"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Alina berjalan mendekat, langkahnya yang tadi terburu-buru kini melambat, seolah takut jejak kakinya akan menyakiti perasaanku. Ia meraih tanganku, menggenggamnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Aku hanya bisa tersenyum,sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa lelah dan permintaan maaf.
"Jangan di sini, nggak enak dilihat orang lewat," bisik Alina lirih. Ia menuntun kami menuju warung kopi sederhana di samping toko kelontong yang kebetulan sedang sepi.
Kami duduk di bangku kayu panjang yang kusam. Ali duduk tepat di hadapanku, sementara Alina setia di sampingku. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan, hanya kalah oleh suara bising kendaraan di jalan raya. Mata Ali seolah terkunci, ia terus menatap perutku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara tidak percaya, kecewa, dan luka yang mendalam.
"Jadi... ini, Ra?" tanya Ali akhirnya. Suaranya rendah, nyaris pecah.
"Al, pelan-pelan..." Alina memotong cepat, melirikku dengan tatapan khawatir. Ia seolah ingin melindungiku dari interogasi apa pun yang mungkin akan keluar dari mulut Ali.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang sedari tadi tak keruan. "Nggak apa-apa, Lin. Kalian juga harus tahu alasanku yang menghilang beberapa waktu ini," ucapku tenang, meski tanganku di bawah meja saling meremas. Aku mendongak, menatap mata Ali yang mulai memerah. "Iya benar, aku hamil."
Ali tersentak, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi seolah baru saja dihantam kenyataan fisik yang nyata. "Sudah berapa bulan Ra?''
Sudah enam bulan jalan tujuh, Al."
"Selama itu? Kamu simpan semuanya sendiri? Kamu tahu, Ra? Selama itu aku menulikan telinga dari pembicaraan orang-orang tentang kamu. Saat mereka berbicara buruk tentang kamu, aku selalu membela kamu. Bahkan saat kepala toko kita bicara kalau kamu hamil, aku tetap nggak percaya," ucap Ali dengan suara bergetar, menumpahkan segala kekecewaan yang selama ini ia pendam sendirian.
Aku tertegun mendengar ucapan Ali. Lidahku terasa kelu, dan rasa bersalah yang sejak tadi menumpuk kini meledak di dalam dada. Aku menunduk, tidak sanggup menatap mata laki-laki yang ternyata selama ini menjadi tameng bagiku tanpa aku ketahui.
"Maafin aku, Al... maafin aku," suaraku hilang, tertahan oleh isak yang mulai menyesakkan.
Ali tertawa hambar, sebuah tawa pahit yang lebih menyakitkan daripada makian Mbak Diana. "Aku merasa jadi orang paling bodoh sedunia, Ra. Setiap kali Alina atau Reni curiga, aku selalu punya seribu alasan buat belain kamu. Aku bilang kamu cuma lagi nggak enak badan, aku bilang baju kamu aja yang kebesaran. Aku bahkan hampir berantem sama Rafli karena dia berani taruhan kalau kamu hamil."
Ia menjeda kalimatnya, menarik napas panjang yang terdengar sangat berat. "Ternyata, semua orang benar... dan cuma aku yang salah karena terlalu percaya sama kamu."
Alina mengusap punggungku, mencoba menenangkan. Matanya sendiri sudah basah. "Sudah, Al. Aira juga pasti tertekan. Jangan ditambah lagi."
"Terus sekarang gimana?" Ali menatapku lagi, kali ini tatapannya tajam penuh tuntutan. "Siapa laki-lakinya? Apa dia beneran tanggung jawab? Apa dia jagain kamu dengan bener sampai kamu harus sembunyi di kosan kecil ini lagi? Aku tahu kamu sempat dibawa ke rumah besarnya, kan?"
Aku tersentak. Jadi mereka tahu sampai sejauh itu?
"Aku sudah menikah, Al." Jawabku dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa harga diriku. "Namanya Mas Dika. Dia... dia pria yang baik. Dia jagain aku."
"Baik?" Ali mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kalau dia baik, dia nggak akan biarkan kamu beli sampo sendiri ke warung dengan kondisi begini. Kalau dia baik, dia nggak akan biarkan kamu jadi omongan di toko sampai kamu harus resign lewat pesan singkat,dan kalau dia baik Ra,dia nggak akan hancurin kehormatan kamu!"
"Ali stop,kamu nggak bisa ngomong gitu sama Aira."
"Nggak bisa gimana, Lin? Kamu lihat sendiri sekarang!" Ali berdiri, suaranya naik satu oktav, tidak peduli lagi pada beberapa pasang mata yang mulai melirik ke arah warung kami. "Dia teman kita! Dia orang yang kita anggap paling benar di toko, tapi lihat apa yang laki-laki itu perbuat? Dia ambil semuanya dari Aira, terus sekarang dia taruh Aira di kosan sempit ini lagi seolah-olah semuanya baik-baik saja?"
"Al, cukup..." rintihku. Dadaku terasa sesak, oksigen di sekitarku seolah menipis. Setiap kata yang keluar dari mulut Ali seperti hantaman palu yang memecahkan sisa-sisa ketenanganku.
