Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 14
Selepas mengantar Cwen sekolah, Jenia langsung pulang ke apartementnya untuk berganti pakaian, casting kemarin ia gagal, dan semoga hari ini membuahkan hasil, dan untuk kali ini Jenia berharap ada kesempatan untuk dirinya, uang pegangan sudah semakin menipis tapi kebutuhan untuk hidup terus bertambah setiap harinya.
“Pak Ansel?”
Jenia mengerutkan dahinya heran melihat Ansel yang hanya duduk sendirian di bangku taman dekat apartement.
Ansel yang sedang bermain ponsel langsung menoleh dan mendapati Jenia yang berdiri di hadapannya. Tapi belum ada satu menit Ansel melihat Jenia, ia langsung mengalihkan pandangannya.
Jenia yang melihat tingkah guru putrinya itu mengerutkan dahinya tidak mengerti, "Pak Ansel baik-baik saja?” tanya Jenia melihat Ansel yang masih enggan menatap kearah dirinya.
“Kenapa kamu memakai pakain seperti itu?” tanya Ansel tanpa melihat Jenia.
Jenia semakin bingung, ia menunduk menatap pakaian yang sedang ia pakai, tidak ada yang aneh, Jenia juga merasa jika pakaian yang ia pakai sangat sopan, kenapa Ansel bertanya seperti itu seperti ia memakai pakaian yang tidak pantas di pakai saat keluar rumah?
“Ada yang salah dengan pakaian ini?” tanya Jenia
Kemeja putih di padukan dengan celana Jenas yang cukup longgar di tubuhnya. Tidak ada yang aneh.
Ansel menghela napas pelan, “Pakai ini dulu!”
Ansel memberikan hoodie miliknya kepada Jenia, dengan perasaan yang masih bingung ia menerimanya, entah untuk apa, Jenia juga tidak tahu.
“Kemeja putih yang kamu pakai terlalu tipis,” beritahu Ansel
Semakin bingung Jenia, terlalu tipis katanya? Menurut Jenia tidak, karena kemeja yang di pakainya itu sama sekali tidak menerawang.
“Maksud pak an-“
“Pakaian dalam kamu terlihat sangat jelas ketika kamu berada di luar ruangan,” potong Ansel yang kini sukses membuat Jenia sedikit panik, reflek hoodie yang Ansel berikan tadi langsung ia pakai untuk menutupi bagian depannya. Apakah setipis itu? Jenia pikir jika saat berada di dalam ruangan tadi tidak terlihat apa-apa, itu artinya jika terkena sinar matahari, justru kemeja putihnya malah menerawang.
“Maaf, saya pikir kemeja ini cukup tebal, karena saat di apartement tadi ruangan di sana tidak terlalu terang, jadi saya piker, saya akan baik-baik saja memakai pakaian seperti ini,”
Ansel hanya mengangguk singkat, kali ini ia kembali menatap Jenia, dan entah mengapa kedua mata mereka terkunci satu sama lain, membuat jenia cepat-cepat memutus pandangan terlebih dahulu.
“Maaf, saya permisi dulu!”
Jenia langsung berbalik dan melangkah cepat menuju apartemennya, dan Ansel hanya diam memperhatikan.
Lalu pandangan Ansel langsung turun ke rerumputan yang ada di depannya. Keningnya mengerut melihat sebuah kartu kecil tergeletak mengenaskan di atas rumput itu.
“Kartu KTP?”
gumam Ansel menatap kartu KTP di tangannya, ia membalikkan kartu tersebut untuk melihat identitas pemiliknya, bibirnya tersenyum tipis melihat foto yang ada di kartu itu, terlihat cantik untuk ukuran kartu KTP. Tapi begitu melihat datanya, Ansel terkejut, tahun kelahiran Jenia tidak berbeda jauh dengan tahun kelahirannya, hanya berbeda sekitaran dua tahun.
Ansel tidak ingin percaya, tapi melihat dengan jelas tahun kelahiran Jenia membuat ia semakin percaya, Usia mereka hanya terpaut dua tahun, Jenia umur 25 tahun dan dirinya baru saja menginjak 23 tahun.
