NovelToon NovelToon
You Are My Destiny

You Are My Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Snow White

Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.

Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.

Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampai Kau Jadi Milikku

Hari ini Kenzie merasa sangat lelah menggantikan pekerjaan Jeevan yang setelah makan siang tiba-tiba saja pergi untuk menemui Valerie. Kenzie mulai heran dengan sikap Jeevan yang sekarang begitu peduli kepada Valerie, padahal dia sendiri yang bilang pernikahannya antara mereka berdua hanya formalitas untuk salah satu syarat mendapatkan perusahaan papanya.

Tapi nyatanya Jeevan selalu melakukan hal aneh atau diluar rencana ketika mendengar nama Valerie. Wajah Kenzie terlihat letih, dan ia memutuskan pergi ke kedai kopi terlebih dahulu untuk menenangkan pikirannya. Meminum secangkir cappuccino atau caramel macchiato panas ditemani oleh beberapa batang rokok akan menyegarkan kembali pikirannya.

Kedai kopi yang sering dia jumpai adalah tempat favoritnya bersama dengan Jeevan sejak mereka lulus kuliah. Tempat ini menjadi saksi semua cerita suka duka antara dirinya dan Jeevan. Kedua bola matanya terus memperhatikan mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.

Setelah selesai memarkiran mobilnya dan turun berjalan masuk ke arah pintu masuk, tiba-tiba saja ada sebuah mobil melaju sedikit kencang karena sedang terburu-buru mencari tempat parkir karena takut penuh. Suara klakson mengagetkan Kenzie yang sedang berjalan santai menuju pintu masuk.

"Tiiinnnn,........" Suara klakson mobil begitu panjang terdengar mengagetkan Kenzie yang sedang santai berjalan.

Suara keras itu membuat Kenzie terkejut dan menoleh seketika. Tubuhnya yang sedari tadi masih lemas harus dikejutkan dengan situasi yang mencekam, Kenzie melihat sebuah mobil melaju lumayan kencang ke arahnya seperti akan menabrak dirinya. Tubuh Kenzie yang sudah kehabisan tenaga sudah tidak sanggup untuk menghindar, kakinya kaku tidak bisa secepat kilat di gerakan. Saat itu Kenzie hanya bisa pasrah yang lama kelamaan mobil putih mendekat seperti hendak menabraknya.

Kecelakaan kecil tidak terhindarkan saat mobil putih dengan plat Jakarta mengeram mendadak, dan untungnya saja hanya menabrak pelan Kenzie namun tetap saja Kenzie jatuh dalam posisi duduk karena tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Tida ada luka dan lecet terlihat pada tubuh Kenzie, tapi tetap saja jantungnya tidak aman dibuatnya.

Sesaat kemudian seorang perempuan cantik turun dari mobil menghampiri Kenzie yang masih dalam posisi duduk. Wajahnya terlihat ketakutan dan panik, pertama kali yang Kenzie lihat saat perempuan itu menghampirinya, adalah sepatu heels berwarna putih merek ternama. Memang soal brand mahal, Kenzie ahlinya. Kedua bola matanya berjalan dari bawah sepatu heels ke atas untuk tahu siapa perempuan yang menabraknya.

Perempuan yang menggunakan dress berwarna coklat sedikit berjongkok mendekati Kenzie seraya memeriksa bagaimana keadaannya. Matanya memperhatikan tubuh Kenzie memeriksa apakah ada luka yang serius karenanya. Berbeda dengan Kenzie yang sejak tadi melihat wajahnya terdiam terpaku tidak bisa memalingkan pandangannya seolah sudah terpesona dengan wajah cantiknya.

Apa yang diucapkan oleh perempuan berambut panjang sedikit bergelombang tidak Kenzie hiraukan, karena dia seperti tersihir dengan wajah cantiknya. Beberapa saat Kenzie terdiam mematung, tubuhnya beku, hanya tatapannya saja terus memperhatikan wajah perempuan bermata sedikit bulat.

"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanyanya menyadarkan Kenzie yang sedari tadi terdiam terpaku.

Suara indahnya menyadarkan Kenzie yang masih terbawa suasana, sontak Kenzie terkesiap saat perempuan itu bertanya kepadanya. Jarak mereka berdua kini lumayan dekat, dan Kenzie masih terus memperhatikan wajah cantik yang menurutnya tidak bosan untuk terus dipandang.

"Helo! Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanyanya lagi menyingkapkan tangannya di depan wajah Kenzie dan kali ini lelaki yang memiliki dimple smile tersadar.

Entah kenapa sikap Kenzie mendadak ketus dan sinis, seperti tidak bersahabat sama sekali. Tatapan yang tadinya begitu sendu kini berubah menjadi tatapan sinis.

"Udah jatuh kaya gini, kamu masih bilang nggak kenapa-kenapa? Memangnya kamu nggak lihat kalau aku terluka?" ucap Kenzie dengan nada sedikit ketus dan tatapan sinis menatap perempuan yang masih sedikit berjongkok di dekatnya.

Sesaat kemudian Kenzie mencoba berdiri meski merasakan tubuhnya sangat lelah dan letih karena pekerjaannya, kenapa hari ini ia begitu sangat sial sekali. Harus menggantikan pekerjaan Jeevan dan sekarang hampir saja tertabrak. Perempuan berkulit putih mencoba membantunya berdiri namun Kenzie menolaknya.

"Kamu bisa nyetir nggak sih?" tanya Kenzie lagi masih dengan sikap dingin dan sinis-nya.

"Aku udah nyoba klakson kamu dari kejauhan tapi kamu nggak denger," jawabnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

Rania Nadzira Martha, gadis cantik yang Kenzie temui saat ini adalah seorang dokter umum diusianya yang masih muda yaitu 25 tahun. Dia adalah putri pemilik dari beberapa rumah sakit ternama di Jakarta dan Bandung. Keluarganya semua seorang dokter hebat. Putri bungsu dari dua bersaudara ini adalah sahabat baik Valerie. Rania baru saja datang dari Afrika karena baru selesai menyelesaikan misi kesehatan di bawah naungan Unicef.

Setelah beberapa bulan pergi, kini Rania memutuskan untuk menetap di salah satu rumah sakit di bawah naungan milik keluarganya. Sebenarnya Rania lebih senang pergi melakukan misi kemanusiaan bersama Unicef daripada harus bekerja di rumah sakit milik keluarganya.

"Aku nggak denger!" Eles Kenzie mencoba membela dirinya masih dengan sikap sinis membuat Rania yang tadinya bersikap lembut menjadi kesal.

"Makanya kalau jalan jangan melamun." Rania mulai kesal dan mereka berdua terlibat dalam perdebatan kecil yang mulai tidak bisa dihindari.

"Apa? Melamun? Tahu dari mana kalau sedari tadi aku melamun?" Kenzie tidak mau kalah menatap Rania dengan sinis.

"Dari tadi kamu selalu mendongak menatap langit sambil memejamkan kedua bola mata. Memang dari dalam mobil, aku nggak bisa lihat!"

Deg, Kenzie yang sikapnya tadi sinis dan ketua mendadak terdiam sesaat. Apa yang baru saja Rania ucapkan benar adanya jika sedari tadi Kenzie berjalan sambil menatap ke arah langit, sambil menikmati udara di sore ini. Tapi Kenzie tidak menyadari kedatangan mobil Rania apalagi mendengar suara klakson mobilnya.

Dari raut wajah Kenzie kali ini Rania bisa melihat jika lelaki yang memiliki wajah tegas namun terlihat lembut terdiam sesaat, seolah mengakui kesalahannya. Tapi karena malu dan harga diri, Kenzie mencoba mencari alasan agar semua terkesan menjadi salah Rania.

"Sok tahu banget kamu. Gimana bisa kamu lihat aku dari jauh? Kamu pasti nyari alasan biar semua ini salah aku, kan? Dan kamu bisa lepas dari kesalahan ini?"

