“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hadiah kecil dari seorang anak untuk ibu tiri
Shan Hei berteriak gila, membakar sisa-sisa esensi kehidupannya untuk menciptakan ledakan api terakhir.
Namun, Shan Luo hanya mengayunkan sabitnya satu kali. Bilah hitam itu membelah api seolah membelah air, dan dengan satu putaran pergelangan tangan, rantai di gagang sabit melilit leher Shan Hei, mengangkat tubuhnya ke udara.
"MO HUANG, MAKANLAH," perintah Shan Luo dingin.
Roh Mo Huang muncul di samping sabit, wajah tampannya menyeringai lebar. Ia meletakkan tangannya di dada Shan Hei.
Seketika, cahaya emas dari mata Shan Hei meredup, jiwanya ditarik keluar dengan paksa hingga tubuhnya mengering dan mengecil dalam hitungan detik.
SLASH!
Dengan satu tebasan bersih, kepala Shan Hei terpisah dari tubuhnya. Darah tidak lagi mengalir; semuanya telah dibekukan oleh hawa murni dari sabit tersebut.
Shan Luo menurunkan sabitnya. Ia menoleh ke arah sudut lorong di mana seorang prajurit elit klan Shan yang tersisa sedang gemetar hebat, memegang pedang yang tumpul karena ketakutan.
"Kau," panggil Shan Luo.
Prajurit itu jatuh berlutut, kepalanya membentur lantai. "Ampun, Tuan! Ampun!"
Shan Luo mengambil sebuah kotak kayu hitam yang besar—kotak yang seharusnya berisi Kunci Giok Naga Hitam.
Ia memasukkan kepala Shan Hei yang masih menampakkan ekspresi teror abadi ke dalam kotak tersebut. Di atasnya, ia meletakkan lencana emas milik Shan Hei yang sudah retak.
"Bawa kotak ini kembali ke wilayah Klan. Serahkan langsung ke tangan Ibu Tiriku, Selir Agung, dan biarkan Shan Feng melihatnya," ucap Shan Luo dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
Ia mendekat ke telinga prajurit yang menggigil itu. "Katakan pada mereka: Sampah yang kalian buang telah kembali untuk menagih hutang darah. Dan ini hanyalah uang mukanya."
Prajurit itu menyambar kotak tersebut dengan tangan gemetar dan lari tunggang langgang keluar dari lorong bawah tanah seolah-olah iblis sendiri sedang mengejarnya.
Han Xiao muncul dari kegelapan, melemparkan Kunci Giok Naga Hitam ke udara dan menangkapnya kembali. "Wah, itu tadi sangat ... dramatis. Aku berani taruhan ibu tirimu akan pingsan saat membuka kotak itu."
"Itu tujuannya," jawab Shan Luo sambil menyarungkan kembali sabitnya ke dalam tato di lengan. "Aku ingin mereka marah. Aku ingin mereka kehilangan ketenangan. Karena saat mereka membabi buta mencariku, mereka akan meninggalkan celah di pertahanan utama mereka."
"Jadi, kita benar-benar akan pergi ke sana?" tanya Mo Huang, kini ia sudah kembali ke wujud santainya, bersendawa pelan setelah 'makan besar'. "Perbatasan antara Tiandi dan Binghuo bukan tempat yang ramah. Di sana adalah tempat di mana es abadi bertemu dengan api bumi yang tak kunjung padam."
"Makam leluhur klan Shan ada di sana," Shan Luo menatap ke arah utara, ke arah pegunungan raksasa yang memisahkan kedua benua. "Mereka sangat menginginkan kunci ini karena di dalam makam itu tersimpan esensi darah murni leluhur yang bisa membangkitkan kekuatan kuat. Jika aku bisa mengambilnya lebih dulu, Shan Feng tidak akan punya peluang lagi."
Han Xiao nyengir, memutar-mutar belatinya. "Mencuri harta karun di bawah hidung klan kuat di benua ini? Haha! Kedengarannya jauh lebih seru daripada merampok perampok jalanan! Ayo berangkat, Pemimpin!"
Shan Luo melangkah keluar dari kuil tua itu. Di ufuk timur, fajar mulai menyingsing, namun bagi klan Shan di Benua Binghuo, kegelapan baru saja dimulai.
Dengan kunci naga di tangan dan dendam yang membara di hati, Shan Luo memulai perjalanan panjangnya menuju jantung pertahanan musuh.
Satu per satu, bidak catur klan Shan mulai tumbang, dan Sang Pencabut Nyawa kini sedang bergerak menuju raja mereka.