Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Raka
Aroma sabun yang segar masih tertinggal di kulit Zira saat ia keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan bathrobe putih yang longgar, membiarkan rambutnya yang basah tergerai di bahu. Dengan gerakan cepat, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Sebuah pesan dari Kayden masuk, dan senyum tipis, senyum yang tulus namun tersembunyi, terukir di bibirnya saat jemarinya menari di atas layar untuk membalas pesan tersebut.
Namun, kehangatan kecil itu sirna seketika saat suara pintu kamar terbuka dengan kasar. Zira tersentak, refleks meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, mencoba menyembunyikan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu.
"Kamu tidak menungguku?" Sebuah suara bariton yang sangat ia kenal terdengar tepat di belakang telinganya.
Raka tiba-tiba melingkarkan lengannya, memeluk Zira dari belakang dengan erat. Zira hanya terdiam, tubuhnya menegang seperti es yang membeku di tengah musim panas. Ia membiarkan pria itu menyandarkan dagu di bahunya, namun kenyamanan yang biasanya ia rasakan kini telah berganti menjadi rasa asing yang menyakitkan. Tangan Raka mulai bergerak nakal, mencoba menarik tali bathrobe Zira secara perlahan.
Refleks, Zira melepaskan diri dan melangkah menjauh, menjaga jarak beberapa meter dari suaminya. "Mandilah dulu, Raka. Aku ingin mengecek laporan bulanan toko bunga yang sempat tertunda," ucap Zira dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin.
Zira melangkah pergi menuju ruang ganti, meninggalkan Raka yang berdiri mematung di tengah kamar. Pria itu menatap punggung istrinya dengan dahi yang berkerut dalam.
"Aku merasa dia sedang menghindariku," gumam Raka pada diri sendiri. Perasaannya mendadak tidak enak. Ada sesuatu yang janggal dari sikap Zira hari ini. Kecurigaannya semakin memuncak saat ia menyadari bahwa Zira membawa serta ponselnya ke dalam ruang ganti, hal yang sangat tidak biasa bagi wanita itu selama sepuluh tahun pernikahan mereka.
Tak lama kemudian, Zira keluar dari ruang ganti setelah mengenakan pakaian tidur yang tertutup. Ia duduk di depan meja rias, meletakkan ponselnya tepat di samping tumpukan kosmetik sebelum mulai menyisir rambutnya yang masih lembap. Raka mendekat dengan langkah pelan yang mengancam. Tanpa peringatan, ia menyambar ponsel Zira.
Zira bergerak secepat kilat. Ia merebut kembali ponselnya sebelum Raka sempat melihat layarnya, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang nyata akan keterkejutan sekaligus kemarahan.
Raka tertawa hambar, namun matanya memancarkan kemarahan yang tertahan. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan di belakangku?" tanyanya dengan nada suara yang meninggi.
Zira hanya diam, wajahnya mengeras. Ia meletakkan ponselnya di laci meja rias yang sedikit tertutup. "Tidak ada. Aku hanya sedang malas jika kamu menggeledah ponselku tanpa izin," jawabnya dingin.
"Malas?" Raka menatapnya tak percaya. "Sejak kapan kamu memiliki rahasia dariku, Zira?"
Zira mengembuskan napas kasar, meletakkan sisirnya dengan dentuman kecil di meja. "Kenapa? Kamu mau mempermasalahkan hal sepele seperti ini? Aku saja masih bersikap biasa saja melihatmu berselingkuh dengan Ivy," ucapnya tajam, menatap bayangan Raka melalui cermin besar di hadapannya.
"Aku tidak sepertimu, Raka. Jadi tenang saja, aku tidak sedang bermain api," lanjut Zira dengan nada menyindir. "Lagi pula, tumben sekali malam ini kamu ada di sini? Tidak bersama kesayanganmu itu? Ibu dari calon anakmu yang sangat berharga? Apa dia sedang tidak menggunakan alasan bayi kalian untuk menahanmu di sana?"
Raka mendengus kesal, rahangnya mengeras. "Kamu benar-benar tidak pernah berubah, selalu menyudutkanku. Aku sedang membicarakan masalah kita yang disebabkan oleh ketidakterbukaanmu, kenapa malah mengungkit masalahku yang lain?"
Zira terdiam sejenak. Ia beranjak berdiri, memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menatap Raka. Dalam keheningan kamar yang mewah namun hampa itu, Zira menatap suaminya lebih dalam, mencoba mencari sisa-sisa pria yang dulu ia cintai.
"Masalah kita? Masalahku hanya satu, Raka, aku tidak bisa memberimu anak. Tapi masalahmu? Masalahmu itu bertumpuk. Perlu aku sebutkan satu per satu agar kamu puas mendengar daftar kesalahanmu?" ucap Zira dengan suara yang tenang namun menusuk.
Raka seakan kehilangan kata-kata. Lidahnya kelu, seolah-olah semua pembelaan yang sudah ia siapkan di kepala mendadak menguap begitu saja.
"Lagipula, anak yang dikandung Ivy itu adalah anak kita, Zira! Anak kita! Dia hanya ibu pengganti, dia hanya wadah!" Raka mencoba menegaskan posisinya dengan suara yang lebih keras, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Zira tersenyum getir, tawa kecil yang terdengar sangat menyakitkan keluar dari bibirnya. "Anak kita? Aku bahkan tidak tahu apakah yang ada di dalam kandungan Ivy itu adalah hasil dari sel telurku. Justru ... aku mulai meragukannya."
Mata Raka membulat sempurna. Ia tidak terima dengan tuduhan itu. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. "Aku tidak sejahat itu untuk melakukan hal serendah itu, Zira! Aku dan Ivy ... kami memang dekat selama proses itu berlangsung, tapi itu murni karena urusan medis! Tolonglah, kamu tahu aku sangat mencintaimu. Kamu tahu itu!"
Zira memandang suaminya dengan tatapan yang misterius, sebuah senyuman tipis yang menyiratkan kepedihan mendalam. Mendengar kata cinta dari mulut Raka saat ini terasa seperti sebuah kebohongan besar yang menusuk-nusuk dadanya tanpa ampun.
"Raka ... jika kamu benar-benar mencintaiku, tidak akan pernah ada ruang bagi orang lain di hatimu, apa pun alasannya," ucap Zira dengan suara yang nyaris berbisik namun penuh penekanan.
Raka hendak kembali bersuara, ingin memberikan pembelaan yang lebih masuk akal, namun ponsel Zira yang berada di dalam laci tiba-tiba berbunyi nyaring. Zira langsung menyambarnya dengan gerakan yang sangat cepat, seolah sedang menunggu panggilan itu.
"Iya, Bunda? Aku baru saja pulang. Bagaimana hari Bunda?" ucap Zira dengan nada suara yang tiba-tiba melunak saat mengangkat telepon. Ia berjalan menjauhi Raka, keluar dari kamar untuk melanjutkan percakapannya dengan sang ibu di balkon.
Raka hanya bisa berdiri mematung di tengah kamar, menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan frustrasi yang memuncak. Ia merasa jarak antara dirinya dan Zira kini bukan lagi sekadar langkah kaki, melainkan jurang lebar yang mungkin tidak akan pernah bisa ia seberangi lagi.
"Bagaimana jika Zira meminta cerai dariku?" gumam Raka takut.
udh ga segan lg gendong anak org..