NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Suasana di meja makan kediaman Widjaja yang biasanya hanya diisi suara denting sendok dan obrolan politik, pagi ini mendadak berubah menjadi medan perang. Matahari baru saja naik, membiaskan cahaya ke ruang makan mewah itu, namun hawa di dalamnya terasa lebih panas dari oven dapur.

Aurora berdiri tegak di samping kursi makannya. Ia sudah rapi dengan blouse desainer dan riasan wajah yang sempurna untuk jadwal pemotretan pagi ini. Namun, raut wajahnya tidak menunjukkan profesionalisme seorang model; ia sedang dalam mode "anak keras kepala Anggara Widjaja".

"Aurora, duduk dan habiskan sarapanmu. Jangan mulai lagi," ucap Anggara tanpa mengalihkan pandangan dari koran paginya.

Aurora tidak bergerak. Ia justru melangkah mendekat ke arah kursi utama ayahnya, melipat tangan di dada, dan mengerutkan bibirnya dalam-dalam—sebuah gestur yang biasanya membuat Anggara luluh, namun kali ini mengandung ancaman serius.

"Aku nggak mau sarapan sebelum Papa dengerin aku," suara Aurora lantang, membuat Melati yang sedang menuang teh terhenti gerakannya. "Pokoknya aku mau nikah sama Mas Langit! Titik! Tanpa atau izin dari Papa! Papa harus setuju!"

Prang!

Anggara meletakkan cangkir kopinya dengan cukup keras ke atas piring porselen. Ia mendongak, menatap putrinya dengan mata yang menyipit tajam. "Aurora, kamu gila! Kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Menikah? Dengan ajudan Papa sendiri? Kamu masih muda, kariermu sedang di puncak, dan kamu ingin membuang semuanya hanya untuk perasaan sesaat?"

"Nggak. Aku sadar sesadar-sadarnya, Pa!" balas Aurora, suaranya naik satu oktav. "Ini bukan perasaan sesaat. Aku udah kenal banyak laki-laki, dari yang pangkatnya jenderal sampai yang hartanya nggak habis tujuh turunan kayak si Roni itu. Tapi nggak ada yang bikin aku ngerasa aman dan berharga kayak Mas Langit."

"Dia itu bekerja untuk Papa, Aurora! Dia punya tugas, punya kode etik!" seru Anggara, kini ikut berdiri sehingga tinggi badannya mengintimidasi ruangan. "Papa yang bawa dia ke sini untuk menjagamu, bukan untuk mencuri hatimu!"

"Dia nggak mencuri apa-apa! Aku yang kasih hati aku ke dia!" Aurora menantang tatapan ayahnya tanpa ragu sedikit pun. "Kenapa sih Papa susah banget ngerestuin? Apa karena dia bukan anak pejabat? Apa karena dia nggak punya gelar Master dari Australia?"

"Karena dunia kalian berbeda!" potong Anggara tegas. "Kamu hidup di bawah lampu sorot, dia hidup di bayang-bayang. Kamu tidak akan tahan hidup dengan gaji seorang abdi negara, Aurora. Jangan naif!"

"Aku bisa cari uang sendiri! Aku model, aku punya tabungan!" Aurora mendekat, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun penuh tekad. "Pokoknya aku nggak mau tahu. Awas aja kalau Papa nggak ngerestuin... aku bakal kawin lari! Aku serius, Pa. Papa tahu kan kalau aku udah mau sesuatu, aku bakal lakuin apa aja?"

"Aurora! Jaga bicaramu!" teriak Anggara, wajahnya merah padam. "Kawin lari? Kamu mau mempermalukan nama keluarga kita di depan seluruh kolega Papa?"

"Kalau Papa lebih mentingin nama keluarga daripada kebahagiaan aku, berarti Papa yang malu-maluin diri sendiri!" Aurora menyambar tas tangannya dengan kasar. "Aku berangkat sekarang. Dan pas aku pulang nanti, aku harap Papa udah punya jawaban yang lebih bijak daripada 'tidak'."

