NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara Emas Sang Mafia

Bab 2 – Penjara Emas Sang Mafia

DOR!

Pintu kamar terbanting keras tepat di belakang punggung Alya. Suara kunci yang diputar bergema nyaring, seolah memukul tepat ke ulu hatinya. Jantung gadis itu rasanya mau copot.

“HEI! BUKA PINTUNYA!” Alya memukul-mukul permukaan kayu putih itu sekuat tenaga. “Kalian nggak bisa seenaknya culik orang gitu aja!”

Diam. Tak ada jawaban.

Emosinya memuncak. Ia menendang pintu itu berkali-kali sampai kakinya sendiri yang kesakitan.

“Aduh... sialan!” gerutunya kesal.

Alya berbalik, matanya mengedar menatap ruangan tempat ia dikurung. Jujur saja, kamar ini jauh lebih luas dan mewah dibanding rumah kontrakannya yang sempit. Ada ranjang king size dengan seprai bersih, lampu kristal yang megah, lemari kayu mahal, bahkan balkon pribadi dengan pemandangan taman yang luas.

Cantik. Mewah.

Tapi tetap saja... ini penjara.

“Diculik orang kaya rupanya,” gumam Alya sinis.

Ia berlari menuju balkon dan mencoba membuka pintunya. Tidak terkunci. Alya buru-buru melangkah keluar, berharap menemukan jalan keluar. Namun harapannya pupus seketika.

Angin malam menerpa wajahnya, tapi yang dilihatnya bukan jalan bebas, melainkan puluhan pria berbadan kekar berjas hitam yang berjaga di halaman. Beberapa bahkan terlihat membawa senjata.

Alya menelan ludah dengan susah payah.

“Ya Tuhan... ini bukan orang kaya biasa.”

Kakinya gemetar, ia mundur perlahan kembali ke dalam. Tadi mungkin ia masih mengira ini prank atau kesalahpahaman konyol, tapi sekarang ia sadar... ia benar-benar ada di sarang serigala.

Perutnya terasa mual. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menenangkan diri.

“Ibu pasti panik setengah mati...”

Matanya mulai terasa panas, air mata hampir tumpah. Tapi Alya menggigit bibirnya keras-keras.

Enggak. Gue nggak boleh nangis. Nangis juga nggak bakal bawa gue pulang.

Klik.

Pintu kamar terbuka.

Alya langsung sigap. Seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi makanan.

“Silakan makan, Nona.”

“Aku bukan Nona!” bentak Alya cepat. “Siapa Anda? Tolong bantu aku keluar dari sini!”

Wanita itu menunduk takut. “Saya hanya pelayan, Non.”

“Di mana pria gila itu?”

Wanita itu tampak ragu, akhirnya menjawab pelan, “Tuan Kael sedang bekerja.”

“Tuan Kael?” Alya mendengus kesal. “Lebih cocok dipanggil psikopat.”

Wajah pelayan itu langsung pucat pasi. “Nona, tolong kecilkan suaranya...”

“Kenapa? Dia bisa dengar dari mana aja?”

“Bisa.”

Suara berat dan dingin itu tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Tubuh Alya membeku.

Kael Lorenzo berdiri di sana. Jas hitamnya sudah diganti kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang maskulin. Penampilannya terlihat lebih santai, tapi justru aura mengerikan yang terpancar membuat bulu kuduk Alya meremang.

Tatapan dingin pria itu langsung menusuk tepat ke wajahnya. Pelayan itu buru-buru pamit undur diri, meninggalkan mereka berdua.

Alya refleks mundur selangkah.

Kael masuk dan menutup pintu perlahan. Suara itu terdengar seperti vonis mati.

“Kau suka sekali berteriak,” ucapnya datar.

“Aku suka kebebasan,” balas Alya tak mau kalah.

“Sayangnya, kau tidak memilikinya sekarang.”

Nada bicaranya yang tenang justru membuat Alya ingin melempar vas bunga ke kepala pria itu.

“Apa maumu sih?!” tanya Alya ketus. “Uang? Aku nggak punya. Mau tebusan? Keluargaku miskin, nggak ada yang bisa diambil!”

Kael berjalan santai mendekat. “Aku tahu.”

“Terus kenapa aku di sini?!”

Alih-alih menjawab, Kael justru berhenti di depan meja, membuka tutup saji, dan menuangkan teh hangat seolah sedang menerima tamu penting.

“Kau makan dulu.”

