"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Pengawasan Tak Kasat Mata
Bus pariwisata yang membawa rombongan mahasiswa arsitektur itu melaju membelah jalanan lintas kota. Alea duduk di dekat jendela, memandangi hamparan sawah yang hijau dengan perasaan ringan. Di tangannya, ia menggenggam kamera Leica pemberian Bima, sesekali memotret pemandangan yang lewat.
"Kau tampak sangat bahagia hari ini, Alea," celetuk Revan yang duduk di sampingnya.
Alea menoleh dan tersenyum lebar. "Aku merasa... bebas, Van. Rasanya menyenangkan bisa pergi tanpa harus berdebat atau merasa diawasi setiap detik."
Revan tersenyum, namun matanya tetap waspada. "Aku masih tidak percaya 'Paman'-mu itu mengizinkanmu pergi begitu saja. Bahkan dia memesankan kamar hotel mewah untukmu. Tidakkah itu terasa... terlalu berlebihan?"
Alea menghela napas, sedikit kesal karena Revan terus-menerus curiga. "Dia hanya ingin memastikan aku nyaman, Revan. Dia sedang berusaha menebus kesalahannya. Cobalah untuk melihat sisi baiknya sekali-kali."
Revan diam, namun dalam hatinya ia tidak pernah menurunkan kewaspadaannya terhadap pria bernama Bima itu.
Malam harinya, rombongan tiba di sebuah hotel boutique bergaya kolonial yang megah di pusat kota tua. Sesuai janji Bima, Alea mendapatkan kamar suite terbaik di lantai paling atas, terpisah dari teman-temannya yang lain yang harus berbagi kamar.
Saat Alea sedang merapikan barang-barangnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bima.
"Sudah sampai? Kamarnya sesuai dengan keinginanmu, little bird?"
Alea tersenyum tanpa sadar. "Sudah, Uncle. Kamarnya sangat cantik. Terima kasih."
"Sama-sama. Istirahatlah, besok jadwalmu padat. Dan... pakailah jaketmu jika keluar malam. Udara di sana cukup dingin."
Alea mengerutkan kening. Bagaimana Bima tahu udara di sini sedang dingin? Ah, mungkin dia melihat ramalan cuaca, pikir Alea mencoba berpikiran positif.
Namun, sesuatu mulai terasa aneh saat rombongan mereka pergi makan malam ke sebuah alun-alun kota. Alea merasa sepasang mata terus mengikutinya. Setiap kali ia berbalik, ia hanya melihat kerumunan turis. Namun, saat ia dan Revan sedang berjalan agak terpisah dari rombongan untuk membeli es krim, sebuah mobil SUV hitam, persis seperti milik Bima, namun dengan plat nomor lokal, terlihat melaju perlahan di belakang mereka.
"Revan, kau merasa ada yang mengikuti kita?" bisik Alea sembari merapatkan jaketnya.
Revan menoleh ke belakang, matanya menyipit. "SUV hitam itu sudah lewat tiga kali sejak kita turun dari bus tadi. Alea, sepertinya kecurigaanku benar."
"Maksudmu?"
"Bima tidak pernah benar-benar membiarkanmu bebas. Dia hanya mengganti tali pengikatnya dengan yang lebih panjang," sahut Revan serius.
Alea mencoba mengabaikan itu. Ia tidak ingin momen bahagianya rusak. Ia kembali tertawa bersama Revan, bahkan Revan sempat merangkul pundak Alea saat mereka hampir tertabrak pengendara motor yang ugal-ugalan. Alea membiarkannya, merasa nyaman dengan perlindungan Revan.
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, Bima duduk di ruang kerjanya yang gelap. Di hadapannya, tiga layar monitor besar menampilkan berbagai data. Salah satu layar menunjukkan titik merah yang bergerak di atas peta, titik lokasi ponsel Alea yang sudah ia tanamkan pelacak tanpa sepengetahuan gadis itu.
Layar lainnya menampilkan foto-foto real-time yang dikirimkan oleh orang suruhannya di lapangan. Bima memperbesar satu foto: foto di mana tangan Revan merangkul pundak Alea di alun-alun.
Rahang Bima mengeras. Tatapannya yang tadi tenang berubah menjadi dingin dan mematikan. Jemarinya mencengkeram gelas wiski hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berani sekali bocah itu menyentuh apa yang menjadi milikku," gumam Bima, suaranya seperti bisikan malaikat maut.
Ia segera melakukan panggilan telepon.
"Lakukan sekarang," perintah Bima singkat. "Beri dia pelajaran yang cukup untuk membuatnya sadar di mana posisinya. Tapi jangan sampai Alea tahu siapa pelakunya. Pastikan itu terlihat seperti... kecelakaan kecil di jalan."
Bima mematikan panggilan itu, lalu menyesap wiskinya perlahan. Matanya kembali menatap layar yang menunjukkan wajah Alea yang sedang tertawa.
"Terbanglah sesukamu, little bird," bisik Bima sembari menyentuh layar monitor, tepat di wajah Alea. "Tapi ingat, setiap inci gerakanmu ada dalam genggamanku. Dan siapa pun yang mencoba mematahkan sayapmu atau memilikimu, akan aku hancurkan tanpa sisa."
Malam itu, di kota yang jauh, Alea sedang tertidur lelap dengan perasaan aman yang semu. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu kamarnya, seorang pria berpakaian hitam sedang berdiri berjaga, dan besok pagi, sebuah "kejutan" pahit sudah menanti Revan.