Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam itu Adinda pulang dengan langkah yang tidak lagi sama. Wajahnya sedikit berseri menatap rumah itu. Rumah yang ternyata menyimpan semua rahasia besar.
Pintu terbuka pelan. Suasana di dalam masih hidup. Lampu ruang tamu menyala terang, suara televisi terdengar samar. Dan seperti yang ia duga— mereka ada di sana.
Arya duduk santai di sofa. Luna di sampingnya, tubuhnya sedikit condong, sementara Exel berada di pangkuannya. Suasana hangat itu kembali terlihat. Sama seperti kemarin, Seolah tebakannya tidak pernah ada yang salah.
Adinda melangkah masuk tanpa ragu. Kali ini… ia tidak menghindar.
“Udah pulang?” tanya Arya, nada suaranya ringan.
Adinda menoleh sekilas. Wajahnya datar.
“Iya.”
Ia meletakkan tasnya pelan. Tidak langsung pergi, bahkan tidak merasa terganggu. Ia justru duduk di kursi yang berseberangan.
Arya sempat terdiam sepersekian detik. Karena tidak terbiasa melihat Adinda tidak menghindar seperti ini. Biasanya Adinda akan langsung masuk kamar, berbeda dengan saat ini
Apa wanita itu hatinya sudah melunak, mulai bisa menerima takdirnya yang di madu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru berputar di otaknya.
Luna pun sempat melirik. Senyum di wajahnya sedikit kaku, tapi ia tetap mempertahankan ekspresi ramah.
“Capek ya, Mbak?” tanyanya.
Adinda mengangguk pelan. “Lumayan.”
Lalu Exel bergerak kecil di pangkuan Luna. Anak itu menoleh ke arah Adinda, seperti ingin berinteraksi.
Adinda memperhatikannya, lebih lama. Tatapannya tidak keras, tidak juga lembut. Tapi penuh arti.
“Dia udah bisa makan banyak sekarang,” ucap Luna, seolah ingin mengisi suasana.
Adinda tersenyum tipis. “Iya… kelihatan sehat.”
Kalimat itu sederhana dan cukup membuat Luna sedikit terkejut, ia tidak menyangka jika Adinda akan menanggapi ucapannya dengan baik.
Arya mengamati tanpa sadar. Ada sesuatu yang berbeda. Tapi ia belum bisa menjelaskan apa.
Lalu Adinda bangkit perlahan.
“Aku ke kamar dulu,” ucapnya. Tidak menunggu jawaban.
Ia berjalan pergi. Langkahnya tetap tenang.
Tapi di dalam dirinya— pikirannya bekerja. Mereka belum tahu. Dan itu... adalah keunggulannya.
Di kamar, pintu tertutup pelan Adinda berdiri diam beberapa detik. Lalu berjalan ke meja. Tangannya meraih ponsel dan langsung menekan nomor Naya.
“Sudah sampai?” suara Naya terdengar cepat.
“Sudah.”
“Gimana?”
Adinda duduk di tepi ranjang. “Mereka… biasa saja.”
“Bagus,” sahut Naya. “Berarti mereka belum sadar.”
Adinda mengangguk pelan.
“Aku tadi duduk sama mereka,” lanjutnya.
“Dan?”
“Gak ada yang berubah… tapi justru itu yang aneh.”
Naya terdiam sejenak. “Itu artinya mereka merasa aman.”
Adinda menarik napas dalam. “Dan aku akan manfaatin itu.”
Nada suaranya kini berubah terdengar lebih dingin dan pasti Naya yang mendengar ha tersenyum kecil di seberang.
“Itu yang aku tunggu.”
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi datang tanpa banyak suara. Adinda sudah duduk di meja makan saat langkah kaki mulai terdengar dari arah tangga. Secangkir teh hangat di depannya masih utuh. Uapnya perlahan menghilang, sama seperti sisa-sisa kegelisahan yang tadi malam sempat mengganggu pikirannya.
Ia tidak terburu-buru. Justru hari ini, ia memilih memperlambat segalanya.
Luna muncul lebih dulu, menggendong Exel. Wajahnya terlihat segar, senyumnya ringan seperti biasa. Ia sempat berhenti ketika melihat Adinda sudah ada di sana.
“Oh… pagi,” ucapnya sedikit terkejut.
“Pagi.”
Jawaban Adinda pendek, tapi tidak dingin. Ia bahkan sempat melirik anak di gendongan Luna.
“Udah sarapan?” tanya Luna, basa-basi yang terasa terlalu rapi.
“Belum. Lagi nunggu.”
Tidak ada yang aneh dari kalimat itu. Tapi entah kenapa, Luna tidak langsung duduk. Seolah sedang menimbang sesuatu.
Tak lama, Arya turun menyusul. Rambutnya masih sedikit basah, kemeja belum sepenuhnya rapi. Ia berhenti ketika melihat keduanya sudah di meja makan.
“Tumben lengkap,” gumamnya.
Adinda tidak menanggapi. Ia hanya meraih sendok, mulai mengambil sedikit makanan ke piringnya.
“Mas, nanti siang jangan lupa kontrol Exel ya,” ujar Luna santai.
Arya mengangguk. “Iya, sekalian aku jemput kamu.”
Percakapan itu mengalir tanpa hambatan. Tidak ada ruang yang terasa canggung—setidaknya bagi mereka berdua.
Adinda tetap makan pelan. Ia tidak ikut masuk dalam alur itu, tapi juga tidak menjauh. Sampai satu kalimat terlontar, dari mulut Luna.
“Anak kecil emang butuh perhatian lebih,” ucap Luna, masih dengan nada ringan. “Apalagi di usia begini.”
Sendok di tangan Adinda berhenti sebentar. Bukan karena tersinggung. Lebih seperti… mencatat. Ia melanjutkan makannya tanpa ekspresi.
“Kalau kamu ada perlu keluar hari ini, bilang aja,” ujar Arya tiba-tiba, menoleh ke arahnya. “Biar aku atur jadwal.”
Adinda mengangkat wajahnya sedikit. “Aku ada urusan sebentar nanti sore.”
Arya mengangguk. “Perlu diantar?”
“Gak usah.” Jawaban itu langsung menutup kemungkinan lain.
Tidak lama setelah itu, Adinda berdiri. Ia membawa piringnya ke dapur, membilasnya sebentar sebelum meletakkannya di rak.
Langkahnya tidak tergesa. Ia tahu… setiap gerakan kecil sekarang bisa berarti sesuatu.
☘️☘️☘️☘️
Di ruang tengah, Sintia berdiri dengan ponsel di tangan. Layarnya mati, tapi genggamannya tidak longgar. Sejak tadi ia memperhatikan dari jauh—tidak mencolok, tapi cukup untuk menangkap perubahan.
Adinda yang sekarang… tidak seperti biasanya, perempuan itu terlalu tenang dan seolah menerima dengan sangat cepat, dan hal itu tidak membuat wanita paruh baya itu percaya begitu saja.
Ia berbalik, berjalan ke arah balkon. Begitu pintu tertutup, ia langsung menekan nomor yang sama seperti kemarin.
Tidak butuh waktu lama suara sudah terdengar dari seberang sana.
“Ya?”
“Aku lihat dia pagi ini,” ucap Sintia pelan.
“Terus?”
“Dia biasa aja.”
Di seberang, tidak ada jawaban langsung.
Sintia menelan ludah. “Tapi… ada yang beda.”
“Kamu baru sadar?”
Nada itu tipis, tapi cukup untuk menekan.
Sintia menahan napasnya. “Dia gak reaktif. Gak nanya. Gak kelihatan bingung.”
“Justru itu masalahnya.”
Kalimat itu datang tanpa jeda. “Orang yang gak tahu… pasti cari tahu. Tapi kalau dia diam…”
Sintia menutup matanya sejenak.
“…berarti dia lagi menyusun sesuatu.”
Jari-jari Shintia mulai dingin. “Aku harus gimana?” tanyanya, lebih pelan.
“Dekati dia. Jangan kasih ruang.”
“Habis itu?”
“Cari tahu… dia sudah sampai mana.”
Panggilan terputus tanpa penutup.
Sintia berdiri diam beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak sepenuhnya memegang kendali.
☘️☘️☘️☘️☘️
Siang menjelang sore. Adinda keluar rumah tanpa banyak suara. Ia tidak berpamitan panjang, hanya menyebutkan bahwa ia ada urusan.
Arya tidak menahan. Luna pun tidak bertanya.
Sementara Sintia hanya memperhatikan dari jauh.
Mobil melaju pelan keluar dari halaman. Baru setelah itu, napas Adinda berubah sedikit lebih lega. Tatapannya lurus ke arah jalanan yang mulai dipadati lalu lintas.
Naya sudah menunggu di titik yang mereka sepakati. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk tanpa banyak bicara.
“Pagi tadi gimana?” tanya Naya.
“Normal,” jawab Adinda singkat.
Naya menoleh. “Normal yang… terlalu normal?”
Adinda mengangguk tipis. “Mereka belum bergerak,” lanjutnya. “Tapi bukan berarti aman.”
Mobil mulai melaju kembali. Jalanan sore itu cukup ramai, tapi pembicaraan di dalam mobil justru terasa lebih terarah.
“Kita langsung ke kantor lama?” tanya Naya.
“Iya.”
Adinda menatap ke depan. Bangunan itu masih jelas di ingatannya. Bukan karena sering datang, tapi karena tempat itu selalu disebut oleh ayahnya dengan nada yang berbeda.
Penuh kepercayaan.
Mobil terhenti tepat di halaman gedung. Bangunan itu tidak berubah banyak. Catnya mungkin sudah sedikit pudar, tapi strukturnya masih kokoh. Lampu di beberapa ruangan sudah menyala ketika mereka sampai.
Adinda tidak ragu melangkah masuk. Seorang petugas sempat menghentikan, tapi setelah mendengar nama yang disebut, ia langsung mengangguk dan memberi jalan.
Pak Arbani sudah menunggu.
Ia berdiri di dekat meja, tangannya bertumpu ringan, seolah sudah memperkirakan kedatangan ini.
“Kamu cepat,” ucapnya.
“Banyak yang harus dikejar,” jawab Adinda. Nada suaranya tidak tinggi, tapi jelas.
Pak Arbani memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya duduk.
“Kamu sudah siap dengar yang lebih berat?”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, duduk dengan posisi tegak.
“Sejak kemarin… saya sudah siap.”
Pak Arbani mengangguk pelan. Ia membuka laci, mengeluarkan satu map lain—lebih tipis dari sebelumnya.
“Ini bukan soal harta,” ucapnya.
Tangannya mendorong map itu ke arah Adinda.
“Ini soal kenapa kamu harus dijauhkan dari semuanya.”
Adinda tidak langsung menyentuhnya.
“Buka," kata Pak Arbani.
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menarik map itu, membukanya perlahan. Beberapa lembar dokumen. Foto. Dan satu lembar kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ayahnya.
Adinda berhenti di sana. Tidak membaca langsung. Hanya menatap. Seolah sedang memastikan… ia benar-benar siap.
Di seberangnya, Naya tidak menyela. Dan Pak Arbani tidak terburu-buru. Karena mereka tahu— apa yang ada di dalam map itu… bisa mengubah segalanya.
Bersambung ....