NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai

Di ruang kerja milik Xavero, suasana terasa hening dan fokus. Ia duduk di depan laptop, tenggelam sepenuhnya dalam pekerjaannya.

Sejak keluar dari rumah sakit, ia tidak lagi menginap di apartemen Radit. Selain merasa tidak enak, ia juga membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri. Kini ia tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempatnya bekerja—bonus dari Naura yang cukup besar, hingga memungkinkannya hidup nyaman, meski tidak semewah tempat Radit.

Di depan layar, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, terlatih dan tanpa ragu.

“Ini saatnya… satu per satu dari kalian akan habis di tanganku,” gumamnya dingin.

Tatapannya datar, tanpa emosi.

Klik.

Sebuah foto muncul di layar laptop.

“Ardian Fajar Nugraha…” Xavero membaca pelan nama itu. “Nama yang bagus… tapi tidak dengan orangnya.”

Sorot matanya berubah semakin tajam saat menatap foto mantan kakak iparnya. Ingatan lama kembali muncul—bagaimana Ardian dulu memperlakukannya dengan merendahkan, seolah ia tidak pernah setara.

“Kita mulai dari mantan kakak ipar,” ucap Xavero pelan, diiringi senyum tipis yang sulit ditebak.

Ia meregangkan tubuhnya sebentar, lalu kembali fokus pada keyboard. Gerakannya semakin cepat, seolah sudah sangat memahami apa yang ia lakukan.

Beberapa saat kemudian…

Data tersembunyi milik Ardian berhasil ia buka.

Xavero menatap layar dengan sedikit tak percaya, lalu tersenyum miring. Tidak sia-sia Radit mengajarkannya ilmu IT, hingga ia mampu menembus informasi tersembunyi itu.

Ia membaca satu per satu dengan saksama. Ekspresinya semakin dingin.

“Sudah kuduga… dia tidak sebersih yang kukira.”

Ia bersandar di kursi, sementara layar laptop masih menampilkan data Ardian yang terbuka.

“Menjijikkan,” gumamnya pelan.

Pandangan Xavero sedikit menyipit, lalu ia kembali berbicara dengan suara rendah.

“Bagaimana ya… kalau Layla tahu sifat asli suaminya?”

Xavero masih menatap layar laptopnya.

Data yang terbuka di depannya bukan sekadar informasi biasa, itu adalah lapisan demi lapisan kotor yang selama ini disembunyikan rapi oleh Ardian.

Tangannya mengetuk meja pelan.

Satu kali.

Dua kali.

Seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

“Jadi ini alasan dia bisa berdiri setinggi itu…” gumam Xavero pelan, nyaris seperti ejekan.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Namun matanya tidak ikut tersenyum.

Dingin.

Tajam.

Hampir tidak manusiawi, ia memiringkan layar, memperbesar salah satu file penting.

Kontrak lama.

Jejak transaksi.

Nama-nama yang saling terhubung di bawah meja.

“Gue kira lo cuma sombong…” ucapnya pelan, “ternyata lo juga kotor.”

Xavero menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Untuk sesaat, ia terdiam.

Namun bukan ragu.

Lebih seperti menikmati.

Menikmati fakta bahwa seseorang yang selama ini memandang rendah dirinya, ternyata tidak lebih baik darinya.

Di tengah keheningan itu, sebuah rencana perlahan terbentuk di benaknya. Bibir Xavero melengkung tipis, membentuk senyum yang sulit ditebak.

Ia kemudian mengetik sesuatu di ponselnya, sesekali melirik layar laptop yang di depannya.

“Hm… saatnya permainan dimulai,” gumamnya pelan.

Setelah itu, ia menyimpan kembali ponselnya.

Xavero berdiri dari kursinya dengan tenang, lalu melangkah menuju papan besar yang terpajang di dinding ruangan.

Di sana, beberapa foto tertempel rapi dan saling terhubung dengan benang merah, membentuk pola keterkaitan.

Tatapan Xavero menjadi semakin tajam saat memperhatikannya.

“Giliran kalian akan tiba,” gumamnya dingin.

°°

Di mansion keluarga Mahendra, Layla sibuk merawat wajahnya dengan skincare mahal.

Cermin besar di hadapannya memantulkan sosoknya yang sempurna dari luar, rambut tertata rapi, kulit terawat, dan pakaian rumah yang tetap terlihat elegan meski hanya untuk di dalam kamar.

Ia mengoleskan serum perlahan di wajahnya, gerakannya penuh percaya diri.

“Harus tetap flawless…” gumamnya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ting!

