NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Diruang Bawah Tanah

Episode 16

Suara langkah sepatu bot Instruktur Raka di atas lantai batu yang lembap bergema dengan irama yang teratur, menciptakan tekanan psikologis yang berat di dalam ruangan bawah tanah yang sunyi itu. Cahaya obor sihir yang dibawanya memanjang, menciptakan bayangan raksasa di dinding-dinding pilar.

Reno berdiri diam di balik pilar besar, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun. Jantungnya berdegup kencang, namun pikirannya tetap jernih. Di bahunya, Nidhogg sudah dalam posisi siap siaga, tubuhnya yang bersisik hitam menegang, siap untuk meluncur kapan saja.

"Reno, dia sudah mengunci posisi kita dengan energi mentalnya," bisik Nidhogg dengan nada rendah. "Bersembunyi tidak akan ada gunanya lagi. Manusia ini memiliki kemampuan deteksi yang sangat tajam."

Reno menghela napas pendek. Ia tahu Nidhogg benar. Menghindari instruktur tingkat Berlian dalam ruangan tertutup adalah hal yang mustahil. Reno pun melangkah keluar dari balik bayangan pilar, berdiri tegak menghadapi cahaya obor yang menyilaukan.

"Instruktur Raka," ucap Reno dengan suara yang tenang dan datar, seolah ia tidak sedang tertangkap basah menyelinap ke area terlarang. "Saya tidak menyangka Anda memiliki hobi berjalan jalan di gudang bawah tanah yang berdebu ini."

Raka berhenti sekitar lima meter di depan Reno. Cahaya obor menyinari wajahnya yang keras dan tanpa ekspresi. Tatapannya tertuju pada Reno yang bertelanjang dada, memperlihatkan otot ototnya yang masih memerah dan berkeringat akibat latihan ekstrem tadi.

"Ruang pendingin ini sudah ditutup selama sepuluh tahun, Reno," suara Raka terdengar dingin, bergema di antara pilar-pilar batu. "Dan pintu masuknya dikunci dengan segel energi tingkat rendah. Bagaimana seorang murid baru dari desa terpencil bisa menemukan tempat ini dan merusak segelnya tanpa memancing alarm?"

Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sering ia gunakan saat menghadapi audit pajak yang ketat di kehidupan lamanya. "Segel itu sudah sangat tua dan rapuh, Instruktur. Saya hanya menyentuhnya sedikit, dan ia terbuka sendiri. Barangkali akademi perlu menganggarkan biaya lebih untuk perawatan fasilitas."

Raka menyipitkan mata. Ia bisa merasakan bahwa remaja di depannya ini tidak memiliki rasa takut yang seharusnya dimiliki murid biasa. "Kau bukan hanya merusak segel. Kau di sini untuk berlatih teknik yang tidak diajarkan di akademi. Aura yang kau keluarkan tadi... itu bukan aura seorang penjinak. Itu adalah aura penguatan fisik manusia."

Raka melangkah maju satu langkah, dan seketika itu juga, tekanan mental yang luar biasa meledak dari tubuhnya. Udara di dalam ruangan itu seolah-olah menjadi padat seperti semen. Reno merasa paru-parunya terhimpit, dan lututnya bergetar menahan beban yang tak terlihat.

"Katakan padaku, Reno," desis Raka. "Siapa yang mengirim mu ke akademi ini? Gerhana Hitam? Atau organisasi lain yang mengincar rahasia Elang Hijau?"

Reno menggertakkan giginya. Ia menggunakan teknik pernapasan Arus Bumi sekuat tenaga untuk menjaga tubuhnya agar tidak jatuh berlutut. "Saya tidak dikirim oleh siapa pun. Saya hanya seorang anak petani yang ingin bertahan hidup. Bukankah Anda sendiri yang bilang di kelas bahwa dunia ini kejam? Saya hanya mencoba untuk tidak menjadi korban berikutnya."

