[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pembantu untuk Istana
Olyvia berdiri di balkon kamar utamanya, menatap halaman belakang istana yang luas. Kolam renang infinity berkilau, taman tropis tertata rapi, dan... daun-daun kering mulai menumpuk di sudut pagar. Seminggu ini ia terlalu sibuk dengan proyek AI-nya sampai lupa bahwa ia tinggal sendirian di rumah seluas dua ribu meter persegi.
Gila. Gue cuma sendiri. Rumah segede ini. Mana bisa gue bersihin sendiri. Sapu halaman aja bisa bikin gue pingsan.
Ia berbalik dan berjalan menyusuri koridor menuju dapur. Lantai marmer yang biasanya mengilap mulai terlihat jejak-jejak samar. Debu tipis menempel di meja konsol. Di dapur, wastafel penuh dengan piring dan gelas kotor. Olyvia bukan tipe orang yang jorok, tapi seminggu begadang mengerjakan kode membuatnya tidak punya tenaga untuk sekadar mencuci piring.
Oke. Ini gak bisa dibiarin. Bulan depan temen-temen dari China datang. Masa mereka datang ke rumah yang kayak kapal pecah.
Ia meraih ponsel dan mulai mencari. "Agen ART Surabaya terpercaya." Beberapa hasil muncul. Ia memilih satu dengan rating tertinggi dan langsung menghubungi nomor yang tertera.
Agen ART "Berkah Selalu"
Olyvia tiba di kantor agen yang terletak di ruko sederhana di pinggiran Surabaya. Seorang wanita paruh baya bernama Bu Yanti menyambutnya dengan ramah.
"Selamat siang, Mbak. Mau cari ART untuk kebutuhan rumah tangga?"
Olyvia mengangguk. "Iya, Bu. Saya butuh beberapa orang. Rumah saya lumayan besar. Saya sendiri yang tinggal."
Bu Yanti tersenyum dan mengeluarkan sebuah map berisi profil para pencari kerja. "Kebetulan kami punya banyak tenaga baru. Mbak bisa lihat-lihat dulu."
Olyvia membuka map itu dan membaca satu per satu. Kebanyakan adalah ibu-ibu rumah tangga yang butuh penghasilan tambahan. Ada yang berpengalaman sebagai pembantu, ada yang pernah jadi juru masak, ada juga yang terbiasa merawat taman.
Setelah beberapa saat, ia menunjuk lima profil. "Saya mau yang ini. Ibu Sri, Ibu Ratih, Ibu Dewi untuk bersih-bersih dan masak. Terus Pak Slamet sama Pak Dedi untuk kebun."
Bu Yanti mengangguk. "Pilihan bagus, Mbak. Ibu Sri itu paling senior. Dia sudah puluhan tahun kerja sebagai kepala rumah tangga. Masakannya juga enak."
Olyvia tersenyum. "Pas. Saya memang butuh yang bisa masak. Saya jarang pesan makanan dari luar."
Bu Yanti lalu menjelaskan soal gaji. "Untuk Ibu Sri, karena dia kepala dan lebih berpengalaman, biasanya Rp500 per bulan. Yang lain Rp250 per bulan. Itu sudah termasuk makan dan kamar di tempat kerja. Jadi gaji bersih untuk mereka."
Olyvia nyaris tersedak. Rp500 per bulan. Di dunia normal itu lima juta. Di dunia gue sekarang? Cuma cukup buat beli gorengan sepiring. Tapi ia mengangguk setuju. "Baik, Bu. Saya setuju. Kapan mereka bisa mulai?"
"Besok pagi bisa, Mbak. Nanti saya antar langsung ke alamat."
Olyvia memberikan alamat istananya. Bu Yanti membaca alamat itu dan matanya membelalak. "Royal Garden Estate? The Palace Residence?"
"Iya, Bu. Ada masalah?"
Bu Yanti menggeleng cepat. "Ti-tidak, Mbak. Cuma... agak kaget. Biasanya yang tinggal di sana itu orang-orang kaya besar."
Olyvia tersenyum tipis. Gue orang kaya besar, Bu. Cuma gak keliatan aja.
