NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Sesungguhnya

Mobil SUV berwarna hitam itu melaju melalui kemacetan jalanan utama Jakarta yang semakin padat. Di belakang roda kemudi, jari-jari Arlan sesekali mengetuk setir dengan ritme santai, sebuah tindakan yang jarang ia tunjukkan. Sisa-sisa kebahagiaan dari tawa Mika dan kehangatan pelukan Ghea pagi tadi masih tampak jelas di sudut bibirnya yang sedikit melengkung.

"Kau tahu, Ghea?" suara Arlan memecah kesunyian di dalam kabin, terdengar begitu ringan. "Aku merasa hari ini aku bisa menang tender apa saja, bahkan jika Shinta membawa semua timnya ke ruang rapat."

Ghea yang tengah memeriksa dokumen di tabletnya langsung menoleh. Ia mengangkat sebelah alis, melihat kilau lucu yang jarang muncul di mata pria di sampingnya itu.

"Mas Arlan," panggil Ghea dengan nada memperingatkan tetapi lembut. "Kita sudah hampir sampai di area SCBD. Tolong simpan senyummu yang seperti 'suami siaga' itu di dalam laci mobil."

Arlan terkekeh pelan, melirik Ghea sekejap. "Kenapa memangnya? Apa salah jika aku bahagia?"

"Tidak ada yang salah," Ghea meletakkan tabletnya di pangkuan dan melipat tangan di dada, menatap Arlan dengan wajah serius yang tampak dipaksakan. "Tetapi di luar sana, terdapat banyak kamera wartawan serta mata-mata dari pesaing yang mengintai celah kita. Arlan yang dikenal publik adalah CEO yang dingin, tegas, dan tidak dapat dijangkau. Jika kamu masuk ke lobi kantor dengan senyum lebar itu, orang-orang akan berpikir bahwa Golden Synergy sudah menjadi milik kita sebelum presentasi dimulai. Dan itu berisiko."

Arlan menghela napas, meski sinar di matanya tidak bisa disembunyikan. "Baiklah, Nona Sekretaris. Profesionalisme di atas segalanya, kan?"

"Tepat sekali, Pak Arlan," jawab Ghea dengan tegas, menekankan sebutan formal tersebut. "Di dalam gedung nanti, aku adalah rekan analis dan asistenmu. Tidak ada panggilan 'Mas', tidak ada tatapan misterius, dan tolong... jaga jarak yang aman."

Arlan memperlambat laju mobil saat memasuki gerbang pos pemeriksaan gedung pusat. Ia melirik Ghea dengan senyum menantang. "Jarak aman? Seberapa jauh menurutmu?"

Ghea menggelengkan kepala dengan bingung, berusaha menyembunyikan senyum senangnya yang hampir keluar. "Minimal satu langkah di belakangmu, seperti biasa. Dan fokus kita hari ini adalah memastikan dokumen perbandingan harga untuk Golden Synergy tidak bocor kepada pihak Shinta."

Sesaat setelah mobil memasuki area parkir untuk direksi, suasana di dalam kabin berubah drastis. Candaan pagi itu lenyap, tergantikan oleh aura kepemimpinan yang dingin dan tak tergoyahkan. Arlan mematikan mesin, lalu menatap lurus ke depan. Ekspresinya berubah tegas—rahangnya mengencang, matanya bersinar tajam penuh perhitungan. Sosok predator dalam dunia bisnis yang dihormati kini kembali hadir.

Ia memandang Ghea, tanpa bekas godaan yang menghiasi wajahnya tadi pagi. "Mari kita tunjukkan kepada mereka cara bermain yang sebenarnya."

Ghea memberikan senyuman tipis, sangat puas melihat perubahan cepat pada Arlan. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazernya, lalu berdiri tegak di samping mobil menunggu CEO keluar.

Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Kembalinya Ghea ke dalam kehidupan Arlan bukan hanya untuk mendampinginya secara pribadi, melainkan karena ia memiliki peran penting dalam kelangsungan Golden Synergy—sebuah proyek multinasional yang dikelola oleh perusahaan arsitektur milik Arlan.