"Reno! Aku tidak tahan lagi! Biarkan aku menyerangnya!" Nidhogg mulai mengeluarkan aura hitam dari sisiknya, matanya yang merah darah berkilat marah.

"Jangan, Nidhogg! Tetaplah diam!" perintah Reno dalam hati. Ia tahu jika Nidhogg menyerang sekarang, itu adalah pengakuan dosa yang fatal.

Raka memperhatikan reaksi Reno dengan saksama. Ia terkejut melihat Reno masih bisa berdiri tegak di bawah tekanan mentalnya. "Kau memiliki daya tahan jiwa yang luar biasa. Bahkan untuk ukuran murid berbakat sekalipun, ini tidak normal. Dan cacing di bahumu itu... dia tidak gemetar ketakutan. Sebaliknya, dia seolah ingin menelanku hidup-hidup."

Raka menurunkan obornya sedikit, tekanan mentalnya perlahan memudar. "Kematian Rian di hutan kemarin bukan karena keberuntungan, bukan? Kau membunuh pria berjubah hitam itu dengan tanganmu sendiri."

Reno mengatur napasnya yang memburu. "Pria itu mencoba membunuh saya dan teman-teman saya. Apa yang Anda harapkan saya lakukan, Instruktur? Menawarkan teh dan roti?"

Raka terdiam sejenak. Ia kemudian mematikan obor sihirnya, membuat ruangan itu kembali jatuh ke dalam kegelapan, hanya menyisakan cahaya remang dari celah ventilasi di atas.

"Dengar, Reno," suara Raka kini berubah menjadi lebih berat, tidak lagi penuh ancaman melainkan penuh peringatan. "Aku tahu apa yang kau bawa di dalam tubuh binatang kontrakmu. Sesuatu yang sangat kuno, sesuatu yang sangat haus darah."

Reno membeku. Dia tahu tentang fragmen jiwa?

"Akademi ini tidak seaman yang kau kira," lanjut Raka. "Ada banyak faksi di dalam jubah perak ini. Ada yang ingin melindungi kerajaan, ada yang ingin kekuasaan, dan ada yang melayani kegelapan. Jika kau menunjukkan kekuatanmu terlalu cepat, kau hanya akan berakhir sebagai bahan eksperimen di laboratorium bawah tanah pusat kerajaan."

Reno menyipitkan mata, mencoba membaca niat Raka di tengah kegelapan. "Jika Anda tahu begitu banyak, kenapa Anda tidak menangkap saya sekarang dan menyerahkan saya pada Tuan Besar Anda?"

Raka terkekeh kecil, suara tawa yang kering dan hambar. "Tuan Besar? Kau pikir aku bekerja untuk sampah Gerhana Hitam itu? Mereka hanyalah pion kecil yang tidak tahu apa yang sedang mereka bangunkan. Aku memiliki tujuanku sendiri, Reno. Dan untuk mencapai tujuan itu, aku butuh seseorang yang memiliki jiwa yang tidak bisa dipatahkan."

Raka melangkah mendekati Reno hingga mereka hanya berjarak satu lengan. "Lanjutkan latihanmu di sini. Aku akan memastikan tidak ada penjaga lain yang mendekat. Tapi ingat, di kelas besok, kau tetaplah si Penjinak Cacing yang lemah. Jangan biarkan siapa pun melihat sisik hitam itu sampai saatnya tiba."

Raka kemudian melemparkan sebuah botol kecil berisi cairan biru jernih ke arah Reno. Reno menangkapnya dengan sigap.

"Itu adalah Minyak Esensial Arus Bawah. Gunakan itu saat berlatih teknik pernapasanmu. Ia akan membantu meredam panas dari energi naga di tubuhmu agar tidak terdeteksi oleh sensor sihir akademi," ucap Raka sebelum ia berbalik dan berjalan menuju tangga besi.

"Kenapa Anda membantu saya?" tanya Reno lantang.