Besok Pagi - Istana Olyvia
Lima orang berdiri di depan pintu utama dengan tas koper masing-masing. Bu Yanti memperkenalkan mereka satu per satu.
Bu Sri, wanita paruh baya berusia lima puluhan dengan wajah teduh dan senyum ramah. Rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi bersih.
Bu Ratih, lebih muda, sekitar empat puluhan, bertubuh agak gemuk dengan pipi merah. Ia terlihat cekatan.
Bu Dewi, yang paling muda di antara para ibu, berusia tiga puluhan, berkacamata, dan tampak pendiam.
Pak Slamet, pria tua kurus dengan topi caping di tangan. Kulitnya gelap terbakar matahari, pertanda ia terbiasa bekerja di luar ruangan.
Pak Dedi, lebih muda, berotot, dengan senyum lebar yang ramah.
Olyvia menyambut mereka di ruang tamu. Lampu kristal di atasnya berkilauan, membuat kelimanya mendongak kagum.
"Selamat datang. Mulai hari ini, kalian kerja di sini. Saya Olyvia. Panggil saya Mbak Oly aja."
Bu Sri menunduk sopan. "Terima kasih, Mbak Oly. Kami akan bekerja dengan baik."
Olyvia menjelaskan tugas masing-masing. Bu Sri sebagai kepala rumah tangga, mengatur semua pekerjaan, memasak, dan mengantar makanan untuk Olyvia. Bu Ratih dan Bu Dewi membersihkan seluruh rumah kecuali kamar utama Olyvia. Pak Slamet dan Pak Dedi mengurus taman, kolam renang, dan kebersihan halaman.
"Kalian tinggal di kamar karyawan di belakang. Ada tiga kamar di sana. Bu Sri sendiri, Bu Ratih sama Bu Dewi sekamar, Pak Slamet sama Pak Dedi sekamar. Kamar mandinya ada dua. Kalian bisa pakai."
Bu Sri mengangguk. "Baik, Mbak."
Olyvia melanjutkan dengan nada lebih serius. "Ada satu aturan penting. Kamar utama saya tidak boleh dimasuki siapa pun. Hanya Bu Sri yang boleh masuk, itupun hanya untuk mengantar makanan atau minuman. Di dalam kamar itu banyak catatan dan data penting untuk pekerjaan saya. Saya tidak mau ada yang menyentuh atau memindahkan apa pun."
Bu Sri menunduk lagi. "Siap, Mbak. Saya pastikan tidak ada yang masuk selain saya."
Olyvia tersenyum. "Bagus. Sekarang kalian bisa istirahat dulu. Nanti siang Bu Sri bisa mulai masak. Saya kangen masakan rumahan."
Malam Pertama dengan Kopi Bu Sri
Olyvia duduk di meja kerjanya, jemarinya menari di atas keyboard. Layar laptop menampilkan baris-baris kode yang rumit. Modul deep learning untuk analisis suara batuk hampir selesai. Tinggal beberapa penyesuaian lagi.
Gue bisa selesaiin ini dalam dua minggu. Lebih cepet dari target. Tinggal uji coba sama data asli.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Suara Bu Sri terdengar dari balik pintu. "Mbak Oly, saya bawakan kopi."
"Masuk, Bu."
Bu Sri masuk dengan nampan kecil berisi secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng hangat. Aromanya langsung memenuhi ruangan. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela, jauh dari tumpukan kertas dan laptop Olyvia.
"Mbak Oly, ini kopinya. Sama pisang goreng buat teman begadang."
Olyvia tersenyum lelah. "Makasih, Bu. Ibu tau aja aku butuh kafein."
Bu Sri tersenyum. "Saya lihat lampu kamar Mbak selalu nyala sampai subuh. Pasti kerja keras. Saya cuma bisa bantu bawakan kopi biar Mbak gak tumbang."
Olyvia menyeruput kopinya. Rasanya pas. Pahit, tapi ada sedikit manis. "Kopi Ibu enak. Pas banget."
Bu Sri tersipu. "Alhamdulillah kalau Mbak suka. Saya dulu sering buatkan kopi buat almarhum suami saya. Beliau juga suka begadang."
Olyvia menatap Bu Sri. Ada kesedihan halus di mata wanita itu. "Suami Ibu sudah meninggal?"
