NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

TUNG!

Dering notifikasi penanda pesan masuk di handphone Hana.

Reishard

Aku pergi business trip ke Tokyo dulu ya.

Hana yang tadinya masih ngantuk langsung melotot. "Apaan sih nih orang?!" sewotnya. Hana memilih menegur langsung Reiga dengan meneleponnya.

"Hai, Ha ..."

"Sampai kapan aku mau digodain kayak gini terus, Reiiiiii!?" protes Hana dengan suara melengking. Padahal posisi tubuhnya tengah tengkurap di atas kasur. Yang diprotesnya malah tertawa. "Aku juga nggak tahu nih kenapa aku jadi senang banget godain kamu ya," curhat Reiga.

Hana mendesis.

"Makanya jadi orang tuh jangan iseng!" sebal Hana.

"Isengnya juga cuma sama kamu, Hana," aku Reiga.

"Kalimat barusan bukan bagian dari gombalan kamu kan, Rei?"

Reiga tertawa pelan.

"Itu bagian dari fakta," jawab Reiga.

"Ah-ha!" sinis Hana. Tentu Hana tidak akan mempercayainya. Reiga tersenyum.

"Bangun. Subuh dulu sana. Nanti baru tidur lagi," ujar Reiga seraya melihat pergelangan tangan kanannya. 30 menit yang lalu baru masuk adzan subuh.

"Ini kenapa jadi ingetin aku sholat mulu? Emangnya tampang aku nggak seberiman itu ya?"

Tawa Reiga terdengar.

"Sejak kapan tampang bisa menunjukkan keimanan?" tanya balik Reiga.

"Sejak ada yang namanya sistem image sosial di negara ini, Reishard," ujar Hana yang sekarang benar-benar jadi bangun berkat pesannya Reiga.

Hana berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Heran sendiri dengan dirinya yang mau saja mengikuti mau Reiga. Hana menaruh handphone di sisi kering wastafel. Selanjutnya ia mencuci muka.

"Kamu lama di Tokyo?"

"Tiga hari."

Hana menjawabnya dengan sebuah deheman karena tengah membilas.

"Aku pulang sehari buat dinner sama Lana."

Lana?

"Cieee..."

Reiga terkekeh mendengar ledekan Hana.

"Udah janji. Nggak enak kalau dibatalin," ujar Reiga.

"Kenapa harus dijelasin ke aku?"

"Karena aku takut kamu cariin aku selama seminggu ini," ucap Reiga percaya diri.

"Idih! Kenapa aku harus cariin kamu?!"

Andai Hana bisa melihatnya, bibir Reiga sekarang tengah menyunggingkan senyum.

"Kangen?"

"Heh!"

Reiga terkekeh. Hana tersenyum.

"Tiga hari-nya kemana?"

Hana si mudah penasaran mengutarakan isi kepalanya.

"Tuh mulai kangen kan."

"Menyesel aku tanya kamu!" ketus Hana membuat Reiga tertawa.

"Lanjut business trip lagi ke Paris dan hadir di world economic forum di Davos," jawab Reiga.

Hana terhenyak takjub dengan jadwal padat Reiga yang melebihi kepadatan jadwalnya. Hana saja yang cuma keliling Indonesia, sudah sangat amat merasa lelah. Nah ini Reiga keliling dunia.

"Pantes ya kalau jomblo," ujar Hana.

Reiga terkekeh.

"Makanya kita jadian yuk biar aku nggak jomblo lagi," goda Reiga.

"Reishard!" pekik Hana sebal seraya mengeringkan wajahnya dengan handuk kering.

Reiga kembali tertawa.

"Aku tahu kenapa kamu beginiin aku?"

"Begini gimana?"

"Gombalin aku terus."

"Kenapa?"

"Karena ini hiburan kan buat kamu? Cowok kan suka sama permainan hard to catch. Kalian tuh butuh tantangan. Benar kan aku?"

"Bisa jadi. Tapi alasan aku bukan itu," aku Reiga.

"Apa?"

"Ngobrol sama kamu itu candu, Hana. Sebelum kamu bilang aku modus dan gombal serta nggak jelas. Aku tegaskan lagi kalau aku serius dan jujur bilang ini," jawab Reiga.

Hana diam. Tertegun. Ada sedikit rasa tersipu berkat mendengarnya.

"Love exactly makes someone stupid and blind.

Kalimat itu ternyata benar banget," ujar Reiga lagi.

Hana mencibir.

"Maksud kamu aku ini bodoh dan buta makanya tetap ngotot ngejar Arnold!?" ujar Hana tersinggung.

"Bukan kamu. Tapi Arnold," ucap Reiga.

"Pak, pesawat akan boarding setengah jam lagi," ucap suara lain.

"Sebentar ya, Dim," ucap Reiga bicara dengan orang lain yang sepertinya Dimas.

"Aku kerja dulu ya, Han. See you soon," ucap Reiga.

"Hati-hati," jawab Hana lalu memutuskan sambungan telepon.

Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Kalimat Reiga menggema kembali dalam kepalanya.

"Tanya enggak? Tanya enggak?"Begitu saja terus isi pikiran Dimas sejak pesawat boarding menuju Tokyo.

"Mau tanya apa sih, Dim?" celetuk Reiga yang sudah tidak tahan dengan pemikiran berisik Dimas yang mengganggunya membaca laporan.

Dimas tersenyum canggung. Ia menoleh kearah kursi Reiga. Bos-nya itu tengah menatapnya sebal. Bos-nya memang patut dijuluki cenayang. Meski tahu pertanyaanya nanti menjurus kearah pribadi dan ada kemungkinan Reiga tak mau jawab. Dimas tetap nekat bertanya.

"Pak Reiga pacaran sama Adrianne Hana?" tanya Dimas hati-hati.

"Kalau iya kenapa? Kalau enggak kenapa?"

Dimas menelan ludah dengan intonasi judes Reiga.

"Beritanya udah rame, Pak," jawab Dimas.

Hah?

"Berita apa?"

"Kalau Pak Reiga pacarnya Adrianne Hana," jawab Dimas lebih ekspresif karena tampang judes Bos-nya itu sudah lewat. Berganti ekspresi penasaran.

"Kamu lihat di mana?"

"Semua portal media. Headline medsos. Sudah ramai membicarakan Pak Reiga dan Bu Hana," tukas Dimas.

Reiga terhenyak. Ah, jadi ini yang dilihatnya semalam dalam penglihatan masa depan yang memperlihatkan Hana marah-marah dan menuduhnya sengaja menggoreng media. Reiga menghela napas.

"Ada foto saya?"

Reiga menelaah situasi terlebih dahulu.

"Di blur, Pak," jawab Dimas.

Reiga berdecak. Profesional sekali pelakunya.

"Media pertama yang menggunggahnya?"

"Spatch! dengan judul Pacar Adrianne Hana! Dan semua isinya adalah foto Pak Reiga dan Bu Hana yang tengah di Singapore dan ..."

"Dan apa?"

"Foto Pak Reiga tengah pelukan dan cium kening Bu Hana," ucap Dimas takut-takut seraya memperhatikan raut wajah Reiga yang sudah tidak ramah lagi.

Ada sejarah tak mengenakan antara Reiga dan Spatch! Media online tersebut pernah mengunggah sebuah artikel berjudul Ada Gay di keluarga Reishard dengan foto Reiga yang tengah berpelukan dengan Shine, seorang aktor asal Thailand yang kencang dikabarkan tidak menyukai wanita. Padahal faktanya, pelukan itu adalah simbol penandatangan kontrak kesepakatan Shine sebagai BA (Brand Ambassador) salah satu produk minuman bersoda cabang usaha Reishard Corporation di Thailand.

Tidak cukup sampai di situ. Spatch! juga pernah menyebarkan foto-foto pacaran saat SMA milik Reiga dan Cyila. Entah dapat darimana. Yang jelas, keduanya membuat Reiga murka berat dan melayangkan tuntutan pada Spatch! melalui jalur hukum. Semuanya dimenangkan Reiga. Selain karena berita tanpa izin itu memang merugikan image Reishard Corporation sebagai perusahaan dan juga image pribadi Reiga sendiri. Tentu juga melibatkan pengaruh nama Reishard. Siapa yang bisa mengalahkan pemegang nomor 5 sebagai keluarga maha kaya di planet biru ini?! Spatch! memang paling suka mencari gara-gara dengan Reiga. Rupanya dua kali berhadapan dengan Reiga belum membuat media kelas satu dalam mengungkap rahasia artis itu kapok.

Reiga mendengus sebal seraya mengepal satu tangannya. "Begitu landing di Tokyo, take down semua foto itu, Dim," ujar Reiga dengan instruksi yang jelas.

"Si... siap, Pak," jawab Dimas yang sekalipun sudah lama bekerja dengan Reiga tapi tetap ciut menghadapi sosok marahnya Reiga.

*

"Han ...!? Hanaaaa," panggil Juni berjalan cepat masuk ke dalam rumah Hana dengan raut wajah panik.

Sara yang tengah menyiram tanaman menghentikannya. "Ada apa, Jun? Teriak-teriak di rumah Tante," protes Sara.

Juni memberi cengiran bersalah.

"Maaf, Tan. Urgent."

"Urgent? Ada masalah apa memangnya, Jun?" Sara jadi ikut khawatir. Juni belum pernah seperti ini sepanjang karir Hana.

Juni menghela napas lalu berjalan mendekat kearah Sara. Setelahnya ia mengeluarkan iPad dari tas miliknya. Juni menunjukkan artikel dan belasan foto yang tengah viral dan menggemparkan dunia maya kepada Sara.

Kedua mata Sara membelalak melihat foto Hana dan Reiga di Singapura. "Hana pergi ke Singapura sama Reiga!?" kagetnya.

Juni mengangguk-angguk. "Juni juga baru tahu, Tan," ujar Juni merasa sepenanggungan sebagai kelompok yang tidak tahu.

"Jun, ayo! Nanti Na bisa ngomel kalau kita telat," ujar Hana sudah rapi, cantik, dan menawan. Tampil semi formal dengan kemeja putih dan rok span berwarna coklat dengan potongan serong ke sebelah kiri.

Sara dan Juni memandangi Hana dengan ekspresi takjub. Sampai Hana memeriksa pakaiannya dengan bercermin di jendela besar.

"Semuanya oke," gumam Hana.

"Kamu pergi ke Singapura sama Reiga, Han?"

ucap Sara menyentak Hana hingga langsung diam.

Antara berpikir bagaimana Ibu-nya bisa tahu dan bagaimana ia harus bersikap.

"Ibu tahu dari mana?"

Sara menunjukkan apa yang dilihatnya di iPad.

Hana terhenyak. Kedua matanya membuka. Hana meraih iPad dalam genggaman Ibu-nya.

"Dapat dari mana mereka?!" panik Hana.

Juni dan Sara saling memandang satu sama lain. Kalimat Hana barusan menunjukkan bahwa foto-foto itu bukan sebuah editan.

"Lu beneran pergi ke Singapura sama Reiga, Han?!" takjub Juni.

Hana terkesiap. Ah, dia salah bicara. Ralat! Salah bicara dan salah bereaksi!

"Masih mau bilang nggak pacaran sama Reiga?" tukas Sara dengan mata menyipit dan tangan bersidekap.

Hana bingung bagaimana cara harus meluruskan sebuah kesalahpahaman ini. Ia memilih menghela napas panjang.

"Siapa yang sebar ini!? Gue mau ini di-take down!" pekik Hana serius.

"Ini Spatch! yang sebar, Han. Kita nggak bisa main take down. Mereka media besar. Lu tahu sendiri! Inget kan, kasusnya Maudy? Gimana mereka putar balikkan fakta. Kita harus koordinasi dulu sama tim management. Biar mereka yang urus. We need a time," ujar Juni memberikan realita kasus ini.

Hana pun sesungguhnya tahu itu. Hanya saja hatinya tak ikhlas karena ini pertama kalinya Hana dihinggapi gosip yang lumayan besar.

"Nggak usah repot-repot," celetuk Sara.

Hana dan Juni sontak menatap Sara.

Perempuan setengah baya itu memperlihatkan iPad. Foto-foto itu sudah tidak ada. Berganti dengan tulisan 'this picture may be has a copyright!' di tiap slide-nya. Tentu dua perempuan itu langsung takjub.

