NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Pertarungan

Setelah jeda singkat untuk makan siang, suasana di alun-alun Desa Oakhaven berubah dari penuh kekaguman menjadi penuh ketegangan. Arena kayu yang tadi digunakan untuk pendaftaran kini telah dibongkar dan digantikan oleh sebuah lingkaran besar yang dibatasi oleh tali tambang tebal. Lantai arena tersebut dilapisi oleh pasir putih yang bertujuan untuk menyerap darah jika terjadi luka serius selama pertarungan. Ini bukan lagi sekadar pengukuran potensi yang pasif. Ini adalah Ujian Pertarungan Fisik, sebuah babak di mana para peserta harus membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuatan mereka dalam situasi nyata.

Arlan berdiri di pinggir arena, memperhatikan petugas yang sedang menyusun jadwal pertarungan. Meskipun hasilnya menunjukkan angka nol pada pengukuran mana, Arlan tetap diwajibkan ikut karena statusnya sebagai keluarga yang berada di bawah pengawasan kerajaan. Dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa banyak peserta kategori Berkah Dewa sedang menatapnya dengan senyum meremehkan. Bagi mereka, Arlan adalah sebuah samsak hidup yang sengaja disediakan oleh penguji untuk menghibur kerumunan. Mereka tidak melihat Arlan sebagai ancaman, melainkan sebagai objek untuk menunjukkan betapa hebatnya kekuatan sihir mereka.

"Dengarkan aturannya!" suara ksatria zirah emas yang menjadi penguji kedua menggema. "Kalian diperbolehkan menggunakan senjata tumpul atau tangan kosong. Penggunaan mana diperbolehkan selama tidak bertujuan untuk membunuh lawan secara sengaja. Pertarungan berakhir jika salah satu peserta keluar dari lingkaran, menyerah, atau pingsan. Apakah kalian mengerti?"

"Mengerti, Tuan!" teriak para peserta serempak.

Arlan tetap diam. Dia sedang melakukan persiapan internal. Dia mengaktifkan Gerbang Kedua secara penuh untuk menstabilkan pernapasannya dan mengaktifkan Gerbang Keempat secara pasif, hanya di bagian saraf persepsinya saja. Dia butuh penglihatan yang sangat tajam untuk membaca setiap aliran mana lawan. Di kehidupan lamanya, Adit selalu menang dalam negosiasi karena dia mampu membaca gerak tubuh lawan sebelum mereka bicara. Sekarang, Arlan menggunakan kemampuan itu untuk membaca aliran energi lawan sebelum mereka menyerang.

Pertarungan pertama dimulai antara dua anak bangsawan dari desa tetangga. Mereka menggunakan pedang kayu yang dilapisi sedikit mana elemen api dan angin. Pertarungan itu terlihat sangat lambat di mata Arlan, penuh dengan gerakan yang tidak perlu dan pamer kekuatan yang sia-sia. Namun, penduduk desa bersorak setiap kali ada percikan api yang muncul dari benturan pedang mereka. Bagi orang awam, itu adalah pertunjukan yang luar biasa. Bagi Arlan, itu hanyalah tarian anak kecil yang tidak memiliki efisiensi tempur sama sekali.

Hingga akhirnya, nama Arlan dipanggil untuk pertarungan kelima.

"Arlan Vandermir melawan Kael dari Keluarga Blackwood!" teriak petugas arena.

Kerumunan warga seketika bersorak, namun bukan sorakan dukungan, melainkan sorakan ejekan. Kael adalah anak dari seorang ksatria bayaran yang cukup terkenal di wilayah utara. Dia memiliki tubuh yang besar untuk anak seusianya dan memiliki Berkah Penguatan Otot. Kael melangkah ke dalam arena dengan sangat percaya diri, memutar mutar sebuah gada kayu besar di tangannya.

"Lihatlah, si sampah nol mana akan dihancurkan oleh Kael!" teriak seorang warga desa.

