NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

sementara di kediaman Charles suara gemercik air hujan yang menghantam dinding kaca apartemen menjadi satu-satunya melodi yang menemani keheningan malam ini. Di atas meja kerja, beberapa berkas mengenai kejatuhan Vivian masih terbuka, namun fokusku sudah sepenuhnya beralih. Aku melepaskan kacamata bacaku, memijat pangkal hidung yang terasa kaku setelah berjam-jam menatap layar monitor dan berhadapan dengan kedengkian di ruang rapat dewan direksi.

Aku menoleh ke arah sofa panjang di dekat sudut ruangan. Di sana, Andini duduk meringkuk, memeluk kedua lututnya erat-erat. Gaun biru dongker yang ia kenakan saat makan malam di kediaman Kakek tadi masih melekat di tubuhnya, namun keanggunan yang ia tunjukkan di depan para tetua kini telah digantikan oleh kerapuhan yang teramat sangat. Tatapannya kosong, lurus menembus kaca jendela yang buram oleh embun malam.

Melihatnya seperti itu, dadaku terasa seperti dihantam godam tak kasat mata. Aku, Charles Utama, bisa dengan mudah meruntuhkan ambisi Vivian dalam hitungan menit. Aku bisa mengendalikan pergerakan saham, membungkam media, bahkan membalikkan keadaan hukum dengan jentikan jari. Namun, menghadapi kegundahan di dalam hati gadis ini, aku merasa seperti seorang prajurit yang kehilangan senjatanya. Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hati yang terluka oleh kekejaman dunia orang dewasa.

Aku berdiri, melangkah perlahan agar tidak mengejutkannya, lalu duduk di ruang kosong di sampingnya. Jarak di antara kami menyempit, namun dia tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap tenggelam dalam dunianya sendiri yang penuh dengan kecemasan.

"Andini," panggilku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku, membuang jauh-jauh intonasi otoriter yang biasa kugunakan di duniaku.

Dia tersentak kecil, seolah baru saja ditarik paksa dari sebuah mimpi buruk yang panjang. Ia menoleh perlahan, dan saat matanya bertemu dengan mataku, aku bisa melihat riak ketakutan yang begitu dalam. Tidak ada air mata yang mengalir, namun binar jernih di sepasang manik cokelatnya tampak meredup, tertutup oleh awan kelabu kekhawatiran.

"Charles..." suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. "Apakah ini benar-benar sudah berakhir? Aku melihat berita di internet sebelum kau datang tadi. Mereka bilang... Vivian akan menuntut balik. Mereka bilang hubungan kita akan terus disorot oleh hukum. Aku takut, Charles. Aku takut jika suatu hari nanti, kebenaran yang kita miliki tetap tidak cukup untuk melawan orang-orang yang membenci kita."

Aku tidak langsung menjawab. Aku meraih tangannya yang saling bertautan di atas lutut. Jemarinya begitu dingin, kontras dengan telapak tanganku yang hangat. Aku menggenggamnya, menyatukan jemari kami, mencoba menyalurkan seluruh sisa kekuatan dan ketenangan yang kumiliki ke dalam tubuhnya yang gemetar.

"Dengarkan aku, Andini. Tatap mataku," perintahku, namun kali ini dengan kelembutan yang mutlak.

Ia menurut. Sepasang mata jernih itu kini terfokus padaku.

"Apa yang kau lihat di luar sana, apa yang dikatakan media, dan apa yang direncanakan oleh Vivian... itu semua hanyalah puing-puing dari sebuah ambisi yang hancur. Vivian sedang mencoba menakut-nakutimu karena dia tahu dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi di Utama Group. Dia sudah kehilangan panggungnya, dan sekarang dia hanya mencoba melempar lumpur ke arah kita," ucapku, mencoba memberikan penjelasan yang logis namun menenangkan.

"Tapi bagaimana jika dia berhasil?" bisiknya, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Bagaimana jika hukum menganggap pernikahan ini salah? Aku tidak ingin melihatmu masuk penjara karena mencoba melindungiku. Aku tidak ingin menjadi alasan di balik hancurnya nama baik keluargamu."

Mendengar kalimat itu, aku merasakan kehangatan yang aneh menjalar di hatiku, berbaur dengan rasa sesak yang tak tertahankan. Di tengah ketakutannya yang luar biasa, di tengah runtuhnya dunia remajanya yang damai, hal pertama yang ia khawatirkan bukanlah dirinya sendiri. Ia tidak mengkhawatirkan masa depannya yang terenggut, melainkan keselamatanku dan nama baik keluargaku.

