NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjagal Ribuan Jiwa

Kapal Terbang Awan Merah membelah lautan awan dengan kecepatan yang sulit dinalar oleh akal sehat manusia fana. Di luar jendela kayu berjeruji yang kotor, langit berubah warna dari biru cerah menjadi ungu pekat seiring masuknya kapal ke wilayah formasi udara tingkat tinggi.

Namun, kemegahan di luar sama sekali tidak tercermin di Geladak Bawah Lorong Ketujuh.

Tempat ini lebih pantas disebut penjara bawah tanah yang melayang. Udara di sini kental oleh campuran bau keringat, darah kering, dan napas keputusasaan. Ratusan kultivator pengembara berdesakan di ranjang-ranjang kayu bersusun yang reyot. Tidak ada ruang pribadi; Niat Membunuh dan kewaspadaan saling bergesekan di setiap tarikan napas.

Chu Chen duduk bersila di atas ranjang nomor 44. Ia menekan seluruh gejolak fisiknya, membuat dirinya terlihat seperti bongkahan batu mati. Matanya setengah tertutup, namun Niat Spiritual naga di dalam benaknya menyebar layaknya jaring laba-laba, mengawasi setiap pergerakan dalam jangkauan sepuluh tombak.

Tiba-tiba, suara erangan tertahan terdengar dari lorong seberang.

Dua orang kultivator berwajah kasar sedang mencekik seorang pemuda kurus di sudut gelap. Tangan mereka dengan cepat merogoh ke dalam pakaian pemuda itu, menarik keluar sebuah kantong koin perak yang sudah usang. Pemuda itu mencoba melawan, namun sebuah pukulan lutut yang dilapisi energi Lapis Keempat Penempaan Raga menghancurkan tulang rusuknya. Ia batuk darah dan ambruk tak berdaya.

Orang-orang di sekitar hanya melirik sekilas, lalu kembali membuang muka. Tidak ada yang peduli. Di geladak bawah, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.

"Pemandangan yang menyedihkan, bukan?"

Sebuah suara serak terdengar dari ranjang di bawah Chu Chen.

Chu Chen tidak menunduk, namun sudut matanya melirik. Di ranjang bawah, berbaring seorang pemuda yang usianya mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Pakaian pemuda itu dulunya mungkin adalah sutra mahal, namun kini telah memudar dan dipenuhi tambalan. Wajahnya agak pucat, dengan kantung mata hitam yang menunjukkan kelelahan menahun. Di pinggangnya, tergantung sebuah labu arak yang terbuat dari labu kuning biasa.

"Aku Meng Fan," ucap pemuda itu, bangkit duduk dan menenggak seteguk arak dari labunya. "Kau pasti baru pertama kali naik Kapal Awan Merah. Duduk diam seperti patung batu, matamu tidak pernah berkedip. Kau sedang berpura-pura menjadi harimau untuk menakut-nakuti anjing liar di sini, ya?"

Chu Chen menatapnya dingin. "Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti anak kurus di sudut sana, sebaiknya kau tutup mulutmu."

Meng Fan tertawa pelan, sama sekali tidak terintimidasi. "Hahaha! Nada bicaramu tajam sekali, Sobat. Jangan salah sangka, aku tidak berniat mencari masalah. Aku hanya kasihan melihat anak muda sepertimu membuang Batu Roh demi tiket neraka ini."

Alis Chu Chen sedikit berkerut. "Tiket neraka?"

"Tentu saja," Meng Fan menyeka sisa arak di dagunya. Matanya tiba-tiba berubah tajam, menatap ke arah langit-langit kayu di atas mereka. "Kau menuju Kota Kekaisaran Langit untuk ikut Ujian Perekrutan Murid Luar Sekte Awan Suci, kan? Sembilan puluh dari seratus orang di ruangan kotor ini punya tujuan yang sama."

"Lalu?" pancing Chu Chen.

"Lalu? Kau pikir sekte raksasa yang memiliki ahli Alam Istana Jiwa itu membuka gerbangnya untuk kegiatan amal?" Meng Fan mendengus sinis. "Setiap tiga tahun, ratusan ribu pemuda dari seluruh penjuru Benua Biru Langit berkumpul di Kota Kekaisaran. Mereka semua mengklaim sebagai jenius di desa atau kota asal mereka."

Meng Fan mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya dipelankan menjadi bisikan yang mengiris. "Tapi tahukah kau berapa banyak yang diterima menjadi Murid Luar? Tidak lebih dari lima ratus orang. Sisanya? Beberapa ribu orang yang gagal namun masih punya sedikit bakat akan dipaksa menandatangani kontrak darah menjadi pelayan seumur hidup. Mereka membersihkan kotoran binatang spiritual dan menambang bijih roh sampai mati."

Chu Chen mendengarkan dalam diam. Mengingat kekejaman Sekte Serigala Darah yang berskala kecil, ia sama sekali tidak terkejut jika sekte berskala raksasa memiliki metode yang jutaan kali lebih brutal.

"Dan sisanya yang tidak memiliki bakat atau menolak menjadi pelayan?" tanya Chu Chen.

"Mati," jawab Meng Fan dengan senyum getir. "Ujian Sekte Awan Suci bukanlah pertandingan di atas gelanggang pertarungan. Tahap pertama dari ujian mereka selalu merupakan ujian kelangsungan hidup. Tahun lalu mereka melempar puluhan ribu calon murid ke dalam Lembah Jarum Beracun. Kau harus membunuh calon murid lain untuk mendapatkan penawar racun jika ingin keluar hidup-hidup. Ujian ini disebut Penjagal Ribuan Jiwa."