"Kael, jangan biarkan dia menyerah dengan cepat! Berikan dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan!" sahut warga lainnya.

Arlan masuk ke dalam lingkaran tanpa membawa senjata apa pun. Dia hanya berdiri dengan tangan kosong, kakinya menapak dengan sangat stabil di atas pasir putih. Elena, yang berdiri di barisan depan penonton, meremas tangannya sendiri dengan sangat kuat. Dia hampir tidak berani menatap ke arah arena. Namun Arlan memberikan anggukan kecil ke arah ibunya, sebuah isyarat diam yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kael menatap Arlan dengan senyum yang sangat bengis. "Arlan, aku tidak tahu apa yang kamu lakukan pada Tuan Gort kemarin, tapi hari ini di depan para penguji kerajaan, trik kotor mu tidak akan berguna. Aku akan meremukkan setiap tulang di tubuhmu sebelum kamu sempat berkedip."

Arlan tidak menanggapi gertakan Kael. Dia hanya memasang kuda-kuda rendah dengan telapak tangan terbuka, sebuah posisi dasar dari Taijutsu yang sangat asing bagi orang-orang di dunia ini.

"Mulai!" teriak wasit.

Kael langsung melesat maju. Meskipun tubuhnya besar, Berkah Penguatan Otot miliknya memberinya kecepatan yang cukup baik. Dia mengayunkan gada kayunya secara horizontal, mengincar bagian samping kepala Arlan. Ayunan itu begitu kuat hingga menimbulkan suara desingan angin yang tajam.

Arlan tidak mundur. Dia justru melangkah maju satu langkah kecil ke depan. Dengan menggunakan Teknik Tanpa Bayangan pada pergerakan tubuhnya, Arlan masuk ke dalam zona buta Kael. Gada kayu itu melewati punggung Arlan hanya dengan jarak beberapa sentimeter.

Kael terkejut karena serangannya meleset, namun sebelum dia bisa menarik kembali gada nya, Arlan sudah berada tepat di depan dadanya. Arlan mengepalkan tangan kanannya dan memusatkan energi dari Gerbang Pertama dan Keempat ke satu titik di buku jarinya.

"Pukulan Pertama: Tekanan Saraf," bisik Arlan.

Arlan menghantamkan tinjunya ke arah ulu hati Kael. Pukulan itu terlihat sangat lambat dan ringan bagi para penonton di kejauhan, bahkan hampir tidak terlihat seperti sebuah serangan yang serius. Namun, saat tinju Arlan bersentuhan dengan kulit Kael, sebuah getaran energi yang sangat padat menembus lapisan otot Kael yang mengeras dan langsung menghantam saraf pusatnya.

Bugh!

Suara hantamannya terdengar tumpul. Seketika, wajah Kael yang tadinya penuh kesombongan berubah menjadi pucat pasi. Matanya melotot keluar, dan dia menjatuhkan gada kayunya ke pasir. Seluruh tubuh Kael membeku, paru parunya tidak bisa menarik napas karena sistem sarafnya mengalami kelumpuhan sementara akibat getaran energi Arlan.

Kael berlutut di depan Arlan, wajahnya membiru karena kekurangan oksigen. Dia mencoba bicara, namun hanya busa kecil yang keluar dari mulutnya. Detik berikutnya, Kael jatuh tersungkur dengan wajah mencium pasir putih, pingsan seketika.

Seluruh alun-alun desa seketika menjadi sangat sunyi, seolah olah semua orang baru saja melihat hantu di siang bolong. Para warga desa yang tadi berteriak ejekan kini hanya bisa ternganga. Mereka tidak melihat adanya sihir, tidak ada ledakan api, bahkan tidak ada darah. Kael yang bertubuh besar dijatuhkan hanya dengan satu pukulan ringan oleh seorang anak yang memiliki mana nol.

