Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Meski dari jarak yang lumayan jauh, Ojan terus memantau Nisa. Ia seperti melihat ketegangan saat Nisa bertemu dengan adiknya, cewek yang waktu itu memesan ojek, cewek yang ia masih ingat wajahnya sampai sekarang. Melihat Nisa meninggalkan venue dengan sedikit tergesa, perasaannya tidak enak. Ia putuskan, menyusulnya keluar dengan sedikit tergesa-gesa, takut kehilangan jejak.
Langkah kaki Ojan terhenti, ia melihat gadis yang ia cari, berjongkok tak jauh dari lift, dengan wajah terbenam diantara kedua lutut, dan bahu berguncang. Gadis itu menangis, ia yakin itu. Seberapa sakit yang ia rasakan, sampai menangis di tempat seperti ini.
"Mbak."
Gadis itu mendongak, wajahnya basah, matanya sembab. Memanggil lirih dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar.
"Ojan."
Entah apa yang terjadi padanya, tapi sorot matanya menunjukkan sakit yang teramat. Nisa bangkit, lalu memeluknya erat. Tangis gadis itu kembali pecah.
Ojan tak berkata apa-apa, hanya diam sembari mengusap punggung Nisa. Ia biarkan gadis itu menangis untuk beberapa saat di pelukannya, hingga terasa kemeja bagian dadanya sedikit basah.
"Kenapa mereka jahat sama aku, Jan? Apa salahku hingga setega ini mereka padaku?" Suaranya Nisa bergetar dan putus-putus.
"Kadang, orang tidak butuh alasan untuk berbuat jahat. Bukan karena kitanya yang salah, tapi mereka yang memang tak punya hati," sahut Ojan.
Mereka masih terus berpelukan cukup lama, hingga beberapa orang yang kebetulan lewat, melihat. Disini banyak yang mengenalnya, karena yang punya acara masih keluarga, Ojan merasa kurang nyaman.
"Kita keluar yuk," ajak Ojan.
Nisa melepas pelukannya, menatap wajah Ojan.
"Kita keluar ya, nyari udara segar." Menggunakan jarinya, Ojan menyeka kedua pipi Nisa. Ia meraih tangan gadis itu, mengajaknya menuju lift.
Sesampainya di luar, Ojan baru ingat kalau ia tak membawa motor. "Kita...jalan aja ya, nyari angin sekitar sini."
Keduanya melangkah beriringan di trotoar dekat hotel, diterangi lampu jalan aesthetic dan diiringi deru mesin kendaraan. Langit sangat cerah malam ini, berbanding terbalik dengan suasana hati Nisa yang suram. Keduanya terus berjalan tanpa kata, merasakan dinginnya angin malam yang kadang sampai membuat bulu kudu berdiri.
"Itu tadi, adik kamu kan?" Ojan belum faham duduk masalah mereka yang sebenarnya.
"Iya," Nisa tersenyum getir. "Dan laki-laki yang bersamanya tadi," menjeda ucapan untuk mengambil nafas. "Adalah mantan pacarku."
Ojan nge freeze, ia sampai berhenti melangkah, menatap Nisa yang akhirnya ikutan berhenti juga. "I, itu tadi mantan kamu yang baru putus?"
Nisa mengangguk. "Sekarang, dia pacaran dengan adikku." Ia tertawa sekaligus meneteskan air mata.
Ojan meraup wajah dengan kedua telapak tangan, sambil membuang nafas kasar. Sumpah, ini kisah cinta yang tragis sekali.
Nisa lanjut jalan, demikian pun dengan Ojan.
"Kenapa mereka setega ini sama aku, Jan? Padahal aku tulus menyayangi mereka berdua." Nisa kembali menangis sesenggukan. "Sandi bilang, ia ingin pasangan yang setara, tapi kenapa harus adikku?" Jarinya sibuk menyeka air mata yang terus mengalir. "Apa tidak ada perempuan lain di dunia ini selain adikku?"
Ojan menatap Nisa iba. Pantas saja gadis itu sampai segitunya menangis, ternyata memang se menyakitkan itu kisahnya.
