NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Payung Hitam yang Sama

​Jam analog berbentuk roda gigi di dinding bata kedai sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku baru saja menghela napas panjang—yang entah keberapa kalinya hari ini—sambil mematikan saklar lampu neon di signboard depan. Malam ini aku terpaksa lembur sendirian. Laporan stok bulanan dan tutup buku ada yang selisih, dan aku harus menghitung ulang dari awal. Nisa sudah kusuruh pulang sejak jam delapan tadi.

​Saat aku sedang bersusah payah menarik rolling door kedai yang relnya mulai karatan, titik-titik air es tiba-tiba jatuh menetes di lenganku.

​Hanya dalam hitungan detik, hujan deras langsung mengguyur Jakarta. Seolah langit baru saja ditumpahkan dari ember raksasa tanpa peringatan. Angin malam berhembus sangat kencang, meniupkan hawa dingin yang langsung menusuk tulang dan membuatku merinding seketika.

​"Sialan, pake acara hujan segala," umpatku pelan, gigiku mulai gemertak menahan dingin.

​Aku melangkah mundur dengan panik, berdiri merapat di emperan kedai yang sangat sempit, memeluk tas ranselku erat-erat ke dada agar tidak ikut basah. Payungku tertinggal di kosan karena ramalan cuaca pagi tadi bilang hari ini cerah.

​Aku sudah mencoba membuka aplikasi ojek online sejak lima belas menit yang lalu. Layarnya hanya menampilkan ikon loading yang terus berputar mencari driver tanpa hasil. Siapa juga driver yang mau mengambil orderan di cuaca seburuk ini, di kawasan proyek yang jalannya hancur pula? Bisa-bisa aku menginap di kedai malam ini bersama tikus got, gusarku sembari terus mencoba menekan-nekan layar hp, berharap pencarian driver berhasil.

​Tiba-tiba, dari arah bayang-bayang pagar seng proyek yang gelap gulita, sebuah payung hitam berukuran besar terbuka. Bunyi 'klik' pelannya terdengar samar di antara derau hujan.

​Sesosok tubuh jangkung berjalan mendekat menembus tirai hujan yang lebat. Begitu cahaya lampu jalanan yang temaram menerangi wajah orang itu, napasku refleks tertahan di tenggorokan.

​"Arka?" suaraku setengah berteriak mengalahkan bisingnya hujan. "Lo ngapain jam segini masih di sini?"

​Aku bingung sekaligus kaget bukan kepalang. Cowok itu tidak lagi memakai setelan jas mahalnya. Ia hanya mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya sudah dilinting berantakan hingga siku. Ujung rambutnya basah kuyup meneteskan air, dan celana bahan serta sepatu kulitnya yang biasa mengkilap sudah dipenuhi bercak air dan cipratan lumpur proyek.

​Direktur macam apa yang keluyuran di tengah lumpur jam sepuluh malam? batinku tak habis pikir.

​"Tadi gue ada jadwal ngecek progres pengecoran basement di area belakang. Agak rewel mandornya," jawab Arka, suaranya kelewat santai, berbanding terbalik dengan penampilannya yang kacau.

​Ia melangkah naik ke emperan kedai, memposisikan payung raksasanya agar menaungi tubuhku dari tempias air. "Pas urusan udah kelar dan gue mau balik ke mobil, gue lihat dari jauh lampu dalam kedai lo masih nyala. Yaudah, sekalian gue tungguin aja."

​Aku mengerutkan kening, menatapnya curiga. "Nungguin? Berapa lama?!"

​"Dua jam-an, lah kira-kira," sahut Arka enteng. Ia mengatakannya seolah berdiri menembus debu proyek dan gerimis selama dua jam tanpa tujuan yang jelas adalah hobi barunya akhir-akhir ini.

​Dua jam? Otak cowok ini pasti sudah konslet tertimpa paku bumi. Buat apa dia nungguin aku?,tanyaku heran.

​"Mobil gue parkir di seberang sana, agak jauh. Jalan kaki dikit ke sana nggak apa-apa, kan?" Arka melanjutkan, membuyarkan lamunanku. "Yuk, gue antar balik ke kosan. Lo nggak bakal dapet ojek jam segini kalau hujannya deres begini."

