Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Memujamu melebihi apapun
Dear pembaca, dipahami ya jangan sampai nanti di tengah jalan aku harus mengulang warning ini, karena ngeyelan.
Bukan cerita tentang bagaimana kehidupan pesantren yang kita ambil disini atau sesuatu berbau pro kontra apalagi menyangkutpautkan dengan agama ya guys mohon pahami 🙏🙏 Hanya kisah bergenre umum sebagai intisari cerita.
Welcome di cerita beda usiaku yang selanjutnya. Tema, latar, seting yang aku sertakan atau tuliskan di dalamnya hanyalah fiktif semata dan disesuaikan porsinya sebagai penghidup cerita.
Buka bab awal berarti baca sampai akhir !!!! Happy reading 🤸🤸
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Seperti bulan purnama yang terangnya menjadi pelita bagi musafir malam. Seperti mentari yang sinarnya membuat hangat makhluk di bumi...aku mendambamu......
Dealova Almaheera
...----------------...
Afnan
Gulungan kertas binder yang sengaja dilipat rapi nan manis kini justru kusut nan rusak akibat dire mas dan ia lempar tepat ke kolong meja. Beberapa kali sepucuk surat itu datang mewakili perasaan seseorang dan Afnan hanya menganggapnya dengan tak peduli.
"Cieee! Afnan, terima deh Nan...kasian loh! Lagian orang lain tuh pada ngejar-ngejar Lova, tapi ini malah di tolak..." suara sumbang itu menggema menjadi ramai melebihi ramainya pecahan gelas versi Cinta dan Rangga, sembari memukul-mukul meja dan mencolek-coleknya nakal.
Mendadak namanya naik daun dengan hashtag# cowok tega yang nolak Lova berkali-kali.
Namanya jadi bahan desas-desus, ketika kembali...lembaran merah muda dengan cap bibir sampai di tangannya melalui tangan dan mulut tak bertanggung jawab teman-temannya, hingga kini...
Namanya melejit, wushh!
Bak artis papan penggilesan yang dapet piala Oscar akibat dikagumi dan ditembak oleh seorang Dealova.
Si gadis cantik, terkenal absurd, dan sedikit gila itu. Yang sialnya, banyak teman-teman yang menggilainya.
"Afnan ja--aaat ih..."
"Afnan tega ih..."
"Abang sadis..."
"Terlalu sadis caramu, abang..."
"Kalo gue jadi lo, udah ngga akan pake mikir lagi, Nan. Sambil ngedip aja langsung gue terima cewek sekelas Lova!"
Begitulah godaan teman-temannya yang bikin sekolah riuh persis pasar kaget, karenanya.
"Cih, ngga nyerah-nyerah tuh cewek." Dengusnya mengomel tak suka, ia sangat benci Lova. Teramat tak suka, karena Lova.......??? Hanya Afnan dan Tuhan yang tau isi hati pemuda ini.
Lova
Surai hitam nan indah itu bergoyang menyesuaikan gerakan centil, aktif dan atraktif Lova. Ia begitu nervous dengan kali kesekiannya. Meski sudah beberapa kali si ganteng kalem, coklat manis yang unyu-unyu---apalagi waktu nguap plus ngeden itu menolak pernyataan cintanya, Lova tak juga menyerah.
Ia justru semakin tertantang untuk menaklukan pemuda si pemilik suara indah jika sedang melantunkan ayat suci di masjid sekolah.
Jujur saja, lantunan yang dibacakan Afnan lebih indah ketimbang kicauan burung 5 milyar sekalipun. Kali pertama ia mendengar Afnan adzan membantu pak Tarmidzi, kali itulah ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan---nih---bahkan....Lova sampe bela-belain sering solat di masjid sekolah, ngikutin kegiatan forum remaja masjid cuma karena Afnan.
"Kira-kira Afnan bakalan terima ngga ya Al, kali ini?" gugup, takut, khawatir, mules jadi satu. Meski ia optimis namun penolakan yang sudah berkali-kali itu turut andil membuat mentalnya up and down.
Alika menggeleng prihatin pada Lova, bagaimana caranya membuka mata temannya itu, apa mesti... ia colok pake sumpit kah atau linggis? Biar Lova sadar sesadar-sadarnya, kalo usahanya itu sia-sia saja.
*Udahan ya Va, mabuk kecu bungnya, selain Afnan sama Alwi Assegaf cowok ganteng nan soleh masih berserakan kok di bumi*?! Alika dengan bibir melengkungnya merasa iba.
Bahkan Lova rela menurunkan harga dirinya sebagai gadis dengan mengejar-ngejar Afnan yang bahkan sama sekali tak meliriknya, padahal para pemuda lain justru mendamba Lova. Beberapa kali, catat! Sudah beberapa kali Lova ditolak.
