Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Aroma Lavender dan Tetangga Tak Diundang
Duniaku kembali dengan rasa sakit yang berdenyut di balik mata.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra penciumanku adalah bau disinfektan yang tajam, bercampur dengan aroma lavender buatan yang selama ini menjadi teman setiaku di rumah. Aku mengerang pelan, mencoba membuka kelopak mataku yang terasa seberat timah. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa menyilaukan, membuat kepalaku kembali berputar.
"Anya? Kau sudah bangun?"
Suara itu lembut, tenang, dan sangat familier. Aku menoleh perlahan ke samping. Ayah duduk di sana, di kursi kayu di sebelah ranjang unit kesehatan kampus. Wajahnya yang biasanya tegas kini dihiasi gurat kecemasan yang tampak tulus. Ia menggenggam tanganku, jari-jarinya yang hangat mengusap punggung tanganku dengan ritme yang menenangkan.
"Ayah..." suaraku serau. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Ruang musik. Hujan. Rak buku yang berdebu. Dan... Devan.
Ingatanku tentang momen di ruang musik itu terasa kabur, seperti melihat pemandangan dari balik kaca yang berembun. Aku ingat Devan mengurungku di antara rak buku. Aku ingat napasnya yang hangat dan bisikannya yang menyayat hati. Namun, setelah itu... semuanya gelap.
"Tadi penjaga gedung menemukanmu pingsan di ruang musik lama," ujar Ayah, suaranya sedikit merendah, memberikan tekanan yang halus. "Apa yang kau lakukan di sana, Anya? Dokter Frans sudah bilang berkali-kali, tempat-tempat pengap dan berdebu bisa memicu serangan kecemasanmu."
"Aku... aku hanya mengambil properti drama untuk Pak Haris," jawabku lirih. Mataku memindai ruangan. Kosong. Hanya ada aku dan Ayah. "Di mana Devan?"
Gerakan tangan Ayah berhenti sejenak. Matanya menyipit, sebuah kilat aneh melintas di sana sebelum ia kembali tersenyum. "Devan? Mahasiswa pindahan itu? Ayah tidak melihat siapa pun bersamamu saat Ayah sampai di sini. Penjaga gedung bilang kau sendirian."
Sendirian? Tidak mungkin. Devan ada di sana. Dia memelukku saat aku jatuh. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Atau... apakah itu semua hanya halusinasi akibat migrainku?
"Jangan pikirkan itu dulu," potong Ayah, seolah bisa membaca kebingunganku. "Ayah sudah bicara dengan pihak universitas. Mengingat kondisimu yang tidak stabil belakangan ini, Ayah memutuskan untuk menyewa sebuah unit apartemen di dekat kampus untukmu."
Aku tertegun. "Apartemen?"
"Ya. Perjalanan dengan kereta setiap hari terlalu melelahkan untuk sarafmu, Anya. Di apartemen itu, kau akan didampingi oleh Bi Minah. Ayah ingin kau punya tempat yang tenang untuk belajar tanpa harus stres dengan komuter," Ayah berdiri, merapikan jasnya yang tak bercela. "Semua barangmu sudah dipindahkan sore ini. Kita akan langsung ke sana."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di satu sisi, aku merasa lega karena bisa lepas dari rutinitas kereta yang menyesakkan. Namun di sisi lain, aku merasa Ayah sedang membangun dinding baru di sekelilingku. Sebuah sangkar yang lebih modern, namun tetap saja sebuah sangkar.
Unit apartemen itu berada di lantai sepuluh Griya Kencana, hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki dari gerbang kampus. Ruangannya mewah, didominasi warna putih dan abu-abu, dengan jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung universitas.
Malam itu, setelah Bi Minah menyiapkan makan malam dan memaksaku meminum vitamin putih dari Dokter Frans, aku berdiri di balkon. Angin malam yang dingin menyapu wajahku. Aku menatap lampu-lampu kota, mencoba menyusun kembali kepingan memori yang pecah di ruang musik tadi sore.
’Kau berjanji akan menungguku hari itu.’
Kalimat Devan terus terngiang. Suaranya terdengar begitu nyata, dipenuhi luka yang terlalu dalam untuk sekadar karangan belaka. Jika benar aku melupakannya, mengapa Ayah bilang aku sendirian di ruang musik? Mengapa semua orang seolah berusaha menghapus keberadaan Devan dari kejadian itu?