Mendengar apa yang baru saja Kenzie ucapkan tentu membuat Rania sedikit kesal. Dengan tawa ringan terkesan sinis dan tatapan tajam Rania memarahi Kenzie. Ingin rasanya Rania menjambak lelaki yang ada di hadapannya kini, meski tampan tidak membuat Rania luluh sama sekali.

"Apa kamu bilang? Ini salah aku?" Rania balik bertanya mengulang ucapan Kenzie dengan tawa ringan yang terlihat kesal dan Kenzie hanya mengangguk ringan tanpa mengucapkan sepatah kata.

"Kamu tuh, ya!" Bentak Rania mulai kesal seolah hendak memakan Kenzie hidup-hidup.

Sedari tadi Kenzie mencari cara bagaimana agar bisa lepas dari masalah ini dan kembali tanpa menimbulkan masalah yang panjang. Akhirnya Kenzie mempunyai cara ampuh agar bisa pergi dari sana yaitu pura-pura merasakan sakit akibat jatuh tertabrak Rania tadi.

"Aduh kaki gue sakit," keluh Kenzie merintih kesakitan seraya memegang bagian kaki yang tadi tertabrak pelan oleh Rania.

Melihat Kenzie yang merasa kesakitan, Rania hanya terdiam memperhatikannya saja dengan tatapan keheranan. Menurut Rania, tadi dia tidak menabraknya begitu kencang, karena sempat mengerem mobilnya lebih dulu. Kenzie masih meringis kesakitan namun Rania hanya terdiam tidak memperdulikannya.

"Kamu harus tanggung jawab!" Tuduh Kenzie berhasil memainkan dramanya dengan wajah yang meyakinkan.

"Aku? Tanggung jawab?" Rania balik bertanya.

"Iya. Gimana kalau kaki ku ini harus diamputasi?" Kenzie terlalu mendramatisir keadaan membuat Rania semakin kesal dibuatnya.

Tanpa berpikir panjang Rania meraih tangan Kenzie dan segera membawanya ke mobil, melihat sikap Rania yang tiba-tiba saja seperti hendak membopongnya membuat Kenzie sedikit kaget apa yang akan dilakukan oleh Rania. Tapi Kenzie hanya bisa mengikuti apa yang sedang Rania lakukan.

"Kamu mau apa?" tanya Kenzie ketika Rania membopongnya membawa ke mobil miliknya.

"Ngobatin luka kamu," Jawa Rania sambil membuka pintu mobil depan sebelah kanan agar Kenzie bisa masuk dan duduk.

Sepertinya Kenzie sudah terperangkap degan permainannya sendiri, niat hati ingin lepas dari masalah yang terjadi dengan Rania, kini malah dirinya yang masuk ke dalam permainan Rania. Sepertinya Rania bukan perempuan yang mudah untuk dikelabui atau perempuan bodoh yang bisa dibohongi.

"Mobilku gimana?" tanya Kenzie yang sudah duduk manis di dalam mobil Rania.

"Tenang nggak akan hilang di sini," jawab Rania singkat menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari sana.

Entah apa yang akan dilakukan oleh Rania, sekarang Kenzie hanya bisa mengikuti permainannya Rania. Mobil Rania melaju membelah kota Jakarta yang sedikit mulai macet. Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikiran Kenzie, sebenarnya perempuan ini mau membawanya ke mana? Sial, sungguh sial bagi Kenzie yang hanya bisa menerima nasib apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Memang kita mau ke mana?" tanya Kenzie sambil menatap jalan yang tentunya entah akan ke mana.

"Rumah sakit," jawab Rania singkat sambil menyetir tanpa menoleh ke arah Kenzie.

Mendengar nama rumah sakit membuat Kenzie kaget bukan main, seketika ia menatap Rania yang sedang fokus menyetir. Kenapa mereka harus pergi ke rumah sakit?

"Kenapa ke rumah sakit?" ekspresi wajah Kenzie begitu kaget dan terkejut menatap Rania.

"Tadi kamu bilang kakinya sakit dan harus diamputasi, jadi aku harus membawamu ke sana."

Rania tahu jika Kenzie sedang berbohong kepadanya karena ingin menghindar dari masalah dan tidak mau meminta maaf, padahal jika saja dia mau mengakui kesalahannya tentu saja Rania tidak aka berbuat sejauh ini. Ada rasa dongkol dan kesal di hati Rania, harusnya di saat dirinya baru saja berada di Indonesia, dia ingin menikmati suasana di sini. Tapi semua gagal karena lelaki yang sekarang berada di sampingnya.

"Sekarang udah nggak kenapa-kenapa kok. Aku udah lebih baik."

"Pokoknya kamu harus ke rumah sakit, biar aku nggak merasa bersalah."

"Serius, aku udah nggak sakit. Lebih baik kamu turunin aku di halte depan sana," pinta Kenzie membujuk Rania dan meyakinkannya.

"Nggak bisa, kita harus tetap ke rumah sakit," tolak Rania mentah-mentah dengan nada tegas membuat Kenzie menyerah.

Kedatangan Jeevan tentunya membuat Valerie kaget, kenapa bisa Jeevan ada di sini dan masuk ke dalam kamarnya degan begitu sangat mudahnya. Sial bagi Valerie karena Jeevan harus melihat keadaannya seperti ini. Jujur untuk mengusirnya saja Valerie tidak sanggup karena sedang merasakan pusing bukan main.

Memang Valerie sering sekali seperti ini ketika dirinya sedang lelah dan banyak pikiran, kadang mimisan terjadi ketika ia begitu lelah bekerja dan berpikir. Bisa juga akibat stres yang dilanda olehnya. Valerie tidak bisa mempunyai pilihan lagi selain membiarkan Jeevan untuk membantunya.

Tatapan Jeevan begitu sendu menatap Valerie yang sudah berganti pakaian dan kini duduk di hadapannya. Baru kali ini pertama kali Jeevan melihat wajah Valerie sedikit pucat tidak seperti biasanya. Apa mungkin karena sedang sakit jadi wajahnya terlihat layu. Lagi-lagi Jeevan teringat ucapan Kenzie yang bilang jika ada lelaki lain yang sudah lama dicintai oleh Valerie.

"Kamu mau apa ke sini? Bukannya aku udah bilang jangan pernah ikut campur sama kehidupanku?"

"Aku bukan mau ikut campur. Tapi kalau sampai terjadi apa-apa dan lebih parah dari ini, siapa yang mau tanggung jawab? Pasti aku!" Nada bicara Jeevan mulai sedikit meninggi karena kesal kepada Valerie yang tidak memberitahu dirinya jika sedang sakit.

Amarah Jeevan sudah terlihat sejak tadi namun ia mencoba menutupinya, yang Jeevan mau jika sedang terjadi sesuatu saat itu juga Valerie harus memberitahunya. Karena jika Valerie dalam keadaan sulit, pasti Jeevan yang akan kena marah keluarganya dan kedua orang tua Valerie.

"Kamu nggak perlu terlalu jauh bertanggung jawab buatku," ucap Valerie dengan nada datar karena merasa tidak enak kepada Jeevan yang sudah menjadi bebannya.

"Aku calon suamimu, dan aku berhak tahu bagaimana keadaanmu."

"Kamu jangan mendramatisir, kita cuma pura-pura." Valerie mengingatkan posisi yang sebenarnya.

"Selama kita bekerja sama, kamu harus di dalam pengawasanku. Karena keluargaku akan menyalahkan ku kalau sampai kamu kenapa-kenapa. Jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan sikapku yang mungkin akan sedikit mencampuri kehidupanmu."

Sepertinya Jeevan sudah melanggar perjanjian yang sudah disepakati dan ditanda-tangani kemarin. Kenapa kemarin dia merasa nyaman dan tidak keberatan, padahal dia sendiri yang membuat kesepakatan itu tanpa Valerie minta. Sikap Jeevan yang berubah-ubah membuat Valerie kebingungan.

"Kamu tuh aneh. Kemarin bukannya kamu yang buat perjanjian, dan sekarang kamu juga yang melanggarnya," sindir Valerie membuat Jeevan sedikit malu.

"Perjanjian kemarin batal, dan aku akan membuat perjanjian yang baru," ucap Jeevan seolah gampang memutuskan apa yang diinginkan olehnya.

"What? Kamu sakit?" tanya Valerie heran menatap Jeevan yang sedikit terlihat sangat gugup.

"Udah aku bilang, kalau aku ingin pernikahan ini nggak akan menimbulkan masalah apapun. Baik darimu atau dariku, dan aku hanya mencoba menjaga agar semua baik-baik saja. Aku nggak mau sampai kamu atau aku bikin masalah, paham?" jelas Jeevan yang sepertinya kini Valerie mulai memahaminya.

Hanya anggukan ringan yang terlihat oleh Jeevan sebagai tanda mengerti, namun bukan itu saja maksud Jeevan. Ia ingin memiliki Valerie selamanya.

"Sekarang kita harus ke dokter." Jeevan mengganti topik pembicaraan seakan tidak ingin berdebat lagi dengan Valerie.

Mendengar ucapan Jeevan mengajak dirinya ke rumah sakit membuat Valerie kaget, kenapa Jeevan berpikir harus mengajak dirinya ke dokter.

"Buat apa?" tanya Valerie kaget menatap Jeevan.

"Pake tanya lagi. Kamu lagi sakit, jadi harus ke dokter," jelas Jeevan sedikit kesal.

"Aku nggak kenapa-kenapa. Itu cuma sakit biasa," tampik Valerie berbohong.

"Sampe hidungmu mimisan, kamu bilang nggak kenapa-kenapa?"

"Aku baik-baik aja, aku udah sehat!" Valerie ngotot terus meyakinkan Jeevan menolak ajakannya.

"Yang bisa menyakinkan ku cuma dokter yang periksa kamu nantinya."

Valerie merasa tertekan dengan ucapan Jeevan yang terus memaksanya, dan memojokkannya. Tidak mungkin jika Valerie harus menuruti kemauan Jeevan untuk pergi ke rumah sakit karena akan menjadi masalah baru lagi.

1
Black Swan
Pengen gue getok si Jeevan🤣🤣🤣🤭
Black Swan
Up tiap hari ya thor, 😍😍
Rain
Helo… aku apresiasi karyanya ya. Smoga semangat terus berkarya kaka🙏😍
mama Al
lanjut
❄Snow white❄IG@titaputri98: Siap, Kak. Up tiap hari kok🥰👍
total 1 replies
Black Swan
Jeevan mulai bucin, 😄😄🤣🤣suka sama second lead nya ini Kenzi🤭🤭😍
Black Swan
Jeevan bener-bener lo ya, main sosor aja🤣🤣🤣
mama Al
aku mampir
Ig : Author_fanie.liem
👍👍semangat ka
beautiful world
💪semangat ya
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
luar biasa

ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama sama kak
total 2 replies
Black Swan
Sama-sama punya cinta pertama masing-masing, dan sama-sama belum bisa move on, mantapppp thor😄
Black Swan
Omo-omo Jeevan😄😄😍😍🤭🤣
Black Swan
Cinta segi tiga ini namanya
mary dice
hayoo kenapa? 😀lanjutkan ya
❄Snow white❄IG@titaputri98: 😄hayoo kenapa
total 1 replies
Black Swan
🤣🤣Rania🤣🤣🤣🤣
❄Snow white❄IG@titaputri98: 😄😄😄Rania diluar kendali kak🤭
total 1 replies
Black Swan
Kak masih kuranv banyak kak🤣🤣lama nunggu besok
❄Snow white❄IG@titaputri98: Astagfirullah itu udah banyak loh😄😄😄
total 1 replies
Quinncy Lin
keren kak 😍😍😍
Black Swan
Makin seru😍😍😍
❄Snow white❄IG@titaputri98: Makasih, Kak. stay terus ya cerita Jeevan sama Valerie 😍
total 1 replies
Black Swan
second couple😍😍😍
kaget gak tuh, kagetlah masa enggak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!