Penyihir Agung di atas panggung berdiri dari kursinya. Dia menyipitkan matanya, mencoba mendeteksi aliran mana dari tubuh Arlan, namun dia tetap tidak menemukan apa pun. "Apa yang terjadi? Bagaimana dia melakukannya tanpa mana sedikit pun?" tanya Penyihir Agung itu pada ksatria di sampingnya.

Ksatria zirah emas itu mengusap dagunya dengan wajah yang sangat serius. "Itu bukan sihir. Itu adalah teknik fisik murni. Anak itu memukul di titik di mana pertahanan fisik paling lemah. Presisinya sangat menakutkan untuk anak seusianya."

Gort, yang duduk di sana, mengepalkan tangannya hingga bergetar. Dia merasa ketakutan yang dialaminya di kantor kemarin kembali menghantuinya. Dia menyadari bahwa Arlan tidak sedang beruntung Arlan memang memiliki kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sihir.

Wasit arena berdeham untuk memecah keheningan. "Pemenang, Arlan Vandermir!"

Sorak sorai mulai terdengar, namun kali ini suaranya jauh lebih rendah dan dipenuhi dengan rasa bingung serta ketakutan. Arlan berjalan keluar dari lingkaran dengan sangat tenang, seolah olah dia baru saja menyelesaikan tugas kecil yang tidak berarti. Dia menghampiri ibunya yang sekarang sedang menangis bahagia.

"Aku sudah bilang, Ibu. Aku akan baik-baik saja," ucap Arlan sambil tersenyum tipis.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Dari barisan peserta bangsawan, Julian berdiri dengan wajah yang penuh dengan amarah yang meledak ledak. Dia merasa keberhasilan Arlan adalah sebuah penghinaan terhadap para pemilik berkah dewa.

"Jangan sombong dulu, Sampah!" teriak Julian dari kejauhan. "Kael hanyalah orang lemah yang tidak tahu cara menggunakan mananya dengan benar. Di babak selanjutnya, aku sendiri yang akan memastikan kamu merangkak di tanah seperti cacing!"

Arlan menoleh ke arah Julian. Dia tidak membalas dengan kata-kata kasar. Dia hanya menatap Julian dengan pandangan yang sangat dalam, sebuah pandangan yang seolah olah mengatakan bahwa Julian adalah mangsa berikutnya yang sedang menunggu untuk diburu.

Kakek tua itu muncul di samping Arlan di antara kerumunan penonton. "Pukulan yang bagus, Arlan. Kamu hanya menggunakan sepuluh persen kekuatanmu dan itu sudah cukup untuk membuat mereka terdiam. Tapi waspadalah, babak selanjutnya adalah babak eliminasi ganda. Mereka akan mencoba mengeroyok mu atau mengubah aturan agar kamu tersudut."

Arlan mengangguk. Dia tahu bahwa kemenangannya tadi baru saja memulai perang yang sesungguhnya. Dia bisa merasakan aura permusuhan yang sangat kuat dari arah panggung penguji. Mereka tidak akan membiarkan seorang anak tanpa berkah menjadi yang terbaik di ujian ini. Mereka akan melakukan segala cara untuk menjatuhkannya.

"Biarkan mereka mencoba," gumam Arlan dalam hati. "Setiap rintangan yang mereka berikan hanya akan membuatku semakin cepat membuka Gerbang Kelima."

Arlan kembali ke area istirahat, duduk bersila untuk memulihkan energinya. Dia tahu bahwa babak final nanti akan menjadi panggung di mana dia akan menghancurkan Julian di depan semua orang. Di kehidupan keduanya ini, Arlan tidak akan memberikan ampunan. Dia akan memastikan bahwa setiap orang yang meremehkan nama Vandermir akan merasakan kehancuran yang mutlak.

Matahari mulai condong ke barat, memberikan bayangan panjang di arena pertarungan yang kini sudah berlumuran debu. Babak eliminasi akan segera dimulai, dan Arlan Vandermir sudah siap untuk menunjukkan bahwa satu kepalan tangan manusia lebih berharga daripada seribu doa kepada dewa yang tidak peduli.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!