NovelToon NovelToon
Semuanya Menyalahkan Ku

Semuanya Menyalahkan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: DANA SUPRIYA

Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Putus Asa

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Restu kacau balau. Gajinya yang sudah tidak seberapa harus dipotong satu juta hanya untuk membayar kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan. Satu juta itu bukan angka kecil baginya; itu adalah uang untuk makan sebulan, untuk biaya listrik, dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Dunia terasa begitu kelam. Kebenaran tidak ada harganya di hadapan kekuasaan dan uang. Ia merasa tidak berguna, merasa menjadi beban, dan merasa bahwa hidupnya tidak ada artinya jika setiap hari hanya dipenuhi penghinaan, ketidakadilan, dan rasa sakit hati.

Saat melewati jalanan pegunungan yang sepi menuju rumah kontrakannya, mata Restu tertuju pada sebuah tebing curam di pinggir jalan. Jurang itu sangat dalam, gelap, dan terlihat menawarkan ketenangan abadi.

"Inilah saatnya..."

Bisik hatinya pelan. Seakan menyuruh untuk mengakhiri hidupnya yang tidak berharga ini

"Cukup sampai di sini saja perjuanganku. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mau mendengarkan. Mati rasanya lebih baik daripada hidup terus tersiksa dan diinjak-injak."

Restu memarkirkan motornya di pinggir jalan, jauh dari keramaian. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa putus asa yang sudah memuncak. Ia berjalan perlahan mendekati bibir tebing, angin sore berhembus kencang menerpa wajahnya yang pucat dan lesu.

Ia menunduk melihat ke bawah, sangat dalam dan gelap.

"Tuhan... maafkan hamba..."

Gumamnya dengan suara parau, air mata mengalir deras membasahi pipi. "Hamba sudah lelah. Hamba lelah bekerja jujur tapi tetap disalahkan. Hamba lelah berbuat baik tapi tetap diperlakukan seperti sampah. Semua orang sudah membenci saya, semua orang menyalahkan saya. Mungkin kematian adalah jalan satu-satunya agar saya tidak lagi menjadi beban dan tidak lagi merasa sakit."

Restu mengangkat wajahnya menatap langit yang mulai mendung, seolah ikut bersedih atas nasibnya.

"Selamat tinggal dunia... selamat tinggal penderitaan..."

Dengan langkah berat dan hati yang sudah mati rasa, Restu mengangkat satu kakinya, siap melompat ke dalam kehampaan untuk mengakhiri segalanya selamanya.

Kaki Restu sudah melangkah semakin ke pinggir tebing. Angin kencang menerpa tubuhnya, seolah menariknya masuk ke dalam kegelapan jurang yang sangat dalam di bawah sana. Hatinya sudah hampa. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk bertahan hidup di dunia yang penuh ketidakadilan ini.

"Ya Tuhan... ampuni hamba..."

Bisiknya lirih, matanya terpejam erat menahan air mata.

"Hamba tidak kuat lagi. Setiap hari hamba bekerja keras, berbuat jujur, tapi apa balasannya? Hinaan, tuduhan, dan ketidakadilan. Bahkan orang yang seharusnya melindungi pun membiarkan hamba disakiti. Lebih baik hamba pergi saja dari sini..."

Restu mengangkat satu kakinya, bersiap melompat. Detik itu juga, seluruh hidupnya seakan berputar cepat di depan matanya. Ingatan tentang kerja kerasnya, tentang lelahnya setiap hari, namun juga... terlintas satu bayangan yang sangat jelas.

Ia teringat pada dirinya yang dulu, saat masih duduk di bangku sekolah. Teringat saat ia menatap peta dunia di dinding kelas, dan berjanji pada dirinya sendiri.

'Aku harus sukses. Aku harus membuktikan bahwa anak desa sepertiku bisa menjadi seseorang yang berguna. Aku ingin membangun rumah untuk orang tuaku. Aku ingin melihat dunia, aku ingin menjadi orang sukses yang dihormati karena kemampuanku sendiri...'

Itu cita-citanya. Itu mimpi besar yang selama ini ia pegang erat sebagai bahan bakar untuk bertahan hidup.

"BRUK!"

Tiba-tiba Restu jatuh terduduk di tanah tepat di bibir tebing, kakinya lemas seketika. Niat untuk melompat lenyap seketika, digantikan oleh getaran hebat di seluruh tubuhnya.

"Tidak... tidak...!"

Tangisnya pecah lebih keras kali ini, tapi bukan tangisan keputusasaan, melainkan tangisan yang menyadarkan dirinya.

"Aku tidak boleh mati sekarang! Apa yang akan terjadi pada cita-citaku? Apa yang akan terjadi pada impianku?"

Air matanya semakin deras mengalir. Ia memeluk lututnya erat-erat. Bahkan dia tidak melepaskan karena takut akan terjadi lebih parah hingga dia teriak sekuat-kuatnya sampai dia merasa puas

"Kalau aku mati sekarang, berarti aku kalah! Berarti Mimi dan orang-orang yang menyakitiku menang! Mereka akan terus berbuat seenaknya, dan aku... aku akan menjadi orang gagal yang tidak pernah menyelesaikan perjuanganku!"

Restu menengadahkan wajahnya ke langit yang mulai gelap.

"Benar... sekarang aku sakit. Sekarang aku hina. Sekarang aku miskin dan tidak berdaya. Tapi Tuhan... cita-cita itu masih ada! Mimpi itu masih ada di sini!"

Restu menepuk dadanya sendiri dengan kuat. Dia merasa harus kuat menjalani kehidupan ini hingga dia benar-benar kuat dengan semua tantangan kehidupan

"Aku tidak boleh menyerah hanya karena satu masalah ini! Aku harus hidup! Aku harus bertahan! Aku harus membuktikan pada mereka bahwa kebenaran akan menang suatu hari nanti! Aku akan mencapai cita-citaku, walau jalannya terjal dan sakit!"

Restu bangkit perlahan dari duduknya. Ia mundur selangkah demi selangkah menjauhi bibir jurang yang maut itu. Wajahnya masih basah oleh air mata, namun tatapan matanya kini berubah. Tidak lagi kosong, tidak lagi putus asa, tapi mulai menyala kembali dengan tekad yang membara.

"Aku tidak akan mati. Aku akan hidup. Dan aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan demi cita-citaku!"

Dengan langkah yang masih gemetar namun jauh lebih tegas, Restu berbalik badan dan berjalan kembali menuju motornya. Jurang itu gagal mengambil nyawanya, karena ia sadar, nyawanya terlalu berharga untuk disia-siakan demi orang-orang yang tidak menghargainya.

"Kini aku akan pulang ke rumah dengan diri ku yang kuat menghadapi semuanya"

1
Aku kamu tak terpisahkan
Restu hidupmu menderita sekali
Risa Istri Cantik
Restu kamu bakal kalah debat
Risa Istri Cantik
Restu jalan kaki dalam keadaan badannya penuh luka
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Restu kasihan banget kamu deh
Risa Istri Yayang
Restu kasihan walau benar tetap di tindas
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Restu percuma kamu debat sama dia
Risa Yayang Cinta Sejati
Sepertinya orang itu bersekongkol dengan orang yang menabrak Restu
@Yayang ♡ Risa
Pemilik mobil mengancam Restu kejam
@Yayang Suami Ris4
Kejam bapak yang menabrak Restu memfitnah Restu
@Yayang Suami Ris4
Restu istrimu maunya menang sendiri
@Yayang Suami Ris4
Restu kamu kasihan banget ya
Yayang Suami Risa
Rina kenapa langsung memarahi Restu
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Restu kamu malah cuma di hina
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Rina ngga usah menyalahkan Restu deh
@Yayang Risa Couple Happy
Rina kamu istri durhaka banget
@Yayang Risa Couple Happy
Restu kejar cita citamu
@Me and You Married
Kenapa istrinya Restu menyalahkan Restu
@Me and You Married
Restu ngga usah punya pikiran bunuh diri
ANDANA
Hai sobat baca
tinggalkan jejak sobat ya
makasi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Restu istrimu ngga dengarkan penjelasanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!