ternyata, realita di atas ranjang jauh lebih rumit daripada cetak biru di laboratorium.
Knox mulai memasuki Nyx, namun ia merasakan hambatan yang luar biasa. Peluh keringat mulai bercucuran di dahi Knox, bukan hanya karena gairah, tapi karena rasa gugup yang mendadak menyerang. Ia mencoba mengatur sudut, mencoba mencari posisi yang paling pas, namun Nyx justru mulai meringis.
"Knox..." rintih Nyx, tangannya mencengkeram bahu Knox yang berotot. "Kenapa... kenapa lama sekali?"
Knox mendengus, mencoba mengatur napasnya yang kacau. "Sabar, Nyx. Ini... ini tidak semudah yang terlihat di video-video itu. Kau sangat... ketat."
Nyx yang sudah berada di puncak kegelisahan dan rasa sakit yang mulai berdenyut, menatap Knox dengan kesal. "Tinggal dimasukkan saja, Knox! Kenapa kau harus melakukan perhitungan kalkulus di sana? Itu sakit tau, kau hanya menekannya di depan pintu!"
Knox terkekeh pendek di tengah usahanya yang keras. Keringat menetes dari ujung hidungnya jatuh ke dada Nyx. "Bentar, Sayang. Aku harus melakukan 'pengenalan' lebih dulu. Aku tidak mau melukaimu. Aku harus memastikan materialnya siap untuk menerima tekanan—"
"Berhenti bicara soal teknik, Knox!" potong Nyx dengan suara tertahan.
Nyx menarik napas panjang, mencoba merilekskan otot-ototnya yang menegang karena terlalu lama menunggu. Namun, tepat saat ia baru saja akan mengembuskan napas, Knox memberikan satu dorongan yang kuat dan tiba-tiba, menembus penghalang terakhir yang selama ini menjaga kehormatan Nyx.
"AHHHHHHH!"
Nyx terpekik, teriakannya tertahan di bantal yang ia gigit. Air mata langsung meleleh di sudut matanya. Rasanya seperti tubuhnya terbelah menjadi dua. Ia memukul dada Knox dengan tangan gemetarnya.
"KNOX! SAKIT SEKALI!" teriak Nyx dengan suara serak. "Kenapa tidak pakai hitungan?! Kenapa tiba-tiba?!"
Knox membeku di posisinya. Ia menatap Nyx dengan wajah yang juga menunjukkan rasa nikmat dan penyesalan. Napasnya memburu, seluruh otot di tubuhnya menegang hebat. Ia tidak menyangka bahwa 'tekanan awal' akan sesulit dan sesakit ini bagi Nyx.
"Maaf... Maafkan aku, Nyx," bisik Knox, suaranya bergetar. Ia mengecup kening Nyx berkali-kali, mencoba menyalurkan rasa tenang. "Aku tidak tahan... aku tidak bisa menunggu hitunganmu. Kau terlalu indah, dan aku sudah berada di ambang batas."
Nyx terisak pelan, namun perlahan ia merasakan rasa sakit itu mulai berganti dengan rasa penuh yang aneh. Ia menatap Knox yang masih setia menunggunya beradaptasi, pria itu tidak bergerak, memberikan waktu bagi Nyx untuk bernapas.
"Jangan bergerak dulu," bisik Nyx, suaranya parau.
Knox mengangguk, ia menyeka air mata di pipi Nyx dengan ibu jarinya. "Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan ke mana-mana. Kita akan melakukannya perlahan, oke? Tanpa teori teknik, hanya kita."
Di bawah temaram lampu dan sisa-sisa rasa sakit yang mulai memudar, Nyx menyadari bahwa penyerahan ini bukan lagi soal nafsu. Ini adalah tentang kepercayaan. Dan saat Knox mulai bergerak kembali dengan irama yang lebih lembut, Nyx tahu bahwa ia telah menyerahkan kuncinya pada orang yang tepat. Tidak ada lagi Nyx Beckham atau Nyx Morrigan yang kesepian; malam ini, ia adalah milik Knox, seutuhnya.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