Cklek.
Suara pintu unit sebelah yang terbuka menarik perhatianku. Aku menoleh ke arah balkon tetangga yang hanya dibatasi oleh sekat kaca buram setinggi dada.
Sesosok jangkung melangkah keluar ke balkon sebelah. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana kain panjang. Di tangannya, ia memegang sebuah korek api Zippo perak yang sangat kukenal.
Klik.
Api kecil menyala, menerangi wajahnya yang keras.
Aku membeku. Jantungku seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh.
"Devan?" bisikku tak percaya.
Pemuda itu tidak menoleh ke arahku. Ia hanya menatap lurus ke arah cakrawala kota yang gelap. Ia menutup korek apinya dengan dentingan logam yang tajam, lalu memasukkannya ke dalam saku.
"Aroma lavender itu..." Devan akhirnya bersuara, suaranya rendah dan dingin, terbawa angin malam ke telingaku. "...ternyata masih menjadi bau kesukaan pencuci otakmu, ya, Anya?"
Aku mencengkeram pagar balkon hingga buku-buku jariku memutih. "Bagaimana kau bisa ada di sini? Kau menguntitku?"
Kali ini, Devan memutar kepalanya. Matanya yang sekelam malam menatapku lurus-lurus. Tidak ada kelembutan seperti di ruang musik tadi sore. Yang tersisa hanyalah tatapan penuh kebencian yang dibalut kerinduan yang menyakitkan.
"Dunia ini sempit bagi mereka yang mencari kebenaran, dan sangat luas bagi mereka yang hidup dalam kebohongan," ujarnya penuh teka-teki. Ia melangkah mendekati sekat balkon, membuat jarak di antara kami hanya tersisa kurang dari dua meter.
"Selamat datang di unit 1002, Tetangga," Devan menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kudukku meremang. "Saran saya, simpan baik-baik ingatanmu malam ini. Karena besok pagi, ayahmu mungkin akan memberitahumu bahwa balkon ini tidak pernah ada."
Tanpa menunggu jawabanku, ia berbalik dan masuk ke dalam unitnya, membanting pintu kaca balkon dengan keras.
Aku berdiri terpaku di kegelapan. Kepalaku kembali berdenyut. Di satu sisi, aku merasa terancam oleh kehadirannya. Namun di sisi lain, sebuah bagian kecil di hatiku—bagian yang selama ini mati rasa—tiba-tiba berdenyut kencang.
Ada sesuatu tentang Devan yang menarikku, seperti magnet yang memaksa serpihan besi yang rusak untuk kembali menyatu. Dan aku tahu, mulai malam ini, apartemen ini bukan lagi tempat yang tenang seperti yang dijanjikan Ayah. Ini adalah garis depan pertempuran antara memoriku yang hilang dan realitas yang berusaha menguburnya.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. TAMAN BELAKANG SEKOLAH - SIANG HARI (MASA LALU)
Filter visual cerah, hangat, dan saturasi warna yang tinggi.
Kamera menyorot ANYA (16 tahun) yang sedang tertawa sambil mencoba merebut sebuah korek api Zippo perak dari tangan DEVAN (17 tahun). Devan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menggoda Anya.
ANYA
"Ayo kembalikan, Devan! Itu berbahaya, kau belum boleh merokok!"
DEVAN
(Tertawa lepas, matanya berbinar)
"Siapa yang bilang aku mau merokok? Aku hanya suka suaranya. Klik, klik. Rasanya seperti detak jantung."
Devan menurunkan tangannya, menatap Anya dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meraih tangan kiri Anya, lalu meletakkan Zippo itu di telapak tangannya.
DEVAN (CONT'D)
"Simpan ini. Jika suatu saat aku tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang padamu, nyalakan api ini. Aku akan datang mencarimu lewat cahayanya."
Anya tersenyum, menutup jemarinya di atas logam dingin itu.
ANYA
"Janji?"
DEVAN
"Janji."
Kamera fokus pada Zippo di tangan Anya. Tiba-tiba, warna di layar perlahan memudar menjadi abu-abu, dan suara tawa mereka berganti dengan suara sirene ambulans yang meraung jauh di kejauhan.
Layar menjadi hitam pekat.
FADE OUT.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??