Ansel kira mama dari Cwen itu sudah berumur sekitar 30 tahunan atau mungkin hampir 40 tahun, walaupun secara fisik, Jenia masih terlihat sangat muda, tapi Ansel tetap mengira jika usia Jenia terpaut sangat jauh dengannya, mengingat jika orang luar negeri menikah saat usianya sudah di atas 30 tahun.
Pantas saja wajah Jenia masih terlihat sangat muda, Ansel kira Jenia hanya awet muda karena perawatan wajah dan juga tubuh, tapi mengetahui fakta jika umurnya masih sangat muda, membuat Ansel merasa, entahlah ia ia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Jika Cwen saja sudah berumur 7 tahun dan usia mamanya masih begitu muda, apakah Jenia menikah di usia yang masih belia? Ansel menggelengkan kepalanya, menyadarkan jika ini bukanlah urusannya dan juga bukan ranahnya, ia terlalu jauh memikirkan hal yang bukan ranahnya.
“Kenapa aku berpikir sampai sejauh itu?”
***
Jenia menahan air matanya mati-matian. Ia tidak terpilih casting lagi. Harapannya itu benar-benar sudah hancur. Tangan yang ada di sisi tubuhnya mengepal kuat, berusaha menyemangati dirinya sendiri jika ini bukanlah pilihan ia yang terakhir, Jenia masih memiliki beberapa kemampuan lain.
Tapi tetap saja, sekuat apapun Jenia berusaha tidak mengeluarkan air matanya, air mata itu tetap mendesak dan terjun bebas melewati kedua pipinya.
“Kenapa harus gagal lagi? Apakah aku tidak cukup baik dalam ber-akting?” tanya Jenia kepada dirinya sendiri.
Hari sudah semakin siang, matahari pun sudah berada di tengah-tengah, kulit putih Jenia yang terpapar sinar matahari langsung memerah, bahkan peluh benar-benar membuat pakaian yang di pakainya basah.
Untungnya jarak antara tempat casting dan sekolah Cwen tidak terlalu jauh, mungkin bisa di tempuh dengan jalan kaki, akan memakain waktu satu jam, menurut Jenia satu jam adalah waktu yang cukup singkat.
“Mama,”
Jenia tersenyum lebar begitu melihat putrinya berlari ke arahnya dan menubrukkan tubuhnya kepada tubuh sang mama.
“Mama lama tidak jemputnya?” tanya Jenia melepaskan pelukan keduanya dan menatap Cwen dengan penuh sayang.
Cwen menggeleng, “tidak lama, Cwen baru saja keluar dari kelas, dan langsung melihat mama,”
“Syukurlah, mama kira, mama akan sangat telat menjemput Cwen,”
Cwen menempelkan wajahnya pada perut sang mama, “mama tahu tidak, hari ini pak guru tidak ada di sekolah, saat aku tanya pada bu guru yang lain, pak guru ada urusan di luar sekolah jadi belum bisa masuk untuk mengajar,” adu Cwen, sedih karena hari ini ia tidak bisa melihat guru favoritnya.
Jenia mengusap lembut rambut putrinya, “Cwen masih bisa lihat pak guru nanti saat pulang, tidak harus bertemu di sekolah,” hibur Jenia.
Cwen menggeleng, “itu beda mama, kalau sudah pulang ke rumah pun, Cwen kan jarang bertemu dengan pak guru, jadi waktu yang paling lama Cwen habiskan dengan pak guru itu di sekolah, kalau sudah pulang Cwen sangat jarang melihat pak guru,”
“Ya sudah hari ini kita coba ketuk pintu apartemen pak guru, bagaimana?”
“Kalau tidak ada?”
“Kita belum melihatnya, tadi Cwen bilang pak guru tidak ada di sekolah karena ada urusan penting di luar sekolah, kemungkinan besar, pak guru sekarang sedang berada di apartemennya,”
“Bagiamana?” tanya Jenia menatap lembut putrinya yang sedang sedih karena tidak melihat guru kesayangannya.
Akhirnya Cwen mengangguk, “Baik mama, kita coba bertemu pak guru di rumahnya,”
“Nah seperti itu dong, masa anak mama wajahnya murung, nanti pak guru lihat, bagaimana?”
Cwen tertawa saat mamanya itu menarik lembut kedua pipinya dan setelahya mencium kedua pipi Cwen, membuat Cwen sedikit tergelak karena geli begitu sang mama memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.
seru ceritanya