Proyek besar yang menjadi tanggung jawab utama Ghea dari klien Arlan (dan Arlan sebagai pimpinan tertinggi) adalah menganalisis risiko, mengolah data, serta merancang taktik penyelamatan untuk Golden Synergy. Ini adalah megaproyek pembangunan area bisnis terpadu dengan teknologi ramah lingkungan di Sudirman, Jakarta. Proyek ini memiliki nilai yang sangat besar dan menjadi taruhan bagi reputasi perusahaan Arlan di dunia bisnis.

Ghea memiliki tanggung jawab signifikan untuk menganalisis data penting dari proyek ini. Ia bertugas untuk mengidentifikasi risiko, merancang strategi perbandingan harga yang efektif, serta memastikan semua proposal teknis memenuhi tuntutan investor internasional yang terkenal ketat dan hampir tidak mungkin dipenuhi.

Di belakang layar, tantangan terbesar Ghea dalam proyek ini adalah menyelidiki dan menghentikan kebocoran informasi internal. Ghea harus memanfaatkan kemampuan analisisnya yang tajam untuk melindungi dokumen-dokumen rahasia Golden Synergy dari sabotase dan pengintai yang dikirim oleh Shinta (mantan istri Arlan) yang berusaha menghancurkan karier Arlan.

Dengan kata lain, proyek besar ini adalah ajang pembuktian bagi Ghea. Di satu sisi, ia harus tampil profesional sebagai analis data yang menyelamatkan proyek bernilai triliunan tersebut, sementara di sisi lain, ia harus bergerak secara diam-diam untuk melindungi pria yang dicintainya dari keruntuhan bisnis.

Sebuah atmosfer profesional yang penuh ketegangan segera menyelimuti Ghea ketika ia melangkah ke kubikel kerjanya. Setelah menaruh tas dan menyalakan laptop untuk memeriksa dokumen Golden Synergy, sebuah getaran panjang dari ponselnya menghentikan konsentrasi yang ada.

Satu pesan datang dari nomor yang tidak dikenal, namun Ghea langsung mengenali pengirimnya setelah membaca bagian awal kalimat.

"Temui aku di kafe di seberang kantor pukul satu siang ini. Jangan terlambat. Aku tahu kamu memiliki semua data perbandingan harga dari Golden Synergy. Mari kita bincangkan apa yang bisa kamu berikan jika menyerahkannya padaku."

Ghea memandangi layar ponselnya dengan ekspresi dingin. Ibu jarinya terhenti di atas layar, mempertimbangkan langkah selanjutnya.

Shinta memang tampak sangat ingin. Mantan istri Arlan itu jelas sudah mengetahui posisi penting Ghea dalam proyek ini dan mencoba mengambil pendekatan langsung—apakah itu dengan membujuk atau mungkin mengancam, demi mendapatkan informasi rahasia yang dapat menghancurkan Arlan.

Ghea menarik napas dalam dan melihat ke arah ruang kerja kaca besar milik Arlan di akhir lorong. Arlan terlihat sibuk berbicara di telepon, wajahnya keras menunjukkan wibawa. Ghea sadar, jika ia memberi tahu Arlan saat ini, dia pasti akan melarangnya pergi demi keselamatan dirinya. Pria itu sangat protektif.

Namun, sebagai seseorang yang profesional—dan wanita yang bertekad untuk melindungi Arlan—Ghea menganggap ini sebagai peluang besar. Pertemuan ini bisa ia gunakan untuk mengukur seberapa banyak informasi yang telah dimiliki Shinta, sekaligus mengetahui siapa yang selama ini menjadi informan yang membantu Shinta.

Dengan gerakan cepat dan percaya diri, Ghea mengetikkan balasan singkat.

"Baik. Pukul satu di meja sudut belakang. Sampai jumpa."

Setelah mengirimkan pesan tersebut, Ghea segera menghapus riwayat obrolan untuk menjaga keamanan. Ia lalu kembali memusatkan perhatian kepada layar laptopnya, menyiapkan sebuah dokumen palsu—sebuah laporan berupa data analisis risiko yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya menyesatkan—untuk dibawa ke pertemuan nanti.

Ghea tersenyum tipis, menyimpan dokumen itu ke dalam sebuah flashdisk kecil di tasnya.

"Kamu ingin bermain denganku, Shinta? Mari kita lihat siapa yang akan terjebak dalam permainan ini," pikir Ghea, bersiap untuk menghadapi konfrontasi yang sebenarnya saat waktu makan siang tiba.

1
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!