Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BENANG MERAH DI LERENG GUNUNG
Angin gunung yang biasanya membawa ketenangan pagi ini terasa lebih tajam, seolah-olah membawa pesan peringatan dari pucuk-pucuk pohon pinus yang bergoyang gelisah. Di lokasi proyek jembatan, Baskara sedang memeriksa kekuatan pondasi terakhir. Keringat membasahi dahi dan punggungnya, namun senyum tak lepas dari bibirnya. Ia membayangkan dua hari lagi, ia akan mengemas tas ranselnya, berpamitan pada warga desa, dan menyusul Larasati ke Jakarta.
Ia merindukan wanita itu. Ia merindukan aroma parfumnya yang bercampur dengan bau kertas kantor, dan ia merindukan keberanian yang memancar dari sepasang matanya. Bagi Baskara, jembatan ini bukan sekadar beton dan besi; ini adalah jembatan menuju penebusan dosanya sendiri.
"Pak Baskara, ada tamu di depan bedeng," teriak salah satu kuli bangunan, membuyarkan lamunan Baskara.
Baskara mengernyitkan dahi. Di tempat terpencil seperti ini, jarang ada tamu asing kecuali kurir material. Ia meletakkan linggisnya, menyeka tangan dengan kain lusuh, dan berjalan menuju bedeng kayu tempat ia menyimpan cetak biru proyek.
Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam yang kontras dengan hijaunya alam Ngargoyoso. Wajahnya tertutup kacamata hitam besar, namun bibirnya yang dipulas lipstik merah tua tersenyum sinis. Baskara merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia mengenal senyum itu. Senyum yang dulu sering ia lihat di acara-acara perjamuan keluarga Pratama yang kaku.
"Ibu Lastri?" suara Baskara terdengar berat, penuh dengan kewaspadaan.
Wanita itu membuka kacamatanya, menatap Baskara dengan tatapan yang dingin sekaligus menghina. "Lama tidak jumpa, menantuku yang... pemberontak. Kamu tampak sangat menyedihkan di sini, bermain dengan lumpur dan semen, sementara istrimu sedang berpesta di Jakarta dengan harta suamiku."
Baskara mengepalkan tangannya di samping paha. "Ibu tidak seharusnya ada di sini. Dan Larasati bukan berpesta dengan harta suamimu, dia hanya mengambil kembali apa yang memang menjadi hak ayahnya."
Lastri tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. Ia berjalan pelan, mengitari bedeng kayu itu seolah-olah sedang memeriksa barang rongsokan. "Hak? Di dunia ini tidak ada yang namanya hak, Baskara. Yang ada hanyalah siapa yang lebih kuat menahan rasa sakit. Dan suamiku, Tuan Pratama, sekarang sedang membusuk di penjara karena 'hak' yang kamu bicarakan itu."
"Ibu datang ke sini untuk apa?" tanya Baskara langsung, ia tidak ingin terjebak dalam retorika wanita yang ia tahu jauh lebih berbahaya daripada Maya.
"Aku datang untuk memberimu peringatan," ucap Lastri, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang mematikan. "Larasati mungkin berpikir dia sudah menang karena berhasil menjatuhkan Kusuma. Tapi dia lupa bahwa Kusuma hanyalah boneka yang mudah dibuang. Kekuatan yang sebenarnya ada pada orang-orang yang tidak pernah dia anggap ada."
Lastri mengeluarkan sebuah foto dari tas mahalnya. Foto itu memperlihatkan Larasati yang sedang berjalan menuju mobilnya di Jakarta, namun di foto itu terdapat lingkaran merah tepat di leher Larasati.
"Jika kamu mencintainya, Baskara, suruh dia berhenti," perintah Lastri. "Suruh dia menghentikan audit itu. Suruh dia melepaskan aset-aset suamiku. Jika tidak... jembatan yang sedang kamu bangun ini akan menjadi tempat yang sangat indah untuk sebuah pemakaman."
