Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup Itu
Sosok itu melangkah perlahan di dalam paviliun yang gelap, setiap langkahnya nyaris tak bersuara. Senyum menyeringai tergambar jelas di wajahnya, seolah ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi. Tatapannya liar, dipenuhi ambisi dan nafsu yang disembunyikan terlalu lama.
Ia semakin mendekat ke arah ranjang, tempat Natalia terbaring tenang. Cahaya bulan yang masuk dari jendela menyinari wajah wanita itu, membuat kecantikannya tampak semakin memikat. Kulitnya yang halus dan ekspresi damainya justru membuat pria itu semakin tergoda.
“Cantik sekali,” gumamnya lirih, hampir seperti desahan. Matanya menyapu setiap lekuk wajah Natalia dengan rakus. Tangannya bergerak perlahan, namun belum menyentuh.
Tiba-tiba, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Bubuk halus berwarna pucat itu ditebarkan perlahan ke arah Natalia, sementara tangan satunya menutup hidungnya sendiri. Gerakannya cepat dan terlatih, memastikan ia tidak menghirup sedikit pun.
“Tidurlah lebih nyenyak,” bisiknya pelan. Setelah beberapa saat, ia mengamati reaksi Natalia dan merasa puas saat wanita itu tampak tetap terbaring tanpa bergerak.
Pria itu pun berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan. Kini jelas terlihat wajahnya yaitu Andra, kakak dari Andrian. Tatapannya dipenuhi kepuasan saat memandang adik iparnya yang tak berdaya di hadapannya.
“Bodoh sekali Andrian itu,” gumam Andra pelan sambil berjalan mendekat. “Punya istri secantik ini justru disia-siakan.”
Ia tertawa kecil, suaranya pelan namun sarat ejekan. “Seandainya aku yang memilikinya tentu aku akan sangat bahagia.”
Perasaan itu bukan hal baru bagi Andra. Sejak pertama kali Natalia masuk ke keluarga Li, hatinya sudah dipenuhi iri dan amarah. Baginya, Andrian tidak pantas mendapatkan wanita seperti itu.
“Andrian selalu mendapatkan segalanya bahkan jabatan yang bagus,” lanjutnya lirih. “Dan dia bahkan tidak tahu cara menghargainya.”
Langkahnya semakin mendekat ke ranjang. Matanya menatap Natalia dengan penuh keinginan yang kini tak lagi ia sembunyikan. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, seolah tak sabar menyentuh wanita itu.
Tangannya perlahan terulur, mencoba menyentuh pipi Natalia. Namun, tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh kulit halus itu, sesuatu terjadi.
Grep!
Tangan Andra tiba-tiba dicengkeram kuat. Natalia membuka matanya, tatapannya dingin dan tajam seperti es yang membeku. Tidak ada sedikit pun tanda kantuk di sana.
“Apa yang kau lakukan?” suara Natalia aangat dingin dan penuh tekanan.
Natalia sebenarnya tidak tidur. Dan kenapa ia tak terpengaruh obat tidur itu, karena tubuhnya kenal terhadap racun.
Andra terdiam sesaat, namun bukannya takut karena ketahuan, eh ia justru tersenyum semakin lebar. Tatapannya berubah semakin berani, bahkan terang-terangan.
“Adik ipar,” ucapnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. “Aku tahu, setiap malam kau membutuhkan seorang pria di sisimu.”
Natalia menatapnya dengan jijik, namun Andra terus berbicara tanpa rasa malu. “Tenang saja, aku akan memberikan semua yang tidak diberikan oleh Andrian, suamimu yang bodoh itu.”
Raut wajah Natalia langsung berubah. Ia mendorong tangan Andra dengan kasar, ekspresinya dipenuhi kemarahan. “Kurang ajar! Keluar sekarang juga!”
Andra tidak mundur. Ia malah melangkah lebih dekat, senyumnya semakin menjijikkan. “Natalia sayang, kau tidak perlu jual mahal.”
“Aku tahu kau tersiksa,” lanjutnya pelan. “Selama lima tahun ini, Andrian tidak pernah memberimu hak sebagai istri. Kau tidak perlu berpura-pura lagi.”
Natalia mengepalkan tangannya, amarahnya semakin memuncak. Ia meludah ke arah samping, wajahnya penuh penghinaan. “Cih … melihat wajahmu saja aku sudah jijik. Kalian sekeluarga benar-benar menjijikan.”
Senyum Andra langsung memudar, digantikan ekspresi tersinggung. Matanya menyipit tajam. “Dasar jalang! Tak perlu sok suci!”
“Pergi dari sini sebelum aku mematahkan tanganmu,” balas Natalia dingin, suaranya penuh ancaman.
