NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia membayar waktu_ pakailah diriku juga

Pintu kamar tiba-tiba terbuka keras.

Langkah cepat masuk, diikuti suara alat medis yang ditarik terburu-buru.

“Tekanan darah turun! Cepat pasang oksigen!”

Seorang dokter mendekat ke sisi ranjang, tangannya langsung memeriksa denyut nadi Kirana. Alisnya berkerut dalam.

“Ini tidak masuk akal… tadi stabil.”

Perawat lain sudah bergerak cepat, memasang masker oksigen, menyiapkan infus tambahan.

Monitor jantung yang tadinya teratur mulai berantakan.

Bip… bip… bip…

terlalu cepat.

Lalu melambat.

Tidak konsisten.

“Kirana, bisa dengar saya?” suara dokter tegas, mencoba menariknya kembali.

Tapi Kirana tidak menjawab.

Matanya terbuka.

Namun fokusnya… tidak ada di ruangan itu.

Di dalam kepalanya, dunia terasa seperti ditarik dua arah.

Satu menariknya kembali ke tubuhnya.

Yang lain

lebih dalam.

lebih gelap.

lebih… familiar.

Suhu tubuhnya turun drastis.

Perawat menyentuh tangannya dan langsung terkejut.

“Dok, tubuhnya dingin sekali!”

“Naikkan suhu ruangan. Selimuti. Cepat!”

Selimut ditarik menutup tubuh Kirana, tapi dinginnya tidak berkurang.

Seolah bukan suhu luar yang berubah.

Tapi sesuatu dari dalam dirinya… yang sedang menghilang.

Jari Kirana bergerak sedikit.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Seolah dia sedang mencoba menggenggam sesuatu yang sudah tidak ada.

Bibirnya bergetar.

“…jangan…”

Suaranya sangat pelan.

Hampir hilang.

Dokter menoleh cepat.

“Apa dia bicara? Kirana, ulangi!”

Tapi yang keluar hanya napas tipis.

“…jangan… tarik dia…”

Ruangan hening sepersekian detik.

Bukan karena semua berhenti.

Tapi karena kalimat itu

tidak ditujukan ke siapa pun di sana.

Monitor tiba-tiba berbunyi lebih keras.

Bip—Bip—BIP—

“Detak jantungnya drop!”

“Siapkan obat, sekarang!”

Tangan dokter bergerak cepat, tapi ada satu hal yang membuatnya ragu sesaat.

Layar monitor menunjukkan sesuatu yang aneh.

Seperti gangguan.

Bukan garis yang rusak.

Tapi pola.

Tidak stabil.

Seolah ada… dua ritme.

Satu milik Kirana.

Dan satu lagi

yang tidak seharusnya ada.

Kirana tiba-tiba menarik napas dalam.

Tubuhnya sedikit terangkat.

Matanya terbuka lebih lebar.

Dan untuk sepersekian detik

dia melihat sesuatu.

Bukan dokter.

Bukan ruangan.

Tapi bayangan samar di sudut langit-langit.

Retakan tipis.

Hampir tak terlihat.

Namun cukup untuk membuat napasnya tercekat.

Air mata mengalir lagi.

“…Li Wei…”

Senyap.

Tidak ada jawaban.

Suhu tubuhnya turun lagi.

Lebih dingin dari sebelumnya.

Perawat mulai panik.

“Dok, ini sudah di bawah normal jauh ini seperti hipotermia!”

“Tingkatkan pemanas! Jangan biarkan turun lagi!”

Tapi tidak ada yang berubah.

Karena ini bukan sekadar kondisi medis.

Ini adalah akibat.

Harga,.

Dari waktu yang dicuri.

Tangan Kirana perlahan mengepal.

Kuat.

Seolah menahan sesuatu agar tidak diambil.

Napasnya terputus-putus.

Namun di balik itu

ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang baru.

Bukan hanya rasa kehilangan.

Tapi keputusan.

Di dalam kesadarannya yang hampir tenggelam,

suara Li Wei terngiang samar.

“Aku tidak punya banyak waktu.”

Dan untuk pertama kalinya

Kirana tidak hanya mendengar.

Dia… mengerti.

Jika dia hanya diam

maka semuanya akan berakhir seperti ini.

Berulang.

Terputus.

Hilang.

Monitor berbunyi panjang.

Biiiiiip

“Tidak! Dia hampir!” dokter panik

“Ambil defibrillator!”

Di detik antara hidup dan hilang itu,

di ruang yang tidak sepenuhnya dunia

Kirana berbisik.

Bukan ke dokter.

Bukan ke siapa pun di ruangan itu.

Tapi ke sesuatu yang lebih dalam.

Lebih jauh.

Lebih gelap.

“…kalau kamu bisa melawan…”

napasnya patah.

“…aku juga bisa mencarimu…”

Dan untuk sepersekian detik

garis di monitor bergerak lagi.

Kecil.

Lemah.

Tapi kembali.

Bip…

Sunyi turun perlahan.

Tapi kali ini,

bukan hanya dunia yang menahannya.

Kirana juga.

Dia belum selesai._____

" Aku juga bisa mencarimu",,

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!