"Kamu tahu Jan, aku yang berjuang demi gelar sarjana adikku. Aku yang membayar uang UKT nya setiap semester. Aku rela tak kuliah demi dia bergelar sarjana. Aku, Jan. Aku yang memperjuangkan dia."
Nisa meremat dada, merasakan sakit yang teramat sangat disana. Adik yang ia perjuangan, ia harap bisa mengangkat derajat keluarga, ternyata malah menjadi duri dalam daging dalam kisah cintanya. Gelar sarjana yang dia perjuangkan, hingga rela tidak kuliah, tidak membeli baju bagus dan tas mahal, ternyata malah dijadikan senjata untuk menghancurkannya.
"8 tahun dia pacaran denganku, tapi saat mau menikah, kenapa adikku yang diajak? Aku yang dipacari selama 8 tahun, aku yang berada di sisinya selama ini, mensupport dia, tapi bukan aku yang ia pilih sebagai istri, tapi adikku. Apa gadis lulusan SMA, apa gadis yang hanya bekerja sebagai office girl, begitu memalukan hingga tak layak dijadikan istri?"
Ojan menggeleng kuat, menarik tangan Nisa agar berhenti jalan. "Jangan pernah rendahkan dirimu sendiri. Apa yang barusan kamu katakan, itu gak bener. Kamu itu berharga, kamu layak dicintai, kamu layak, bahkan sangat layak untuk dijadikan istri. Kesalahan kamu hanya 1, Mbak. Kamu terlalu tulus, kamu terlalu baik jadi orang, hingga kamu dimanfaatkan."
Ojan membuang nafas kasar. Sumpah, gedek banget dia dengan dua orang dalam cerita Nisa itu. Ia menyeka air mata di kedua pipi Nisa. "Cukup, jangan tangisi mereka lagi. Mereka itu jahat, Mbak. Mereka gak punya hati. Selama ini kamu sudah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membahagiakan mereka, dan sekarang, jangan lagi buang waktu dan energimu untuk menangisi mereka. Cukup, Mbak. Jangan buang air matamu untuk manusia tak berhati nurani seperti mereka. Mereka gak pantas kamu tangisi"
Ojan meraih kedua tangan Nisa, menggenggamnya. Ia menatap mata yang sembab itu. "Berjanjilah Mbak, ini terakhir kalinya kamu nangisin mereka. Harusnya kamu bersyukur, putus dari laki-laki bajingan seperti itu. Bayangkan jika kalian sampai menikah, terus dia selingkuh dengan adik kamu. Percaya sama aku, pasti rasanya akan jauh lebih sakit. Bersyukur Mbak, kamu diselamatkan dari laki-laki seperti itu. Selalu ada kata selamat, dalam setiap kata selamat tinggal. Allah sudah menyelamatkan kamu, Mbak. Selamat, sudah terbebas dari laki-laki sampah seperti itu."
Nisa mengangguk pelan. Yang Ojan katakan benar, untuk apa ia menangisi orang yang menyakitinya. Ia lanjut berjalan, memperhatikan kendaraan yang lalu lalang, serta beberapa orang yang juga ada di trotoar sepertinya dan Ojan. Bedanya, orang-orang itu terlihat bahagia, beda dengan dirinya.
Ponsel di tas Nisa berdering, saat dia cek benda pipih itu, ada panggilan masuk dari Dinda.
"Nis, kamu dimana?"
"Aku...em...kamu pulang dulu aja Din, gak usah nyari aku."
"Apa maksud kamu ngomong gitu?" Nada suara Dinda terdengar panik. "Nis, jangan nekat. Kamu dimana, aku susul?"
Nisa tersenyum, tahu isi pikiran sahabatnya. Pasti Dinda mikir yang enggak-enggak. "Aku baik-baik saja kok, Din."
"Gak mungkin. Gak mungkin kamu baik-baik saja. Kamu dimana, aku susulin?"
"Gak usah Din, InsyaAllah, aku baik-baik saja."
"Beneran? Kamu gak akan bunuh dirikan?"
Nisa seketika tertawa. "Rugi dong kalau aku mati, Sandi belum bayar utangnya sama aku."
"Hahaha." Keduanya tertawa bersama.
🤣🤣🤣