Seolah sudah dibutakan, mata Lova tak melihat itu, ia menolak sadar rupanya.
"Va, udah deh...ini yang terakhir ya...kalo sekiranya Afnan ngga ada respon atau dia yang nolak lagi. Udah ya...mending tutup buku aja sama Afnan. Dia emang bukan cowok normal...cewek cantik ditolak berkali-kali begini, kayanya matanya mesti disiram kuah baso..." Masih dengan waktu istirahat yang menurut Alika itu sia-sia...mubazir sebab Lova menggunakannya hanya untuk memuja cowok yang sama sekali tak peduli pada jungkir baliknya Lova.
"Sembarangan. Sayang ahh cowok seperfect Afnannya aku disiram pake kuah baso...disiram cintanya aku, dong Al..." tawa Lova kali ini meledak.
Alika mengetuk kepala Lova, "terserah kamu deh yang udah kelilipan sama cinta! Jangan nanti kamu bundir aja pas Afnan nolak lagi..."
"Va, pokoknya kali ini...kalo sampe Afnan nolak lagi, udah! Selesai ya, cari yang lain aja...liat mang Didi, mang Somat, mang Yayat...mereka bahkan rela nungguin kamu."
Lova tertawa, "paukk, ya jelas mereka nungguin aku, mereka lagi jualan minta kubeli!"
"Serius deh Va...Buka mata kamu, Va ,buka selebar-lebarnya sampe kelopak mata kamu ngga bisa ketutup lagi. Sebaik-baiknya cowok, tetep aja dia manusia...bukan malaikat! Kamu tuh cuma mau pacaran sama manusia, bukan lagi ngejar malaikat. Dia tuh ngga pantes buat kamu kejar lagi! Cowok sombong kaya Afnan!"
Lova terdiam menatap sahabatnya itu yang kini bersorot mata tajam penuh cecaran padanya. Kesal, lama-lama ia telan juga Lova.
"Iya ah. Bawelll..." gadis itu justru mencubit pelan pipi Alika, tak lepas mengurai senyuman hangatnya, "Afnan tuh beda dari yang lain, Ka...dia tuh lebih----" Lova kebingungan menemukan kata yang tepat demi menjabarkan sosok Afnan hingga ia melihat temannya menggenggam thai tea melintas melewati kedua gadis itu.
"Lebih creamy gitu..."
Dugh! Alika mendorong kepala Lova refleks sekaligus meledakan tawanya, "dikira susu!"
/
Hay Nan...assalamu'alaikum..." ia berusaha memasang senyum semanis mungkin kala berpapasan dengan Afnan. Manis memang, tapi pemuda itu seolah mati rasa terhadap cewek cantik nan manis ini.
Ia justru mele nguh jengah dengan putaran bola mata layaknya bumi yang berotasi kemudian ia melengos masuk ke dalam perpustakaan.
"Mau kemana, Nan? Aku temenin ya..." ia segera membelokan kaki mengekori Afnan yang berdiri di depan meja petugas perpustakaan demi menyerahkan buku.
"Bu, ini mau saya kembaliin.." ia tak peduli, sama sekali tak menatap Lova yang segede itu di sampingnya. Oke, Lova no problemo jika Afnan hanya menganggapnya sebesar butiran debu saat ini.
"Oh iya." si ibu masih menyeruput es teh manisnya kala Afnan menyerahkan buku, pahamilah wahai siswa....petugas perpustakaan pun butuh istirahat.
"Uhhh, rajin banget deh Afnan..." lirihnya manis dan gombal, menaruh tumpukan tangan di meja sambil memandang pemuda ini dengan senyum sejuta watt-nya, seolah petugas perpustakaan ia anggap alang-alang.
Afnan sedikit meliriknya malas, tak diundang tak dijemput datang seperti ee cicak yang nemplok begitu saja... petugas perpus cengengesan menahan tawanya agar tak meledak, jadi pengen cubit ginjal Lova deh! Saking gemasnya.
Lova masih memasang senyuman tapi manisnya senyuman itu dianggap senyuman bodoh sepertinya oleh Afnan yang tak sama sekali melirik Lova.
"Mau pinjem lagi, ya Nan? Buku apa? Biar Lova bantu..." kemudian ia menaruh dagunya di atas meja hingga di posisinya itu, ia dapat melihat Afnan dengan puas. Lama-lama juga ntar rebahan di meja!
"Ngga perlu." Ketusnya melangkah masuk lebih dalam pada rak-rak buku yang memajang banyak sekali gudang ilmu itu. Namun ketika Lova hendak melangkah mengikuti, tangannya dijegal seseorang.
"Va, ih! Dari tadi aku cariin malah nyangkut disini! Udah ngantin aja yuk! Ngapain disini, kamu mau nyemilin buku?" ajak Alika berhasil memaksa Lova keluar.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny