Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Sayap yang Terbentang
Cahaya fajar menyelinap di antara celah gorden apartemen Mapo, menyapu tumpukan sketsa yang berserakan di meja kerja Chae-young. Matanya sembap, namun binar tekad di dalamnya tidak bisa dipadamkan. Keputusan telah diambil. Jika Matteo bisa membiarkan masa lalunya menempel seperti benalu, maka Chae-young akan membangun masa depannya sendiri tanpa harus bersandar pada bayang-bayang pria itu.
Pagi itu, Chae-young melangkah masuk ke kantor perwakilan Chan-elle di Gangnam dengan setelan blazer krem yang tegas. Tidak ada lagi jejak air mata semalam. Di hadapannya, seorang wanita Prancis dengan tenang namun apresiatif menyodorkan sebuah map kulit hitam.
"Nona Park, desain Anda semalam... itu luar biasa. Ada kemarahan, keanggunan, dan luka yang tertuang di sana. Itulah yang kami cari untuk Gala Fashion musim gugur ini," ucap sang perwakilan melalui penerjemah.
Chae-young membaca draf kontrak itu dengan teliti. Jantungnya berdegup kencang saat matanya tertuju pada satu poin krusial:
"Desainer utama wajib menetap di Paris selama minimal satu tahun untuk proses kurasi, produksi, dan persiapan Gala. Setelah satu tahun, sistem kerjasama dapat dilakukan secara jarak jauh (online) atau bolak-balik Seoul-Paris."
Satu tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Namun, bagi Chae-young, ini adalah tiket keluar dari sesaknya udara Seoul yang kini tercemar oleh kehadiran Cessie dan rahasia-rahasia Matteo.
"Saya menerimanya," ucap Chae-young mantap sambil menggoreskan tanda tangannya.
Ia tahu keputusan ini egois, namun ia juga memikirkan si kembar. Chan-yeol dan Chae-rin adalah anak-anak yang luar biasa pintar. Di Paris, mereka bisa mendapatkan pendidikan internasional yang lebih baik. Walaupun usia mereka belum genap untuk sekolah dasar formal, kecerdasan mereka—terutama Chan-yeol yang sudah bisa membaca situasi orang dewasa—membutuhkan wadah yang lebih luas untuk diasah.
"Aku tidak butuh izinmu, Matteo," batin Chae-young saat ia melangkah keluar dari gedung itu, menatap langit Seoul yang mulai mendung.
Sementara itu, di kantornya yang megah, Matteo sedang menatap gelas kopinya yang mendingin. Ponselnya bergetar di atas meja. Tulisan (Mom) muncul di layar. Matteo menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Ya, Ibu?"
"Matteo, kenapa suaramu terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya?" suara Lee Young-ae terdengar lembut namun penuh selidik dari seberang telepon di Filipina. "Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Chae-young? Apa kau sudah membicarakan soal pernikahan dengan baik-baik?"
Matteo memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Situasinya sedikit rumit, Ibu. Ada beberapa kendala."
"Kendala apa? Apa kau melakukan sesuatu yang aneh yang membuat dia semakin menjauh?" suara ibunya mendadak menajam. "Ingat Matteo, Ibu ingin kau menebus kesalahanmu pada Chae-young. Jika kau sampai kehilangan dia lagi, Ibu tidak akan memaafkanmu."
"Aku tahu, Ibu. Aku sedang mengusahakannya," jawab Matteo pendek.
"Buktikan dengan tindakan, bukan kata-kata. Bawa dia dan anak-anak ke sini jika kau sudah resmi melamarnya. Ibu merindukan cucu-cucu Ibu," ucap Lee Young-ae sebelum menutup telepon.
Matteo melempar ponselnya ke meja. Ia merasa seperti sedang dipukul dari segala arah. Di satu sisi, Cessie mengancam dengan skandal Manila; di sisi lain, ibunya menagih janji pernikahan; dan yang paling menyakitkan, Chae-young serta Chan-yeol menutup pintu rapat-rapat untuknya.
Sore harinya, Matteo kembali mendatangi apartemen Mapo lagi. Kali ini ia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa dokumen pendaftaran sekolah internasional terbaik di Seoul untuk si kembar. Ia ingin membuktikan bahwa ia serius memikirkan masa depan mereka.
Ting Tong!
Chae-rin merasa itu pasti ayahnya. Dan segera berlari membukakan pintu tanpa Chae-young sadari yang tengah sibuk membereskan pakaiannya.
"Daddy?" Chae-rin menghamburkan pelukannya.
Saat pintu terbuka, pemandangannya berbeda. Beberapa koper besar sudah berjajar di ruang tamu. Chae-young sedang sibuk memasukkan beberapa buku ke dalam tas punggung si kembar.
"Apa-apaan ini, Chae-young-ah?" suara Matteo bergetar. "Kau mau ke mana?"
Chae-young menoleh, menatap Matteo dengan tatapan yang sangat asing—dingin dan tak tersentuh. "Aku akan pergi ke Paris, Matteo. Aku sudah menandatangani kontrak dengan Chan-elle. Aku akan menetap di sana selama setahun bersama anak-anak."
"Apa?! Kau gila?" Matteo melangkah maju, mencoba meraih bahu Chae-young, namun wanita itu menghindar. "Kau tidak bisa membawa anak-anakku pergi sejauh itu tanpa persetujuanku!"
"Anak-anakmu?" Chae-young tertawa getir. "Selama lima tahun mereka adalah anak-anakku, dan kau tidak ada di sana. Sekarang, biarkan aku memberikan dunia yang lebih baik untuk mereka, jauh dari wanita-wanita masa lalumu dan skandal memalukanmu."
Chan-yeol muncul dari balik kamar, ia sudah menggendong tas kecilnya. Ia menatap Matteo dengan tatapan yang sama persis dengan ibunya. "Daddy sibuk dengan Aunty itu saja. Chan-yeol dan Chae-rin mau ke Paris sama Mommy."
Matteo membeku. Kalimat putranya terasa lebih tajam daripada belati. Ia menatap Chae-young, mencoba mencari sisa-sisa kelembutan di sana, namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang tebal.
"Satu tahun, Matteo. Berikan aku waktu untuk bernapas tanpa bayang-bayangmu," ucap Chae-young final, yang masih sibuk merapikan isi kopernya.
Matteo berdiri mematung di tengah ruang tamu apartemen Mapo, menatap koper-koper yang sudah rapi berjajar. Kata-kata Chae-young tentang Paris dan menjauh darinya terasa seperti vonis mati. Namun, alih-alih meledak marah, ekspresi Matteo mendadak berubah. Amarah yang tadinya meluap kini mendingin, berubah menjadi tatapan tenang yang jauh lebih mengerikan.
"Satu tahun di Paris?" Matteo bergumam pelan, hampir seperti bisikan. "Kau pikir dunia ini begitu luas sehingga kau bisa lari dariku, Chae-young-ah?"
Chae-young tidak menghiraukan. Ia menarik tas ransel Chae-rin dan hendak melangkah menuju pintu. "Minggirlah, Tuan Matteo. Taksi kami sudah menunggu di bawah."
Matteo tidak bergerak satu inci pun. Ia justru merogoh ponsel dari saku jasnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu memasukkannya kembali. "Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk bicara baik-baik. Aku sudah mencoba menurunkan egoku di depan anak-anak. Tapi kau... kau menggunakan ketenanganku untuk mengusirku dari hidup kalian."
"Itu hakku!" balas Chae-young tajam.
Tepat saat itu, ponsel Chae-young di atas meja makan berdering nyaring. Nama Song-min muncul di layar. Chae-young mengerutkan dahi, ada firasat buruk yang merayap di tengkuknya.
"Halo, Song-min? Ada apa? Aku sedang bersiap ke bandara—"
"Nona Park!" Suara Song-min di seberang telepon terdengar gemetar dan penuh kepanikan. "Nona, ini bencana! Perwakilan Chan-elle baru saja menelpon. Mereka... mereka membatalkan kontrak kerjasama kita secara sepihak!"
Langkah Chae-young terhenti. Dunia seolah berhenti berputar. "Apa? Tidak mungkin! Aku baru saja menandatanganinya kemarin! Apa alasannya?"
"Mereka tidak memberikan alasan spesifik, Nona. Mereka hanya bilang ada masalah internal dan mereka sudah menemukan desainer lain yang lebih stabil secara lokasi. Bahkan, butik kita di Seoul pemilik gedung baru saja menelpon, mereka menaikkan harga sewa sepuluh kali lipat atau kita harus keluar besok pagi!"
Ponsel di tangan Chae-young hampir terjatuh. Ia perlahan menoleh, menatap Matteo yang kini berdiri santai sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. Pria itu tampak sangat tenang, seolah berita kehancuran karier Chae-young hanyalah laporan cuaca harian baginya.
"Kau..." desis Chae-young, suaranya bergetar karena amarah yang luar biasa. "Kau yang melakukannya, bukan? Kau menggunakan kekuasaanmu untuk menekan brand itukan?"
Matteo melangkah maju, sangat dekat hingga Chae-young bisa mencium aroma sandalwood dan cerutu yang menempel di jasnya. Ia menunduk, menatap mata Chae-young yang mulai berkaca-kaca.
"Aku adalah penyumbang dana terbesar untuk yayasan seni mereka di Paris, Chae-young-ah. Satu telepon saja, dan mereka akan menyadari bahwa bekerja sama denganmu adalah kerugian finansial bagi mereka," ucap Matteo dengan suara berat yang dingin.
"Kau gila! Kau menghancurkan mimpiku!" Chae-young memukul dada Matteo dengan tangan terkepal. "Kenapa kau sejahat ini?!"
Matteo menangkap kedua pergelangan tangan Chae-young, menguncinya dengan kuat namun tidak menyakitkan. "Aku tidak menghancurkan mimpimu. Aku hanya memindahkan panggungmu. Kau ingin jadi desainer dunia? Aku bisa membelikanmu satu brand mewah di Seoul. Kau ingin si kembar sekolah hebat? Aku sudah mendaftarkan mereka di sekolah terbaik di sini."
"Aku ingin pergi darimu!" teriak Chae-young.
"Dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah aku izinkan," balas Matteo telak.
Ia beralih menatap Chan-yeol yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Chan-yeol-ah, Daddy minta maaf karena membuat kalian takut. Tapi kita tidak akan pergi ke Paris. Kita akan tinggal di rumah milik Daddy."
Chan-yeol menatap Matteo dengan bimbang. Ia marah pada ayahnya, tapi ia juga melihat kekuatan luar biasa yang dimiliki pria ini untuk menjaga mereka—meski dengan cara yang salah.
Chae-young terduduk lemas di sofa. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang pintunya dikunci rapat oleh kunci bernama Matteo Smith. Ia benci pria ini, ia sangat benci kekuasaannya, tapi ia juga menyadari bahwa ia tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan sang Titan.