"Wah, gila sih! Udah di take down!?" seru Juni seraya meraih iPad dari tangan Sara.

"Itu pasti Reiga," ujar Sara.

"Maksud Ibu?"

"Reiga pasti yang sudah take down semua itu takut ayangnya ngamuk," jawab Sara sekalian meledek Hana.

"Apa sih, Bu!? Ayang... Ayang!" sebal Hana.

Sara tersenyum.

"Bisa jadi dia yang sebar semua foto ini sama media!" tuduh Hana.

"Jangan sembarangan tuduh orang loh, Han," ucap Sara.

Hana bersidekap. "Udah pasti dia, Bu! Dia yang paksa Hana supaya pergi bareng ke Singapura. Dia juga yang semalam tanpa diundang datang ke rumah ini. Semua ini pasti termasuk ke dalam skenario dia, Bu!"

Hana terlanjur meyakini teori kosongnya. Sara bingung cara mendebat pikiran Hana meski ia yakin bukan Reiga pelakunya. Juni diam seribu bahasa.

Tidak tahu harus berkomentar apa.

"Dasar cowok brengsek!" umpat Hana kesal setengah mati.

*

Nana

Nyet, lu seriusan ama Reiga?

Rasanya Hana ingin meremas muka Reiga sekarang. Hana yakin sekali, Reiga adalah pelakunya. Sekarang semua orang menanyai perihal kebenaran foto tersebut padanya. Mulai dari yang terdekat sampai masyarakat Indonesia yang memenuhi kolom komentar artikel. Meski semua foto sudah di-take down. Entah itu dari sumber asli ataupun akun yang merepost-nya. Hana mendengus sebal.

"Reiga powerful banget ya, Han. Bisa take down semua foto di semua medsos secepat ini," gumam Juni kagum. Karena kini ia tidak menemukan satu pun foto Reiga dan Hana dimanapun.

"Jun, bisa nggak lu berhenti nyebut namanya!?" ketus Hana.

Juni menghela napas.

"Gimana kalau Tante Sara bener, Han?"

"Kalau salah!?" judes Hana seraya melotot kearah Juni seakan yang ditatapnya adalah Reiga.

Juni kembali menghela napas.

"Gue udah tahu bakal kayak gini! Reiga tuh anti cinta sejati. Cukup aneh dia mau ikut perjodohan. Dia kenal lebih lama sama Lana. Tentu dia nggak akan memilih Lana buat berita palsu kan. Reiga juga belum terlalu kenal sama Nana. He definitely choose me! Sengaja! Biar dia nggak perlu repot cari alasan buat Papa-nya. Emang dasar cowok brengsek!" omel Hana kembali menuduh Reiga.

"Feeling gue sih bukan ya, Han," ujar Juni.

Hana langsung melotot. "Lo tuh sebenarnya aspri-nya siapa sih, Jun!?" sewot Hana.

"Aspri lu lah, Han!"

"Baru ketemu kurang dari 1 jam aja sama Reiga udah klepek, memihak tuh playboy satu!"

"Adrianne Hana, daripada lu sibuk tuduh Reiga sebagai pelaku penyebar foto, mending lu menyiapkan diri untuk menghadapi pandangan orang yang sekalipun foto udah di take down, tapi masyarakat terlanjur percaya kalau Reiga Reishard adalah pacar lu!"

Juni mengatakan realitanya. Hana mendengus sebal. Sungguh sebal karena Juni ada benarnya.

TUNG!

Notifikasi pesan masuk di handphone Hana berbunyi. Hana menatap layar handphone miliknya. Lana. Hana terhenyak begitu tahu si pengirim pesan.

Lana

Segitunya mau gangguin gue sampai bela-belain edit foto lu sama Reiga?

Hana menggemeretakkan gigi. Tangan kanannya mengepal kuat. Kesal. Tuduhan Lana yang menjurus fitnah itu sungguh meng-trigger luka masa lalunya pada keluarga Lana.

"I hate you, Reishard!" seru Hana dalam hatinya.

Sekarang tiada lagi perasaan menyesal Hana telah mengirim pesan kasar itu pada Reiga.

***

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!