Bu Sri mengangguk. "Sudah lima tahun, Mbak. Kena sakit paru-paru. Makanya saya harus kerja. Anak saya masih kuliah."
Olyvia merasakan hatinya tersentuh. Bu Sri sama kayak Ibu. Perempuan tangguh yang kerja keras buat keluarga. "Anak Ibu kuliah jurusan apa?"
"Teknik Informatika, Mbak. Dia pinter kayak Mbak. Suka ngutak-atik komputer."
Olyvia tersenyum. "Nanti kalau ada waktu, saya bisa bantu dia. Siapa tau bisa magang di tempat saya."
Bu Sri terbelalak. "Beneran, Mbak? Aduh, terima kasih banyak. Saya gak tau harus bilang apa."
"Udah, Bu. Itu nanti aja. Sekarang Ibu istirahat dulu. Saya masih mau lanjutin kerjaan."
Bu Sri mengangguk dan keluar dengan langkah ringan. Olyvia menatap pintu yang tertutup, lalu kembali menatap layar laptopnya.
Gue punya pembantu sekarang. Rumah gue bersih, makanan gue enak, taman gue rapi. Dan gue bisa fokus ngerjain proyek tanpa mikirin cucian piring numpuk. Enak juga jadi orang kaya.
Ia menyeruput kopinya lagi dan melanjutkan menulis kode. Malam semakin larut, tapi semangatnya tidak padam.
Seminggu Kemudian - Rutinitas Baru
Hari-hari Olyvia kini memiliki ritme yang nyaman. Pagi hari, ia bangun dan mendapati meja makan sudah tertata rapi dengan sarapan hangat. Bu Sri selalu menyiapkan bubur ayam atau nasi goreng dengan teh manis hangat.
Setelah sarapan, ia langsung masuk ke kamar kerja dan mengunci diri. Bu Ratih dan Bu Dewi membersihkan seluruh rumah dengan cekatan. Suara vacuum cleaner sesekali terdengar, tapi tidak terlalu mengganggu karena kamar Olyvia kedap suara.
Pak Slamet dan Pak Dedi sibuk di taman. Daun-daun kering yang dulu menumpuk kini lenyap. Tanaman hias dipangkas rapi. Kolam renang dibersihkan setiap pagi sehingga airnya selalu jernih kebiruan.
Siang hari, Bu Sri mengantar makan siang ke kamar. Biasanya menu sederhana tapi lezat: sop buntut, ayam bakar, atau ikan goreng dengan sambal terasi. Olyvia makan sambil membaca jurnal AI, lalu kembali bekerja.
Malam harinya, kopi Bu Sri selalu datang tepat waktu. Kadang disertai camilan seperti pisang goreng, tahu isi, atau lemper. Olyvia yang dulunya sering lupa makan sekarang justru selalu kenyang.
Gue bisa gemuk kalo terus-terusan kayak gini. Tapi gakpapa. nanti bisa gym kok, santai aja.
Di sela-sela pekerjaannya, ia sesekali memeriksa ponsel. Grup WeChat dengan teman-teman Chinanya ramai dengan diskusi rencana kunjungan. Liu Meixiang mengirim foto tiket pesawat. Sun Xiaowen mengirim daftar tempat wisata yang ingin dikunjungi. Zhang Wei bercanda soal ingin mencoba semua makanan pedas di Surabaya.
Dan Xiao Han... ia hanya mengirim satu pesan singkat di grup.
Xiao Han: Wo hen qi dai jian dao ni, Olyvia. (Aku sangat menantikan bertemu denganmu, Olyvia.)
Olyvia membaca pesan itu berulang kali. Dia selalu bilang begitu. Tapi kenapa rasanya beda?
Ia menggelengkan kepala dan kembali fokus ke layar laptop. Proyek AI-nya sudah memasuki tahap akhir. Sebentar lagi ia bisa mengujinya dengan data asli.
Fokus, Oly. Jangan baper sama cowok lagi. Ingat Arjuna. Ingat betapa bodohnya lo dulu.
Tapi entah kenapa, bayangan Xiao Han dengan mata teduhnya sulit dihapus dari pikirannya.