"Aku nggak bisa diam, Ra! Aku sakit hati lihat kamu begini!" Ali menunjuk ke arah perutku dengan jari yang bergetar. "Kehormatan itu mahkota kamu, Ra. Dan laki-laki itu... dia hancurin itu sebelum dia kasih kamu kepastian yang layak. Kalau dia beneran laki-laki, dia datang ke Bapak kamu sebelum ini semua terjadi, bukan setelah nasi jadi bubur!"
Alina menarik kaus Ali, mencoba memaksanya duduk kembali. "Ali, jaga mulut kamu! Kamu nggak tahu perjuangan mereka gimana! Jangan bikin Aira makin drop!"
"Aku cuma ngomong kenyataan, Lin! Kenyataan kalau Aira sekarang cuma jadi bahan gunjingan karena ulah laki-laki yang dia sebut 'baik' itu!"
Tepat saat amarah Ali memuncak, sebuah deru motor yang sangat kukenal berhenti dengan suara decitan ban yang tajam di depan warung. Jantungku mencelos. Mas Dika.
Ia turun dari motor tanpa melepas helmnya terlebih dahulu, langkahnya lebar dan memburu. Wajahnya yang tertutup kaca helm samar-samar menunjukkan kekalutan. Ia melihat Ali yang sedang berdiri emosional dan aku yang sedang terisak di samping Alina.
Mas Dika membuka kaca helmnya, matanya langsung tertuju pada Ali. "Ada apa ini?" tanyanya dengan suara rendah yang sarat akan ancaman. Ia segera berdiri di depanku, menghalangi pandangan Ali seolah-olah ia adalah tameng besi yang siap menerima serangan apa pun.
Ali tertawa sinis, menatap Mas Dika dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Oh, jadi ini laki-lakinya? Laki-laki yang katanya 'baik' tapi biarin istrinya yang lagi hamil besar kelayapan sendirian buat urusan sepele?"
"Mas Dika, sudah... kita pulang aja," bisikku sambil menarik ujung kemeja kantornya, memohon agar badai ini tidak membesar.
Namun, Mas Dika tidak bergeming. Ia menatap Ali dengan tatapan yang sangat tajam. "Saya suaminya. Apapun yang terjadi pada istri saya, itu urusan saya. Kamu tidak punya hak bicara seperti itu tentang kehormatan istri saya."
"Hak?" Ali maju satu langkah, menantang. "Sebagai teman yang selama ini belain dia dari fitnah orang-orang, aku punya hak buat kecewa! Kamu hancurin dia, Dika! Kamu hancurin masa depan yang dia susun rapi di toko itu!"
Suasana warung kopi itu mendadak mencekam. Dua laki-laki itu berdiri berhadapan, dipisahkan oleh meja kayu kusam dan satu wanita yang menjadi pusat dari segala luka.
"Tahu apa kamu? Kamu cuma teman istri saya dan kamu tidak ada hak buat bicara seperti itu! Mbak Alina, silakan bawa teman Anda pergi dari sini!" Mas Dika menekankan setiap katanya, suaranya rendah namun penuh otoritas yang membungkam kebisingan di sekitar kami.
Ali hendak membalas, namun Mas Dika sudah lebih dulu merangkul bahuku, menarikku mendekat ke tubuhnya dengan posesif. "Aira adalah tanggung jawab saya sekarang. Saya yang menjamin hidupnya, bukan kamu."
"Menjamin?" Ali tertawa hambar, matanya menatap tajam ke arah Mas Dika. "Menjamin dengan cara apa? Dengan membiarkan dia menanggung malu sendirian di kosan ini? Kamu pikir pernikahan atau status di atas kertas itu cukup buat gantiin air mata dia tiap malam?"
"Ali, sudah! Cukup!" Alina menarik lengan Ali sekuat tenaga, wajahnya pucat pasi melihat rahang Mas Dika yang sudah mengeras. "Kita balik ke toko sekarang. Al, sadar! Kamu cuma memperkeruh keadaan!"
Mas Dika tidak meladeni Ali lagi. Ia menatapku dengan sorot mata yang seketika melunak, meski sisa amarah masih terlihat di urat lehernya. "Ayo pulang, sayang Nggak ada gunanya bicara dengan orang yang cuma bisa menghakimi tanpa tahu apa yang kita lalui."
Aku hanya bisa mengangguk lemah, kepalaku terasa berdenyut hebat. Saat kami berbalik menuju motor, aku sempat melirik Ali untuk terakhir kalinya. Laki-laki itu masih berdiri mematung, menatap punggung kami dengan bahu yang lunglai. Ada kepedihan yang luar biasa di matanya,,sebuah luka dari seseorang yang harus menerima kenyataan bahwa orang yang dia jaga selama ini sudah benar-benar menjadi milik orang lain dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.
"Ra..." suara Ali terdengar lirih, hampir tenggelam oleh suara mesin motor Mas Dika yang menyala. "Kalau suatu saat dia nyakitin kamu lagi, jangan pernah takut buat pergi."
Mas Dika tidak menoleh, ia segera memacu motornya meninggalkan gang itu. Angin sore menerpa wajahku, namun rasa dingin di hatiku tak juga hilang. Di balik punggung suamiku, aku menangis sejadi-jadinya. Rahasiaku sudah pecah sepenuhnya di depan teman-temanku, dan sekarang aku tahu, duniaku yang dulu benar-benar telah mati.