NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Sang Ratu Dan Ritual Peristirahatan yang Agung

Kereta kencana hitam yang ditarik oleh empat kuda bayangan itu meluncur membelah kabut tebal Lembah Sunyi dengan kecepatan yang sangat stabil. Di dalamnya, He Xueyi menyandarkan kepalanya pada bantal sutra ungu yang disulam dengan benang perak berbentuk bunga krisan. Matanya terpejam, namun sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah ekspresi kepuasan yang jarang terlihat. Aroma bebek panggang dari dapur Istana Sembilan Kegelapan seolah masih tertinggal secara magis di ujung lidahnya, memberikan ketenangan logis yang jauh lebih efektif daripada mantra meditasi manapun yang pernah ia pelajari selama seribu tahun terakhir.

"Bian Zhi," panggil He Xueyi tanpa membuka mata. Suaranya terdengar lembut namun tetap memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

"Hamba di sini, Tuan," sahut Bian Zhi dari kursi kusir di luar. Suaranya tenang, beradu dengan suara derap kaki kuda yang menghantam jalanan batu lembah.

"Secara logika, perjalanan pulang ini terasa lima kali lebih lambat daripada saat kita berangkat untuk kudeta kemarin. Apakah kau sengaja memperlambat lari kudanya agar aku bisa tidur lebih lama di dalam kereta yang sempit ini? Ataukah kau sedang menikmati pemandangan kabut yang membosankan itu?"

Bian Zhi menghela napas panjang, napas yang sudah menjadi rutinitasnya setiap kali menghadapi pertanyaan "logika" majikannya. "Hamba hanya menyesuaikan kecepatan dengan ritme detak jantung Anda yang baru, Tuan. Secara biologis, guncangan yang terlalu keras pada tubuh manusia yang baru saja menyerap esensi jiwa bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Dan hamba yakin, Anda tidak ingin merusak momen bahagia setelah makan bebek panggang itu dengan rasa mual yang tidak estetis sesampainya di paviliun nanti."

He Xueyi mendengus kecil, sebuah tawa tertahan yang hampir tidak terdengar. "Kau mulai pintar bersilat lidah, Bian Zhi. Tapi argumenmu masuk akal secara medis. Aku hargai perhatianmu pada lambungku."

Di samping He Xueyi, Xiao Bo sedang asyik duduk bersila di lantai kereta. Arwah kecil itu sibuk mengelap permukaan Lentera Abadi dengan sepotong kain sutra putih yang sangat halus. Lentera itu kini bersinar dengan cahaya perpaduan emas dan ungu yang sangat jernih, seolah-olah benda pusaka itu juga sedang merasakan kegembiraan karena tuannya telah kembali "utuh".

Begitu roda kereta berhenti dengan perlahan di depan gerbang raksasa Paviliun Lentera Abadi, suasana lembah yang biasanya terasa mencekam dan dingin, tiba-tiba terasa sedikit lebih hangat—seolah-olah alam sendiri menyambut kepulangan sang penguasa. Puluhan roh penjaga yang biasanya berwajah kaku segera berlutut di sepanjang jalan setapak, memberikan penghormatan tertinggi. Namun, mereka semua tampak tertegun dan saling berbisik dalam diam; aura kematian yang biasanya menekan dari tubuh He Xueyi, kini telah bercampur dengan aura kehidupan yang sangat berwibawa dan harum seperti bunga persik yang baru mekar.

He Xueyi turun dari kereta dengan bantuan tangan Bian Zhi. Gaun sutra merah gelapnya menyapu lantai marmer hitam paviliun dengan suara berdesir yang mewah. Ia berhenti sejenak di tengah halaman, menarik napas dalam-dalam, merasakan udara lembah yang familiar masuk ke paru-parunya yang kini berfungsi sempurna.

"Ah... bau dupa cendana kuno, aroma buku-buku tua, dan kelembapan dinding batu ini. Akhirnya, rumahku yang sebenarnya," gumam He Xueyi. Ia menatap pilar-pilar paviliun yang tinggi menjulang, tempat di mana ia menghabiskan ribuan malam sebagai bayangan yang kesepian. "Bian Zhi, pastikan semua arwah yang sempat kabur saat aku pergi segera ditertibkan. Aku tidak mau mendengar ada keluhan soal hantu gentayangan di desa bawah saat aku sedang beristirahat."

"Hamba laksanakan, Tuan. Semua akan kembali pada tempatnya sebelum matahari terbenam," janji Bian Zhi.