​Aku sebenarnya merasa sungkan dan gengsi untuk menerima tawarannya. Tapi angin malam yang menyapu emperan ini benar-benar tidak main-main. Bibirku pasti sudah sedikit membiru sekarang.

​Akhirnya, dengan sangat terpaksa—dan mengesampingkan harga diriku demi tidak mati hipotermia—aku mengangguk kaku. "Maaf ya, jadi ngerepotin lo terus," jawabku sungkan.

​"Nggak ada yang ngerasa direpotin," balas Arka singkat. Matanya melirik sekilas ke arah bibirku yang gemetar, lalu ia menggeser posisi payungnya lebih dekat ke arahku.

​Kami berdua mulai berjalan bersisian menembus badai hujan di bawah satu payung hitam yang sama. Karena ukuran payung itu sebenarnya tidak didesain untuk melindungi dua orang dewasa dari hujan angin, jarak di antara kami jadi kelewat sempit. Sangat sempit. Setiap kali kami mengambil langkah, lengan kemeja Arka yang basah sesekali bergesekan dengan bahan jaket denimku.

​Panas tubuhnya memancar, terasa kontras dengan udara di sekeliling kami. Wangi parfum woody maskulin miliknya—aroma sandalwood yang kini sangat kuhafal—bercampur dengan aroma tanah basah dari hujan. Kombinasi bau itu mendadak mendominasi indra penciumanku. Entah kenapa, wanginya terasa... menenangkan.

​Tapi di saat yang sama, jarak sedekat ini sukses membuat isi kepalaku berantakan. Aku melirik dari sudut mata. Napasku sedikit tercekat saat menyadari bahwa Arka dengan sengaja memiringkan dan mencondongkan tangkai payungnya lebih banyak ke arahku. Ia membiarkan bahu kiri dan lengannya sendiri basah kuyup dihajar hujan, hanya agar bahuku tetap kering.

​Dia merelakan kemeja mahalnya rusak dan membiarkan tubuhnya kedinginan, cuma buat nutupin jaket denim murahanku? Apa yang sebenarnya dia cari dariku?!

​Pikiranku belum selesai memproses tindakannya, ketika kami hampir sampai di pinggir trotoar jalan raya tempat sedan hitam Arka diparkir.

​Tiba-tiba, deru mesin yang sangat bising terdengar mendekat. Sebuah motor sport melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, membelah genangan air tanpa ampun. Motor itu sama sekali tidak mengerem saat menghantam kubangan air lumpur bercampur sisa galian proyek yang cukup dalam, tepat dua meter di depan kami.

​Cipratan air kotor berwarna cokelat pekat itu melesat membentuk gelombang raksasa, mengarah langsung ke tubuhku.

​"Awas!"

​Semuanya terjadi dalam hitungan sekian milidetik. Refleks, Arka membuang tangkai payungnya ke belakang. Ia menggunakan lengan kanannya untuk menarik pinggangku dengan tenaga penuh.

​Aku terkesiap kaget saat tubuhku ditarik keras hingga menabrak dada bidangnya. Sementara itu, Arka memutar badannya sendiri seratus delapan puluh derajat, menjadikan punggung besarnya sebagai tameng pelindung.

​BYUR!

​Suara hantaman air itu terdengar jelas. Arka membiarkan punggung kemejanya dihantam gelombang air lumpur kotor itu sepenuhnya demi melindungiku.

​Payung hitam di tangan Arka terlepas dan jatuh berguling di atas aspal. Hujan kini mengguyur kami berdua tanpa penghalang.

​Jantungku serasa melompat keluar dari tulang rusuk. Bukan karena kaget oleh cipratan lumpur tadi, tapi karena posisiku saat ini.

​Kedua lengan kokoh Arka melingkar erat di pinggang dan punggungku, mendekapku begitu posesif agar aku tidak terkena setetes kotoran pun. Jarak wajah kami sekarang tersisa hanya beberapa sentimeter.

​Dunia yang tadinya berisik oleh deru badai dan mesin kendaraan mendadak senyap. Waktu di sekeliling kami seolah mati rasa. Yang tersisa hanyalah suara napas kami yang berpacu, dan detak jantung yang berdebar brutal menghantam rongga dada—entah itu jantungku sendiri, atau jantung Arka, aku tidak bisa membedakannya lagi. Dada kami bersentuhan setiap kali menarik napas.

