NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: TRANSENDENSI DARAH DAN TULANG

Ruang Keheningan Abadi bergetar hebat saat aura Master Sekte, Mo Wuya, menyelimuti setiap sudut ruangan. Tekanan yang dipancarkannya berada di luar logika Tahap Transformasi Jiwa; ia telah menyentuh batas Tahap Kedewaan Semu. Tongkat tulang naga di tangannya mengeluarkan denyut hitam yang menyedot cahaya di sekitarnya, membuat Han Jian merasa seolah-olah ia sedang berdiri di dalam lubang hitam yang haus.

"Han Jian, kau adalah keajaiban," ucap Mo Wuya dengan nada memuja yang memuakkan. "Tanpa dantian, kau telah mengubah tubuhmu menjadi artefak paling berharga di seluruh Dunia Atas. Kau bukan lagi manusia. Kau adalah kunci menuju keabadian yang sempurna."

Han Jian tidak membalas dengan kata-kata. Ia melesat maju, meninggalkan jejak emas di udara. Tombak Pemutus Takdir diayunkan dengan kekuatan yang sanggup membelah gunung, namun Mo Wuya hanya mengangkat satu jari.

BANG!

Ledakan energi terjadi saat ujung tombak Han Jian tertahan oleh perisai transparan di depan jari Mo Wuya. Gelombang kejutnya menghancurkan lantai meteorit di bawah mereka, namun Mo Wuya tidak bergemerik sedikit pun.

"Terlalu kasar, terlalu mentah," ejek Mo Wuya. Ia menghentakkan tongkatnya ke lantai. "Seni Dewa Tulang: Penjara Ribuan Tulang Mati!"

Dari lantai yang retak, ribuan tangan kerangka yang terbuat dari energi hitam mencuat dan melilit kaki serta tubuh Han Jian. Setiap tangan itu membawa beban ribuan jiwa yang tersiksa, mencoba menarik kesadaran Han Jian ke dalam kegelapan. Han Jian meraung, energi emasnya membakar tangan-tangan itu, namun mereka terus muncul dalam jumlah yang tak terbatas.

"Jian-er... hentikan..." suara parau Han Shuo terdengar di tengah kebisingan pertempuran.

Han Jian menoleh, melihat ayahnya yang masih terpaku di dinding. Darah perak terus menetes dari luka-luka Han Shuo, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh.

"Ayah, bertahanlah! Aku akan menghancurkan tempat ini!" seru Han Jian sambil menghantamkan tinjunya ke tangan-tangan kerangka yang melilitnya.

"Tidak, Jian-er... dengarkan aku," Han Shuo terbatuk darah, namun senyumnya tidak pudar. "Mo Wuya benar tentang satu hal... kau adalah kunci. Tapi dia salah tentang siapa yang memegang kuncinya. Kekuatan Tulang Emasmu belum lengkap. Kau memiliki wadahnya, tapi kau kekurangan 'Jiwa' dari leluhur kita."

Mo Wuya menyipitkan mata. "Han Shuo, tutup mulutmu!" Ia mengarahkan tongkatnya ke arah Han Shuo, berniat menghancurkan jantungnya.

Namun, sebelum serangan itu sampai, Han Shuo melakukan sesuatu yang membuat seluruh penjara berguncang. Tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya perak yang sangat murni, begitu terang hingga kegelapan di ruangan itu tersapu bersih.

"Seni Terlarang: Transmutasi Esensi Jiwa!"

"Ayah! Apa yang kau lakukan?!" Han Jian berteriak ngeri saat melihat tubuh ayahnya mulai melumer menjadi untaian cahaya perak yang mengalir deras menuju dirinya.

"Jian-er... selama sepuluh tahun ini, aku tidak hanya bertahan hidup dari siksaan," suara Han Shuo bergema langsung di dalam jiwa Han Jian. "Aku memurnikan sisa-sisa esensi Tulang Purba di dalam sumsumku, menunggumu datang. Ambillah ini... jadilah pedang yang akan menebas tirai kebohongan dunia ini. Jangan menangis... karena mulai sekarang, aku akan selalu ada di dalam setiap jengkal tulangmu."

WUUUUUSSSHHH!

Cahaya perak itu menabrak Han Jian, masuk melalui setiap pori-pori kulitnya dan langsung menuju ke jantung sumsum tulangnya.

"TIDAK! ITU MILIKKU!" Mo Wuya meraung murka. Ia melompat maju, mencoba memutus aliran esensi tersebut, namun sebuah ledakan energi yang belum pernah terlihat sebelumnya melemparkannya kembali hingga menabrak dinding dimensi penjara.

Han Jian berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh pusaran cahaya emas dan perak yang menyatu. Rasa sakit yang ia rasakan kali ini melampaui apa pun yang pernah ia alami. Rasanya seperti setiap inci tulangnya dihancurkan oleh palu raksasa lalu ditempa kembali dengan api bintang.

Warna emas di tulangnya mulai berubah. Ia tidak lagi kuning mengkilap, melainkan putih transparan dengan urat-urat emas dan perak yang bersinar di dalamnya. Ini adalah Tulang Ilahi Transenden—tingkatan yang bahkan belum pernah dicapai oleh pencipta teknik itu sendiri.

Han Jian membuka matanya. Pupilnya kini tidak lagi memiliki warna; mereka adalah dua lubang cahaya putih yang memancarkan tekanan mutlak.

Ia mengangkat tangannya pelan. Tombak Pemutus Takdir yang tadinya berwarna hitam kini ikut berevolusi, berubah menjadi putih perak dengan aura yang bisa membelah ruang hanya dengan keberadaannya.

"Mo Wuya," suara Han Jian tidak lagi terdengar seperti manusia. Itu adalah suara ribuan leluhur yang berbicara serempak. "Kau ingin melihat kekuatan dewa yang sebenarnya? Aku akan menunjukkannya padamu."

Mo Wuya gemetar. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia merasakan ketakutan yang nyata. Ia memeras seluruh basis kultivasinya, membakar dantian-nya sendiri untuk melepaskan serangan terkuatnya. "Seni Kiamat: Taring Naga Kegelapan!"

Seekor naga raksasa yang terbentuk dari energi kematian melesat ke arah Han Jian, membuka mulutnya untuk menelan pemuda itu.

Han Jian hanya mengambil satu langkah maju. Ia tidak menghindar. Ia hanya melakukan satu tusukan sederhana dengan tombaknya.

SYUUUT—

Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara gemuruh. Yang ada hanyalah sebuah garis putih yang membelah naga kegelapan itu menjadi dua, lalu terus melesat menembus dada Mo Wuya dan menghancurkan dinding penjara di belakangnya hingga menembus ke langit Dunia Atas.

Mo Wuya menatap lubang di dadanya. Tidak ada darah yang keluar, karena serangan itu telah menghapus keberadaannya di tingkat atom. "Bagaimana mungkin... kekuatan tanpa Qi... bisa mencapai tingkat ini..."

Tubuh Master Sekte itu hancur menjadi debu putih, menghilang ditelan angin dimensi.

Han Jian berdiri di dalam reruntuhan Penjara Dasar Langit yang mulai runtuh. Rantai-rantai yang menahan ayahnya kini telah kosong, hanya menyisakan pakaian tua yang tergeletak di lantai. Namun, Han Jian tidak merasa sendirian. Ia bisa merasakan kehangatan yang luar biasa mengalir di dalam sumsum tulangnya.

Ia menengadah ke arah langit Dunia Atas yang kini terlihat jelas melalui lubang yang ia ciptakan. Formasi Sembilan Kematian yang ditakuti dunia telah hancur total hanya dengan satu serangan.

"Ayah... kita pulang," bisik Han Jian.

Di luar penjara, ribuan murid dan tetua sekte terdiam terpaku saat melihat menara hitam legendaris itu meledak dari dalam, dan sesosok pemuda bersinar putih melayang keluar dengan aura yang membuat seluruh benua tunduk.

Era Sekte Tulang Langit telah berakhir. Dan di atas reruntuhannya, seorang Kaisar baru telah lahir—seorang penguasa yang membuktikan bahwa tanpa bejana di perut pun, seseorang bisa menampung seluruh alam semesta di dalam tulangnya.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!