NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengantin kadaluarsa

Gak ada yang bisa menandingi macan betina... kecuali kantuknya.

Santapan sudah di depan mata. Tinggal gigit, tinggal makan. Bibir Eric udah sejengkal, jantungnya udah deg-degan gak karuan, jas kebesaran udah nyelimutin berdua. Tapi Vivian kalah kali ini.

Lama tak mendapatkan balasan, gak ada "iya" gak ada "enggak", gadis itu akhirnya menyerah. Dengan napas kesel, Vivian nyenderin kepalanya ke pundak Eric. Detik berikutnya, napasnya udah teratur. Tidur. Pulas. Kayak bayi dalam gendongan bapaknya.

Eric diem. Badannya kaku. Pangkuannya masih ada istri, jantungnya masih konser, tapi musuhnya udah _AFK_. Dia cuma bisa hela napas panjang, ngatur degup yang dari tadi gak normal. _Dasar istri gila._

15 menit kemudian, mobil itu berhenti. Ban berdecit halus di depan lobi hotel bintang 4, terdiri dari 7 lantai. Gedungnya gak mencolok, tapi elegan.

Harga per malam tak begitu mahal karena tujuan _market_-nya adalah masyarakat biasa yang datang untuk berlibur di Puncak. Harga merakyat. Tapi fasilitasnya jangan diragukan. Biarpun bintangnya cuman 4, tapi fasilitasnya sebanyak bintang di langit. _Pool_, _gym_, _rooftop cafe_, _spa_, semua ada. Milik keluarga Wijaya juga.

Supir membukakan pintu, menunduk hormat, membiarkan Eric keluar sambil menggendong Vivian yang masih tertidur pulas. Kepalanya manggut-manggut di dada Eric tiap langkah. Terlalu lelah sampai tak sadar. Mungkin sadar pun dia pasrah biarpun diculik.

Eric masuk ke dalam lift ditemani petugas lobi yang sigap. Jas Eric yang tadi dipakein ke Vivian sekarang nyaris melorot, tapi Eric biarin. Tangannya penuh.

Petugas membantu memencetkan tombol lift, lantai 7. "Lantai paling atas, Pak," ucapnya sopan.

Paling tinggi agar tak banyak orang berlalu lalang. Disuguhkan pemandangan indah: bukit, kebun teh yang berundak, dan danau kecil yang berada tak jauh dari hotel. Kalau siang, kabutnya turun. Romantis.

Persis seperti kamar _honeymoon_. Biarpun pengantinnya kadaluarsa. Udah nikah 2 tahun, benci-bencian 2 tahun, baru sekarang sekamar lagi.

_Ting._ Lift terbuka. Petugas mengantarkan Eric sampai ke kamarnya, Suite 701. Membantu pria itu membuka pintu pakai _keycard_ karena tangan Eric masih menggendong Vivian seperti bayi koala.

Lampu kamar menyala otomatis. Kamar yang sangat luas dipilihkan khusus untuk pemilik hotel. _King size bed_, sofa panjang, _mini bar_, jendela kaca besar dari lantai ke langit-langit.

"Silakan beristirahat, Pak Eric. Saya permisi. Kalau Anda butuh sesuatu bisa panggil saya lewat telepon kamar," ucap petugas sambil menutup pintu pelan.

Eric tak menjawab. Dia jalan cepat ke arah kasur, sepatunya masih nyentuh karpet tebal. Terus menyimpan istrinya pelan-pelan ke ranjang. Hati-hati. Sepersi menidurkan bayi. Kepalanya ditata di bantal, selimut ditarik sampai dada.

Dia natap Vivian 3 detik. Tidur. Bibirnya sedikit terbuka. Bulu matanya lentik. Gak ada nyolot, gak ada ngelawan. Damai.

Beberapa bulan ini Eric siaga mendampingi Vivian jelas membuat mereka semakin dekat. Ngantar kontrol, ngingetin vitamin, ngelarang makan pedes. Biarpun tak memutus kemungkinan mereka akan bercerai—surat perjanjian masih ada di brankas—namun kebenciannya mulai reda. Pelan-pelan.