“Aku nggak lapar!”

“Bohong.”

PRUTTT...

Tiba-tiba perut Alya berbunyi nyaring. Suaranya cukup keras hingga terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

Wajah Alya langsung memerah padam karena malu.

Kael mengangkat sebelah alisnya, ada sedikit guratan geli di wajahnya.

“Lucu.”

“Aku benci kamu!”

“Banyak yang bilang begitu.”

Pria itu menarik kursi dan duduk, lalu menatap Alya seolah menyuruhnya ikut duduk. Tapi Alya tetap berdiri mematung, dagunya diangkat tinggi.

Kael menatapnya beberapa detik, akhirnya berkata dengan nada tenang namun berwibawa, “Kalau aku mau menyakitimu, kau tidak akan berada di kamar senyaman ini.”

“Kalau kau orang baik, aku juga nggak bakal ada di sini!” sentak Alya balik.

Hening sejenak.

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Kael terangkat sedikit. Seolah ia justru menikmati perlawanan gadis di depannya ini.

“Kau berbeda.”

“Aku normal. Yang aneh itu kamu,” celetuk Alya.

Kael berdiri perlahan. Langkah kakinya tenang namun mengintimidasi, mendekat ke arah Alya hingga gadis itu terpojok dan punggungnya menabrak dinding.

Nafas Alya tercekat.

Kael menyandarkan satu tangannya di dinding, tepat di samping kepala Alya, mengurungnya dalam bayangannya tanpa benar-benar menyentuh.

“Dengar baik-baik,” bisiknya rendah, getarannya terasa sampai ke tulang. “Kau akan tinggal di sini sementara.”

“Sementara sampai kapan?!”

“Sampai aku bosan.”

“Apa?!”

Tanpa pikir panjang, Alya mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga. Tapi Kael tidak bergeming sedikitpun. Dia bagaikan tembok beton yang kokoh.

“Aku bukan barang sewaan!” teriak Alya.

“Tapi sekarang... kau milikku.”

Kalimat itu membuat darah Alya mendidih. Emosi menguasai akal sehatnya. Dengan cepat, ia mengangkat tangan kanannya dan—

PLAK!

Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Kael.

Suara tamparan itu menggema, membuat suasana ruangan seketika membeku.

Alya sendiri ternganga, kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Kael menoleh pelan ke arahnya. Rahangnya mengeras, bekas kemerahan mulai terlihat jelas di pipi tirusnya.

Mati gue.

Alya menelan ludah, siap menerima amukannya.

Namun, bukannya marah atau memukul balik, Kael justru menatapnya dengan sorot mata gelap yang sulit diterjemahkan. Lalu... ia tertawa pelan.

Tawa yang rendah, dalam, dan terdengar... berbahaya.

“Menarik.”

“A-apa?”

“Sudah lama tidak ada yang berani menamparku.”

Wajah Alya makin pucat.

Kael meraih pergelangan tangan Alya. Genggamannya lembut, tapi sangat kuat, membuatnya tak bisa bergerak.

“Kalau orang lain berani melakukan itu, tangannya sudah patah sekarang,” bisik Kael di dekat telinga Alya, “Tapi karena ini kau... aku maafkan.”

Jantung Alya berdetak kacau. Entah karena takut atau karena jarak mereka yang terlalu dekat, ia benci kenyataan bahwa tubuhnya merespons sentuhan pria itu.

Kael melepaskan tangannya, lalu berjalan santai menuju pintu.

“Makanlah sebelum dingin.”

“Aku mau pulang!” teriak Alya di punggungnya.

Kael berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.

“Coba kabur... kalau kau bisa.”

Pintu tertutup kembali.

Alya berdiri mematung, lalu melepaskan emosinya dengan melempar bantal ke arah pintu sekuat tenaga.

“ORANG GILA!!”

 

Di luar kamar, Kael berdiri diam mendengar teriakan itu. Salah satu anak buahnya mendekat dengan hati-hati.

“Tuan, apa gadis itu perlu dipindahkan ke tempat lain?”

Kael menatap pintu kayu itu cukup lama. Sorot matanya berubah gelap, penuh dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

“Tidak.”

“Kenapa, Tuan?”

“Karena...” Kael tersenyum miring, “Aku belum selesai memainkannya.”

Di dalam kamar, Alya belum sadar satu hal.

Bahwa dirinya baru saja menjadi mainan... dan obsesi terbaru pria paling berbahaya di kota ini.

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!