​Aku perlahan mendongak. Kelopak mataku yang basah oleh air hujan langsung terkunci oleh tatapan mata Arka.

​Mata itu. Biasanya mata itu menatapku dengan kalkulasi bisnis atau amarah yang tertahan. Tapi malam ini, mata kelam itu menatapku begitu pekat, begitu gelap, dan sangat dalam. Ada pusaran emosi di sana yang membuat perutku mendadak seakan dipenuhi ribuan kupu-kupu yang memberontak.

​Tatapan Arka perlahan turun dari mataku, beralih menatap bibirku yang sedikit bergetar kedinginan. Ia menatapnya lekat selama beberapa detik—sebuah tatapan yang terasa seperti sentuhan fisik yang membakar—sebelum akhirnya kembali menatap mataku.

​Napas Arka yang berat dan hangat menerpa dahi dan ujung hidungku, sangat kontras dengan udara malam yang beku.

​Ada tarik-menarik gravitasi yang tidak masuk akal di antara kami. Sebuah tensi emosional yang terlalu tebal untuk diabaikan. Arka sedikit memiringkan wajahnya, perlahan mempersempit jarak yang tersisa menjadi nyaris tak ada. Ujung hidung kami bersentuhan pelan.

​Tuhan... kalau dia maju satu sentimeter Lagi, aku... aku nggak akan menghindar.

​Aku tanpa sadar menahan napas. Jemariku yang kaku refleks meremas kemeja basah di dada Arka. Tubuhku terasa meleleh, dan kubiarkan kelopak mataku perlahan terpejam, menyerah pada apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

​Namun... sentuhan yang kutunggu tidak pernah datang.

​Hanya beberapa milimeter sebelum bibir kami benar-benar bertemu, pergerakan Arka terhenti secara paksa.

​Aku membuka mata dan merasakan tubuh cowok itu menegang hebat. Arka menelan ludah dengan susah payah, jakunnya bergerak naik turun. Rahangnya mengeras sedemikian rupa, seolah ia sedang menguras seluruh sisa kewarasan di otaknya untuk menahan instingnya sendiri. Ia memejamkan matanya erat-erat sesaat, menyembunyikan pergulatan batin yang menyiksa, lalu dengan penuh keengganan, ia menjauhkan wajahnya dan merenggangkan pelukannya dari tubuhku.

​"Sori."

​Suara Arka terdengar sangat serak, nyaris berbisik. Ia mendehem pelan, mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah kap mobilnya. Ia buru-buru membungkuk dan memungut payung yang jatuh, berusaha menyibukkan diri. "Lo... lo nggak kena cipratannya, kan?"

​Aku mengerjap beberapa kali. Nyawaku seolah baru saja dipaksa masuk kembali ke dalam tubuh dengan cara ditarik kasar. Jantungku masih berdebar brutal hingga pangkal tenggorokanku terasa sakit.

​Aku mundur setengah langkah, menciptakan jarak aman yang membuat dadaku mendadak terasa kosong. "Nggak... gue aman. Tapi kemeja lo kotor parah di belakang."

​"Nggak apa-apa. Gampang urusan laundry," ucap Arka terlalu cepat, ia terus menghindari kontak mata denganku. Tangannya memencet remote mobil dan membukakan pintu penumpang depan. "Masuk, Nja. Udaranya makin dingin. Lo bisa sakit."

​Di dalam mobil, heater yang menyala hangat sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan di antara kami. Tak ada satu pun dari kami yang berani membuka suara sepanjang perjalanan membelah jalanan Jakarta menuju kosanku. Hanya ada suara wiper kaca mobil yang berdecit monoton dan siaran radio yang diputar sangat pelan.

​Suasananya canggung. Sangat canggung. Tapi anehnya, ini bukan jenis kecanggungan yang membuatku ingin melompat keluar dari mobil.

​Aku mencuri pandang ke arah Arka yang sedang fokus menyetir dengan rahang yang masih mengeras. Di tengah diam itu, kami berdua sama-sama menyadari satu hal.

​Ada sesuatu yang tak kasat mata baru saja meledak dan berubah secara permanen di bawah guyuran hujan malam ini. Sebuah garis batas pertahanan garis tebal yang membedakan 'kita bermusuhan' dan 'kita saling menginginkan' kini benar-benar telah terhapus tak bersisa.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!