Eric mulai lupa bagaimana Vivian menghinanya mandul di depan keluarga besar. Bagaimana kejamnya Vivian membanding-bandingkannya dengan Doni, mantan Vivian yang _playboy_. Selama 2 tahun diperlakukan sebagai pemuas nafsu, bukan dibayar cinta tapi dibayar hinaan, dibayar tamparan, dibayar kata "kamu gak _level_".

Semua rasanya lenyap. Menguap. Dengan berubahnya Vivian. Biarpun belum membuat Eric jatuh cinta. Belum. Tapi udah gak benci.

"Sayang... kita di mana?" Racau Vivian tiba-tiba. Masih dengan mata terpejam. Suaranya serak, ngigo.

"Di hotel," jawab Eric singkat. Dia jongkok di pinggir ranjang, melepas tangan Vivian yang masih melingkar di lehernya dari pas digendong tadi.

Vivian hanya menganggukkan kepalanya pelan, alisnya berkerut dikit, kemudian kembali kehilangan kesadaran. Balik ke alam mimpi.

Eric tak membiarkan Vivian tidur begitu saja dengan gaun dan _heels_. Dia hela napas. _Nyusahin._

Tangannya langsung ke kaki Vivian. Membuka _heels_ setinggi 3 senti Vivian satu per satu. _Klek_. Pelan.

CEO yang biasanya angkat kaki di depan karyawan, yang disembah bawahan, kini tunduk di kaki istrinya. Ngelepasin sepatu. Gak gengsi. Gak komentar.

Tangan Eric dengan cekatan membuka jas kebesarannya yang masih membungkus Vivian. Ditarik pelan. Dilempar asal ke sofa. _Bugh_.

Vivian tak menolak. Badannya lemas seperti mayat, tapi hidup. Napasnya doang yang jalan.

Tak lupa Eric bergerak ke belakang punggung Vivian. Jari-jarinya nemu _retsleting_ gaun berpayet _dusty blue_ itu. Ditarik pelan ke bawah. _Sreeek_. Punggung putih Vivian mulai kelihatan.

Hendak melepaskan gaun itu, biar Vivian bisa tidur nyaman. Niatan Eric murni. Dokter bilang ibu hamil gak boleh tidur pake baju ketat.

Namun sebelum gaunnya benar-benar lepas, sebelum bahunya kebuka, Vivian membuka matanya. Seketika. _Ceklek_.

_Bug!_ Dia dorong dada Eric sedang. Gak kenceng, tapi kaget. "Semberono," serunya. Suaranya serak, tapi galak. Matanya sipit.

Eric tak menggubris. Muka datar. Masih nerusin aksinya, narik _retsleting_ sampai pinggang. "Aku sudah lihat ini puluhan kali," ucapnya datar. Nada profesional. "Sudah tak tertarik lagi. Tidur pake gaun bikin sesek."

Vivian memanyunkan bibirnya tak suka. _Alasan_. Tapi matanya... tersenyum licik. Kayak macan yang pura-pura tidur.

Dengan cepat, gadis itu mengalungkan tangannya di leher Eric, narik biar Eric nunduk. "Kalau begitu," ucapnya nakal, napasnya ngenai bibir Eric, "aku lihat tubuhmu malam ini. Gantian."

_Cup._

Dia ngecup bibir pria itu singkat. Kilat. Cuma nempel 2 detik. Tapi nyetrum.

Eric tak terpancing. Wajahnya merah. Jelas merah sampai ke telinga. Tapi matanya tetap datar, terlihat tak tertarik. Hanya menatap wajah Vivian dengan seksama. Nge-_scan_. _Istriku kerasukan apa?_

"Dokter Hendra bilang," bisik Vivian lagi. Lebih menggoda. Jarinya main di kerah kemeja Eric, buka satu kancing paling atas. "Hamil 4 bulan sudah boleh berhubungan badan. Aman. Dokter Alea gak masuk akal larang hubungan badan saat hamil. Dia dokter kandungan apa dokter pantangan?"

