NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Teratai Di Atas Abu

Bab 18 — Tulang Pendekar Kuno

Di dalam gua, udara terasa dingin dan kering, beraroma debu tua yang telah mengendap ratusan tahun. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang halus, dan di langit-langit, terdapat celah-celah kecil yang membiarkan cahaya samar masuk, cukup untuk menerangi jalan di depan. Semakin dalam melangkah, semakin terlihat jelas ukiran-ukiran di dinding: bunga teratai hitam dan putih yang saling bertautan, motif yang sama persis dengan lambang Klan Teratai Suci. Hal ini semakin meyakinkan hati Lian Hua, bahwa tempat ini tak terpisahkan dari asal-usulnya.

Setelah berjalan cukup jauh, lorong itu akhirnya melebar menjadi sebuah ruangan bundar yang cukup luas. Di tengah ruangan, di atas sebuah batu datar yang tingginya setinggi pinggang, terbaring kerangka manusia yang sudah kering dan bersih. Tulang-belulangnya besar dan kokoh, menunjukkan bahwa saat hidupnya dulu, pemiliknya adalah sosok yang bertubuh tegap dan kuat. Di samping kerangka itu, tergeletak sebilah pedang yang bilahnya sudah berkarat habis, dan sebuah gulungan kain kuning yang warnanya mulai memudar namun masih utuh.

Lian Hua melangkah perlahan mendekat, rasa hormat dan rasa penasaran bercampur jadi satu. Ia berlutut di depan batu itu, menatap kerangka itu lekat-lekat. Di tengkoraknya, terlihat bekas luka dalam yang membelah, tanda bahwa orang ini meninggal karena terluka parah dalam pertarungan hebat. Di dada kerangka itu, terukir tulisan kuno yang samar namun masih terbaca jelas: "Pewaris Terakhir, Binasa Menjaga Warisan".

"Pewaris terakhir..." gumam Lian Hua pelan. "Jadi kau juga anggota klanku? Kau selamat dari pembantaian masa lalu, lalu bersembunyi dan meninggal di sini sendirian?"

Hati Lian Hua terasa perih. Ia membayangkan betapa berat dan sepinya nasib orang ini, mati di tempat terpencil tanpa ada siapa pun yang tahu, tanpa ada yang mendoakan atau menguburkan dengan layak. Ia menundukkan kepalanya dalam penghormatan yang dalam.

"Akulah Lian Hua, pewaris terakhir yang masih hidup saat ini," ucapnya lantang dan tegas. "Demi kewajiban dan dendam klan, aku datang ke sini. Jika kau masih memiliki kesadaran, izinkan aku mewarisi apa yang kau tinggalkan, agar warisan ini takkan hilang begitu saja."

Setelah berbicara demikian, Lian Hua perlahan meraih gulungan kain itu. Saat tangannya menyentuhnya, kain itu terasa kasar namun kokoh, seolah dilindungi oleh tenaga khusus agar tak rusak dimakan waktu. Ia membukanya perlahan, dan di dalamnya tertulis barisan kalimat serta gambar gerakan yang rapi.

Judul besar tertulis di halaman pertama: Langkah Bayangan Teratai.

Di bawahnya tertulis penjelasan panjang. Lian Hua membacanya dengan saksama, hatinya makin berdebar kencang seiring ia memahami isinya. Teknik ini adalah ilmu langkah tertinggi yang dimiliki klan kuno itu. Berbeda dengan ilmu langkah biasa yang hanya mengandalkan kecepatan, teknik ini menggunakan prinsip pertukaran antara teratai hitam dan putih — keseimbangan antara berat dan ringan, antara ada dan tiada. Saat bergerak, tubuh penggunanya akan menjadi seberat gunung, namun sesaat kemudian bisa menjadi seringan kapas, bergerak secepat kilat namun tanpa suara, meninggalkan bayangan yang membingungkan lawan, seolah ada banyak orang yang bergerak sekaligus.

Namun ada catatan kecil di bagian akhir: "Ilmu ini sangat sulit dikuasai. Membutuhkan tubuh yang telah ditempa sempurna, dan tenaga yang bergerak bolak-balik antara dua aliran berlawanan. Tanpa dasar seperti itu, memaksakan diri berlatih akan membuat urat kaki putus dan raga hancur."

Lian Hua tersenyum tipis. Syarat itu... justru adalah kelebihannya sendiri. Berkat Seni Teratai Langit, tubuhnya sudah ditempa hingga ke tulang sumsum, dan tenaga di dalam tubuhnya memang bergerak mengikuti dua aliran berlawanan, persis seperti yang diminta teknik ini. Bagi orang lain, teknik ini mungkin mustahil dipelajari, tapi baginya... ini seolah diciptakan khusus untuknya.

Ia duduk bersila di lantai batu, meletakkan gulungan itu di hadapannya. Ia mulai menghafal setiap gerakan, setiap alur napas, dan setiap cara menggerakkan tenaga yang tertulis di sana. Gambar-gambar itu berputar di dalam benaknya, perlahan-lahan membentuk urutan gerakan yang jelas.

Seharian semalam ia habiskan di ruangan itu. Ia berlatih, berhenti, memperbaiki kesalahan, lalu berlatih lagi. Setiap kali ia salah bergerak, rasa sakit akan menjalar ke kakinya, tapi ia tak peduli. Ia mengingat kembali prinsip teratai: bangkit dari lumpur, tumbuh dari rasa sakit.

Seiring waktu berlalu, perubahan mulai terlihat. Saat ia melangkah, tak ada lagi suara hentakan kaki di batu. Tubuhnya bergerak halus, seolah melayang di udara. Kadang ia bergerak sangat cepat hingga hanya tampak bayangan samar, kadang ia bergerak sangat lambat seolah tak bergerak sama sekali. Aliran tenaga di dalam tubuhnya berputar mulus, berganti antara keras dan lembut, mengikuti irama teknik kuno itu.

Di sampingnya, tulang pendekar kuno itu terbaring diam, seolah sosok di dalamnya tersenyum lega melihat warisannya akhirnya jatuh ke tangan yang tepat.

Menjelang fajar, Lian Hua akhirnya menguasai dasar-dasar lengkap teknik itu. Ia berdiri di tengah ruangan, mengatur napas panjang, lalu perlahan melangkah keluar.

Satu langkah, dan ia sudah berpindah tempat sejauh sepuluh langkah. Tanpa suara, tanpa getaran, seolah ia baru saja berpindah wujud saja.

Lian Hua berhenti, menoleh kembali ke arah kerangka itu, lalu membungkuk sekali lagi.

"Terima kasih, Leluhur. Warisanmu kini ada padaku. Dan berjanjiku... aku akan mengembalikan kejayaan klan kita, dan membasmi musuh yang telah membuat kita hancur."

Setelah itu, ia melipat kembali gulungan itu dan menyimpannya rapat di dada, di samping liontin gioknya. Ia berjalan keluar dari gua kuno itu, kembali menembus kabut tebal Hutan Kabut Roh, namun kini ia bukan lagi pemuda yang sama yang masuk kemarin. Di samping kekuatan raga dan tenaga dalamnya, kini ia memiliki ilmu langkah yang membuatnya bisa datang dan pergi sekehendak hati, sulit disentuh dan sulit dikejar.

Di balik kabut pagi yang mulai menyala cahaya matahari, sosok Lian Hua melangkah ringan, seolah melebur dengan udara, meninggalkan tempat itu dengan bekal baru yang akan menjadi salah satu kunci kekuasaannya di masa depan.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!