Mata Meng Fan menatap tangan Chu Chen yang tampak kasar dan kapalan. "Kulihat kau bahkan tidak memiliki gejolak Qi yang murni. Kemungkinan kau belum menembus Lapis Keempat, kan? Maju ke ujian itu sama saja dengan menyerahkan lehermu untuk dipenggal. Itulah kenapa kusebut tiket ini tiket neraka."

Penjagal Ribuan Jiwa... Di dalam hati Chu Chen, darah naganya justru mendidih mendengar nama itu. Ujian kelangsungan hidup? Membunuh untuk bertahan? Itu bukanlah neraka baginya; itu adalah meja perjamuan. Dantiannya sangat rakus, ia membutuhkan tumpukan esensi kehidupan dan Qi untuk mengisi Lautan Qi yang kosong. Jika ujian itu mengharuskannya membantai para "jenius" yang saling sikut, maka Sekte Awan Suci secara tidak sadar sedang menyiapkan makanan untuknya.

"Terima kasih atas keterangannya," ucap Chu Chen datar. "Tapi jalanku bukan urusanmu."

Meng Fan mengangkat bahu, tidak peduli. "Terserah kau saja. Setidaknya aku punya teman mengobrol sebelum kita berdua menjadi tumpukan tulang di Kota Kekaisaran. Arak?" Ia menawarkan labunya.

"Aku tidak minum," tolak Chu Chen. Ia menutup matanya kembali, memutuskan percakapan.

Perjalanan udara itu memakan waktu tiga hari tiga malam. Selama waktu itu, Chu Chen tidak pernah beranjak dari ranjangnya. Ia tidak makan dan tidak minum. Fisiknya di Lapis Kelima Puncak mampu menahan rasa lapar dalam waktu lama. Ia terus memutar sisa energi murni di dalam meridiannya, menjaga tubuhnya dalam kondisi paling tajam.

Di malam ketiga, sebuah getaran hebat mengguncang Kapal Terbang Awan Merah.

Suara gong raksasa ditabuh bertalu-talu. Suara berat Kapten Kapal bergema melalui formasi spiritual, terdengar di setiap sudut geladak.

"Perhatian seluruh penumpang. Formasi pendaratan sedang diaktifkan. Kita telah memasuki wilayah udara Kota Kekaisaran Langit. Dilarang melepaskan aura atau menggunakan pusaka terbang di atas langit Ibukota, atau kalian akan ditembak mati oleh Penjaga Langit Kekaisaran!"

Suasana di Geladak Bawah yang tadinya suram mendadak riuh. Ratusan kultivator berlarian menuju celah-celah jendela, berebut untuk melihat ke luar. Meng Fan juga berdiri, wajahnya menunjukkan campuran antara ketakutan dan debar penantian.

Chu Chen perlahan membuka matanya dan menatap dari balik jeruji jendela.

Bahkan dengan ingatan kuno Kaisar Naga, pemandangan di depan matanya cukup untuk membuat napas pemuda desa itu sedikit tertahan.

Kota Gerbang Besi tidak ada apa-apanya dibandingkan ini. Di bawah sana, terhampar sebuah kota yang besarnya menutupi garis cakrawala. Tembok kotanya terbuat dari marmer putih raksasa yang bersinar keemasan di bawah cahaya fajar, setinggi ratusan tombak. Di dalam kota, bangunan-bangunan tidak hanya berdiri di atas tanah; banyak paviliun-paviliun mewah dan menara pagoda yang melayang di udara, ditopang oleh susunan formasi raksasa yang menyerap Qi langsung dari bumi.

Kereta-kereta kencana yang ditarik oleh Singa Bersayap dan Naga Banjir tingkat rendah melintas di jalur-jalur udara yang telah ditentukan, membentuk sungai cahaya di atas kota. Aliran Qi Langit dan Bumi di tempat ini puluhan kali lipat lebih padat daripada di desa Chu Chen. Hanya dengan bernapas di sini, seorang fana biasa bisa memperpanjang umurnya hingga sepuluh tahun.

"Ini... adalah jantung Benua Biru Langit," gumam Chu Chen.

Di kejauhan, jauh melampaui pusat kota, terlihat siluet sebuah gunung raksasa yang puncaknya menembus lapisan awan. Gunung itu memancarkan tekanan spiritual yang begitu dahsyat hingga membuat udara di sekitarnya beriak hebat.

Itulah Sekte Awan Suci. Tempat di mana Api Teratai Merah tertidur lelap.

Kapal Terbang Awan Merah perlahan menurun, menembus awan putih, dan mendarat di pelabuhan raksasa di lingkar luar kota. Suara derit lambung kapal yang bergesekan dengan batu landasan menandakan akhir dari perjalanan panjang.

"Ayo, Tuan Muda yang tidak ramah," ucap Meng Fan sambil menepuk debu di jubahnya dan mengikat labu araknya. "Mari kita turun dan mendaftarkan nama kita ke buku kematian."

Chu Chen berdiri. Ia memperbaiki ikatan pedang bajanya di pinggang, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan udara murni Kota Kekaisaran memenuhi paru-parunya.

Matanya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Ia adalah naga yang baru menetas, dan kota raksasa di depannya ini adalah lautan yang siap ia arungi.

"Mari kita lihat," bisik Chu Chen pada dirinya sendiri. "Siapa yang akan menjadi daging cincang di dalam ujian itu nanti."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!