NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Pagi itu, suasana kantor masih terasa segar dengan aktivitas para pegawai yang baru saja memulai pekerjaan mereka. Aira melangkah masuk dengan tenang, membawa tas dan sarapan sederhana yang sempat ia beli di perjalanan. Ia berharap hari itu akan berjalan normal. Harapan yang, seperti biasa, terlalu optimis untuk dunia yang ia tinggali.

Belum sempat ia duduk dengan nyaman, sosok yang paling ingin ia hindari justru muncul di hadapannya.

Pandu.

Pria itu berjalan santai dengan senyum percaya diri yang tidak pernah luntur, seolah seluruh dunia memang diciptakan untuk mengaguminya. Di tangannya terdapat sebuah kantong makanan dari restoran mewah.

"Selamat pagi, Aira," ucap Pandu dengan nada lembut yang sengaja dibuat menggoda.

Aira hanya menatap sekilas sebelum duduk di kursinya.

"Pagi, Pak Pandu," jawabnya singkat, berusaha menjaga profesionalitas.

Pandu meletakkan kantong itu di meja Aira.

"Aku membawakan bubur ayam spesial. Dari restoran terbaik di kota ini. Kamu harus mencobanya."

Aira menghela napas pelan.

"Terima kasih, Pak. Tapi saya sudah membeli sarapan sendiri." Ia mengangkat plastik makanannya sebagai bukti.

Pandu tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke meja.

"Sarapan seperti itu? Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik. Percayalah, ini jauh lebih enak."

Ucapan itu membuat ekspresi Aira berubah. Ia tidak suka diremehkan, terlebih oleh seseorang yang jelas-jelas tidak ia sukai.

"Saya cukup dengan ini, Pak," jawab Aira dengan nada lebih tegas.

Tanpa menunggu respon lebih lanjut, Aira langsung berdiri dan berpindah ke meja lain dengan alasan mengambil dokumen. Ia berharap Pandu akan mengerti dan berhenti.

Harapan yang, lagi-lagi, terlalu naif.

Pandu mengikuti.

"Aira," panggilnya pelan, "kamu tidak perlu bersikap dingin seperti itu. Aku hanya ingin bersikap baik."

Aira menahan kesal.

"Saya sedang bekerja, Pak." Jawabannya kali ini lebih singkat, jelas, dan penuh batas.

Namun Pandu tidak tampak tersinggung. Justru sebaliknya, ia terlihat semakin tertarik.

Kehadiran pria itu membuat suasana kerja Aira menjadi tidak nyaman. Tatapan rekan-rekan kerja mulai terasa, bisik-bisik kecil mulai muncul. Hal-hal yang tidak pernah ia inginkan.

Di tengah situasi itu, Ayunda datang dengan langkah cepat.

"Aira," panggilnya sambil mendekat, lalu langsung berdiri di sampingnya.

Ia menatap Pandu dengan ekspresi tidak suka yang tidak disembunyikan.

"Pak Pandu, Aira sedang sibuk," kata Ayunda dengan nada sopan tapi tegas.

Pandu tersenyum santai.

"Saya tahu. Saya hanya berbicara sebentar."

Ayunda tidak bergeming. Ia bahkan sedikit mendekat ke Aira, seolah menjadi tameng.

"Kalau sebentar, seharusnya sudah selesai dari tadi, Pak," balasnya.

Dalam hati, Ayunda benar-benar ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. Ia membayangkan betapa leganya jika bisa menampar wajah pria di depannya itu sekali saja. Namun kenyataan tetap menahan dirinya. Ia hanyalah pegawai biasa. Dan Pandu adalah manajer.

Perbedaan posisi itu terasa seperti tembok yang tidak bisa ditembus.

Pandu tertawa kecil.

"Kamu cukup berani, Ayunda."

"Saya hanya tidak suka melihat teman saya tidak nyaman," jawabnya tanpa ragu.

Meski begitu, Pandu tidak benar-benar mundur. Ia tetap berada di sana, melontarkan kata-kata manis yang bagi Aira terdengar seperti gangguan tanpa henti.

Situasi itu berlangsung hingga akhirnya seseorang datang menyelamatkan mereka.

"Pak Pandu."

Suara itu tegas dan berwibawa.

Semua menoleh.

Bu Ida berdiri di sana dengan ekspresi serius.

"Sepertinya Anda salah tempat. Ini bagian finance, bukan produksi," lanjutnya.

Pandu menoleh, ekspresinya sedikit berubah. Ia tetap tersenyum, tetapi kali ini lebih tertahan.

"Saya hanya berbincang sebentar, Bu Ida."

"Sudah cukup," potong Bu Ida. "Pegawai saya sedang bekerja. Saya tidak ingin ada gangguan."

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat siapa pun mengerti batas.

