Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Awal yang Berbahaya
Lorong rumah sakit tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Setelah ucapan Alya barusan, suasana di antara mereka berubah tegang secara tak biasa.
“Itu bukan urusan kamu.”
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Alya.
Dan dari sorot mata Raka saat ini, Alya tahu pria itu juga memikirkan hal yang sama.
Raka berdiri tepat di depannya, tinggi dan tenang seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda di matanya.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
“Apa saya salah?” tanya Raka akhirnya.
Suaranya rendah.
Terkendali.
Dan justru hal itu yang membuat Alya semakin gelisah.
Ia menghela napas pendek.
“Bukan begitu maksud saya.”
“Lalu?”
Alya mengalihkan pandangan sejenak.
Entah mengapa ia merasa jengkel.
Bukan hanya pada Raka.
Tapi juga pada dirinya sendiri.
Karena ia tidak memahami mengapa situasi barusan membuatnya begitu tidak nyaman.
“Dimas memang teman lama,” katanya pelan. “Tapi semuanya sudah selesai sejak lama.”
Raka tetap diam. Pandangannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Alya.
“Apa Anda masih menyukainya?”
Pertanyaan itu muncul begitu mendadak sampai Alya langsung menoleh dengan cepat.
“Apa?”
“Jawab.”
Suaranya tidak meninggi.
Namun ada penekanan di sana.
Dan itu membuat jantung Alya berdebar tidak karuan.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” balas Alya.
“Karena saya ingin tahu.”
“Untuk apa?”
Raka terdiam sesaat.
Dan jeda singkat itu justru membuat suasana semakin janggal.
Alya menatap pria itu tidak percaya.
“Tunggu dulu,” katanya pelan. “Kamu terdengar seperti… cemburu.”
Kalimat itu terlontar sebelum ia sempat menahannya.
Dan begitu keheningan yang menyusul kemudian, Alya segera ingin menarik kembali ucapannya.
Namun terlambat.
Sorot mata Raka berubah samar.
Tak mudah ditebak.
Lalu pria itu berucap dengan nada datar—
“Saya tidak cemburu.”
“Tapi cara kamu bicara—”
“Saya hanya tidak suka hal yang bisa mengganggu kesepakatan kita.”
Jawaban lugas itu membuat Alya langsung diam.
Kesepakatan.
Benar.
Mereka hanya terikat kontrak.
Tidak lebih.
Dan entah mengapa… kenyataan itu mendadak terasa tidak nyaman.
Alya mengalihkan pandangan.
“Dimas tidak akan mengganggu apa pun.”
“Pastikan itu.”
Nada suara Raka kembali dingin dan formal.
Seolah momen janggal beberapa detik tadi tidak pernah ada.
Alya tiba-tiba merasa jengkel lagi.
“Kenapa rasanya semua harus sesuai kontrolmu?”
“Karena kesalahan kecil bisa jadi masalah besar di dunia saya.”
“Dan kalau saya tidak suka?”
Pandangan Raka langsung tertuju padanya lagi.
“Kalau begitu jangan buat saya harus terus membereskan kekacauan.”
Kalimat itu terlalu menusuk.
Alya langsung terdiam kaku.
Dadanya terasa agak sesak.
“Kamu benar-benar tahu cara bicara yang menyebalkan.”
Raka tidak menjawab.
Dan itu justru membuat Alya semakin frustrasi.
Ia langsung berjalan melewati pria itu tanpa menunggu lebih lama.
“Alya.”
Namun Alya tidak berhenti.
Ia terlalu lelah untuk berdebat.
Terlalu bingung dengan semua perasaan janggal yang mulai muncul sejak mereka menikah.
Begitu sampai di parkiran, Alya segera masuk ke mobilnya.
Dan sepanjang perjalanan pulang—
Tidak ada percakapan sama sekali.
---
Rumah terasa lebih dingin malam itu.
Atau mungkin hanya perasaan Alya saja.
Begitu masuk ke dalam kamar, ia langsung melepas sepatu haknya dengan jengkel lalu merebahkan dirinya ke atas ranjang.
“Kenapa dia marah?” gumamnya penuh frustrasi.
Bukankah seharusnya Raka tidak peduli?
Mereka hanya pasangan kontrak.
Masa lalu Alya seharusnya bukan masalah pria itu.
Tapi cara Raka memandangnya tadi…
Cara pria itu bertanya padanya…
Semuanya terasa terlalu pribadi.
Alya memejamkan mata sambil menghela napas panjang.
Dan hal paling menyebalkan adalah—
Sebagian kecil dari dirinya justru malah senang melihat reaksi itu.
“Tidak. Hentikan.”
Ia langsung bangun dan memukul bantalnya pelan.
“Kamu mulai gila, Alya.”
Tok tok.
Ketukan pintu membuatnya langsung diam.
“Ada apa?” tanyanya cepat.
Pintu terbuka perlahan.
Dan tentu saja—
Raka.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sudah kembali teduh.
Seolah perdebatan kecil mereka tadi tidak pernah ada.