Aurora melangkah keluar dari rumah dengan langkah menghentak, mengabaikan panggilan ibunya yang mencoba menenangkan. Di lobi, ia melewati Langit yang berdiri tegak. Langit tampak sangat pucat; ia pasti mendengar setiap teriakan dari ruang makan tadi.

Aurora sempat berhenti sejenak di depan Langit. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta dan frustrasi. Langit hanya menunduk, tidak berani membalas tatapan itu di depan pintu yang masih terbuka lebar.

Di samping mobil SUV putih yang akan membawa Aurora ke studio, Mayang sudah menunggu dengan wajah cemas. Ia berkali-kali melirik jam tangannya dan kemudian melirik ke arah pintu rumah yang masih memancarkan aura ketegangan.

"Ra, lo gila ya?" bisik Mayang saat Aurora sampai di samping mobil. "Gue denger semuanya dari sini! Lo beneran ngomong mau kawin lari di depan bokap lo?"

"Gue nggak main-main, Kak May," jawab Aurora sambil membuka pintu mobil dengan kasar. "Gue capek diatur-atur terus. Gue mau hidup sama orang yang gue pilih sendiri."

"Tapi Langit, Ra... dia bisa kena masalah besar. Papa lo bisa matiin kariernya dalam semalam!" Mayang masuk ke kursi pengemudi, sementara Aurora duduk di sampingnya.

"Makanya gue ancam balik pakai nama baik keluarga," Aurora menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Papa itu paling takut sama skandal. Kalau gue kawin lari, karir politik Papa yang hancur, bukan Langit."

Mayang menggelengkan kepala, mulai menjalankan mobil keluar dari gerbang. "Lo bener-bener anak Anggara Widjaja. Licik, nekat, dan nggak mau kalah."

"Gue cuma mau bahagia, Kak," gumam Aurora lirih. Ia melihat ke arah spion samping, melihat sosok Langit yang masih berdiri di lobi, tampak kecil dan terisolasi di antara pilar-pilar besar rumah itu.

Sementara itu, di dalam rumah, Anggara masih berdiri di ruang makan dengan tangan terkepal di atas meja. Melati mendekatinya, mengusap bahunya pelan.

"Pa... mungkin kita harus bicara pelan-pelan sama mereka," ucap Melati lembut.

"Bicara apa, Mel? Anakmu itu mengancamku! Dia mau menghancurkan segalanya demi laki-laki itu!" Anggara menoleh ke arah jendela, melihat mobil Aurora yang sudah hilang di balik gerbang. Matanya kemudian tertuju pada Langit yang masuk ke dalam lobi untuk mengambil instruksi.

"Langit!" panggil Anggara dengan suara berat yang menggelegar.

Langit masuk ke ruang makan, berdiri tegap, dan memberikan hormat. "Siap, Pak."

"Kamu dengar apa yang anak saya katakan tadi?" tanya Anggara dengan nada mengancam.

Langit terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Siap, saya dengar, Pak."

"Apa rencanamu? Kamu mau membawanya lari?"

Langit menatap mata Anggara dengan ketegasan yang tak goyah. "Saya tidak akan membawa Non Aurora lari, Pak. Saya akan membawanya ke depan Bapak dengan restu yang sah. Saya tidak akan menghancurkan nama baik Bapak, karena itu berarti saya menghancurkan martabat wanita yang saya cintai."

Anggara tertegun. Ia mengharapkan permintaan maaf atau ketakutan, namun ia justru mendapatkan pernyataan cinta yang sangat berwibawa dari pria yang ia anggap hanya sebagai bawahan.

"Keluar! Saya tidak mau lihat mukamu sampai siang nanti!" usir Anggara.

Langit memberikan hormat terakhir dan berbalik pergi. Di dalam mobil menuju studio, Aurora terus menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari Langit, tak menyadari bahwa di rumah, perang yang sebenarnya baru saja dimulai—bukan dengan teriakan, melainkan dengan ketegasan seorang pria yang siap mempertaruhkan nyawanya demi janji yang ia buat di bawah langit sore kemarin.

***

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!