Raka berhenti sejenak di anak tangga pertama, namun ia tidak menoleh. "Karena aku benci melihat bakat yang besar mati konyol di tangan orang-orang munafik berpakaian mewah. Gunakan tiga hari ini dengan baik, Reno. Badai yang sesungguhnya tidak akan datang dari luar hutan, tapi dari dalam aula akademi saat ujian tengah semester nanti."

Setelah Raka pergi dan suara langkah kakinya menghilang, Reno terduduk lemas di lantai batu. Ia merasa seperti baru saja melewati pertempuran paling melelahkan dalam hidupnya.

"Reno... manusia itu... dia sangat berbahaya," bisik Nidhogg, kini ia sudah kembali tenang namun tetap waspada. "Dia tahu tentang aku, tapi dia memilih untuk diam. Itu berarti dia ingin menggunakan kita untuk kepentingannya sendiri."

"Aku tahu, Nidhogg," Reno menyeka keringat di dahinya. "Di dunia bisnis dulu, orang seperti Raka disebut Investor Berisiko. Dia memberikan modal berupa perlindungan dan sumber daya, tapi dia pasti akan meminta dividen yang sangat besar di akhir nanti."

Reno menatap botol minyak pemberian Raka. "Tapi untuk sekarang, kita butuh bantuannya. Kita tidak punya pilihan lain selain bermain di dalam permainannya sambil menyusun permainan kita sendiri."

Reno pun kembali memulai meditasinya. Kali ini, ia menuangkan sedikit minyak esensial itu ke dadanya. Seketika, rasa dingin yang menyejukkan menyebar ke seluruh tubuhnya, menyeimbangkan panas dari fragmen jiwa Nidhogg. Latihannya menjadi jauh lebih efektif.

Selama tiga hari ke depan, Reno menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruang bawah tanah tersebut. Ia hanya kembali ke asrama untuk menunjukkan wajahnya sebentar agar Dito tidak curiga.

Setiap malam, Reno merasakan tubuhnya berevolusi. Tulangnya menjadi sepadat logam, indranya menjadi setajam predator, dan hubungannya dengan Nidhogg semakin menyatu. Ia bukan lagi sekadar memberi perintah; ia bisa merasakan setiap denyut emosi Nidhogg, dan sebaliknya.

Pada hari ketiga, proses evolusi fisik tahap pertama Reno selesai.

Ia berdiri di tengah ruangan bawah tanah, mengepalkan tangannya. Sebuah aura tipis berwarna hitam perak menyelimuti tinjunya. Ia mencoba memukul pilar batu di depannya dengan kekuatan tiga puluh persen.

DUMMM!

Pilar batu itu bergetar hebat, dan sebuah retakan sedalam lima sentimeter muncul. Ini adalah kekuatan murni fisiknya, tanpa bantuan sihir binatang kontrak.

"Cukup untuk saat ini," gumam Reno.

Ia mengenakan kembali seragam hijaunya, menutupi tubuh barunya yang penuh kekuatan. Ia memasukkan Nidhogg yang sekarang sudah terlihat lebih stabil ke dalam sakunya.

Reno keluar dari gudang bawah tanah dan berjalan menuju aula utama. Hari ini adalah hari di mana kelas praktik bertarung antar murid dimulai. Dan ia tahu, Bagas serta beberapa antek Gerhana Hitam yang menyamar sebagai murid pasti sudah menunggunya.

Saat Reno berjalan di koridor, ia berpapasan dengan Lani. Gadis itu menatap Reno dengan tatapan heran. "Reno? Kenapa... kenapa kau terlihat berbeda hari ini? Kau tampak lebih... tinggi? Dan auramu..."

Reno tersenyum santai, kembali ke topeng murid desanya. "Mungkin karena aku makan banyak di kantin kemarin, Lani. Ayo, kita tidak boleh terlambat untuk kelas praktik."

Lani hanya bisa mengangguk pelan, namun di dalam hatinya ia tahu, Reno yang sedang berjalan di sampingnya ini bukanlah Reno yang sama dengan yang ia kenal di desa dulu.

Pertunjukan yang sesungguhnya akan segera dimulai di arena akademi.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!