Andra justru tertawa kecil. Ia melangkah maju tanpa ragu. “Sepertinya wanita sepertimu memang tidak bisa diperlakukan lembut.”
“Baiklah,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan lagi. “Aku akan bermain kasar.”
Tapi saat tangannya kembali mencoba menyentuh Natalia, wanita itu bergerak lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan Andra dengan kekuatan yang mengejutkam lalu memutarnya.
Krak!
Suara tulang patah terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
“Arrrrgghh!” jerit Andra keras, wajahnya langsung pucat karena rasa sakit yang luar biasa. Ia terhuyung mundur, memegangi tangan kanannya yang kini terkulai tak wajar.
Namun amarah dan nafsunya membuatnya kehilangan akal sehat. Dengan wajah penuh amarah, ia kembali menyerang Natalia dengan tangan kirinya.
“Kau berani—” teriaknya marah.
Natalia berdiri dengan tenang, matanya tetap dingin tanpa emosi. Ia menghindar dengan mudah, lalu menatap Andra dengan tatapan mematikan.
“Aku sudah memberimu kesempatan,” ucapnya pelan namun tegas. “Tapi kau memilih menantangku.”
*
Malam yang seharusnya tenang mendadak berubah kacau di kediaman keluarga Li. Beberapa prajurit berlari tergesa, suara langkah kaki mereka memecah kesunyian. “Tuan, Nyonya! Ada keributan di paviliun mawar!” seru salah satu prajurit dengan napas terengah.
Satu per satu anggota keluarga Li keluar dari kamar mereka dengan wajah bingung dan kesal. Li Anna tampak paling depan, jubahnya belum rapi, rambutnya sedikit berantakan. Di belakangnya, suaminya ikut berjalan sambil menggosok mata yang masih berat.
Andrian muncul tak lama kemudian bersama Lilith yang memegang lengannya erat. Karina berjalan sambil menguap lebar tanpa menutupi mulutnya, sementara Lusi terlihat merapikan jubahnya.
Mereka semua berkumpul di tengah halaman utama yang kini dipenuhi cahaya obor. Wajah-wajah penuh tanya saling berpandangan, suasana menjadi tegang tanpa ada yang benar-benar memahami apa yang terjadi.
“Ada apa ini, Bu?” tanya Andrian dengan kening berkerut, menatap Li Anna. Suaranya terdengar tegas, namun terselip kegelisahan yang tak ia sadari.
“Benar, kenapa ribut sekali?” sahut Karina dengan nada kesal. Ia kembali menguap, jelas terganggu dari tidurnya. “Mengganggu waktu tidur kami saja.”
Li Anna mendengus pelan, jelas tidak menyukai situasi ini. Ia melirik prajurit yang berdiri di depan mereka dengan wajah ketakutan. “Ibu juga tidak tahu. Prajurit hanya bilang ada keributan,” jawabnya sekenanya.
Lusi mulai terlihat gelisah. Ia melangkah sedikit ke depan, matanya menatap ke arah paviliun mawar dengan perasaan tidak enak. “Keributan di paviliun Natalia?” gumamnya pelan.
Andrian hendak membuka mulutnya lagi, mungkin ingin memerintahkan sesuatu atau memastikan keadaan. Namun sebelum satu kata pun keluar, suara keras tiba-tiba mengguncang udara.
Brak!
Suara ledakan keras terdengar dari arah paviliun mawar. Kayu-kayu pecah berhamburan, debu beterbangan ke udara. Semua orang refleks menoleh, mata mereka membelalak kaget.
Seketika, sesosok tubuh terhempas keluar dari dalam paviliun yang hancur. Tubuh itu meluncur di tanah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan keluarga Li, menciptakan suara benturan yang keras.
“A–apa itu?” bisik Karina dengan suara gemetar, wajahnya langsung pucat.
Debu perlahan menghilang, memperlihatkan sosok yang tergeletak di tanah. Orang itu terduduk dengan susah payah, tangannya memegangi perutnya, wajahnya meringis kesakitan.
Lusi menatap lebih dekat, lalu matanya langsung melebar. “Suamiku?” suaranya bergetar, nyaris tak percaya.
“Ka … Kak Andra?” Andrian juga terkejut, langkahnya spontan maju satu langkah. Wajahnya berubah drastis saat melihat kondisi kakaknya yang mengenaskan.
Andra terbatuk keras, darah samar terlihat di sudut bibirnya. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang menjalar.
“Apa yang terjadi?” bentak Li Anna panik, matanya penuh keterkejutan melihat putra sulungnya.
“Itu akibatnya jika lancang masuk ke kamarku!”
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah