Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Ilyar Justina Valgard adalah anak tertua Raja Tyraven. Dia seorang gadis berusia 18 tahun yang memiliki rambut merah pekat panjang bergelombang yang tampak kontras dengan kulit pucat semulus porselennya. Berdasarkan sistem pewarisan, anak pertamalah yang harus mengisi takhta selanjutnya, tanpa memandang jenis kelamin.
Ilyar Justina tidak memiliki bakat bertarung seperti saudara yang lain padahal keluarganya dijuluki sebagai Makhluk Buas Kekaisaran Eldrath. Meski begitu, Ilyar Justina diberkati kecerdasan dan kepribadian lemah lembut, tidak seperti keturunan Valgard yang sedikit lebih kasar, bengis, dan seolah tak memiliki belas kasih.
Maka dari itu, meski tidak memiliki kemampuan sehebat saudara yang lain, segelintir rakyat cukup menyukainya dan secara terang-terangan menunjukkan rasa bangga terhadap Ilyar.
Namun, kenapa semua berakhir seperti sekarang?
Ilyar bersimpuh di tengah-tengah ruangan berlantai marmer dalam kedua tangan terjerat borgol rantai. Rambut merah yang senantiasa memilih untuk hidup lebih bebas, melihat dunia luar dengan pandangan lebih terbuka. Namun, pada akhirnya berujung seperti ini.
Dua prajurit berzirah hadir dan meremas bahu Ilyar, siap mengeretnya ke wilayah pedalaman di mana menara berbatu hitam yang disebut Penjara Dakrossa berada. Tempat berkumpulnya penjahat-penjahat kelas kakap yang dikenal sangat membahayakan bagi kekaisaran.
"Putri!"
Sebelum benar-benar meninggalkan gerbang istana, pelayan dan kesatria pribadi Ilyar berlari dengan air mata berderai.
Mereka jatuh terduduk dengan isak tangis dan kesedihan mendalam, berjanji akan mengungkapkan kebenaran yang ada dan membawanya kembali ke istana. Ilyar hanya tersenyum lalu mengatakan agar keduanya tidak perlu melakukan apa-apa dan hidup dengan baik di luar istana. Dia takut orang-orang yang masih mendukungnya itu justru dalam bahaya saat mencari tahu kebernaran.
Ilyar memandangi langit mendung memayungi istana. Semesta seolah berduka atas kemalalangan yang menimpa raja.
"Silakan."
Terlihat halus dan berkilau kini tampak kusam serta kusut, begitu pula mata abu-abu yang jadi hampa nan suram.
Dari balik mimbar, penasihat utama raja berdiri tegap dan siap membacakan surat keputusan kekaisaran terhadap kejahatan yang telah dilakukannya.
"Atas nama Kekaisaran Eldrath dan kemuliaan Kerajaan Tyraven, kami menjatuhkan hukuman pengasingan ke Penjara Dakrossa pada Putri Ilyar Justina karena telah mencelakai ayahnya sendiri dengan racun dan menyalahgunakan kekuasaan untuk menganiaya Putri Iselda."
Desis dan bisikan segera memenuhi ruangan.
Seluruh bangsawan, pejabat, dan anggota keluarga hadir di sana untuk menyaksikan penjatuhan hukuman atas kejahatan yang telah dilakukan Ilyar. Orang-orang yang bekerja di bawah loyalitasnya menunduk, tak kuasa melihat nona mereka menerima sanksi atas apa yang tidak dilakukan.
Ilyar hanya diam, bibir keringnya yang pecah-pecah terkatup rapat. Sudah ratusan kali dia meraung dan membantah bahwa semuanya hanya tuduhan dan ia dijebak. Tidak pernah terbesit sedikit pun untuk meracuni ayahnya dengan alasan khawatir posisinya akan diberikan pada saudara yang lebih mumpuni apalagi menganiaya sang adik bungsu. Dia bahkan tak berminat pada takhta dan Prajurit mendorong Ilyar masuk ke dalam kereta kuda dengan kasar. Tidak ada keluhan, kini dia duduk di kabin sambil mengingat ulang momen-momen terakhir ayahnya jatuh karena keracunan.
Ilyar dan ayahnya seringkali menikmati akhir pekan dengan mengadakan jamuan teh ringan di gazebo taman. Ilyar terbiasa menyeduh teh secara mandiri untuk ayahnya. Namun, hari itu dia tidak menduga seseorang telah menaruh racun tanpa bau, warna, dan rasa ke dalam ketel berisi teh.
Racunnya berasal dari wilayah bernama Suil, daerah yang mayoritas penduduknya hidup dalam kemiskinan. Suil terletak di daerah pedalaman dan pernah menjadi wilayah yang sering dilanda konflik dan bencana alam. Daerah yang sering Ilyar kunjungi.
"Mengapa orang serakah itu selalu menghancurkan harapan kecil orang lain demi mewujudkan keinginannya?" Ilyar meremas rok gaun yang lusuh seiring bulir-bulir air mata berjatuhan.
***
Sepasang mata Ilyar bergetar bersamaan tubuh gemetar ketakutan setelah menempuh perjalanan panjang menuju Dakrossa.
Mereka melintasi wilayah-wilayah berbahaya yang dihuni monster-monster mengerikan dan permukaan terjal yang jika sedikit keluar jalur saja bisa hilang di balik kedalaman berkabut tak berujung.
Untuk sampai ke Dakrossa bukanlah hal mudah. Harus melewati Hutan Horlan dan lembah Dramor yang terkenal sangat berbahaya. Maka dari itu, pengiriman tahanan ke Dakrossa dilakukan oleh kesatria atau pasukan elit kekaisaran yang terbiasa menghadapi beragam bahaya.
Dakrossa adalah salah satu tempat paling mengerikan di Kekaisaran Eldrath dan disebut sebagai Penjara Terkutuk. Bukan tanpa sebab dijuluki demikian karena tempat itu diisi oleh penjahat mengerikan dan makhluk-makhluk terlarang.
"Kita sudah sampai."
Di balik tebing berbatu, sebuah tanah tandus menjadi pijakan bagi menara besar yang puncaknya menembus awan hitam. Bangunan mengerikan tersebut dilintangi pagar raksasa, menampilkan nuansa mencekam yang bisa membuat bulu kuduk meremang.
"Apa dia masih hidup?"
Kesatria yang mengantar Ilyar menuju Dakrossa turun dari kuda, membuka pintu kereta dan mendapati Ilyar jatuh terduduk dalam kabin dengan wajah pucat pasi.