Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertama kali
Mau tidak mau aku harus telpon Abah, karna belanjaan ibu over weight tapi Abah sedari tadi tidak angkat telpon
" ibu... Abah ga angkat telpon" ucapku sedikit panik
" telpon ustadz areez aja mbak lea kan areng sama Abah" ucap ibu dengan Santai tanpa pikir panjang
" aleea ga punya nomornya ustadz areez ibu, ibu aja yang telfon" sahutku sedikit kesal
" ini mbak lea aja yang telpon soalnya ibu ga ada paketan buat telfon heheheheh" sahutnya sambil menyerahkan hpnya, astaga ibuuuuuuuuuu....
aku ambil hp ibu dan hotspot punyaku, aku cari nomer ustadz areez, aku pencet gambar telfon, tertulis kata berdering di hp ibu, aku kasihkan telfonnya ke ibu
" ibu aja yang ngomong " kataku " mbak lea aja, ibu takut lupa apa aja yang di beli takut hilang kalo di ditinggal telfon" ucap ibu cepat dan masih sibuk memilih apa itu yang entah aku ga tau. Aku liat layar handphone ibu detik terus berjalan, aku masih bingung mau ngomongnya bukan takut lebih ke ga pernah ngobrol, canggung mungkin ya...
" emm halo assalamualaikum... Abah ada? Mau ngomong sama Abah" ucapku sangat cepat
" waalaikumsalam mbak lea, maaf tapi Abah sudah tidur, kenapa ya mbak?" jawab ustadz areez pelan dan terdengar sangat sopan, aku tidak pernah mengobrol dengannya bahkan tidak pernah tau bagaimana suaranya karna suara abah selalu dominan ketika mengobrol dengan ustadz areez. Tidak ada pilihan lain tidak mungkin aku menyuruhnya membangunkan Abah dan ikut menjemput ibu dengan bawaan belanjanya.
Ahhhh... Yasudah lah... (dalam hati)
" saya chat saja " ucapku dengan mematikan telponnya....
What's up ibu ke ustadz areez
( Ibu ) 12.34 : " ustadz sya minta tolong untuk jemput ibu di toko kain 'jaya makmur ' ya.
minta tolong soalnya belanjaan ibu sangat banyak, tidak bisa dibawa kalo pakai motor🙏🏻
(Areez) 12.35 : " Enggeh saya langsung kesana "
Setelah melihat jawabannya aku menutup wa kembali ke layar utama, aku lihat ke sekeliling ibu ada di bagian depan masih memilih kain lain sedang aku ada di tengah jauh dengan ibu,
aku memutuskan kembali ke ujung sudut toko, ke tempat duduk setengah usang, sambil melihat handphone aku mengenakan earphone di telingaku supaya sedikit mengusir rasa bosan menunggu ibu yang tak kunjung selesai itu.
tidak lama handphone ibu bergetar dari saku gamisku, aku mengambilnya dengan cepat dan mengangkat telfon ibu
"mbak aleea" ucapnya
Suaranya seperti dekat tapi juga ada di dalam telpon, aneh...
" mbak aleea saya di depannya mbak " ucapnya lembut dan sangat amat sopan
Aku tersentak kaget saat aku melihat di depanku ada cowok tinggi dan besar itu, aku kelabakan sampai handphone ibu dan earphone aku aku genggam lepas dari tanganku, aku panik bukan main karna aku merasa posisinya sangat dekat denganku, aku bisa mencium aroma parfumnya, baru kali ini, aroma parfum yang cukup asing tapi aku pernah mencium aroma ini saat di Mesir.
" ini mbak " ucapnya memberikan barang jatuh tadi aku menerimanya dengan tangan menengadah agar tak bersentuhan dengan tangannya, aku segera mencari keberadaan ibu, hanya celingak-celinguk tidak bergerak dari tempat, lalu aku menunjuk ibu yang sudah berpindah lagi dari tempat sebelumnya.
" itu disana, ke sana saja bawa ibu dan belanjaannya, saya pulang sendiri naik motor " ucapku menunjuk ke arah ibu tanpa melihat ke arahnya.
ja berlalu ke arah ibu, aku hanya melihat kakinya menjauh dari posisiku, aku tetap terdiam tetap duduk di kursi usang tak beranjak menunggu ibu selesai. ku pasang lagi earphoneku dengan lagu Rusia berjudul mathuska memenuhi sudut bosan ini. Tak lama aku melihat sosok ibu berjalan ke arahku
" mbak leea ibu sudah selesai, ayo pulang" ucap ibu
" ibuk naik mobil saja sama ustadz areez biar tidak capek, aleea nanti ngikuti di belakang mobil " ucapku disambut anggukan ibu dan berlalu keluar dari toko.
Aku melihat dari jauh, ustadz areez masih sibuk memasukan belanjaan ibu ke dalam mobil, aku masih menunggu dia selesai sedang ibu sudah duduk manis di dalam mobil. Tak lama aku melihat areez celingak-celinguk ke arah dalam toko, mungkin mencariku, tapi aku enggan keluar sampai di masuk dalam mobil lalu aku berjalan melewati gulungan kain tapi aku liat mobil Abah belum jalan, mungkin ustadz areez menungguku karna disuruh ibu, baiklah aku berjalan keluar ke arah motorku lalu memasang helm dan melihat kearah mobil, mobilnya sudah jalan jadi aku mengikuti di belakangnya tapi entah perasaanku saja, mobilnya berjalan sangat pelan, entah lah terserah... Asal sampai aja.
Setibanya di pesantren mobil memasuki pelataran pesantren dan memasuki garasi rumah, aku mengikuti di belakangnya pelan, aku berhenti di teras rumah membiarkan dia memasukkan belanjaan ibu dulu, aku tidak melihat ke arahnya aku melihat siluet ibu masuk ke dalam rumah mengarahkan ustadz areez sedang aku tetap menunggu di luar melepas helm sarung tangan dan mengeluarkan beberapa barang dari jok motor. Tak lama aku melihat siluet ustadz areez berlalu melewatiku, aroma itu lagi memenuhi hidung ini, benar aroma seperti waktu di Mesir, tidak mungkin orang yang sama parfume seperti ini pasti banyak sekali di luar sana, aku saja kurang menjelah, positifku tetap tidak mungkin dia, tapi mereka punya aroma yang sama, benar benar sama.
Aku mendorong motorku ke garasi bersampingan dengan mobil lalu membawa belanjaan ku ke dalam kamar.
" ah lelahnya... Mau rebahan tapi aku belum sholat dhuhur" runyamku sendiri, aku segera beranjak sebelum malas.
Setelah sholat dhuhur dan membaca wirid, aku membuka email hendak membalas email aylin semalam.
EMAIL...
Aleea
Aylin
" besok kakak kesana , mungkin sampai malam kakak menginap di kamarmu ya... Heheheheh"
setelah megirim pesan aku merasa rasa kantuk memenuhi mataku, aku enggan tidur takut terlewat waktu asar dan waktu mengajar nanti sore. Aku beranjak sebelum nyaman, Ku buka barang belanjaanku dan mengambil koper kecil yang ku bawa ketemu aylin besok. gamis ganti, skincare, makanan ringan dan beberapa barang untuk aylin dan titipannya, sangat amat penuh. Aku mencari keberadaan Abah sama ibu, mereka di kamar dan Abah sudah bangun, aku meminta izin bahwa aku besok pergi menemui aylin beberapa hari, Abah dan ibu mengizinkan tanpa drama dan tapi.
waktu berlalu cepat, malam menyapa hangat. kali ini tidak di halaman belakang tapi di ruang tengah, semua sedang senggang Abah tidak mengajar, Santri sedang rutinan muhadhoroh di dalam pesantren, kami berkumpul mengobrol basa basi di iringi tawa kecil kami.
Ting.... Ting.... Suara bel rumah, Abah beranjak membuka pintu depan
" ustadz areez...." sambut Abah
" jadi begini ustadz, saya meminta tolong antarkan Aleea ke stasiun besok pagi" ucap cepat maksud Abah ke ustadz areez
" ustadz piket kan malam ini, menginap di sini kan?" lanjut Abah memastikan
" Enggeh Abah... Kalau mbak aleea berkenan saya antarkan "
Seketika aku ingin langsung menjawab
" soalnya pagi ustadzah, habis subuh langit masih gelap, saya khawatir saja Ndak tenang hatinya" ucap Abah cepat, Abah tau aku ga akan mau di antar siapapun, aku tidak mendengar sahutan apapun tapi aku dengar suara langkah menjauh keluar pintu. Mungkin hanya mengangguk dan pergi.
" Abah..... Aleea bisa pergi sendiri, biasanya juga begitu kan" rengekku setelah melihat Abah masuk ke ruang tengah, tangan abah mengisyaratkan tidak menerima komentar apapun.
ahhh ya sudahlah apa kata nanti (batinku)....