Sementara itu, di Jakarta, Larasati sedang duduk di ruang kerjanya yang baru. Ia baru saja selesai menandatangani surat pemecatan tiga manajer senior yang terbukti menerima suap dari Tuan Kusuma. Namun, sebuah perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya—sebuah firasat yang biasanya datang sebelum bencana besar terjadi.
Ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi Baskara, namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Aditama masuk dengan wajah yang sangat pucat.
"Laras... kita punya masalah besar," ucap Aditama, suaranya bergetar.
"Ada apa lagi, Adit? Apakah saham kita jatuh?" tanya Larasati mencoba tetap tenang.
"Bukan. Ini tentang Baskara," Aditama menyodorkan tabletnya. "Tim keamanan kita yang di desa baru saja melapor. Ada dua mobil mencurigakan yang terlihat mengintai lokasi proyek sejak tadi pagi. Dan seseorang bernama Lastri terlihat masuk ke area pembangunan jembatan."
Larasati seketika berdiri, kursi kerjanya terjungkal ke belakang. "Lastri? Istri pertama Tuan Pratama? Aku pikir dia sudah menghilang ke luar negeri!"
"Sepertinya dia tidak pernah pergi, Laras. Dia hanya menunggu saat yang tepat. Dan sekarang, saat suaminya dan Kusuma jatuh, dia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Wanita yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan adalah wanita yang paling mematikan di dunia," jelas Aditama.
Larasati merasakan kemarahan yang luar biasa meluap di kepalanya. "Dia berani menyentuh Baskara... dia berani mengusik satu-satunya kedamaian yang aku miliki."
"Laras, jangan gegabah. Kita tidak bisa langsung ke sana. Ini jebakan," peringat Aditama.
Larasati mengambil tasnya dan mengenakan jaketnya dengan gerakan yang cepat dan penuh amarah. "Jika ini jebakan, maka aku akan menjadi umpan yang akan menghancurkan perangkapnya. Adit, siapkan tim keamanan pribadi. Kita berangkat ke Ngargoyoso sekarang juga. Dan pastikan polisi setempat sudah dalam posisi siaga tanpa menarik perhatian."
Kembali ke lereng gunung, suasana di lokasi proyek berubah menjadi mencekam. Para kuli mulai merasa ada yang tidak beres dan berhenti bekerja. Dua orang pria bertubuh besar dengan pakaian gelap keluar dari balik pohon pinus, berdiri di belakang Lastri.
Baskara berdiri tegak, ia tidak menunjukkan rasa takut meski ia tahu ia sedang terpojok. "Ibu Lastri, jika Ibu ingin membunuhku, lakukan saja sekarang. Tapi jangan sentuh Larasati. Dia tidak ada hubungannya dengan keputusan-keputusan Tuan Pratama di masa lalu."
Lastri tersenyum tipis, ia mengusap pipi Baskara dengan tangannya yang dingin. "Membunuhmu itu terlalu mudah, Baskara. Dan terlalu membosankan. Aku ingin Larasati melihatmu hancur perlahan-lahan. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, seperti yang aku rasakan."
Tiba-tiba, suara deru mobil yang kencang terdengar dari kejauhan. Sebuah konvoi mobil hitam mendaki tanjakan curam menuju lokasi proyek. Lastri mengernyitkan dahi. "Siapa itu?"
Mobil paling depan mengerem dengan keras, menimbulkan debu yang beterbangan. Larasati keluar dari mobil bahkan sebelum kendaraan itu berhenti sempurna. Ia berjalan dengan langkah lebar, matanya menatap tajam ke arah Lastri.
"Laras! Kenapa kamu ke sini?" teriak Baskara panik.
Larasati mengabaikan teriakan Baskara. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan Lastri. Tidak ada rasa takut di wajahnya, hanya ada keberanian yang murni dan dingin.
"Kamu mencari aku, kan, Lastri?" tanya Larasati, suaranya tenang namun memiliki gema yang menggetarkan udara. "Kenapa kamu harus bersembunyi di balik punggung pria? Bukankah kamu wanita yang dulu sombong dengan kekuasaan suamimu?"
Lastri tertawa terbahak-bahak, ia melangkah maju hingga wajahnya sejajar dengan Larasati. "Larasati Hardianto... putri dari seorang pecundang yang mati ketakutan. Kamu pikir dengan membawa pengawal, kamu bisa menghentikanku?"
"Aku tidak butuh pengawal untuk menghadapi wanita yang hatinya sudah busuk sepertimu," balas Larasati pedas. "Kamu bicara soal kehilangan? Kamu tidak pernah kehilangan apa-apa, Lastri. Kamu hanya kehilangan topeng mewahmu. Sedangkan aku... aku sudah kehilangan ayahku, masa mudaku, dan namaku selama sepuluh tahun karena ulah keluargamu."
Larasati mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jaketnya. "Ini adalah bukti keterlibatanmu dalam pencucian uang suamimu melalui rekening luar negeri atas namamu sendiri. Aku menemukannya di brankas Kusuma. Polisi sudah dalam perjalanan ke sini. Kamu punya dua pilihan: pergi sekarang dan serahkan diri, atau aku akan memastikan kamu menghabiskan sisa umurmu di sel yang paling gelap di negeri ini."
Wajah Lastri berubah menjadi merah padam. Amarah menguasai dirinya. Ia memberikan isyarat kepada dua anak buahnya. "Habisi mereka berdua! Sekarang!"
Perkelahian tak terelakkan. Para pengawal Larasati segera bergerak menghalau anak buah Lastri. Suasana di lereng gunung yang damai itu berubah menjadi medan tempur. Di tengah kekacauan itu, Lastri mencoba melarikan diri menuju tepi jembatan yang belum jadi.
Baskara berlari mengejarnya, khawatir Lastri akan melakukan sesuatu yang nekat. "Ibu Lastri, berhenti!"
Namun, tanah di tepi jembatan yang masih labil karena hujan semalam mulai longsor. Lastri yang mengenakan sepatu tumit tinggi kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset tepat di bibir jurang yang dalam.
"Tolong!" teriak Lastri ketakutan.
Baskara tanpa ragu menjulurkan tangannya, mencoba meraih tangan wanita yang baru saja mengancam nyawanya itu. "Pegang tanganku, Bu!"
Larasati berlari mendekat, ia melihat pemandangan itu dengan napas terengah-engah. Di satu sisi, ia ingin wanita itu jatuh dan mengakhiri semua penderitaan ini. Namun di sisi lain, ia melihat Baskara—pria yang ia cintai—sedang berusaha menyelamatkan sebuah nyawa, tak peduli betapa kotornya nyawa itu.
"Baskara, hati-hati!" teriak Larasati.
Baskara berhasil menangkap pergelangan tangan Lastri. Dengan kekuatan penuh, ia menarik wanita itu kembali ke tanah yang stabil. Lastri jatuh tersungkur, menangis histeris karena ketakutan.
Tak lama kemudian, sirene polisi terdengar menggema di seluruh lembah. Petugas kepolisian segera mengamankan Lastri dan anak buahnya.
Setelah semuanya mereda, Larasati mendekati Baskara yang duduk di tanah dengan napas yang memburu. Ia memeluk pria itu dengan sangat erat, seolah-olah ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.
"Kenapa kamu menyelamatkannya, Baskara?" bisik Larasati di telinga pria itu.
Baskara memejamkan matanya, menghirup aroma rambut Larasati. "Karena jika aku membiarkannya jatuh, maka aku tidak ada bedanya dengan mereka, Laras. Kita sudah berjanji untuk membangun hidup yang baru di atas kebenaran, bukan di atas mayat musuh kita."
Larasati melepaskan pelukannya, menatap wajah Baskara yang penuh debu namun tampak sangat bercahaya. Ia menyadari bahwa kekuasaan sejati memang bukan tentang menghancurkan, tapi tentang kemampuan untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang tidak manusiawi.