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Layla, membuatnya langsung menoleh ke arah perangkat tak jauh darinya. Ia mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal mengirim sebuah pesan berisi foto.

“Siapa ini?” gumamnya pelan, lalu segera membuka pesan tersebut.

Deg!

Seketika itu juga, jantung Layla terasa berhenti sesaat. Tangannya bergetar, nyaris tak mampu memegang ponsel dengan stabil.

“Mas Ardian…” gumamnya tidak percaya.

Ia menggeleng cepat, menolak kenyataan yang baru saja dilihatnya.

“Tidak mungkin… ini pasti video editan.”

Dengan tangan yang masih gemetar, Layla segera menghubungi nomor tersebut.

Begitu panggilan tersambung, suaranya langsung meninggi, penuh emosi.

“Jangan kurang ajar kamu! Suami saya tidak mungkin seperti itu! Katakan siapa yang membayar kamu!”

Di seberang sana terdengar tawa pelan, dingin, dan tidak jelas asalnya.

“Hahaha…”

Suara itu terdengar aneh, seolah sudah dimodifikasi sehingga sulit dikenali.

“Anda yakin suami Anda benar-benar setia?” ucap suara tersebut dengan nada datar namun menusuk.

Layla semakin mengeratkan genggamannya pada ponsel.

“Tentu saya yakin! Suami saya tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu!” bentaknya tegas.

Suara di seberang tetap tenang, bahkan terlalu tenang.

Seolah amarah Layla tidak berarti apa-apa.

“Keyakinan tidak mengubah fakta."

Layla menggenggam ponselnya lebih kuat.

“Kalau ini fitnah, saya akan cari kamu sampai ketemu,” ancamnya.

Tawa kecil kembali terdengar.

“Silakan.”

Klik.

Sambungan terputus.

“Hallo?! Hallo!” Layla menatap layar ponselnya yang kini gelap.

Tangannya masih bergetar, namun bukan lagi karena takut.

Sekarang, karena marah.

“Tidak mungkin…” gumamnya lagi, lebih pelan.

Ia kembali menatap foto itu di layar ponselnya.

Matanya menelusuri, lebih dalam dan lebih teliti.

“Ini pasti jebakan…” bisiknya, tapi suaranya mulai kehilangan keyakinan.

Ia terdiam.

Menatap cermin di depannya.

Wajah yang tadi ia rawat dengan penuh percaya diri, kini terlihat asing.

Perlahan, Layla menutup matanya.

Lalu menghela napas panjang.

Saat matanya terbuka kembali, tidak ada lagi kepanikan.

Yang ada hanya ketenangan yang dipaksakan.

Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tekad.

Ia meraih ponselnya lagi.

Menelepon satu nomor.

“Cek foto yang baru saya kirim. Saya butuh kepastian, editan atau fakta. Dan ini rahasia.”

“Baik, Nyonya.”

Klik.

Panggilan terputus begitu saja.

Layla masih berdiri di tempatnya, napasnya belum stabil. Dadanya naik turun, pikirannya masih kacau oleh gambar yang baru saja ia lihat.

“Mas Ardian…” tangannya terkepal erat, berusaha menahan emosi yang bercampur antara marah dan takut.

Ia kemudian meraih ponselnya lagi, lalu mencoba menghubungi suaminya.

Satu kali panggilan…

Dua panggilan…

Hingga panggilan ketiga, barulah Ardian mengangkatnya.

“Halo sayang, aku baru selesai meeting,” suara Ardian terdengar tenang di seberang.

Layla tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, meski tangannya masih sedikit bergetar.

“Kamu serius habis meeting?”

“Serius, sayang. Kalau kamu nggak percaya, telepon saja Papa.”

Mendengar itu, perlahan ketegangan di dada Layla mulai mereda. Ia menghembuskan napas pelan, mencoba membuang jauh pikiran buruk yang sempat muncul dari foto kiriman misterius itu.

“Hm…” gumamnya pelan. “Kamu kapan pulang?”

“Besok, sayang. Kamu mau hadiah apa?”

“Jam tangan keluaran terbaru,” jawab Layla tanpa ragu.

“Baiklah. Aku akan menyuruh asistenku membelikannya untukmu,” balas Ardian dengan tenang.

Suasana Layla yang semula tegang perlahan kembali normal, meski bayangan dari pesan tadi masih tersisa di sudut pikirannya.

1
Adrianus Eleuwarin
mantaf thor hari ini banyak up nya 👍👍👍💪💪💪
Hendra Yana
lanjut
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!