Bagaimana mungkin ada jiwa semurni ini di tengah dunia yang penuh dengan kepura-puraan? Bagaimana mungkin aku pernah menganggap gadis ini sebagai beban?

Aku mengulurkan tangan kiriku, perlahan mengusap air mata yang membasahi pipinya yang halus. Gerakanku begitu hati-hati, seolah-olah jika aku menekan terlalu keras, sosok di depanku ini akan hancur menjadi serpihan kaca.

"Andini, kau sama sekali bukan alasan di balik hancurnya apa pun," kataku dengan penekanan yang tegas pada setiap kata. "Jika ada yang harus disalahkan atas badai ini, itu adalah aku dan duniaku yang penuh dengan keserakahan. Kau adalah korban dari konflik yang tidak pernah kau minta. Namun, kau berdiri di ruang sidang darurat semalam, di depan para penyidik, dengan keberanian yang bahkan tidak dimiliki oleh sebagian besar kolega bisnisku."

Aku mencondongkan tubuhku, mendekatinya hingga ia bisa merasakan embusan napasku. "Bapak Sudarman dan Ibu Narsiah tidak membesarkan seorang penakut. Mereka membesarkan seorang gadis yang memiliki martabat luar biasa. Dan malam ini, aku ingin kau mengingat siapa dirimu. Kau adalah istriku, dan kau memiliki hak penuh untuk merasa aman di rumah ini."

Andini menunduk, menyandarkan keningnya di atas genggaman tangan kami yang bertautan. Bahunya mulai berguncang pelan seiring dengan isak tangis yang akhirnya pecah. Ia tidak lagi menahannya. Seluruh rasa gundah, rasa rindu pada orang tuanya, dan rasa lelah karena terus-menerus dihakimi oleh dunia, tumpah malam ini di sampingku.

Aku tidak menghentikannya. Aku justru menarik tubuhnya mendekat, membawanya ke dalam pelukanku. Aku membiarkan kepalanya bersandar di dadaku, tepat di atas jantungku yang berdetak dengan ritme yang konstan. Aku melingkarkan lenganku di tubuh kecilnya, memberikan perlindungan fisik yang paling nyata yang bisa kuberikan.

"Menangislah," bisikku sambil mengusap rambut panjangnya yang halus. "Keluarkan semua beban itu, Andini. Kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku. Di ruangan ini, kau tidak perlu menghadapi dewan direksi, tidak perlu menghadapi polisi, dan tidak perlu memikirkan sekolahmu yang dulu. Di sini, kau aman."

Di dalam keheningan malam yang dipecah oleh suara tangisnya, aku bersumpah di dalam hati. Aku tidak akan pernah membiarkan Vivian atau siapa pun menyentuh ketenangan gadis ini lagi. Jika dunia hukum ingin bermain kotor, maka aku akan menjadi lebih kejam dari mereka. Jika publik ingin terus menatap dengan pandangan beracun, maka aku akan membangun dinding yang cukup tinggi untuk menghalangi pandangan mereka dari Andini.

Perlahan, tangis Andini mulai mereda. Isakannya berubah menjadi tarikan napas yang teratur. Ia tidak melepaskan pelukanku; sebaliknya, ia justru mencengkeram kemejaku dengan tangan kecilnya, seolah-olah aku adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dibawa arus badai di luar sana.

"Charles..." panggilnya pelan, suaranya parau namun terdengar jauh lebih tenang.

"Ya?"

"Terima kasih karena tidak pernah melepaskan tanganku," lirihnya sambil mendongak, menatapku dengan mata yang bengkak namun kembali memancarkan kejernihan yang kukenal.

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini mengalir begitu alami tanpa perlu kupaksa. Aku mengecup puncak kepalanya dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.

"Aku tidak akan pernah melepaskannya, Andini. Sampai badai ini berlalu, dan sampai kita menemukan langit yang cerah bersama-sama. Sekarang, beristirahatlah. Esok hari adalah lembaran baru, dan aku pastikan lembaran itu akan ditulis dengan cerita yang jauh lebih indah."

Malam itu, di bawah perlindungan dinding apartemen kami, aku menyadari bahwa tugasku bukan lagi sekadar menyelamatkan Utama Group. Tugasku yang paling utama adalah menjaga senyuman gadis ini tetap hidup. Dan demi tugas itu, aku siap menghadapi apa pun yang ada di depan kami.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!