Eric diem. Otaknya _loading_. Insting suami dikasih lampu hijau sama istri vs logika _dia ini Vivian yang dulu nyakitin gue_.

Biarpun wajahnya masih datar, badannya masih nolak, kaku kayak patung. Tapi bibirnya...

Bibirnya khianat.

Langsung nyerbu bibir kecil Vivian. Gak pake aba-aba. Gak pake jaim.

_Cup._ Dalem. Nuntut. Kayak dendam 2 tahun dibayar lunas malam ini.

Tangan Eric yang tadi mau ngelepas gaun, sekarang malah nahan tengkuk Vivian. Ngebuat ciuman itu gak bisa kabur.

Vivian kaget 0,5 detik. Terus senyum di tengah ciuman. _Akhirnya._ Tangannya ngeremas kemeja Eric.

Suara AC jadi satu-satunya saksi. Suara napas mereka jadi melodi. Ranjang _king size_ berderit pelan pas Eric naik sebelah badan, ngebuat Vivian tiduran sempurna.

Gaun _dusty blue_ itu udah melorot sampai siku. Pundak Vivian udah kebuka. Kancing kemeja Eric udah lepas tiga.

Tangan Eric mulai turun dari tengkuk, ke pinggang, ke...

_Tok tok tok!_

Suara ketukan pintu. Kenceng. Gak sopan.

"Pak Eric! Bu Ratna telepon, katanya Nyonya Vivian belum minum vitamin malamnya! Saya bawain ke kamar!" Suara petugas lobi dari luar.

Seketika.

Dunia berhenti.

Eric nge-_freeze_ di atas Vivian. Napasnya ngos-ngosan. Matanya buka, bulet. Sadar.

Vivian juga. Matanya buka lebar. Dari mode _hot_ langsung mode _kaget_.

Hening 3 detik.

Terus Eric mundur. Cepet. Kayak kesetrum 1000 volt. Dia berdiri, benerin kemejanya yang udah acak-acakan, mukanya merah padam. Gak ngomong.

Vivian tarik selimut sampai leher. Jantungnya mau copot. Bibirnya bengkak. _Anjing. Kurang dikit lagi!_

"PAK ERIC?" Petugas lobi ngetok lagi.

"I-iya. Taruh depan pintu," jawab Eric. Suaranya serak parah. Kayak habis lari maraton.

_Klek_. Suara nampan ditaruh. "Baik, Pak. Maaf ganggu." Langkah kaki menjauh.

Hening lagi.

Vivian ngintip dari balik selimut. Eric masih berdiri di samping ranjang, punggungin Vivian. Tangannya ngacak rambut. Frustasi.

Lampu kamar kerasa terlalu terang sekarang.

"Jadi..." Vivian buka suara. Suaranya kecil. "Lanjut?"

Eric gak nengok. "Tidur."

"Tapi tadi—"

"Tidur, Vivian," potong Eric. Gak galak. Tapi final. "Kamu capek."

Vivian manyun. Dalam hati misuh-misuhin petugas lobi 7 turunan.

Akhirnya dia nurut. Merengut. Narik selimut sampai kepala. _Nanggung banget, Tuhan._

Eric ambil jasnya dari sofa, pakai lagi. Terus keluar ke balkon. Butuh udara dingin. Butuh _reset_ otak.

Tinggal Vivian di ranjang, senyum-senyum sendiri sambil pegang bibir. _Akhirnya macannya gigit juga._

---

*Buat kalian yang baca sampai sini:*

Tim Eric-Vivian mana suaranya? 😏 Kalo kalian greget sama petugas lobi, *LIKE* biar dia dipecat.

Penasaran Eric bakal lanjut atau pura-pura lupa besok? *KOMEN* "LANJUT" biar Vivian gak penasaran semalaman, kasih gift biar author semangat nulis 2000 kata next bab!

Janji, Bab berikutnya lebih panas... kalau gak ada yang ngetok pintu lagi 😜

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!