He Xueyi berjalan menuju kamar pribadinya yang terletak di lantai tertinggi paviliun. Setiap langkahnya diikuti oleh Xiao Bo yang membawakan nampan berisi teh melati. Begitu sampai di depan pintu kamarnya yang terbuat dari kayu gaharu hitam, He Xueyi berhenti dan berbalik ke arah Bian Zhi.

"Sekarang, bagian yang paling penting secara logika," ucap He Xueyi sambil menunjuk ke arah kamar mandi besarnya. "Siapkan air mandi yang panasnya tepat 42 derajat. Jangan kurang, jangan lebih. Masukkan tujuh genggam kelopak mawar hitam yang baru dipetik dari taman belakang, dan campurkan sedikit minyak esensi gaharu. Aku ingin merendam tubuh manusiaku ini sampai seluruh bau debu perjalanan dan aroma pengkhianatan Penasihat Lu hilang sepenuhnya."

"Dan satu lagi," tambahnya dengan tatapan tajam yang membuat Bian Zhi langsung berdiri tegak. "Jangan bangunkan aku selama dua belas jam ke depan. Tidak untuk urusan hantu, tidak untuk urusan sekte, bahkan jika ada dewa yang jatuh dari langit pun, katakan pada mereka bahwa penjaga paviliun sedang cuti tahunan. Mengerti?"

"Sangat mengerti, Tuan," jawab Bian Zhi dengan senyum tipis yang ia sembunyikan di balik tundukan kepalanya.

Ritual mandi He Xueyi berlangsung sangat lama dan tenang. Di dalam bak mandi batu giok yang besar, ia merasakan air panas itu membasuh setiap jengkal kulitnya. Ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air yang ditaburi mawar hitam. Ia bukan lagi He Xueyi yang hampa; ia melihat binar di matanya, ia merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya, dan ia merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ini adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengalahkan Raja Hantu.

Setelah mandi, ia mengenakan jubah tidur yang paling lembut, terbuat dari sutra awan yang ditenun oleh laba-laba mistis di dasar lembah. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran raksasa yang dilapisi bulu angsa langit. Begitu kepalanya tenggelam di dalam bantal yang sangat empuk, rasa kantuk yang luar biasa hebat menyerangnya—sebuah fenomena biologis yang selama ini ia anggap sebagai kelemahan, namun kini ia peluk sebagai anugerah paling mewah.

"Logikanya... tidur adalah meditasi tingkat tinggi bagi mereka yang memiliki jantung," bisiknya pada diri sendiri sebelum akhirnya kesadarannya memudar ke alam mimpi.

Di luar kamar, di balkon yang menghadap ke seluruh Lembah Sunyi, Bian Zhi berdiri tegak seperti patung maut yang tidak bisa ditembus. Pedang hitamnya diletakkan di pangkuan saat ia duduk bermeditasi di depan pintu kamar majikannya. Di sampingnya, Xiao Bo sudah tertidur pulas sambil memeluk payung hitamnya, sesekali mengigau soal bebek panggang.

Keheningan malam di paviliun terasa begitu suci, hingga suara jangkrik pun seolah enggan bersuara terlalu keras. Namun, kedamaian itu sedikit terusik ketika sebuah burung pembawa pesan mekanis—sebuah artefak perak yang hanya dimiliki oleh keluarga kekaisaran—hinggap di pagar balkon dengan suara klik logam yang tajam.

Bian Zhi membuka matanya perlahan. Ia mengambil gulungan kecil yang diikat dengan pita sutra berwarna biru naga dari kaki burung itu. Saat ia membacanya di bawah cahaya bulan, keningnya berkerut dalam.

"Kepada Penjaga Paviliun Lentera Abadi, detektif ruh yang tak tertandingi... Jantung Naga Utara telah dicuri dari kuil suci di puncak salju. Dunia terancam banjir abadi jika tidak ditemukan dalam tiga hari. Kami memohon bantuan logika Anda."

Bian Zhi menghela napas panjang, menatap pintu kamar He Xueyi yang tertutup rapat. Ia tahu betul betapa galaknya He Xueyi jika waktu tidurnya yang berharga diganggu, apalagi setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

"Secara logika," gumam Bian Zhi pada dirinya sendiri, "aku harus membiarkannya tidur setidaknya sampai fajar. Jika aku membangunkannya sekarang, Kekaisaran Utara mungkin tidak akan hancur karena banjir, tapi karena amukan wanita yang kurang tidur ini."

Ia menyimpan surat itu di dalam jubahnya, lalu kembali memejamkan mata. Malam itu, ia memberikan hadiah paling berharga untuk He Xueyi: dua belas jam ketenangan tanpa interupsi dunia luar. Sebuah hadiah yang, secara logika, adalah bentuk kesetiaan tertinggi yang bisa ia berikan.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!