“Saya mau bicara.”
Alya langsung mendesah.
“Lagi?”
Raka masuk tanpa menunggu izin lebih lanjut.
“Ada hal penting.”
Alya duduk bersila di atas ranjang sambil menatap pria itu curiga.
“Apa?”
Raka menyerahkan sebuah tablet padanya.
Alya menerimanya perlahan.
Dan beberapa detik kemudian, matanya langsung terbelalak.
Berita online.
Foto dirinya dan Raka di acara tadi siang memenuhi layarnya.
**“Istri Misterius Pewaris Pratama Group Jadi Sorotan.”**
Alya langsung mengernyitkan kening.
Lalu membaca lebih jauh ke bawah.
Dan raut wajahnya berubah.
“‘Diduga berasal dari keluarga biasa dan tidak memiliki latar belakang bisnis.’”
Alya tertawa kecil tak percaya.
“Oh bagus. Mereka bahkan meneliti hidup saya.”
“Itu baru awal.”
Suara Raka tenang.
Namun Alya tidak suka isi perkataan itu.
“Awal apanya?”
“Publik akan terus mencari tahu lebih banyak tentang Anda.”
Alya menurunkan tablet itu perlahan.
“Aku benci ini.”
Dan kali ini—
Nada suaranya benar-benar terdengar letih.
Raka memperhatikannya selama beberapa detik.
Lalu melangkah mendekat.
“Kalau Anda merasa tertekan, abaikan berita seperti itu.”
“Mudah bagimu bicara.” Alya tertawa hambar. “Kamu lahir di dunia ini. Aku tidak.”
Keheningan.
Raka berdiri tepat di depan ranjang sekarang.
Dan entah mengapa, jarak mereka terasa begitu dekat.
“Alya.”
Suara pria itu lebih rendah dari biasanya.
“Lihat saya.”
Alya perlahan mengangkat kepala.
Pandangan mereka langsung bertemu.
Dan untuk beberapa detik—
Tidak ada suara lain yang terdengar.
“Apa Anda menyesal menikah dengan saya?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam kaku.
Ia tak menyangka Raka akan menanyakan hal seperti itu.
Dan lebih tak menyangka lagi karena—
Sorot mata pria itu terlihat serius.
Terlalu serius.
“Aku…” Alya kehilangan kata-kata sejenak.
Karena jujur saja—
Ia memang lelah, takut, dan tertekan.
Namun kalau bukan karena Raka…
Ibunya mungkin tidak akan mendapat kesempatan operasi.
“Aku tidak menyesal,” jawabnya akhirnya dengan pelan.
Dan itu adalah jawaban jujur.
Sorot mata Raka berubah sedikit.
Lebih tenang.
“Bagus.”
Namun Alya belum selesai.
“Tapi aku juga tidak tahu apakah aku bisa bertahan di dunia kamu.”
Kalimat itu terucap lirih.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
Raka duduk di tepi ranjang, tepat di depannya.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Alya langsung menegang.
Pria itu memandangnya lurus sebelum berucap pelan—
“Kalau ada yang menyerang Anda…”
Jeda sejenak.
“Saya akan menanganinya.”
Jantung Alya langsung berdebar kencang.
Nada suara itu.
Terlalu tenang.
Terlalu meyakinkan.
Dan untuk sesaat—
Ia lupa bahwa semua ini hanya kontrak.
“Apa kamu selalu melindungi semua orang seperti ini?” tanyanya pelan tanpa sadar.
Pandangan Raka tidak bergeser.
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu sigap.
Dan entah mengapa—
Itu membuat suasana mendadak berubah.
Lebih sunyi.
Lebih berbahaya.
Alya menelan ludah perlahan.
Ia baru sadar betapa dekatnya posisi mereka sekarang.
Ia bisa mencium aroma parfum Raka.
Bisa melihat detail mata pria itu begitu jelas.
Dan hal yang paling mengganggu—
Sorot mata Raka tidak lagi terasa sepenuhnya dingin.
Seolah ada sesuatu yang mulai terpecah di sana.
Sesuatu yang seharusnya tidak muncul dalam pernikahan palsu seperti mereka.
“Alya.”
Suara Raka sangat rendah sekarang.
Dan Alya tak tahu mengapa jantungnya terasa semakin tak terkendali.
“Ya?”
Beberapa detik berlalu.
Pandangan mereka tetap terkunci.
Lalu perlahan—
Raka mengangkat tangan dan menyentuh pipi Alya.
Dengan sangat pelan.
Dengan sangat singkat.
Namun cukup membuat napas Alya seketika tertahan.
“Apa kamu selalu membuat masalah tanpa sadar?” gumam Raka perlahan.
Kalimat itu terdengar seperti sebuah keluhan.
Namun nada suaranya justru begitu lembut.
Dan itu—
Jauh lebih berbahaya dibandingkan kemarahan pria itu.
Karena untuk pertama kalinya—
Alya mulai merasa nyaman berada begitu dekat dengan Raka.
Dan itu jelas bukan bagian dari perjanjian kontrak mereka.