Pandu menghela napas pelan.

Ia tahu, melawan Bu Ida bukan keputusan yang bijak. Jabatan mereka setara. Tidak ada keuntungan baginya untuk memaksa.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Saya pergi dulu."

Sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik Aira.

"Kita lanjutkan nanti."

Aira tidak menanggapi.

Setelah Pandu menjauh, suasana terasa jauh lebih ringan.

Tanpa pikir panjang, Aira dan Ayunda langsung memeluk Bu Ida.

"Terima kasih, Bu," ucap Aira tulus.

Bu Ida tersenyum kecil.

"Sudah, sudah. Kembali bekerja. Jangan sampai pekerjaan terbengkalai hanya karena hal seperti itu."

Mereka mengangguk dan kembali ke meja masing-masing.

Namun sejak saat itu, Ayunda mulai memiliki ide.

Ia mendekat ke Aira dan berbisik.

"Sepertinya kita harus selalu dekat dengan Bu Ida. Itu satu-satunya cara aman."

Aira tampak ragu.

"Aku tidak enak kalau terus mengganggu beliau."

"Ganggu apanya? Ini demi keselamatan mental kita," jawab Ayunda cepat.

Mendengar itu, Aira hanya bisa tersenyum tipis.

Siang hari tiba.

Seperti yang dijanjikan, Bu Ida mengajak mereka makan siang bersama. Mereka duduk di kantin dengan suasana yang jauh lebih santai.

"Jadi, dia sering seperti itu?" tanya Bu Ida.

Aira mengangguk pelan.

"Sejak beberapa hari terakhir."

Bu Ida menghela napas.

"Saya akan bicara dengannya jika perlu. Kamu tidak perlu merasa takut selama bekerja di sini."

Ucapan itu memberi sedikit ketenangan bagi Aira.

Sisa hari itu berjalan lebih baik. Dengan kehadiran Bu Ida, Pandu benar-benar kesulitan mendekat.

Hingga sore hari tiba.

Bu Ida bersiap pulang, namun ia melihat Aira dan Ayunda masih berada di dekatnya.

"Kalian belum pulang?" tanyanya.

Ayunda tersenyum canggung.

"Kami... menunggu Ibu."

Bu Ida menatap mereka sejenak, lalu mengerti.

"Aira," katanya lembut, "kamu tidak nyaman, ya?"

Aira terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Saya hanya tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, Bu. Saya sudah nyaman di sini."

Bu Ida mengangguk.

"Saya mengerti. Saya akan bantu. Kamu tidak sendirian."

Mendengar itu, Aira merasa sedikit lebih kuat.

Setelah itu, mereka benar-benar pulang.

Aira kembali ke rumah bibinya untuk mengambil barang-barang. Rumah itu terasa hangat seperti biasa.

Bibinya sudah menyiapkan semuanya.

"Ini, bawa saja. Rice cooker sama kompor," kata bibinya sambil menunjuk barang-barang yang sudah dikemas.

Aira terkejut.

"Banyak sekali, Bi. Saya nanti ganti uangnya."

Bibinya langsung menggeleng.

"Tidak perlu. Itu barang bekas sepupumu dulu waktu masih kost. Daripada tidak dipakai, lebih baik kamu gunakan."

Aira tersenyum haru.

"Terima kasih banyak, Bi."

Tak lama kemudian, sebuah mobil datang.

Pamannya turun dan tersenyum.

"Sudah siap? Saya antar sekalian lihat tempat tinggalmu."

Aira mengangguk.

"Sudah, Pak."

Perjalanan menuju kost berlangsung cukup tenang.

Sesampainya di sana, Ayunda sudah menunggu di depan.

"Selamat datang!" katanya dengan semangat.

Ia segera menyapa paman dan bibi Aira dengan sopan.

"Silakan masuk, Om, Tante."

Mereka masuk dan mulai membawa barang-barang ke dalam.

Kost itu sederhana, tetapi bersih dan nyaman.

Aira langsung merasa cocok.

Setelah semua barang masuk, Aira mengambil uang dan menyerahkannya pada Ayunda.

"Ini untuk biaya kost."

Ayunda terkejut.

"Tidak perlu buru-buru. Kalau belum ada, nanti saja."

Aira menggeleng.

"Aku punya tabungan. Tidak masalah."

Akhirnya Ayunda menerima dengan sedikit ragu.

Sementara itu, paman dan bibi Aira melihat-lihat ruangan.

"Tempatnya bagus," kata pamannya.

"Nyaman juga," tambah bibinya.

Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk.

Ada rasa lega di sana.

Aira tersenyum melihat itu.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, ia merasa sedikit tenang.

Meskipun ia tahu, besok mungkin masalah akan datang lagi.

Karena hidup, seperti biasa, tidak pernah benar-benar memberi jeda.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!